Ali-Illahisme

Ali-Illahisme (juga ditulis Ali-Ilahisme, Ali-Ilahi, Ali-Allahi; bahasa Persia: علی‌اللهی, translit. ʿAlī-Allāhī atau bahasa Persia: علی‌الهی, translit. ʿAlī-Elāhī) adalah istilah historis dan eksonim yang digunakan oleh penulis Muslim, pejabat Iran, pelancong Eropa, dan sebagian orientalis untuk menyebut kelompok-kelompok religius yang dianggap memberikan kedudukan ilahi atau supra-manusia kepada Ali bin Abi Thalib. Dalam literatur modern, istilah tersebut paling sering dikaitkan dengan Ahl-e Haqq/Yarsan di Iran barat dan Kurdistan Irak, tetapi penerapannya secara historis tidak konsisten dan kadang-kadang dipakai lebih luas untuk kelompok lain yang dipandang berada dalam lingkungan ghulat atau Syiah heterodoks.[1][2]

Nama tersebut secara harfiah dapat dipahami sebagai “orang yang menganggap Ali ilahi” atau “penganut keilahian Ali”. Namun, penggunaan ini problematis. Encyclopaedia Iranica menyatakan bahwa ʿAlī-Elāhī atau ʿAlī-Allāhī merupakan sebutan yang diberikan oleh tetangga Ahl-e Haqq dan menyesatkan apabila dipakai sebagai nama bagi agama tersebut, karena Ali hanya menempati salah satu tahap dalam rangkaian manifestasi ilahi dan bukan satu-satunya atau bahkan tokoh yang selalu paling dominan dalam sistem kepercayaannya.[1] Ziba Mir-Hosseini juga mencatat bahwa banyak Ahl-e Haqq modern sensitif terhadap sebutan Ali-Ilahi karena istilah itu menyiratkan bahwa mereka “menyembah Ali”, sedangkan komunitas tersebut lebih memilih nama seperti Ahl-e Haqq, Yarsan, atau din-i yari.[2]

Karena itu, dalam historiografi kontemporer Ali-Illahisme lebih tepat dipahami sebagai kategori historis atau istilah dari luar daripada nama tunggal suatu agama yang memiliki organisasi, kitab suci, dan doktrin seragam. Literatur abad ke-19 dan awal abad ke-20 sering mencampurkan Ahl-e Haqq dengan Alevi, Qizilbash, Alawi/Nusayri, Yazidi, dan kelompok lain karena praktik internal mereka tidak mudah diakses oleh pengamat luar.[3] Penelitian modern cenderung memisahkan komunitas-komunitas tersebut dan meneliti masing-masing berdasarkan sumber internal, sejarah lokal, bahasa ritual, dan identitas yang mereka gunakan sendiri.

Istilah dan etimologi

Kata Ali-Ilahi berasal dari nama Ali dan kata Arab-Persia ilāhī (“ilahi”, “bersifat ketuhanan”) atau dari susunan Ali-Allahi. Dalam laporan Persia dan Eropa abad ke-19, bentuk seperti ʿAlī Allāhī, Ali Ilahi, Ali-Ilahi, Aliullahis, atau Ali-Illahis muncul dengan ejaan yang berbeda.

Dalam pengertian literal, istilah tersebut merujuk kepada orang yang dianggap menghubungkan Ali dengan keilahian. Pemakaian ini berhubungan dengan konsep lama dalam heresiografi Islam mengenai ghuluw (“berlebih-lebihan”) dan ghulat (“mereka yang berlebih-lebihan”), yaitu sebutan yang digunakan oleh penulis Syiah arus utama bagi kelompok yang dinilai memberikan sifat ketuhanan kepada para imam.[4]

Akan tetapi, istilah ghulat sendiri merupakan kategori polemis yang dibentuk dalam perdebatan internal Islam. Tidak semua kelompok yang oleh penulis luar disebut Ali-Ilahi mengidentifikasi diri sebagai Syiah, dan tidak semua kelompok yang pernah dikategorikan sebagai ghulat disebut Ali-Ilahi.

Penggunaan historis

      1. Dalam lingkungan Iran

Penyebutan ʿAli-Allahi terutama dikenal dari Iran barat, Kurdistan, Luristan, dan daerah sekitar Kermanshah. Pada masa Qajar, pejabat dan sarjana Persia berusaha memperoleh informasi mengenai komunitas Ahl-e Haqq yang relatif tertutup. Gennady Kurin menunjukkan bahwa teks-teks Qajar akhir menggunakan konsep “pendewa Ali” untuk memahami komunitas tersebut melalui kategori yang dikenal oleh elite Syiah Iran.[3]

Penggunaan negara dan elite luar ini tidak selalu mencerminkan cara komunitas menjelaskan dirinya. Ahl-e Haqq memiliki tradisi internal, teks ritual, kosmologi, struktur garis keturunan spiritual, serta terminologi sendiri yang jauh lebih rumit daripada anggapan sederhana bahwa mereka hanya “menyembah Ali”.[1][5]

      1. Dalam orientalisme Eropa

Pelancong dan orientalis Eropa abad ke-19 hingga awal abad ke-20 menggunakan Ali-Ilahi sebagai kategori yang luas. Sebagian tulisan lama mengaitkannya dengan praktik yang dianggap “sinkretis”, unsur pra-Islam, atau kelompok lain di Anatolia dan Mesopotamia.

Vladimir Minorsky merupakan salah satu sarjana awal yang melakukan penelitian lebih sistematis terhadap Ahl-e Haqq. Karyanya Notes sur la secte des Ahlé-Haqq (1920–1922) menggunakan manuskrip dan informasi lokal untuk membedakan tradisi Ahl-e Haqq dari penyederhanaan yang umum dalam laporan perjalanan.[6]

Walaupun banyak karya lama tetap penting sebagai sumber sejarah tentang bagaimana komunitas ini dipersepsikan, terminologi dan asumsi mereka tidak selalu diterima dalam penelitian modern.

Hubungan dengan Ahl-e Haqq/Yarsan

Ahl-e Haqq, yang juga menyebut dirinya Yarsan atau menganut din-i yari, merupakan komunitas religius terutama di Iran barat dan daerah-daerah Kurdistan Irak. Encyclopaedia Iranica menyebut Luristan dan wilayah berbahasa Gorani di sekitar Kermanshah sebagai pusat historisnya, dengan tempat suci penting di sekitar makam Baba Yadgar dan Sultan Sahak.[1]

Istilah Ali-Ilahi sering dianggap sinonim dengan Ahl-e Haqq dalam sumber lama karena Ali hadir sebagai salah satu manifestasi ilahi penting dalam kosmologi Yarsan. Namun, penyamaan tersebut tidak tepat tanpa penjelasan.[1]

Dalam tradisi yang diringkas Heinz Halm, beberapa siklus manifestasi ilahi mencakup:

  1. Khawandagar atau Sang Pencipta;
  2. Mortaza Ali, yaitu Ali bin Abi Thalib;
  3. Shah Khoshin; dan
  4. Sultan Sahak,

dengan kelompok-kelompok berbeda mempunyai variasi mengenai manifestasi berikutnya.[1]

Sultan Sahak, tokoh yang ditempatkan pada abad ke-14 atau ke-15, jauh lebih sentral dalam pembentukan institusi Ahl-e Haqq daripada yang tersirat dalam istilah “Ali-Ilahi”. Ia dihormati sebagai manifestasi ilahi dan dikaitkan dengan pembentukan banyak institusi, upacara, dan struktur komunitas yang masih dianggap penting.[1]

Ali dalam kepercayaan Yarsan

Ali mempunyai kedudukan istimewa dalam banyak tradisi Yarsan, tetapi bukan sebagai satu-satunya bentuk keilahian. Dalam kosmologi manifestasi, esensi ilahi dapat tampil dalam beberapa periode atau perwujudan.

Konsep tersebut berbeda dari pengertian inkarnasi dalam teologi Kristen. Halm menggambarkan tradisi ghulat sebagai keyakinan bahwa figur seperti Ali merupakan manifestasi ilahi, sementara para peneliti Yarsan menggunakan istilah seperti mazhariyyat untuk menjelaskan penampakan esensi ilahi dalam bentuk tertentu.[4][5]

Hal ini juga menjadi alasan bahwa nama “pendewa Ali” dapat menyesatkan: doktrin Yarsan tidak berhenti pada Ali dan tidak menempatkan seluruh sejarah kosmis pada satu figur tersebut.

Akar dalam tradisi ghulat

Penelitian sejarah menghubungkan sebagian doktrin Yarsan dengan lingkungan lebih tua dari kelompok-kelompok Syiah ekstrem atau ghulat. Dalam heresiografi Syiah, ghuluw merujuk pada penilaian bahwa kelompok tertentu melampaui batas dalam meninggikan Ali atau imam-imam lain dengan memberikan kualitas ilahi kepada mereka.[4]

Heinz Halm mencatat beberapa tema yang muncul dalam tradisi ghulat awal:

  • Ali atau imam lain sebagai manifestasi Tuhan;
  • transmigrasi jiwa;
  • penafsiran esoteris terhadap wahyu;
  • struktur kosmologi berlapis; dan
  • perbedaan tajam antara makna lahiriah dan batiniah agama.[4]

Beberapa unsur tersebut memiliki padanan dalam Ahl-e Haqq, tetapi kontinuitas historis langsung dari setiap kelompok ghulat awal menuju Yarsan tidak dapat selalu dibuktikan. Tradisi Yarsan juga berkembang dalam lingkungan lokal Iran barat dan mengandung unsur Sufi, Iran, Kurdi/Gorani, dan legenda regional.[1]

Doktrin manifestasi ilahi

Salah satu unsur yang paling sering membuat Ahl-e Haqq diberi label Ali-Ilahi adalah keyakinan tentang rangkaian manifestasi ilahi.

Menurut Halm, tradisi Ahl-e Haqq mengenal tujuh siklus manifestasi. Setiap manifestasi utama ditemani kelompok figur suci atau malaikat. Ali muncul dalam salah satu siklus, sedangkan Sultan Sahak berperan sebagai figur penting pada tahap berikutnya.[1]

Penelitian Rahman Veisi Hasar mengenai kanonisasi Yarsan menekankan bahwa gagasan manifestasi ilahi yang berkelanjutan merupakan salah satu faktor pembentuk tradisi kitab sucinya. Karena wahyu atau manifestasi tidak dipahami berhenti pada satu periode, komunitas Yarsan tidak berkembang menuju satu kitab kanonik tunggal dengan cara yang sama seperti tradisi agama yang menutup korpus wahyunya pada satu titik historis.[5]

Transmigrasi jiwa

Kepercayaan lain yang sering dibahas dalam kaitannya dengan Ahl-e Haqq adalah transmigrasi jiwa. Halm menyebut konsep ini sebagai “pergantian pakaian jasmani”, yaitu jiwa menjalani rangkaian kelahiran kembali untuk proses pemurnian.[1]

Hubungan gagasan ini dengan doktrin ghulat lebih awal telah lama menarik perhatian orientalis. Akan tetapi, penjelasan lama yang mencoba menurunkan seluruh sistem langsung dari Zoroastrianisme, agama Babilonia, Kristen, atau satu agama pra-Islam tertentu tidak didukung secara konsisten oleh penelitian modern. Struktur Yarsan lebih tepat dipahami sebagai hasil sejarah panjang dengan beberapa lapisan pengaruh dan perkembangan internal.

Teks suci dan bahasa ritual

Sumber lama sering menggambarkan Ali-Ilahi sebagai kelompok tanpa kitab suci. Pernyataan tersebut perlu diperjelas.

Ahl-e Haqq/Yarsan memiliki tradisi teks religius yang luas, terutama dalam bahasa Gorani. Halm mencatat kumpulan kalām dan karya seperti Daftar-e Khazana-ye Perdivari serta Ketab-e Saranjam sebagai sumber penting tradisi.[1]

Penelitian Rahman Veisi Hasar menunjukkan bahwa Yarsan mempunyai proses kanonisasi yang bersifat plural dan tidak terpusat. Ia membagi teks sucinya ke dalam kategori naratif, kesaksian, dan ritual serta menunjukkan bahwa sifat oral, keragaman komunitas, dan gagasan manifestasi yang terus berlangsung menghambat terbentuknya satu kanon final yang diterima seluruh kelompok.[5]

Dengan demikian, ungkapan “tidak mempunyai kitab” dalam literatur lama lebih tepat dipahami sebagai tidak memiliki satu kitab kanonik tunggal daripada ketiadaan literatur suci.

Organisasi dan ritus Ahl-e Haqq

Komunitas Ahl-e Haqq tidak mempunyai satu organisasi pusat yang menguasai seluruh penganut. Halm mencatat adanya banyak kelompok etnis, lokal, dan garis keturunan religius.[1]

Institusi yang dikaitkan dengan Sultan Sahak mencakup upacara inisiasi sar-sepordan, yang menghubungkan seorang anggota dengan pembimbing spiritual atau pir. Hubungan guru-murid dan perjanjian spiritual mempunyai tempat penting dalam kehidupan komunitas.

Sesi ritual zikr, persembahan atau korban, dan musik religius juga terdapat dalam beberapa komunitas. Praktik dapat berbeda menurut daerah dan garis tradisi, sehingga laporan lama yang menggeneralisasi satu kebiasaan kepada seluruh “Ali-Ilahi” harus diperlakukan dengan hati-hati.[1]

Hubungan dengan Syiah

Ali-Illahisme sering dimasukkan ke dalam sejarah Syiah karena penghormatan kepada Ali dan hubungan konseptual dengan ghulat. Namun, posisi Yarsan terhadap Islam dan Syiah tidak sederhana.

Sebagian sarjana lama menggolongkan Ahl-e Haqq sebagai sekte Syiah heterodoks. Sebagian penelitian modern memperlakukannya sebagai tradisi religius tersendiri yang tumbuh dalam lingkungan Islam dan Iran. Komunitas sendiri juga menunjukkan perbedaan identifikasi menurut wilayah dan kelompok.[2]

Menyebut Yarsan sebagai Syiah semata dapat mengabaikan kosmologi, ritus, dan teks yang berbeda dari Syiah Dua Belas Imam. Sebaliknya, memutus seluruh hubungannya dengan Islam juga mengabaikan keberadaan Ali, Salman, Fatimah, nabi-nabi Qur'ani, istilah Sufi, dan unsur lain dari tradisi Islam dalam sistem Yarsan.

Hubungan dengan Alevi dan Qizilbash

Sumber Eropa lama kadang menggunakan “Ali-Ilahi” untuk membicarakan kelompok Alevi atau Qizilbash di Anatolia dan Iran. Sebuah artikel Stephen Van Rensselaer Trowbridge tahun 1909 bahkan menghubungkan Alevi Anatolia dengan apa yang di Persia disebut Ali-Ilahi.[7]

Kajian modern tidak memperlakukan Alevi, Qizilbash, dan Yarsan sebagai satu agama. Memang terdapat tema yang tumpang tindih—penghormatan tinggi terhadap Ali, struktur esoteris, tradisi Sufi, dan sejarah kawasan Iran-Anatolia—tetapi setiap komunitas mempunyai sejarah, ritus, teks, dan identitas tersendiri.

Kurin menunjukkan bahwa kategori-kategori seperti ʿAli Allahi dan Qezelbash-Alevi digunakan dalam dokumentasi Iran Qajar sebagai alat klasifikasi, dan tidak selalu menggambarkan batas identitas komunitas dengan tepat.[3]

Hubungan dengan Alawi/Nusayri

Kelompok Alawi atau Nusayri di Suriah juga mempunyai sejarah yang berkaitan dengan tradisi ghulat dan konsepsi esoteris mengenai Ali. Karena itu, beberapa penulis lama memasukkan mereka ke kategori besar “pendewa Ali”.[4]

Namun, Alawi/Nusayri mempunyai literatur, kosmologi, sejarah, dan perkembangan kelembagaan sendiri. Tidak terdapat dasar akademik untuk memperlakukan Alawi dan Ahl-e Haqq sebagai satu sekte yang sama hanya karena keduanya mengembangkan doktrin tentang kedudukan Ali.

Hubungan dengan Yazidi

Ahl-e Haqq dan Yazidisme sering dibandingkan karena keduanya berkembang di lingkungan Kurdi dan memiliki tradisi esoteris serta struktur komunitas yang relatif tertutup.

Sumber lama kadang mengelompokkan Yazidi bersama “Ali-Ilahi” karena pengetahuan pengamat luar tentang kedua komunitas terbatas. Akan tetapi, Yazidi tidak berpusat pada Ali dan tidak boleh disebut Ali-Ilahi. Kemiripan tertentu dalam ritual atau organisasi tidak cukup untuk menghapus perbedaan teologi dan sejarah.

Bukan sinonim semua “pendewa Ali”

Secara konseptual mungkin mudah memakai “Ali-Illahisme” sebagai istilah payung bagi semua komunitas yang pernah mengatribusikan kualitas ilahi kepada Ali. Penggunaan semacam itu muncul dalam sebagian literatur populer.

Namun, secara akademik istilah tersebut berisiko menyatukan kelompok yang terpisah oleh abad, wilayah, dan tradisi:

  • ghulat Kufah awal;
  • Nusayri/Alawi Suriah;
  • Ahl-e Haqq/Yarsan Iran dan Irak;
  • Alevi dan Qizilbash Anatolia;
  • kelompok-kelompok kecil lain yang disebut dalam heresiografi.

Karena itu, artikel ini menggunakan “Ali-Illahisme” terutama sebagai sejarah sebuah label dan kemudian menjelaskan komunitas yang paling sering dimaksud oleh label tersebut, yaitu Ahl-e Haqq/Yarsan.

Kerahasiaan dan persoalan sumber

Penelitian mengenai Ahl-e Haqq lama menghadapi persoalan sumber. Banyak ajaran ritual disampaikan dalam komunitas sendiri, sering dalam bahasa Gorani dan melalui tradisi lisan. Identitas Yarsan juga dapat disembunyikan di lingkungan yang memandangnya sebagai heterodoks.[2]

Kerahasiaan tersebut mendorong pengamat luar mengisi kekosongan informasi dengan rumor. Laporan perjalanan abad ke-19 dan karya misionaris kadang mengatribusikan praktik ekstrem, seksual, atau antinomian tanpa bukti internal yang memadai.

Penelitian modern karena itu lebih banyak menggunakan:

  • teks kalām;
  • manuskrip Ahl-e Haqq;
  • sejarah lisan;
  • penelitian lapangan;
  • dokumen Qajar;
  • bahasa ritual Gorani; dan
  • perbandingan dengan sumber internal komunitas.[3][5]

Persepsi dan stigma

Label Ali-Ilahi dapat mempunyai makna polemis. Di lingkungan Muslim Sunni dan Syiah arus utama, “menjadikan Ali sebagai Tuhan” bertentangan dengan doktrin tauhid. Menyebut suatu komunitas sebagai Ali-Ilahi karena itu dapat berfungsi bukan hanya sebagai deskripsi, tetapi juga sebagai tuduhan teologis.

Mir-Hosseini mencatat sensitivitas Ahl-e Haqq kontemporer terhadap istilah tersebut.[2] Dalam konteks ini, penggunaan nama yang dipilih komunitas—Yarsan, Ahl-e Haqq, atau din-i yari—umumnya lebih netral ketika yang dibahas memang agama tersebut.

Hal ini tidak berarti semua sumber lama yang memakai “Ali-Ilahi” harus diabaikan. Istilah itu tetap berguna untuk sejarah persepsi, administrasi Qajar, orientalisme, dan klasifikasi agama, asalkan pembaca diberi penjelasan mengenai keterbatasannya.

Historiografi

      1. Abad ke-19 dan awal abad ke-20

Pengetahuan Eropa awal tentang “Ali-Ilahi” terutama berasal dari pelancong, diplomat, pejabat, dan misionaris. Karena akses terhadap teks internal sangat terbatas, deskripsi mereka sering bersifat spekulatif.

Pada awal abad ke-20, sarjana seperti Vladimir Minorsky mulai menggunakan bahan linguistik dan manuskrip untuk membangun pemahaman yang lebih sistematis tentang Ahl-e Haqq.[6]

Trowbridge pada 1909 menggunakan kategori luas “deifiers of Ali” untuk Alevi dan Ali-Ilahi, mencerminkan kecenderungan orientalisme masa itu untuk menggolongkan komunitas heterodoks berdasarkan penghormatan kepada Ali.[7]

      1. Penelitian pascaperang

Studi C. J. Edmonds, Mohammad Mokri, dan sarjana lain pada pertengahan abad ke-20 memperluas akses terhadap ritual, teks Gorani, dan sejarah lokal. Encyclopaedia Iranica kemudian merangkum tradisi tersebut dengan menegaskan bahwa nama Ali-Ilahi adalah label luar yang tidak sepenuhnya sesuai.[1]

      1. Penelitian kontemporer

Penelitian Mir-Hosseini tahun 1994 membawa perhatian pada perbedaan antara “kebenaran batin” dan sejarah luar komunitas, termasuk persoalan identitas dan cara Ahl-e Haqq dilihat oleh tetangganya.[2]

Kurin meneliti produksi pengetahuan tentang Ahl-e Haqq di kalangan elite Qajar dan memperlihatkan bahwa dokumen “pendewa Ali” harus dibaca dalam konteks administrasi, politik, dan klasifikasi religius Iran abad ke-19.[3]

Veisi Hasar pada 2024 mengkaji teks suci Yarsan dengan pendekatan kanonisasi dan linguistik, memperlihatkan bahwa tradisi tersebut mempunyai struktur kitab suci yang kompleks meskipun tidak mempunyai satu kanon final tunggal.[5]

Penggunaan istilah pada masa kini

Dalam tulisan akademik kontemporer, nama Yarsan dan Ahl-e Haqq jauh lebih sering digunakan ketika yang dimaksud adalah komunitas Iran-Irak tersebut.

“Ali-Ilahi” masih dapat muncul:

  • ketika mengutip sumber historis;
  • menjelaskan eksonim yang digunakan tetangga;
  • membahas sejarah orientalisme;
  • menganalisis kategori administrasi Qajar; atau
  • membicarakan konsep luas pendewaan Ali dalam literatur lama.

Penggunaan tanpa penjelasan dapat menimbulkan kesan bahwa Yarsan sendiri menyebut agamanya “Ali-Illahisme”, padahal sumber modern menunjukkan sebaliknya.[2]

Perbedaan terminologi

Istilah Penggunaan Catatan
Ali-Ilahi / Ali-Allahi Eksonim historis untuk komunitas yang dianggap “mendewakan Ali” Sering diterapkan kepada Ahl-e Haqq; banyak penganut menolaknya.[2]
Ahl-e Haqq Nama luas bagi komunitas “Orang-orang Kebenaran” Digunakan dalam literatur akademik dan oleh sebagian komunitas.
Yarsan Nama diri yang banyak digunakan penganut Sering dianggap lebih netral dalam penggunaan kontemporer.
Din-i yari “Agama yari/yār” Istilah internal bagi tradisi keagamaan.
Kaka'i Nama yang banyak digunakan untuk komunitas terkait di Irak Tidak identik secara sederhana dengan semua penggunaan Ali-Ilahi.
Ghulat Kategori heresiografis Syiah untuk kelompok yang dianggap “berlebihan” mengenai imam Kategori historis yang lebih luas daripada Ali-Ilahi.[4]

Ali-Illahisme dalam sumber lama

Banyak karakterisasi dramatis mengenai Ali-Illahisme berasal dari sumber kolonial atau orientalis lama. Misalnya, praktik ritual tertentu dikaitkan dengan “Ali-Ilahi” tanpa selalu dijelaskan lokasi, kelompok, atau metode verifikasinya.

Karya-karya tersebut tetap penting sebagai dokumentasi sejarah, tetapi perlu dipisahkan antara:

  1. observasi langsung;
  2. informasi yang diberikan informan;
  3. rumor dari kelompok tetangga; dan
  4. interpretasi teologis pengarang.

Pengembangan studi manuskrip dan penelitian lapangan memungkinkan banyak generalisasi lama ditinjau kembali.

Status sebagai agama tersendiri

Literatur berbeda mengenai apakah Ahl-e Haqq harus disebut “sekte Islam”, “agama sinkretis”, “tradisi Iran”, atau “agama independen”.

Halm menempatkan asal-usulnya dalam lingkungan Syiah ekstrem tetapi juga mengakui unsur lokal dan perkembangan doktrin yang berbeda dari Syiah arus utama.[1] Mir-Hosseini menekankan dunia konseptual internal Ahl-e Haqq yang tidak dapat direduksi kepada label Syiah dari luar.[2]

Karena itu, artikel ini tidak menggunakan “Ali-Illahisme” sebagai nama resmi sebuah “sekte Islam” atau sebaliknya menyatakan secara kategoris bahwa seluruh kelompok yang pernah disebut demikian berada di luar Islam. Klasifikasi bergantung pada komunitas tertentu, periode, dan kerangka analitis yang digunakan.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Halm, Heinz (15 Desember 1984) [1984]. "Ahl-e Ḥaqq". Encyclopaedia Iranica. Vol. I. hlm. 635–637. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  2. ^ a b c d e f g h i Mir-Hosseini, Ziba (1994). "Inner Truth and Outer History: The Two Worlds of the Ahl-i Haqq of Kurdistan". International Journal of Middle East Studies. 26 (2): 267–285. doi:10.1017/S0020743800060244.
  3. ^ a b c d e Kurin, Gennady (2021). ""Ascertaining the Truth about the Religion and Ways of the Deifiers of ʿAlī": The Qajar Elite and the Ahl-e Ḥaqq". Iranian Studies. doi:10.1080/00210862.2020.1855971.
  4. ^ a b c d e f Halm, Heinz (15 Desember 2001). "Ḡolāt". Encyclopaedia Iranica. Vol. XI. hlm. 62–64. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  5. ^ a b c d e f Veisi Hasar, Rahman (2024). "Canonization and sacred text in the Yārsān religion". Iranian Studies. 57 (1): 47–72. doi:10.1017/irn.2023.65.
  6. ^ a b Minorsky, Vladimir (1922). Notes sur la secte des Ahlé-Haqq (dalam bahasa Prancis). Paris.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  7. ^ a b Trowbridge, Stephen Van Rensselaer (1909). "The Alevis, or Deifiers of Ali". Harvard Theological Review. 2 (3): 340–353. doi:10.1017/S0017816000014607.

Bacaan lebih lanjut

  • Mir-Hosseini, Ziba (1994). "Inner Truth and Outer History: The Two Worlds of the Ahl-i Haqq of Kurdistan". International Journal of Middle East Studies. 26 (2): 267–285. doi:10.1017/S0020743800060244.
  • Kurin, Gennady (2021). ""Ascertaining the Truth about the Religion and Ways of the Deifiers of ʿAlī": The Qajar Elite and the Ahl-e Ḥaqq". Iranian Studies. doi:10.1080/00210862.2020.1855971.
  • Veisi Hasar, Rahman (2024). "Canonization and sacred text in the Yārsān religion". Iranian Studies. 57 (1): 47–72. doi:10.1017/irn.2023.65.
  • Minorsky, Vladimir (1922). Notes sur la secte des Ahlé-Haqq (dalam bahasa Prancis). Paris.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  • Trowbridge, Stephen Van Rensselaer (1909). "The Alevis, or Deifiers of Ali". Harvard Theological Review. 2 (3): 340–353. doi:10.1017/S0017816000014607.

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya