Asep Nata

Asep Nata
Lahir24 Juni 1964 (umur 61)
Sumedang, Jawa Barat, Indonesia
KebangsaanIndonesia
AlmamaterUniversitas Sumatera Utara
Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
PekerjaanEtnomusikolog

Asep Nata (lahir 24 Juni 1964) merupakan seorang etnomusikolog berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan pencipta dari Karinding Towél (KARTO) dan Pelok Song.

Riwayat Hidup

Pada tahun 2001 di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah di Solo menjadi titik awal baginya dalam menemukan formulasi instrumen Lamellaphone yang ia ciptakan: KARTO, yaitu ketika bermain genggong besi bersama I Wayan Sadra, tanpa disadari genggong yang ia mainkan mencedrai giginya. Maka muncul pemikiran untuk mencari alternatif instrumen yang relatif lebih aman, untuk gigi, terutama untuk mengantisipasi jika pemainnya merupakan anak-anak dan orang tua. Dari situ ia mencoba membuka kembali peristiwa-peristiwa yang tersimpan dalam ingatan, catatan-catatan lapangan, dan penelitian lapangan di banyak tempat seperti di Solo, Lombok, beberapa tempat di Kalimantan, dan beberapa daerah lainnya.

Di sela-sela kesibukannya sebagai dosen di perguruan tinggi di Bandung, Asep Nata mempelajari Genggong Sunda (Karinding). Kembali ia menemukan kenyataan bahwa Genggong tradisional ternyata sangat canggih dan rumit cara pembuatannya. Berbekal pengalamannya terutama di bidang ilmu akustik dan organologi, maka pada tahun 2005 ia menciptakan formula genggong baru berbahan bambu atau pelepah aren yang kemudian dinamainya Karinding Towél (KARTO). KARTO merupakan instrumen generik atau ekstrak dari genggong (jews harp) petik tradisional yang dibuat dari bahan bambu atau pelepah aren. Bentuknya lebih sederhana dan cara pembuatannya lebih mudah jika dibandingkan dengan Karinding Tradisional Sunda yang rumit. Penemuan Formula KARTO antara lain: dapat ditala sesuai dengan nada yang diinginkan sehingga, misalnya, satu set KARTO dapat disetel diatonis atau kromatis; KARTO yang menghasilkan bunyi pendek menjadi lebih inovatif karena tuntutan variasi dalam hasil bunyinya; KARTO lebih mudah dibuat siapa saja.[1]

Selain itu, ia juga kembali berinovasi dengan mengolah biji buah mangga menjadi instrumen musik tiup seperti suling. Kreasinya tersebut memanfaatkan limbah biji mangga yang kemudian dikeringkan dan dilubangi. Instrumen itu dinamakan Pelok Song. Pelok dalam bahasa Sunda artinya biji buah mangga. Ide pembuatannya berasal dari obrolan dengan mahasiswa, kemudian mulai dicoba pada November 2016. Kini ada sekitar 20 lebih Pelok Song yang berhasil dibuat.[2]

Referensi

  1. ^ "Asep Nata". 8 Mei 2013.
  2. ^ "Olah Limbah, Dosen Ini Bikin Instrumen Tiup dari Biji Mangga". 21 Januari 2017.


Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya