Bangkong reang


Bangkong reang adalah salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Kesenian ini berkembang di beberapa daerah, di antaranya Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, dan Desa Cikawung, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Selain itu, Bangkong Reang juga ditemukan di luar wilayah Bandung, seperti di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur.[1]

Istilah Bangkong reang merupakan gabungan dari dua kata bahasa Sunda, yaitu bangkong dan réang. Kata bangkong berarti “katak” dalam bahasa Indonesia, sedangkan réang menggambarkan bunyi yang terdengar serempak dari banyak orang atau hewan.

Asal mula

Asal mula kesenian Bangkong reang bermula pada tahun 1933 dari kebiasaan warga yang menggembalakan kambing di area persawahan. Pelopor kesenian ini adalah Aki Bahri dan Aki Musani, dua tokoh masyarakat yang dikenal sebagai sesepuh di wilayah Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.[2]

Pada masa itu, keduanya memanfaatkan bambu yang melimpah di sekitar persawahan untuk menciptakan alat musik sederhana guna memeriahkan suasana panen. Ketika dimainkan, alat musik tersebut menghasilkan bunyi menyerupai suara katak yang bersahut-sahutan, sehingga menambah keunikan dan keindahan komposisi nadanya. Sejak saat itu, kesenian Bangkong reang terus dipertunjukkan sebagai bagian dari tradisi masyarakat pada masa panen.[2]

Tujuan

Bangkong reang merupakan salah satu kesenian tradisional yang dipentaskan dalam bentuk hélaran atau arak-arakan. Pertunjukan ini awalnya dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dan padi dalam kepercayaan masyarakat Sunda, atas hasil panen yang melimpah. Selain itu, kesenian ini juga menjadi wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang telah diberikan.[3]

Menjadi kesenian rakyat

Bangkong reang, selain memiliki fungsi sakral dan biasanya dipentaskan dalam upacara-upacara tradisional. Seiring waktu, kesenian ini mulai ditampilkan pada acara-acara resmi di tingkat desa, bahkan sempat dijadikan ajang perlombaan antarwarga.[2]

Pada periode tahun 1960 hingga 1990-an, Bangkong Reang mengalami perkembangan fungsi. Kesenian ini tidak lagi terbatas pada acara adat, tetapi juga dimainkan dalam berbagai kegiatan sosial masyarakat, seperti hajatan, khitanan, dan pernikahan. Pada masa tersebut, kesenian Bangkong reang menjadi wadah kolaborasi antara generasi muda dan tua, yang bersama-sama melestarikan dan memainkan kesenian ini.[2]

Referensi

  1. ^ "Bangkong Reang". Data Budaya Kemendikbud. Diakses tanggal 2025-11-01.
  2. ^ a b c d "Cara Unik Petani Sunda Syukuri Panen, Tirukan Suara Katak lewat Seni Bangkong Reang". merdeka.com. {publish_date}. Diakses tanggal 2025-11-01. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  3. ^ Maula AL Azhari, Iqlima; Setiawan Sutanto, Toni; Kurdita, Engkur (2022). "Seni Pertunjukan Bangkong Réang Oleh Kelompok Seni Giri Kedaton Di Kampung Ciseureuh, Kabupaten Bandung Barat". SWARA – Jurnal Antologi Pendidikan Musik. 2 (2): 26–32.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya