Baombai

Gerakan mancangkua (mencangkul) pada tari maombai.

Baombai adalah kesenian tradisional berupa tarian dan nyanyian vokal seperti berpantun dan berdendang. Tradisi ini berasal dari Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat.[1] Kesenian ini berkembang dari tradisi kerja gotong royong yaitu batobo (mengolah sawah dan ladang) dan menampilkan gerakan-gerakan sederhana yang mencerminkan kegiatan pertanian sehari-hari.[2] Baombai kemudian dikembangkan oleh masyarakat menjadi seni tari yang dipertunjukan dan mempunyai nilai-nilai semangat gotong royong di dalamnya. Baombai telah menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang ditetapkan oleh pemerintah pada tahun 2024.[3]

Latar belakang

Pada mulanya, Baombai bukanlah sebuah seni pertunjukan formal, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari petani yang mengolah lahan mereka. Para petani, terutama kaum ibu, menciptakan syair-syair yang mengiringi pekerjaan mereka, melantunkan pantun dengan lirik yang mengisahkan kehidupan, perjuangan, dan harapan. Gerakan-gerakan dalam tari ini, seperti mencangkul, menanam, hingga meratakan tanah, sepenuhnya terinspirasi dari proses bertani yang mereka jalani. Dari sinilah asal mula Baombai berkembang, mulai sebagai ekspresi spontan di ladang hingga akhirnya dibakukan menjadi sebuah seni pertunjukan.[1]

Tidak ada sumber tertulis yang menyebutkan bagaimana awal mula kesenian baombai bisa muncul dan berkembang di tengah masyarakat Nagari Padang Laweh khususnya dan masyarakat Sijunjung pada umumnya. Berdasarkan wawancara dengan salah seorang narasumber, diceritakan bahwa asal mula kesenian baombai adalah:

"Ceritanya, pada zaman dahulu ada orang yang melaksanakan tobo di daerah Muaro Bunta, banyak orang datang batobo. Pada tengah hari,semua anggota batobo berhenti ke dangau sawah, sedangkan.cangkul ditinggal di dalam sawah. Namun, kemudian terdengar oleh orangorang yang berteduh di dangau sawah suara bernyayi, dan cangkul bekerja sendiri. Yang terdengar hanya suara, sedangkan orangnya tidak terlihat. Dari kejadian suara orang-orang bernyanyi inilah kemudian dilanjutkan oleh anggota batobo secara turun temurun ke anak cucu kemudian diajarkan sampai sekarang untuk mengisi waktu istirahat".

Sebagai hiburan saat batobo, masyarakat kemudian berpantun dan menyanyikan dendang yang kemudian berkembang menjadi kesenian yang sangat unik, yang kemudian dikenal dengan baombai. Dalam perkembangannya Baombai tidak hanya dilakukan ketika akan turun ke sawah, tetapi sudah dikemas menjadi sebuah pertunjukan tari.[4]

Makna filosofis

Tari Baombai bukan hanya sebuah tarian tradisional yang indah dan dinamis, tetapi juga cerminan dari kehidupan masyarakat agraris Minangkabau yang penuh dengan makna sosial dan budaya. Tarian ini mengandung nilai-nilai seperti kebersamaan, kerja keras, dan kearifan lokal yang terus dipelihara dari generasi ke generasi. Melalui pertunjukan Baombai, kita tidak hanya melihat keindahan gerakan dan irama, tetapi juga merasakan kedalaman tradisi yang mengakar dalam kehidupan masyarakat di Padang Laweh, Kabupaten Sijunjung. Baombai, dengan segala transformasinya, tetap menjadi simbol kebanggaan dan identitas budaya yang kuat, yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, dan mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang.[1]

Gerakan tari

Gerakan pada tari maombai terdiri dari beberapa gerakan utama diantaranya:[4]

  1. Gerakan maangkek cangkua (mencangkul). Gerakan ini merupakan gerakan awal baombai dalam sebuah pertunjukan. Gerakan ini diawali dengan, penari membentuk lingkaran dengan posisi berdiri dan posisi cangkul diangkat sampai setinggi kepala. Penari kemudian menampilkan gerakan seperti mengayunkan cangkul.
  2. Gerakan mambuek luluak (membuat lumpur). Sama halnya dengan gerakan pertama, pada gerakan kedua ini penari menirukan kegiatan mencangkul tanah di sawah yang akan digarap dalam formasi.
  3. Gerakan mancampak (membuang). Gerakan ini diadaptasikan dari aktivitas memindahkan bongkahan tanah yang telah dicangkul ke bagian lain yang masih kosong atau agak rendah. Gerakan ini tetap dilakukan dalam formasi lingkaran.
  4. Gerakan manyimbua. Gerakan ini menirukan aktivitas mendorong bongkahan tanah ketempat yang lebih rendah
  5. Gerakan malunyah (menghaluskan tanah). Gerakan ini mengadaptasi dari menginjak-injak bongkahan tanah menjadi lebh halus sehingga mudah untuk ditanami.
  6. Gerakan manjapuik baniah (menjemput benih). Gerakan ini menirukan aktivitas lanjutan dalam turun ke sawah. Setelah lahan sawah diolah maka padi siap untuk ditanam.
  7. Gerakan maatu (menanam). Gerakan ini tidak jauh berbeda dengan gerakan manjapuik baniah. Dalam tahapan ini penari akan menanam benih yang sudah dibagikan oleh tobo kociak. Gerakan ini dilakukan dalam formasi lurus dan pola lantai maju mundur sesuai dengan irama dari pantun yang didendangkan.
  8. Gerakan basiang (menyiangi). Gerakan·basiang dilakukan setelah proses menanam selesai. Basiang dimaksudkan untuk membersihkan tanaman padi dari rumput·rumput liar. Pada gerakan ini penari akan lebih santai dan dendang yang dikumandangkan iramanya lebih cepat.
  9. Gerakan mananti padi tobiek (menunggu padi masak). Pada gerakan ini para penari akan bercengkrama sambil memerankan aktivitas memancing belut, mengumpulkan siput dan menangkap katak. Aktivitas ini hampir sama dalam keseharian masyarakat, di mana sambil menunggu padi tumbuh, mereka akan tetap pergi ke sawah untuk memastikan keadaan air, hama dan hal-hal yang mengganggu pertumbuhan padi.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c admin (2024-10-15). "Kesenian Baombai Masyarakat Kecamatan Koto VII Kabupaten Sijunjung". Surau Intellectual for Conservation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-10-18.
  2. ^ Febriansyah Putra, Akhmad (27/11/2022). "Kesenian Baombai Kreasi B udaya Oleh Masyarakat Nagari Padang Laweh". Sumbarsatu. Diakses tanggal 18/10/2025.
  3. ^ "Tari Baombai dan Bakpo Nan Saraf dari Sijunjung Resmi Menjadi WBTB Indonesia Tahun 2024". Website Resmi Pemerintah Kabupaten Sijunjung. 2024-08-26. Diakses tanggal 2025-10-18.
  4. ^ a b Dona, Rahma (2021). Kesenian Tari Baombai (PDF). Padang: KEMENTERIAN PENDIDIKAN. KEBUDAYAAN. RISET DAN TEKNOLOGI. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya