Barong Landong
Barong Landong merupakan sejenis alat permainan yang berbentuk manusia raksasa. Barong Landong biasanya ditampilkan dalam arak-arakan atau pesta rakyat. Alat permainan namun tersebut terbuat dari kerangka lukah/bubu penangkap ikan, diberi tangan dan kepala seperti manusia berparas lelaki dan perempuan, dan didandani seperti pengantin tradisional Bengkulu. Barong Landong dapat diklasifikasikan sejenis antara lain dengan Reog Ponorogo, Barongsai, Ondel-Ondel Betawi, dan Barong Landung Bali.[1][2]
Sejarah
Barong Landong ini diduga dipengaruhi oleh kebudayaan Tionghoa, hal tersebut dikarenakan kata barong merupakan bahasa Cina yang dapat diartikan sebagai boneka besar. Sedangkan landong atau landung diartikan besar serta tinggi yang merupakan bahasa Suku Lembak, Bengkulu, yang membuat kesenian tersebut.[3]
Barong landong mengalami 3 priodisasi perkembangan, yaitu masa penciptaan di abad ke-19, masa tahun 1990 saat dilakukan penggalian, dan tahun 2012 ketika barong landong diaktifkan lagi sebagai sarana hiburan dalam berbagai kegiatan dan perayaan.[4]
Barong Landong diyakini sudah ada sejak tahun 1800-an atau akhir abad ke-19 namun sempat menghilang sekitar 50 tahun. Kesenian ini menjadi hiburan alternatif sekaligus sebagai media ucapan syukur masyarakat atas hasil panen sawah yang diperoleh saat itu. Kesenian ini bertahan hingga masuknya Jepang ke Bengkulu yang melarang kesenian barong landong ditampilkan.[4]
Baru pada tahun 1990, kesenian barong landong kembali digali melalui proses penelitian dan rekonstruksi yang dilakukan oleh Taman Budaya Bengkulu. Kegiatan ini diprakarsai oleh Bapak H. R. Roesman Moehiman yang saat itu menjabat Kepala Taman Budaya Bengkulu (Semarak Bengkulu, 19 Oktober 1992). Tahun 2012 mulai dibuat kembali dan ditampilkan pada aktivitas perayaan seperti festival tabut dan prosesi menyambut tamu negara. Dengan demikian sudah berbeda dengan fungsi awalnya sebagai perayaan pesta panen sudah tidak pernah lagi ditampilkan.[4]
Struktur Barong Landong
Alat permainan tersebut terbuat dari kerangka lukah/bubu penangkap ikan, diberi tangan dan kepala seperti manusia berparas lelaki dan perempuan, dan didandani seperti pengantin tradisional Bengkulu. Barong Landong tersebut didandani memakai topi yang disebut singal dan pada zaman dulu mengenakan kain dompak yang bersulam benang emas. Saat ini kain tersebut sudah sulit dicari dan digantikan dengan kain besurek khas Bengkulu. ""Barong Landong yang mempunyai berat masing-masing sekitar 15 kg dengan tinggi 250 cm sampai 275 cm dan lebar 100 cm. tersebut dimainkan dengan digerak-gerakkan oleh orang yang masuk didalamnya dengan diiringi musik kulintang dan dol serta penari dengan jumlah keseluruhan pemain sekitar 10 orang. Sekilas, Barong Landong tampak mirip dengan Barongan atau Boneka Betawi atau yang dikenal dengan sebutan Ondel-ondel, tetapi ada perbedaan mendasar antara Barong Landong dengan Ondel-ondel, baik dari segi historis, bahan dan cara pembuatan serta alat pengiring dalam pertunjukan. Ondel-ondel biasanya diiringi oleh tanjidor, sedangkan Barong Landong diiringi oleh Rebana, Gendang panjang, Kulintang dan serunai.[1]
Upaya Melestarikan

Meskipun sempat hilang dan terlupakan, Barong landong terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat. Barong Landong pernah dilombakan pada Festival Tabut yang merupakan acara tahunan Provinsi Bengkulu tahun 2012. Lalu pada tahun 2023, Barong Landong juga ditampilkan di Festival Tabut, yaitu berkolaborasi dengan ondel-ondel Jakarta melalui Komunitas Ondel-Ondel Jakarta (Koja) dan Asosiasi Ondel-Ondel Indonesia (Asoy).[2][5] Pada akhir tahun 2020 Barong Landong Kota Bengkulu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).[6]
Referensi
- ^ a b https://referensi.data.kemdikbud.go.id/budayakita/wbtb/objek/AA001439
- ^ a b Agency, ANTARA News. "Mengenal dua jenis Barong Landong Bengkulu". ANTARA News Bengkulu. Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ koranrb.id. "Barong Landong, Warisan Budaya Bengkulu yang Sempat Hilang dan Terlupakan". koranrb.id. Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ a b c Arios, Rois Leonard (2017). "BARONG LANDONG: FUNGSI DAN PELESTARIANNYA SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA ORANG LEMBAK DI KOTA BENGKULU" (PDF). Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. 3 (2): 751–768.
- ^ Agency, ANTARA News. "Barong Landong Ditampilkan Pada Festival Tabot". ANTARA News Bali. Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ "Barong Landong Bengkulu Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Jadi Perhatian Pengmas UI | ruzka". ruzka.republika.co.id. Diakses tanggal 2025-06-18.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.