Bawang dan Kesuna

Bawang dan Kesuna (Ni Bawang Teken Ni Kesuna) adalah sebuah cerita rakyat yang berasal dari Bali. Legenda ini mengisahkan tentang dua saudara perempuan yang memiliki sifat bertolak belakang dan mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatan mereka masing-masing. Dalam bahasa Bali, bawang merujuk pada bawang merah, sedangkan kesuna berarti bawang putih. Meskipun memiliki kemiripan judul dengan cerita Bawang Merah dan Bawang Putih dari tradisi Melayu/Jawa, versi Bali ini memiliki detail alur dan simbolisme budaya yang khas.[1]

Alur cerita[1]

Cerita berpusat pada dua saudari, Bawang dan Kesuna. Bawang digambarkan sebagai sosok yang malas, pandai bermulut manis, dan sering memfitnah saudarinya untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Sebaliknya, Kesuna adalah sosok yang rajin, jujur, dan tekun dalam bekerja.

Konflik memuncak ketika Bawang memfitnah Kesuna di hadapan kedua orang tua mereka. Bawang mengotori tubuhnya sendiri dengan arang dan mengaku telah bekerja keras, sementara menuduh Kesuna hanya bermalas-malasan. Karena termakan fitnah tersebut, orang tua mereka murka dan mengusir Kesuna dari rumah.

Pertemuan dengan Burung Cerukcuk

Dalam pengasingannya di hutan, Kesuna bertemu dengan seekor burung cerukcuk kuning. Merasa putus asa, Kesuna memohon kepada burung tersebut untuk mengakhiri hidupnya. Namun, burung tersebut justru mematuk bagian-bagian tubuh Kesuna yang kemudian secara ajaib berubah menjadi perhiasan emas mulai dari mahkota, kalung, hingga gelang.

Ganjaran bagi Bawang

Mengetahui Kesuna menjadi kaya karena bantuan burung cerukcuk, Bawang dan ibunya mencoba meniru kejadian tersebut dengan penuh keserakahan. Mereka bersandiwara seolah-olah Bawang disiksa dan diusir ke hutan. Saat bertemu dengan burung cerukcuk yang sama, Bawang meminta untuk dipatuk agar mendapatkan emas. Namun, alih-alih perhiasan, patukan burung tersebut justru menyebabkan luka parah di sekujur tubuh Bawang yang kemudian mengundang lintah, ular, dan binatang berbisa lainnya sebagai bentuk ganjaran atas sifat buruknya.

Simbolisme dan Makna[1]

Cerita ini sarat akan ajaran moral yang sering ditemukan dalam budaya Bali:

  • Karakteristik: Bawang melambangkan sifat buruk manusia seperti lobha (keserakahan) dan moha (kebingungan/kebohongan), sementara Kesuna melambangkan kesabaran dan kejujuran.
  • Karma: Legenda ini merupakan personifikasi dari hukum Karma Phala, di mana setiap perbuatan (baik atau buruk) akan membuahkan hasil yang setara di masa depan.
  • Flora: Penggunaan bawang merah dan bawang putih sebagai nama tokoh mencerminkan kedekatan masyarakat Bali dengan bumbu dapur utama yang memiliki filosofi tersendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c "Cerita Rakyat Bali: Bawang dan Kesuna, Kisah Pertarungan Karma Baik vs Karma Buruk". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2026-02-05.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya