Buldanul Khuri

Buldanul Khuri
Lahir25 Februari 1965 (umur 61)
Kotagede, Yogyakarta, Indonesia
KebangsaanIndonesia
AlmamaterInstitut Seni Indonesia Yogyakarta (Desain Komunikasi Visual)
PekerjaanPendiri Penerbit, desainer sampul buku
Tahun aktif1992–sekarang
Dikenal atasPendiri Penerbit Bentang Pustaka
Facebook: 61576769020326 Instagram: buldanul_khuri Modifica els identificadors a Wikidata

Buldanul Khuri adalah pendiri perusahaan penerbitan, desainer sampul buku, dan tokoh perbukuan Indonesia asal Kotagede, Yogyakarta.[1] Ia mendirikan Penerbit Bentang pada 1992, yang menerbitkan berbagai karya sastra dan humaniora pada era Reformasi.[2][3] Setelah Bentang diakuisisi oleh Mizan Pustaka pada 2004 dan menjadi Bentang Pustaka, Buldanul mendirikan Penerbit Mata Bangsa yang masih dikelolanya hingga saat ini.[1][4]

Kehidupan awal dan pendidikan

Buldanul Khuri lahir pada 25 Februari 1965 di Kotagede, Yogyakarta, di lingkungan yang akrab dengan dunia cetak-mencetak.[1] Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan dunia percetakan, karena kakaknya memiliki percetakan di Kampung Selokraman, Kotagede.[3] Di bangku SMP Muhammadiyah pada awal 1980-an, ia sudah mampu menerbitkan buku puisi karyanya sendiri. Mulai dari desain sampul, tata letak isi, hingga format buku dikerjakannya sendiri, kemudian dicetak di percetakan milik kakaknya.[3]

Selepas SMA, ia sempat bergabung di majalah Gelanggang terbitan Shalahuddin Press UGM.[5] Ia kemudian menempuh pendidikan di Jurusan Desain Komunikasi Visual, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.[1]

Karier

Pendirian Penerbit Bentang (1992)

Pada 1992, Buldanul Khuri mendirikan Penerbit Bentang di Yogyakarta.[1][2] Penerbit ini hadir di tengah kondisi ketika sejumlah penerbit mapan pada masa itu cenderung menghindari penerbitan buku sastra dan humaniora karena dianggap kurang menguntungkan secara komersial.[2][3] Bentang menerbitkan buku bertema seni, sastra, dan filsafat, dengan desain sampul yang melibatkan karya perupa Indonesia, seperti Djoko Pekik, Nasirun, Danarto, Agung Kurniawan, dan Agus Suwage.

Dalam kajian mengenai sejarah perbukuan Indonesia, Bentang pada masa kepemimpinan Buldanul Khuri disebut sebagai salah satu tokoh yang memberi perhatian pada aspek visual buku melalui desain sampul yang melibatkan perupa, termasuk Harry "Ong" Wahyu.[6]

Salah satu buku awal yang diterbitkan Bentang adalah kumpulan cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma (1994), yang mengisahkan Insiden Dili 12 November 1991 melalui medium sastra di tengah kendali ketat rezim Orde Baru terhadap pers.[3][5] Buku tersebut merupakan salah satu terbitan awal Bentang yang membahas Insiden Dili melalui karya sastra.[3]

Pada akhir 1990-an, Bentang juga menerbitkan Syekh Siti Jenar: Pergumulan Islam-Jawa karya Abdul Munir Mulkhan. Menurut Buldanul Khuri, buku tersebut mengalami beberapa kali cetak ulang setelah dua cetakan pertamanya habis terjual.[7]

Selama periode 1994–1998, Bentang menghadapi kesulitan finansial. Buldanul sempat berjualan kaktus di Bundaran UGM, sementara sejumlah karyawannya meninggalkan perusahaan karena keterlambatan pembayaran gaji.[8] Pada 1998, Bentang menerbitkan ulang karya-karya Kahlil Gibran. Pada periode 1998–2002, penerbit tersebut menerbitkan hingga sekitar 30 judul buku setiap bulan.[8] Pada periode yang sama, Bentang juga memperoleh dukungan pendanaan dari Ford Foundation.[8]

Pada 2002, Mizan Pustaka mengajukan kerja sama, namun Buldanul menolaknya. Pada 2004, setelah Bentang mengalami berbagai persoalan, ia bergabung dengan Mizan dan terbentuk PT Bentang Pustaka dengan Buldanul sebagai direktur.[8] Ia kemudian keluar dari Bentang Pustaka karena merasa tidak dapat berkarya secara bebas dalam struktur perusahaan yang lebih industrial.[8]

Penerbit Mata Bangsa (2000–sekarang)

Pada tahun 2000, sebelum meninggalkan Bentang, Buldanul mendirikan Penerbit Mata Bangsa, yang masih dikelolanya hingga saat ini.[1][4] Di bawah Mata Bangsa, ia menerbitkan buku-buku ensiklopedia daerah, antara lain Ensiklopedia NU: Sejarah, Tokoh, dan Khazanah Pesantren, Ensiklopedi Muhammadiyah: Sejarah, Tokoh, dan Pemikiran, Ensiklopedia Jawa Barat: Alam, Masyarakat, dan Budaya, serta Ensiklopedia Masjid Nusantara: Sejarah, Budaya, dan Dinamika.[1][4]

Pameran arsip di MocoSik Festival 2018

Pada April 2018, dalam rangkaian MocoSik Festival di Yogyakarta, Buldanul Khuri menggelar pameran arsip sampul buku yang dibuatnya selama 25 tahun berkarya di dunia perbukuan Indonesia.[4][9] Pameran tersebut sekaligus memperingati wafatnya sastrawan Danarto dan ditutup dengan diskusi bertajuk "Adu Janji".[5]

Pengaruh dalam perbukuan Indonesia

Sejumlah sumber mengaitkan aktivitas Buldanul dalam penerbitan buku sastra, humaniora, dan seni dengan perkembangan ekosistem perbukuan di Yogyakarta dan Indonesia.[2][3] Penerbit-penerbit yang lahir dari lingkungan ekosistem Bentang antara lain Jendela, Pustaka Sufi, IndonesiaTera, Jalasutra, Navila, dan LKiS, yang sebagian besar didirikan oleh orang-orang yang pernah bersinggungan langsung dengan Bentang Budaya.[10]

Dalam perancangan sampul buku, Buldanul secara konsisten melibatkan karya perupa Indonesia. Pendekatan tersebut dibahas dalam sejumlah tulisan mengenai desain buku di Indonesia.[3]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g "Buldanul Khuri". Borobudur Writers and Cultural Festival. Diakses tanggal 2026-06-27.
  2. ^ a b c d "Kembalinya Buku-buku "Berat" (1)". detikHot. detikcom. 2015-09-15. Diakses tanggal 2026-06-27.
  3. ^ a b c d e f g h "Buldan, Buku Bagus, Bangsa Buku". Majalah Basis. Diakses tanggal 2026-06-27.
  4. ^ a b c d "Karya 25 Tahun Buldanul Khuri di MocoSik Festival 2018". Good News From Indonesia. 2018-04-20. Diakses tanggal 2026-06-27.
  5. ^ a b c Ahmad, Suhairi (2024-11-30). "Buldanul Khuri: Legenda Hidup Perbukuan Yogyakarta". Medium. Diakses tanggal 2026-06-27.
  6. ^ Trimansyah, Bambang (2022). Sejarah Perbukuan: Kronik Perbukuan Indonesia Melewati Tiga Zaman (PDF) (Edisi Cetakan pertama). Jakarta Selatan: Pusat Perbukuan, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. hlm. 132.
  7. ^ "Dia yang Bernama Syekh Siti Jenar". Tempo. 12 Maret 2000. Diakses tanggal 2026-07-08.
  8. ^ a b c d e Herliany, Dorothea Rosa. Buldan dengan Tiga Bukan. Mata Angin. ISBN 978-979-9471-43-7.
  9. ^ "MocoSik Festival Beri Ruang Khusus untuk Buldanul Khuri". Sastra-Indonesia.com. 2019-09-01. Diakses tanggal 2026-06-27.
  10. ^ Octopus, Adhe (2016-08-10). "Silsilah Penerbit Jogja (1984–2007)". Diakses tanggal 2026-06-27.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya