Cetak Putih

Salinan rencana cetak putih.
Cetakan putih milik Uni Soviet. Tahun 1970-an.

Cetak putih merupakan teknik reproduksi dokumen yang memanfaatkan proses kimia diazo. Proses ini dikenal pula sebagai cetak garis biru karena menghasilkan garis berwarna biru di atas latar putih. Prinsip kerjanya adalah pencetakan kontak sehingga dapat mereproduksi dokumen tembus cahaya dengan ukuran yang akurat sesuai aslinya. Namun, cetak putih memiliki keterbatasan dalam mereproduksi gradasi nada karena hanya mampu menampilkan rentang nada yang terbatas, tanpa unsur warna. Proses ini menggunakan kertas yang dilapisi senyawa diazonium dan coupler yang akan bereaksi saat terkena sinar ultraungu dan kemudian dikembangkan menggunakan uap amonia. Cetak putih banyak digunakan pada pertengahan abad ke-20 untuk menggandakan gambar teknik dan arsitektur sebelum digantikan oleh teknologi pencetakan digital.[1]

Sensitivitas cahaya dari bahan kimia yang digunakan telah diketahui sejak tahun 1890-an dan beberapa proses pencetakan terkait dipatenkan pada periode tersebut. Pencetakan garis putih menggantikan proses cetak biru untuk mereproduksi gambar arsitektur dan teknik sekitar pergantian abad ke-20 karena prosesnya lebih sederhana dan menggunakan bahan kimia yang lebih sedikit serta kurang beracun. Cetakan garis biru bersifat tidak permanen dan akan memudar apabila terpapar cahaya selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Meskipun demikian, daya tahan selama beberapa bulan sudah memadai sebagai gambar kerja untuk berbagai keperluan, sementara gambar asli pada kertas vellum dapat disimpan dan dicetak ulang sewaktu-waktu.

Cetak putih memanfaatkan kertas yang dilapisi garam diazonium yang akan terurai jika terkena sinar ultraungu. Bagian yang tertutup gambar akan tetap utuh dan kemudian bereaksi dengan uap amonia sehingga membentuk garis berwarna biru. Pencetakan garis putih mulai ditinggalkan sekitar pergantian abad ke-21 karena gambar teknik beralih ke perancangan dibantu komputer (Computer Aided Design) atau CAD. Akibatnya, perajah digital atau pencetak format besar, yang terkadang masih disebut secara informal sebagai "printer cetak biru", menjadi lebih banyak digunakan.

Proses pencetakan diazo

Diazonium (kiri), yang bergabung dengan zat penggandeng (tengah) untuk menghasilkan pewarna azo berwarna pekat (kanan).

Dua komponen mendasari pencetakan diazo[1]:

  1. Garam diazonium : suatu zat kimia yang peka terhadap cahaya.
  2. Penggabung: zat kimia tak berwarna yang bergabung dengan garam untuk menghasilkan warna.

Dalam konteks yang terkait, proses ini bergantung pada dua sifat senyawa diazonium:

  1. Zat pewarna tersebut dinonaktifkan oleh cahaya, yaitu terurai secara permanen menjadi produk yang tidak dapat membentuk zat pewarna dengan warna pekat.
  2. Senyawa yang tidak terdegradasi bereaksi dengan agen penggabung (yang tidak berwarna) untuk menghasilkan produk yang berwarna pekat.

Dalam berbagai kombinasi dan konsentrasi, kedua bahan kimia ini dicampur dalam air dan dilapisi pada kertas . Lapisan yang dihasilkan kemudian dikeringkan sehingga menghasilkan kertas yang telah diolah secara khusus dan dijual secara komersial sebagai kertas diazo. Larutan ini juga dapat diaplikasikan pada film poliester atau pada kertas kalkir .

Proses dimulai dengan dokumen asli yang dibuat pada media tembus cahaya. Media tersebut meliputi film poliester, kertas kalkir, linen, dan kertas kalkir transparan. Media apa pun yang memungkinkan sebagian cahaya melewatinya biasanya berfungsi sebagai master; daya tahan master yang diinginkan menentukan pilihan. Tergantung pada ketebalan dan jenis master, intensitas cahaya paparan sinar ultraungu disesuaikan sesuai dengan jenis media yang umum digunakan untuk master di setiap toko tertentu. Demikian pula, kontrol kecepatan (untuk mengatur kecepatan penarikan lembaran melalui mesin) biasanya juga telah ditandai sebelumnya di setiap toko tertentu, setelah dioptimalkan berdasarkan uji coba.

Dokumen asli diletakkan di atas sisi kertas diazo yang dilapisi bahan kimia, yang diambil dari map datar yang terlindungi dari cahaya, dan kedua lembar tersebut dimasukkan ke dalam mesin pengganda diazo, ditarik ke dalam mesin oleh roda gesekan karet yang berputar. Terdapat dua ruang di dalam mesin. Yang pertama adalah area pemaparan, di mana lapisan dua lembar (master dan kertas diazo) melewati lampu ultraungu. Sinar ultraungu menembus dokumen asli dan menetralkan garam diazonium yang peka terhadap cahaya di mana pun tidak ada gambar pada master. Area-area ini menjadi area putih pada salinan. Setelah proses ini selesai, gambar yang belum dikembangkan di lokasi di mana sinar ultraungu tidak dapat menembus seringkali dapat dilihat sebagai tanda/garis kuning atau putih yang sangat samar pada lembaran diazo. Ini menyelesaikan fase pemaparan.

Selanjutnya, lembaran asli dikupas dari kertas diazo saat lapisan master dan diazo keluar dari mesin, dan lembaran diazo saja dimasukkan ke dalam ruang pengembangan. Di sini, uap amonium hidroksida menciptakan lingkungan yang sangat basa . Dalam kondisi ini, pewarna azo (kopler) bereaksi dengan sisa garam diazonium dan mengalami reaksi kimia yang mengakibatkan garis-garis yang tidak terpapar berubah warna dari tidak terlihat (atau kuning) menjadi warna gelap yang terlihat. Rentang warna untuk garis-garis ini biasanya biru atau hitam, tetapi sepia (warna kecoklatan) juga cukup populer. Saat membuat banyak salinan dari lembaran asli, biasanya tidak lebih dari empat atau lima salinan dapat dibuat sekaligus, karena penumpukan uap amonia, bahkan dengan kipas ventilasi di ruang duplikasi. Penundaan singkat sekitar lima menit seringkali diperlukan agar uap mereda cukup untuk memungkinkan pembuatan salinan tambahan jika tidak ada ventilasi. Banyak toko cetak biru memasang saluran ventilasi dari mesin ke luar. Mesin cetak biru berukuran kecil dan menengah sering dilengkapi dengan penetralisir yang menyerap sebagian amonia untuk beberapa waktu.

Apabila garis yang dihasilkan terlalu samar, cetakan garis biru dapat dimasukkan kembali ke dalam ruang pengembang untuk meningkatkan kontras garis terhadap media dasar. Kontras yang rendah dan hasil cetak yang samar secara berulang menjadi indikasi bahwa operator perlu menyesuaikan kecepatan mesin atau kadar uap amonia.

Terkadang, lembar asli dan kertas diazo secara tidak sengaja dimasukkan bersamaan ke dalam ruang pengembang. Jika hal tersebut terjadi, pisahkan lembar asli dari kertas diazo, lalu masukkan kembali lembaran diazo ke dalam pengembang agar garam diazoniumyang tersisa dapat bereaksi sepenuhnya dan garis menjadi tegas.

Pencetakan diazo, atau cetak putih, merupakan salah satu metode reproduksi gambar teknik dan arsitektur berukuran besar yang paling ekonomis selama periode 1920-an hingga 1990-an. Keunggulan ekonomis ini diperoleh karena biaya bahan habis pakai yang rendah, kecepatan proses yang tinggi, dan kemampuan menghasilkan salinan dalam ukuran asli tanpa memerlukan peralatan fotografis yang mahal. Oleh karena itu, metode ini menjadi standar di biro arsitek dan perusahaan teknik sebelum tergantikan oleh pencetak format besar digital.

Cetakan yang memudar

Salah satu karakteristik cetakan diazo bergaris biru adalah sifatnya yang tidak permanen. Akibat paparan sinar ultraungu secara terus-menerus, baik dari sinar matahari maupun lampu fluoresen di ruang kantor, salinan garis biru dapat memudar dalam hitungan bulan jika disimpan di dalam ruangan, atau dalam beberapa hari jika terpapar di luar ruangan, hingga akhirnya tidak terbaca.

Karakteristik tersebut mengharuskan penggandaan ulang dokumen asli setiap beberapa bulan di lingkungan kerja untuk proyek yang menggunakan cetak garis biru. Oleh sebab itu, gambar garis biru yang berfungsi sebagai salinan kerja teknik perlu dilindungi ketika tidak digunakan dengan cara menyimpannya di dalam map datar pada tempat yang gelap dan kering. Pada area yang mengharuskan cetakan teknik garis biru dipajang di dinding dalam jangka waktu lama, umumnya digunakan pencahayaan lampu pijar karena spektrum cahayanya memancarkan radiasi sinar ultraungu yang lebih rendah sehingga dapat memperlambat proses pemudaran.

Cetakan garis biru yang proses pemaparannya tidak tepat cenderung memudar lebih cepat karena reaksi kimia pada fase pengembangan dengan amonia belum tuntas dan akan terus berlangsung. Meskipun demikian, cetakan garis biru yang telah diproses dengan benar tetap tidak boleh terpapar unsur lingkungan secara langsung. Cetakan yang disimpan di dalam map datar atau digantung pada rak di ruangan bersuhu sejuk, kering, dan minim cahaya umumnya dapat mempertahankan ketajaman garis selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut memungkinkan dokumen untuk dipindai ke format digital sebagai upaya preservasi maupun untuk keperluan reproduksi lanjutan.

Kehancuran teknologi

Proses pencetakan garis biru mulai ditinggalkan secara luas oleh komunitas arsitektur dan teknik sejak tahun 1999. Beberapa faktor yang mendorong peralihan tersebut antara lain perkembangan teknologi perancangan dan pencetakan dibantu komputer (Computer Aided Design), peningkatan kecepatan mesin cetak digital, serta kemunculan mesin xerografi dan pencetak format besar dari perusahaan seperti Ricoh dan Xerox.Faktor lain yang mempercepat penggantian teknologi ini adalah biaya produksi yang tinggi untuk bahan dan peralatan cetak diazo, sifat hasil cetakan yang tidak tahan cahaya sehingga mudah memudar, serta keharusan menggunakan uap amonia sebagai bahan pengembang yang berbau menyengat dan memerlukan sistem ventilasi khusus. Kombinasi keterbatasan teknis, biaya operasional, serta isu kesehatan dan keselamatan kerja membuat pencetak format besar berbasis tinta menjadi pilihan yang lebih disukai.

Lihat juga

Referensi

  1. ^ a b Pai, Damodar M.; Melnyk, Andrew R.; Weiss, David S.; Hann, Richard; Crooks, Walter; Pennington, Keith S.; Lee, Francis C.; Jaeger, C. Wayne; Titterington (2005), "Imaging Technology, 2. Copying and Nonimpact Printing Processes", Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Weinheim: Wiley-VCH, hlm. 1–53, doi:10.1002/14356007.o13_o08.pub2

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya