Cucak kutilang

Cucak kutilang
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Passeriformes
Infraordo: Passerides
Famili: Pycnonotidae
Genus: Pycnonotus
Spesies:
P. aurigaster
Nama binomial
Pycnonotus aurigaster
(Vieillot, 1818)
Cucak kutilang sedang membersihkan bulu-bulunya

Cucak kutilang,[2]: 284, LG 58,   [3]: 52,  [4]: 59,  [5]: 338  kutilang,[6]: 234,  [7]: 269  ketilang,[8] atau burung nilam adalah sejenis burung pengicau dari suku Pycnonotidae. Dalam bahasa Inggris burung ini disebut Sooty-headed Bulbul, sementara nama ilmiahnya adalah Pycnonotus aurigaster; mengacu pada bulu-bulu di sekitar pantatnya yang berwarna jingga (Gr.: aurum emas, gaster perut).

Pemerian

Burung yang berukuran sedang, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 20 cm. Bagian atas kepala, mulai dari dahi, topi, dan jambul berwarna hitam jelaga. Sisi atas tubuh (punggung, ekor) berwarna cokelat kelabu, sisi bawah (tenggorokan, leher, dada dan perut) putih keabu-abuan. Tunggir (di muka ekor) berwarna putih, tampak jelas ketika terbang, serta dengan penutup pantat berwarna jingga.[2]: 284 

Iris mata cucak kutilang berwarna merah, sedangkan paruh dan kakinya berwarna hitam.[2]: 284 

Perilaku dan sebaran

Cucak kutilang kerap mengunjungi tempat-tempat terbuka seperti tepi jalan, kebun, pekarangan, semak belukar dan hutan sekunder, sampai dengan ketinggian sekitar 1.600 m dpl. Sering pula ditemukan hidup meliar di taman dan halaman-halaman rumah di perkotaan. Burung kutilang acapkali berkelompok, baik ketika mencari makanan maupun bertengger, dengan jenisnya sendiri maupun dengan jenis merbah yang lain, atau bahkan dengan jenis burung yang lain.[2]: 284,  [7]: 269 

Seperti umumnya merbah, makanan burung ini terutama adalah buah-buahan yang lunak dan serangga. Cucak kutilang sering menjengkelkan petani karena kerap melubangi buah pepaya dan pisang yang telah masak di kebun. Namun, di balik itu burung ini juga menguntungkan para petani karena memangsa berbagai jenis serangga, ulat, dan aneka hewan kecil lainnya yang menjadi hama tanaman.

Ketilang memiliki kebiasaan untuk berjemur dan mandi embun setiap pagi. Hal ini berguna untuk menjaga bulunya yang terus diminyaki. Minyak ini berasal dari bagian belakang dekat ujung ekornya yang berhubungan dengan badan. Burung ketilang juga memiliki kebiasaan menaikkan jambulnya bila senang maupun ingin buang air besar. Burung ketilang pun memiliki masa "mabung" yaitu saat di mana bulu yang lama rontok dan berganti bulu yang baru. Di saat mabung burung ketilang akan cenderung lebih diam baik secara suara maupun gerakan.

Sarang cucak kutilang berbentuk cawan dari anyaman daun rumput, tangkai daun atau ranting yang halus. Telur dua atau tiga butir, berwarna kemerah-jambuan berbintik ungu dan abu-abu. Tercatat bersarang sepanjang tahun kecuali November, dengan puncaknya April sampai September.[6]: 235,  [7]: 269 

Kutilang menyebar luas di Tiongkok selatan dan Asia Tenggara (kecuali Semenanjung Malaya), Jawa serta Bali.[9]: 264  Diintroduksi ke Sumatra dan Sulawesi, semenjak tahun 1984 burung ini mulai didapati di Kalimantan,[2]: 284  dan kini juga di seluruh Nusa Tenggara dan Maluku Tengah.[5]: 338, peta 

Galeri

Referensi

  1. ^ IUCN Detail 22712699
  2. ^ a b c d e MacKinnon, J., K. Phillipps, & B. van Balen (1998). Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Bogor: LIPI dan BirdLife IP. ISBN 979-579-013-7
  3. ^ Sukmantoro W., M. Irham, W. Novarino, F. Hasudungan, N. Kemp & M. Muchtar (2007). Daftar Burung Indonesia no. 2. Bogor: Indonesian Ornithologists’ Union.
  4. ^ Burung Indonesia & B. van Balen (2010). Informasi Tambahan Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Bogor: Burung Indonesia.
  5. ^ a b J.A. Eaton, B. van Balen, N.W. Brickle, & F.E. Rheindt (2022). Burung-burung pulau paparan Sunda dan Wallacea di Kepulauan Indonesia. Barcelona: Lynx Edicions.
  6. ^ a b Hoogerwerf, A. (1950). "De avifauna van de Plantentuin te Buitenzorg (Java)". Limosa, 23 (1) : 159 - 280.
  7. ^ a b c J. MacKinnon (1993). Panduan lapangan pengenalan burung-burung di Jawa dan Bali. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ISBN 979-420-150-2
  8. ^ KBBI VI Daring: ketilang, diakses pada 20/x/2025
  9. ^ King, B., M. Woodcock, & E.C. Dickinson (1975). A Field Guide to The Birds of South-East Asia. London: Collins. ISBN 0-00-219206-3

Bacaan tambahan

  • Coates, B.J. and K.D. Bishop. 2000. Panduan lapangan Burung-burung di Kawasan Wallacea. BirdLife IP & Dove Publication. Bogor. ISBN 979-95794-2-2

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya