Cursus publicus
cursus publicus | |
| Tanggal pendirian | Akhir abad ke-1 SM |
|---|---|
| Pendiri | Augustus |
| Tanggal pembubaran | Berubah secara bertahap setelah abad ke-6 |
| Jenis | Sistem transportasi dan komunikasi resmi negara |
| Tujuan | Perjalanan pejabat, pengiriman berita resmi, dan pengangkutan barang negara tertentu |
Wilayah layanan | Kekaisaran Romawi |
Nama sebelumnya | Vehiculatio |
Cursus publicus adalah sistem transportasi dan komunikasi resmi yang diawasi negara dalam Kekaisaran Romawi. Sistem ini memungkinkan pejabat, utusan, kurir, dan pembawa barang tertentu yang melakukan perjalanan untuk kepentingan negara memperoleh hewan pengganti, kendaraan, tenaga pendukung, tempat beristirahat, serta fasilitas lain di sepanjang jaringan jalan kekaisaran. Sistem tersebut dibentuk pada masa Augustus, berkembang dari lembaga yang pada masa awal lebih sering disebut vehiculatio, lalu diperluas dan diatur kembali pada Abad Kuno Akhir. Penggunaannya berlanjut dalam Kekaisaran Romawi Timur dan, dengan sejumlah perubahan, di Kerajaan Ostrogoth.[1][2]
Cursus publicus sering disebut “dinas pos Romawi”, tetapi istilah tersebut dapat menyesatkan. Sistem ini tidak menjalankan pengambilan dan pengantaran surat secara terjadwal untuk masyarakat umum, tidak terbuka bagi semua penduduk, dan tidak selalu menyediakan kurir milik negara. Pada dasarnya, negara menyediakan atau memerintahkan penyediaan sarana perjalanan resmi; pejabat atau lembaga pengirim biasanya tetap bertanggung jawab menentukan kurir, pengawal, dan orang yang membawa surat atau barang tersebut.[1] Dengan demikian, sistem ini lebih dekat dengan jaringan angkutan dinas, rumah singgah, kendaraan, dan hewan pengganti daripada layanan pos modern.
Penyelenggaraannya bergantung pada kewajiban yang dibebankan kepada kota, komunitas, pemilik tanah, kontraktor, dan penduduk di sepanjang rute. Mereka menyediakan kuda, bagal, keledai, lembu, gerobak, pakan, tempat bermalam, dan tenaga kerja. Pada periode tertentu negara memberikan pembayaran atau penggantian, tetapi pada Abad Kuno Akhir banyak beban tersebut menjadi bagian dari kewajiban publik atau munus. Karena biayanya tinggi dan rawan disalahgunakan, penggunaan cursus publicus memerlukan surat izin resmi dan menjadi pokok banyak peraturan kekaisaran.[1][3]
Istilah
Kata Latin cursus berarti “perjalanan”, “lintasan”, atau “gerak”, sedangkan publicus berarti “milik negara” atau “berkaitan dengan kepentingan publik”. Ungkapan cursus publicus dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai “perjalanan negara” atau “jalur resmi”. Namun, istilah tersebut tidak selalu digunakan sejak awal keberadaan lembaga.
Pada masa Principatus, sistem ini sering disebut vehiculatio, dari kata vehiculum (“kendaraan”). Kepala pengawasannya di Italia dikenal sebagai praefectus vehiculorum. Sebutan cursus publicus menjadi semakin umum pada masa Kekaisaran akhir, ketika administrasi dan peraturannya berkembang lebih kompleks.[2]
Sumber Yunani menggunakan beberapa istilah:
- δημόσιος δρόμος (dēmosios dromos), “jalur negara”;
- ὀξὺς δρόμος (oxys dromos), “jalur cepat”, untuk cursus velox;
- πλατὺς δρόμος (platys dromos), “jalur lebar” atau angkutan lambat;
- ἀγγαρεία (angareia), kewajiban menyediakan angkutan atau pelayanan bagi negara.
Kata angareia berasal dari tradisi angkutan kerajaan Persia dan kemudian memperoleh arti luas sebagai kerja paksa, pelayanan wajib, atau pengambilan kendaraan dan hewan untuk kepentingan penguasa.
Latar belakang
Komunikasi pada masa Republik
Sebelum masa Augustus, Republik Romawi tidak memiliki satu sistem transportasi negara yang seragam untuk seluruh wilayah kekuasaannya. Magistrat, gubernur, komandan tentara, pemungut pajak, dan utusan mengatur perjalanan menggunakan pembawa pesan pribadi, budak, orang merdeka, prajurit, sekutu, penyedia angkutan setempat, atau hubungan keramahtamahan.
Negara dapat memerintahkan komunitas menyediakan hewan, kapal, penginapan, atau tenaga dalam keadaan tertentu. Pasukan juga membangun serta menggunakan jalan militer. Namun, praktik tersebut merupakan kumpulan kewenangan dan pengaturan khusus, bukan jaringan permanen yang diatur secara menyeluruh.
Kebutuhan komunikasi meningkat seiring wilayah Romawi meluas. Jarak antara Roma, provinsi, pasukan perbatasan, dan pusat pajak membuat pemerintahan bergantung pada arus surat serta perjalanan pejabat. Keterlambatan informasi dapat memengaruhi keputusan militer, pengangkatan gubernur, penanganan pemberontakan, dan pengumpulan pendapatan.
Kemungkinan pengaruh Persia
Sistem kerajaan Kekaisaran Akhemeniyah sering disebut sebagai pendahulu cursus publicus. Menurut Herodotos, raja-raja Persia menggunakan jaringan kurir berantai di sepanjang Jalan Kerajaan, dengan manusia dan kuda ditempatkan pada jarak tertentu. Istilah Yunani angareion dan Latin angarium juga berasal dari lingkungan Persia.
Namun, sistem Augustus tidak sekadar menyalin pola Persia. Jaringan jalan, struktur kota, kewajiban daerah, sistem hukum, dan organisasi administratif Romawi memberikan bentuk yang khas. Hubungan langsung antara setiap unsur lembaga Persia dan Romawi tidak dapat selalu dibuktikan.
Pembentukan oleh Augustus
Suetonius menyatakan bahwa Augustus menempatkan para pemuda pada jarak pendek di sepanjang jalan militer agar berita dari provinsi dapat diterima dengan cepat. Ia kemudian mengganti sistem estafet manusia tersebut dengan kendaraan, sehingga orang yang membawa laporan dapat menyelesaikan seluruh perjalanan dan menjelaskan secara langsung apa yang telah dilihat atau didengarnya.[4]
Keterangan Suetonius merupakan bukti utama pembentukan lembaga ini, tetapi tidak memberikan tanggal pasti. Sistem tersebut kemungkinan dikembangkan secara bertahap pada akhir abad pertama SM, bersamaan dengan penataan provinsi, pembangunan dan perbaikan jalan, sensus, serta pembentukan tentara tetap.
Model kurir tunggal mempunyai keuntungan bagi pemerintahan. Penguasa bukan hanya menerima dokumen, tetapi juga dapat menanyai pembawanya mengenai keadaan jalan, situasi politik, perilaku pejabat, pergerakan pasukan, dan rincian yang tidak tertulis. Sebaliknya, pergantian kurir di setiap stasiun dapat menghasilkan kecepatan lebih tinggi, tetapi menghilangkan kesaksian langsung dari satu pembawa.
Pada masa Augustus, penyediaan angkutan masih bergantung besar pada kota dan penduduk setempat. Negara berusaha mengatur permintaan tersebut agar tidak berubah menjadi pengambilan hewan tanpa batas. Struktur pembiayaan dan pengawasan kemudian diubah oleh para penerus Augustus.
Perkembangan pada masa Principatus
Pembiayaan dan pengawasan
Pada masa awal Kekaisaran, kota dan komunitas di sepanjang jalan diminta menyediakan kendaraan serta hewan. Kewajiban ini dapat diselenggarakan melalui kontraktor atau pengelola yang dalam sumber tertentu disebut mancipes. Mereka mengatur kendaraan, hewan, kandang, pakan, dan pekerja, meskipun arti serta kedudukan istilah tersebut dapat berbeda menurut tempat dan masa.
Beberapa kaisar berusaha mengurangi beban kota atau mengalihkannya kepada keuangan kekaisaran. Koin pada masa Nerva memuat legenda vehiculatione Italiae remissa, yang umumnya dipahami sebagai penghapusan atau pengurangan kewajiban vehiculatio di Italia. Arti praktis dan luas reformasi tersebut masih diperdebatkan karena bukti administratifnya terbatas.
Pada masa Hadrianus, pengawasan di Italia dikaitkan dengan praefectus vehiculorum, seorang pejabat dari ordo ekuestrian. Jabatan tersebut mungkin telah memiliki pendahulu pada masa lebih awal, tetapi bukti mengenai perkembangan awalnya tidak lengkap. Di luar Italia, gubernur provinsi dan bawahannya bertanggung jawab atas pelaksanaan sistem.[5]
Prefek kendaraan tidak secara sederhana menjadi “kepala kantor pos” bagi seluruh kekaisaran. Lingkup jabatannya terutama berhubungan dengan Italia. Di provinsi, pengawasan bergantung pada gubernur, procurator, pejabat kota, dan petugas yang ditunjuk untuk rute tertentu.
Edik Galatia
Salah satu bukti penting masa Principatus adalah prasasti dari Galatia yang memuat peraturan gubernur Sextus Sotidius Strabo Libuscidianus pada masa Tiberius. Edik tersebut membatasi jumlah kendaraan, hewan, dan layanan yang dapat diminta oleh pejabat yang bepergian.
Peraturan itu menunjukkan bahwa masalah penyalahgunaan muncul sejak awal. Pejabat, tentara, dan pengiring dapat menuntut angkutan lebih banyak daripada yang diizinkan, memaksa masyarakat meninggalkan hewan terlalu lama, atau meminta makanan serta tempat tinggal di luar kewajiban resmi. Edik juga menunjukkan bahwa negara berusaha menetapkan ukuran standar agar kebutuhan pemerintahan tidak menghancurkan sumber daya setempat.[1]
Surat Plinius dan Trajanus
Korespondensi antara Plinius Muda, ketika menjadi gubernur Bithynia et Pontus, dan Kaisar Trajanus memperlihatkan pentingnya surat izin. Plinius bertanya apakah izin perjalanan yang telah kedaluwarsa masih dapat digunakan dalam keadaan tertentu. Trajanus menjawab bahwa tanggal izin harus dipatuhi karena pengabaian aturan dapat menimbulkan penyalahgunaan.[6]
Dalam kasus lain, Plinius meminta bantuan agar utusan dari kota tertentu dapat menggunakan sarana negara. Jawaban Trajanus menunjukkan bahwa kaisar dapat memberikan fasilitas jika perjalanan benar-benar berkaitan dengan kepentingan publik, tetapi tidak semua delegasi kota secara otomatis berhak atas angkutan kekaisaran.
Struktur layanan
Infrastruktur, bukan badan kurir tunggal
Cursus publicus menyediakan rangkaian fasilitas perjalanan. Negara atau komunitas tidak selalu menyediakan orang yang membawa surat. Kurir dapat berupa:
- prajurit yang ditugaskan oleh komandan;
- anggota staf gubernur;
- budak atau orang merdeka milik kaisar;
- pejabat administrasi;
- utusan kota;
- petugas istana;
- pada masa akhir, anggota agentes in rebus.
Pengguna membawa surat, uang, dokumen, atau barang dan memperoleh hewan serta kendaraan baru di sepanjang jalan. Oleh karena itu, kecepatan bergantung pada kecakapan pembawa, kondisi jalan, cuaca, ketersediaan hewan, izin, dan tingkat urgensi.
Warga biasa tidak dapat menyerahkan surat kepada sebuah kantor untuk dikirim melalui jaringan ini. Surat pribadi biasanya dibawa budak, pedagang, teman, pelaut, atau orang lain yang bepergian ke arah tujuan. Pejabat yang sedang menggunakan cursus publicus kadang membawa surat pribadi, tetapi hal itu bukan layanan umum yang dijamin negara.
Jalan
Sistem menggunakan jaringan jalan Romawi yang sudah ada. Jalan dibangun dan dirawat untuk berbagai tujuan—militer, administratif, perdagangan, perpindahan penduduk, dan perjalanan pribadi—bukan hanya untuk cursus publicus.
Jaringan resmi menghubungkan Roma atau pusat pemerintahan lain dengan ibu kota provinsi, markas tentara, pelabuhan, tambang, dan daerah strategis. Pada Abad Kuno Akhir, rute semakin berorientasi pada pusat kekaisaran seperti Trier, Milan, Sirmium, Antiokhia, Nikomedia, Ravenna, dan Konstantinopel.
Milestone, itinerarium, prasasti pembangunan, dan peta seperti Tabula Peutingeriana membantu merekonstruksi jalan serta tempat berhenti. Namun, Tabula Peutingeriana menggambarkan jaringan perjalanan secara luas dan bukan “peta khusus cursus publicus”. Tidak semua lokasi yang tercantum pasti merupakan stasiun resmi negara.
Mutationes
Mutatio secara harfiah berarti tempat pergantian. Dalam konteks jalan, istilah ini digunakan untuk stasiun tempat pelancong resmi dapat mengganti kuda, bagal, atau hewan lain. Fasilitasnya dapat mencakup kandang, tempat pakan, bengkel sederhana, pengurus hewan, dan ruang bagi petugas.
Jarak antara mutationes disesuaikan dengan medan, sumber air, permukiman, serta kemampuan hewan. Tidak terdapat satu jarak standar yang berlaku di seluruh kekaisaran. Perkiraan umum delapan hingga dua belas mil Romawi hanya dapat dipakai sebagai pedoman kasar.
Mansiones
Mansio berasal dari kata manere, “tinggal” atau “bermalam”. Dalam sumber perjalanan, istilah ini dapat menunjuk tempat perhentian malam, stasiun utama, atau jarak satu hari perjalanan. Sebuah kompleks yang melayani pelancong dapat memiliki kamar, kandang, ruang makan, pemandian, bengkel, halaman, dan tempat penyimpanan.
Tidak setiap mansio merupakan hotel milik negara. Sebagian bangunan dikelola kota, kontraktor, pemilik swasta, atau lembaga lain. Beberapa tempat mungkin melayani pengguna resmi dan pelancong biasa secara bersamaan. Penelitian arkeologi terbaru memperingatkan bahwa bangunan besar di tepi jalan tidak dapat otomatis diidentifikasi sebagai mansio hanya berdasarkan denah, pemandian, atau kandangnya.[7]
Stationes
Kata statio mempunyai arti luas, termasuk pos, tempat bertugas, kantor, pangkalan, atau perhentian. Sebuah statio dapat menjadi pos polisi, kantor pemungutan pajak, tempat tentara, atau fasilitas jalan. Karena itu, tidak semua stationes merupakan bagian langsung dari cursus publicus.
Fasilitas dan pekerja
Stasiun memerlukan:
- pengurus kandang;
- pengemudi gerobak;
- pemandu;
- dokter hewan atau petugas kesehatan hewan;
- pandai besi;
- pembuat dan tukang reparasi kendaraan;
- pemasok pakan;
- juru tulis;
- petugas pemeriksa izin;
- penjaga.
Sebagian pekerja dapat menjadi pegawai atau kontraktor tetap, tetapi banyak layanan disediakan melalui kewajiban lokal. Struktur tersebut berbeda menurut provinsi dan berubah dari Principatus ke masa Kekaisaran akhir.
Izin penggunaan
- Diplomata
Pada masa awal dan pertengahan Kekaisaran, izin sering disebut diploma (jamak: diplomata). Istilah itu merujuk pada dokumen yang dilipat atau terdiri atas dua lembar. Sebuah izin menentukan siapa yang boleh menggunakan sistem dan dapat mencantumkan:
- nama pemegang;
- kedudukan atau tugas;
- masa berlaku;
- rute;
- jumlah hewan;
- jenis kendaraan;
- jumlah pendamping;
- fasilitas yang boleh diminta.
Dokumen harus ditunjukkan ketika mengganti hewan atau diperiksa pejabat. Izin tidak berlaku tanpa batas dan tidak dapat dipindahkan secara bebas.
- Evectiones dan tractoriae
Pada Abad Kuno Akhir, istilah evectio menjadi umum untuk surat izin perjalanan resmi. Kaisar, prefek praetoria, magister officiorum, dan pejabat tertentu mempunyai wewenang mengeluarkan izin sesuai batas yang ditentukan hukum.
Istilah tractoria juga digunakan. Arti teknisnya diperdebatkan. Sebagian penelitian menghubungkannya dengan izin untuk kendaraan berat, persediaan selama perjalanan, atau fasilitas yang lebih luas daripada evectio. Sumber tidak selalu menggunakan kedua istilah secara konsisten, sehingga tidak aman menetapkan satu perbedaan yang berlaku untuk seluruh abad ke-4 dan ke-5.[2]
- Pembatasan penerbitan
Banyak hukum kekaisaran membatasi siapa yang dapat menerbitkan izin dan berapa jumlahnya. Pembatasan tersebut bertujuan mengurangi beban stasiun dan penduduk. Namun, kebutuhan administrasi yang mendesak membuat aturan sering diubah.
Kaisar Yulianus berusaha membatasi izin secara ketat. Ia memberikan kuota tertentu kepada para vikar dan gubernur, sedangkan pejabat keuangan serta komandan di wilayah berbahaya memperoleh akses lebih luas. Kebijakan tersebut menunjukkan ketegangan antara penghematan dan kebutuhan komunikasi negara yang besar.[3]
Barang dan pengguna
Surat serta laporan resmi
Fungsi utama sistem adalah memungkinkan penyampaian:
- keputusan dan surat kaisar;
- laporan gubernur;
- perintah militer;
- dokumen pengadilan;
- hasil penyelidikan;
- laporan pajak;
- pemberitahuan pengangkatan;
- komunikasi antara istana dan pemerintah daerah.
Tidak semua surat pemerintah menggunakan cursus publicus. Pesan rutin dapat dibawa dengan sarana lokal atau utusan lembaga masing-masing. Akses penuh terutama diberikan jika kecepatan, keamanan, atau kepentingan negara membenarkannya.[8]
Perjalanan pejabat
Gubernur, pejabat istana, petugas pajak, hakim, inspektur, utusan, dan anggota keluarga kekaisaran dapat memperoleh izin. Mereka memakai hewan dan kendaraan untuk diri sendiri, staf, dokumen, serta bagasi dalam jumlah yang ditentukan.
Para uskup juga dapat memperoleh izin jika perjalanan mereka berkaitan dengan kebijakan negara. Konstantinus, misalnya, memberikan sarana perjalanan kepada sejumlah uskup untuk menghadiri konsili. Hal ini tidak berarti bahwa semua pendeta memiliki hak permanen menggunakan sistem.
Uang dan barang negara
Sistem digunakan untuk membawa uang pajak, logam mulia, perlengkapan istana, senjata, pakaian dari bengkel negara, dokumen, dan barang bernilai atau mendesak tertentu.
Namun, cursus publicus tidak dirancang sebagai jaringan utama untuk mengangkut seluruh pajak dalam bentuk hasil bumi atau seluruh persediaan tentara. Angkutan gandum, minyak, senjata dalam jumlah besar, dan logistik pasukan memerlukan kapal, gerobak tambahan, kontraktor, serta kewajiban transportasi lain. Kapasitas stasiun cursus publicus tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan ekonomi dan militer kekaisaran.[1]
Tahanan dan orang yang dipanggil
Tahanan negara, tersangka, saksi, atau pejabat yang dipanggil ke istana dapat dibawa menggunakan sistem. Pengawal memperoleh izin untuk meminta hewan dan kendaraan sesuai tugas. Pengangkutan semacam itu memperlihatkan hubungan antara jaringan komunikasi dan pelaksanaan hukum kekaisaran.
Kendaraan dan hewan
Jenis sarana yang disediakan berbeda menurut kecepatan serta muatan.
| Istilah | Pengertian umum | Penggunaan |
|---|---|---|
| veredus | Kuda tunggang pos | Perjalanan cepat dan kurir |
| parhippus | Kuda tambahan atau kuda beban | Bagasi ringan dan pergantian |
| mulus | Bagal | Tunggang, beban, atau menarik kendaraan |
| asinus | Keledai | Barang ringan dan perjalanan daerah tertentu |
| bos | Lembu | Menarik kendaraan berat |
| raeda | Kereta perjalanan beroda empat | Penumpang dan bagasi |
| carpentum | Kereta tertutup atau seremonial | Pejabat atau pengguna tertentu |
| clabula atau clavula | Gerobak berat | Barang, senjata, dan muatan negara |
| angaria | Dalam hukum akhir dapat berarti kendaraan atau kewajiban angkut berat | Muatan lambat dan berat |
Arti beberapa istilah berubah dan berbeda dalam sumber hukum, sastra, papirus, serta prasasti. Batas muatan ditentukan untuk mencegah penyiksaan hewan dan kerusakan kendaraan. Hukum abad ke-4 bahkan mengatur alat yang boleh digunakan untuk memacu hewan serta menghukum pengguna yang mengambil hewan langsung dari petani alih-alih melalui stasiun resmi.[1]
Kecepatan perjalanan
Kecepatan tidak seragam. Faktor utamanya meliputi:
- kondisi jalan dan jembatan;
- pegunungan, gurun, sungai, atau salju;
- panjang siang;
- cuaca;
- kesehatan penumpang dan hewan;
- ketersediaan stasiun;
- jenis kendaraan;
- jumlah bagasi;
- tingkat urgensi;
- perjalanan laut yang menjadi bagian rute.
Perjalanan biasa seorang pejabat dengan kendaraan dapat menempuh sekitar 40–80 kilometer sehari. Kurir tunggang dengan pergantian kuda dan perintah mendesak dapat melampaui 100 kilometer sehari; beberapa perjalanan luar biasa mungkin mencapai sekitar 160 kilometer atau lebih. Kecepatan tinggi tidak dapat dipertahankan terus-menerus tanpa hewan cadangan, stasiun yang siap, dan prioritas resmi.[9]
Berita pengangkatan atau kematian kaisar memberikan beberapa contoh perjalanan antardaerah, tetapi tanggal sampainya berita dapat dipengaruhi musim pelayaran dan prosedur pengumuman. Data semacam itu tidak selalu membuktikan bahwa seluruh jarak ditempuh melalui cursus publicus atau bahwa kecepatan yang tercatat merupakan kecepatan normal.
Jarak antara mansiones dalam itinerarium sering sekitar satu hari perjalanan, tetapi bervariasi besar. Pernyataan bahwa selalu terdapat dua mutationes di antara dua mansiones merupakan generalisasi modern, bukan aturan universal yang terbukti pada semua rute.
Penyalahgunaan
Penyalahgunaan merupakan persoalan tetap karena pemegang izin dapat membebankan biaya kepada masyarakat.
Bentuk penyalahgunaan meliputi:
- memakai izin yang sudah kedaluwarsa;
- memalsukan atau mencuri izin;
- mengubah rute;
- membawa pengiring lebih banyak;
- meminta hewan melebihi kuota;
- mengambil hewan langsung dari petani;
- membebani kendaraan di atas batas;
- menolak mengembalikan hewan;
- meminta makanan dan penginapan yang tidak tercantum;
- memakai sistem untuk perjalanan pribadi;
- pejabat mengeluarkan izin kepada teman atau keluarga;
- petugas stasiun menyembunyikan hewan atau meminta pembayaran tambahan.
Kerugian tidak hanya berupa uang. Kota kehilangan hewan untuk pertanian, pakan, tenaga kerja, dan kendaraan. Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan hewan mati atau tidak dapat bekerja ketika musim tanam. Karena itu, hukum mengenai cursus publicus sering dirancang untuk melindungi kapasitas ekonomi daerah sekaligus menjaga perjalanan negara.[10]
Sebagian besar hukum yang bertahan bersifat korektif: hukum diterbitkan karena terjadi persoalan. Banyaknya larangan tidak otomatis berarti sistem selalu gagal; sebaliknya, hal itu juga menunjukkan bahwa pemerintah terus berusaha mengaturnya.
Reformasi pada abad ke-3 dan ke-4
Perubahan kebutuhan negara
Pada abad ke-3, kaisar lebih sering bepergian bersama istana dan pasukan. Perang di berbagai perbatasan, krisis suksesi, pembagian komando, serta peningkatan jumlah pejabat memperbesar kebutuhan komunikasi.
Reformasi Diokletianus dan Konstantinus Agung menciptakan lebih banyak provinsi, keuskupan, istana regional, pejabat keuangan, dan komando militer. Perubahan tersebut bukan hanya menambah surat, tetapi juga meningkatkan perjalanan inspeksi, sidang, pemindahan personel, dan pengangkutan barang negara.
Kajian Lukas Lemcke menyebut abad ke-3 akhir hingga abad ke-4 sebagai “zaman keemasan” cursus publicus, bukan karena penyalahgunaannya hilang, melainkan karena jaringan tersebut memperoleh struktur, fungsi, dan regulasi yang paling luas.[2]
=== Cursus velox
Cursus velox adalah bagian cepat. Sistem ini menyediakan kuda tunggang, bagal, kuda beban, dan kendaraan ringan untuk:
- kurir;
- pejabat yang harus bergerak cepat;
- surat mendesak;
- uang atau barang bernilai;
- petugas inspeksi;
- perjalanan istana.
Istilah Yunani yang sepadan adalah ὀξὺς δρόμος. Kecepatan relatif tinggi dicapai dengan pergantian hewan, bukan dengan memaksa satu hewan menempuh seluruh rute.
=== Cursus clabularis
Cursus clabularis—juga ditulis clavularis dalam sebagian kajian—merupakan bagian angkutan lambat atau berat. Sistem ini memakai gerobak dan hewan penarik, terutama lembu, untuk membawa:
- bagasi pejabat;
- uang dalam jumlah besar;
- pakaian tentara;
- senjata;
- perlengkapan istana;
- bahan dari bengkel negara;
- barang lain yang diberi otorisasi.
Kapan pembagian formal tersebut dibentuk masih diperdebatkan. Bukti istilah dan izin pada masa Konstantinus menunjukkan bahwa pembedaan telah ada pada awal abad ke-4, tetapi unsur angkutan cepat dan berat tentunya telah tersedia sebelumnya.[2]
Administrasi akhir
Pengawasan melibatkan:
- kaisar dan istana;
- prefek praetoria;
- magister officiorum;
- para vikar;
- gubernur provinsi;
- pejabat keuangan;
- pengawas rute;
- pemerintah kota;
- agentes in rebus;
- pengelola stasiun.
Kewenangan mereka dapat bertumpang tindih. Prefek praetoria mengawasi kewajiban provinsi dan mempunyai wewenang mengeluarkan izin. Magister officiorum mengawasi agentes in rebus serta berperan dalam izin mereka. Persaingan atau tumpang tindih antara kedua cabang tersebut menjadi salah satu ciri birokrasi akhir.[11]
Agentes in rebus
Agentes in rebus adalah korps pejabat istana yang muncul pada awal abad ke-4 dan berada di bawah magister officiorum. Mereka menjalankan tugas sebagai pembawa surat, penghubung, inspektur, dan utusan pemerintah. Anggota senior dapat ditempatkan sebagai kepala staf dalam kantor gubernur atau prefek.
Hubungan mereka dengan cursus publicus mencakup:
- membawa perintah dan laporan;
- menggunakan hewan serta stasiun;
- memeriksa izin;
- melaporkan penyalahgunaan;
- mengawasi sarana komunikasi;
- memastikan keputusan istana sampai ke daerah.
Agentes in rebus sering digambarkan sebagai “polisi rahasia Romawi”. Sebagian anggota memang mengumpulkan informasi dan terlibat dalam pengawasan politik, terutama pada masa pemerintahan tertentu. Namun, menyebut seluruh korps sebagai badan intelijen rahasia mengabaikan pekerjaan rutin mereka dalam komunikasi dan administrasi.[3]
Mereka bukan seluruh tenaga kerja cursus publicus. Pengemudi, pengurus kandang, tukang, kontraktor, dan pemasok berasal dari jaringan lokal, sedangkan pejabat serta kurir dari banyak lembaga dapat memakai fasilitas.
Beban keuangan dan sosial
Sistem ini dibiayai melalui gabungan:
- kas kekaisaran;
- pembayaran kepada penyedia;
- pajak;
- kewajiban dalam bentuk barang;
- kerja wajib;
- kontrak pengelolaan;
- tanggungan kota dan pemilik tanah.
Komposisinya berubah menurut periode dan wilayah. Pada masa akhir, penyediaan hewan serta kendaraan menjadi bagian penting munera provinsi. Kewajiban tersebut dapat dibagi berdasarkan luas tanah, status pajak, atau keputusan pemerintah setempat.
Masyarakat di jalan utama menanggung beban lebih besar daripada daerah yang tidak dilalui pejabat. Penempatan istana atau tentara di suatu kawasan dapat meningkatkan permintaan secara tiba-tiba. Sebaliknya, stasiun juga menciptakan pasar bagi pakan, makanan, bengkel, penginapan, dan jasa.
Dampak ekonomi tidak selalu negatif atau positif. Jalan dan perhentian dapat mendorong perdagangan, tetapi permintaan tanpa pembayaran yang memadai dapat merusak pertanian serta keuangan kota.
Bukti arkeologi
Identifikasi stasiun cursus publicus sulit karena fasilitasnya menyerupai penginapan, vila, pasar, pos militer, atau kompleks pertanian.
Arkeolog mempertimbangkan:
- lokasi pada rute utama;
- jarak dari perhentian lain;
- halaman yang dapat dimasuki kendaraan;
- kandang;
- tempat pakan;
- bengkel;
- pemandian;
- kamar;
- prasasti;
- meterai;
- peralatan kuda;
- hubungan dengan milestone dan itinerarium.
Tidak ada satu ciri yang pasti. Kompleks pemandian dapat menjadi bagian vila, dan kandang dapat melayani pertanian. Sebaliknya, stasiun sederhana mungkin tidak meninggalkan arsitektur monumental.
Penelitian Cristina Corsi dan Anne Kolb menekankan perlunya menggabungkan bukti arkeologi dengan teks serta epigrafi. Istilah modern “rumah pos” sebaiknya tidak diterapkan hanya karena sebuah bangunan berada di tepi jalan.[7][10]
Beberapa situs yang dibahas dalam kaitan dengan jaringan perjalanan negara mencakup:
- Ad Medias di Mesir;
- Vindolanda dan sejumlah kota jalan di Britania;
- mansio di Vignale, Italia;
- kompleks jalan di Thracia dan Asia Kecil;
- Elusa dan stasiun gurun di Palestina;
- rute Via Appia, Via Egnatia, dan Via Diagonalis.
Hubungan setiap situs dengan cursus publicus memiliki tingkat kepastian berbeda.
Sumber pemetaan dan itinerarium
Tabula Peutingeriana
Tabula Peutingeriana adalah salinan abad pertengahan dari representasi jaringan perjalanan Romawi yang berasal dari Abad Kuno Akhir. Peta ini menampilkan jalan, kota, sungai, pelabuhan, jarak, dan tempat berhenti dari Britania hingga India.
Peta tersebut sering digunakan untuk menggambarkan jangkauan cursus publicus, tetapi tujuan aslinya tidak diketahui pasti. Ia bukan daftar administratif izin atau stasiun negara. Simbol bangunan juga tidak selalu menunjukkan status hukum yang sama.
Itinerarium Antonini
Itinerarium Antonini memuat daftar rute dan jarak antara tempat-tempat di kekaisaran. Naskah yang bertahan merupakan hasil kompilasi serta penyalinan dan tidak menggambarkan satu keadaan pada satu tanggal.
Itinerarium Burdigalense
Itinerarium Burdigalense atau Itinerarium Bordeaux mencatat perjalanan peziarah dari Bordeaux ke Tanah Suci pada 333–334. Daftar tersebut membedakan mutationes, mansiones, dan kota, sehingga penting bagi studi jarak dan perhentian abad ke-4.
Peziarah tersebut tidak semestinya dianggap pengguna resmi cursus publicus pada seluruh rute. Dokumennya memberikan informasi topografis mengenai tempat berhenti yang juga dapat digunakan jaringan negara.
Perbandingan dengan pos modern
| Cursus publicus | Layanan pos modern |
|---|---|
| Terbatas bagi kepentingan resmi | Umumnya terbuka bagi masyarakat |
| Memerlukan izin khusus | Pengguna membayar tarif atau memakai layanan publik |
| Terutama menyediakan hewan, kendaraan, dan tempat berhenti | Menyediakan pengumpulan, penyortiran, pengangkutan, dan pengantaran |
| Kurir sering berasal dari lembaga pengirim | Kurir merupakan tenaga layanan pos |
| Biaya banyak dibebankan melalui kewajiban lokal | Biaya melalui tarif, anggaran, atau subsidi |
| Tidak memiliki jadwal pengiriman umum yang seragam | Memiliki rute dan jadwal layanan |
| Mengangkut pejabat dan bagasi selain surat | Umumnya berfokus pada surat, paket, dan layanan logistik |
Perbandingan tersebut menjelaskan mengapa istilah “pos kekaisaran” hanya boleh digunakan sebagai penyederhanaan. Cursus publicus merupakan bagian dari pemerintahan, perpajakan, transportasi, dan kewajiban masyarakat sekaligus.
Kelanjutan di Barat
Runtuhnya pemerintahan Kekaisaran Romawi Barat tidak langsung menghapus seluruh jaringan. Kerajaan penerus mewarisi jalan, stasiun, pejabat, dan kewajiban angkutan.
Di Italia Ostrogoth, surat-surat Cassiodorus menunjukkan bahwa pemerintahan Theodoric yang Agung mempertahankan fasilitas perjalanan resmi. Magister officiorum dan pejabat lain mengawasi hewan pos, izin, serta perlindungan terhadap penyalahgunaan. Negara Ostrogoth menggunakan bahasa dan struktur administratif Romawi untuk menjalankan pemerintahan.[12]
Di Galia, Hispania, dan wilayah lain, bukti lebih terbatas. Sebagian kerajaan menggunakan utusan serta kewajiban pengangkutan, tetapi tidak selalu mempertahankan jaringan terpusat dengan skala lama. Perubahan keamanan, pajak, dan kekuasaan wilayah mengurangi keteraturan rute.
Kekaisaran Romawi Timur
Dalam bahasa Yunani, sistem tersebut dikenal sebagai dromos (“jalur” atau “pos”). Ia tetap penting bagi Konstantinopel karena kekaisaran harus berkomunikasi dengan Balkan, Asia Kecil, Mesir, Suriah, dan perbatasan Persia.
Prokopios menyatakan bahwa sebelum masa Yustinianus I, stasiun dibangun pada jarak satu hari dengan kuda dan menyediakan hewan serta pekerja dalam jumlah besar. Dalam Secret History, ia menuduh Yustinianus menghapus sebagian besar jalur cepat, kecuali rute yang dibutuhkan menuju perbatasan Persia.[13]
Keterangan Prokopios bersifat polemis dan dimaksudkan untuk menyerang pemerintahan Yustinianus. Meskipun mungkin mencerminkan pengurangan nyata, pernyataannya tidak membuktikan penghapusan seluruh komunikasi negara. Pemerintah tetap mengirim pejabat, tentara, pajak, dan surat melalui rute yang diprioritaskan.
Jaringan Romawi kemudian berubah menjadi sistem Bizantium pertengahan. Jabatan logothetēs tou dromou menjadi penting dalam komunikasi, hubungan luar negeri, pengawasan orang asing, dan layanan utusan. Hubungan kelembagaan antara cursus publicus akhir dan dromos Bizantium berlangsung melalui perubahan bertahap, bukan kelanjutan tanpa putus dalam bentuk yang sama.[14]
Peranan dalam pemerintahan
Kekaisaran Romawi tidak memiliki komunikasi elektronik atau pegawai tetap dalam jumlah modern. Kemampuan mengirim keputusan dan menerima laporan bergantung pada:
- kualitas jalan;
- ketersediaan kapal;
- keamanan;
- cuaca;
- hewan;
- izin;
- pejabat daerah;
- kemampuan membaca dan menulis;
- arsip serta penyalinan dokumen.
Cursus publicus membantu mengatasi jarak, tetapi tidak menghapusnya. Kaisar dapat menunggu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk menerima laporan dari provinsi jauh. Gubernur harus mengambil keputusan sebelum jawaban istana tiba.
Surat kekaisaran yang dibawa melalui jaringan dapat dibacakan, disalin, dipajang, dan dimasukkan ke arsip. Dengan demikian, transportasi menjadi bagian dari produksi hukum: keputusan baru berlaku secara efektif setelah dikirim, diterima, dan diumumkan.[15]
Sistem juga membantu membentuk kesatuan politik. Pejabat dari daerah berbeda memakai izin, kendaraan, dan prosedur yang serupa. Stasiun serta jalan menghubungkan istana dengan unit administratif. Namun, kesatuan tersebut dibangun dengan menuntut sumber daya masyarakat daerah.
Historiografi
Kajian lama sering menggambarkan cursus publicus sebagai sistem pos yang sangat terpusat, terdiri atas ribuan penginapan pemerintah, dengan kurir tetap yang mengantar surat secara estafet.
Penelitian Anne Kolb menekankan bahwa sistem tersebut terutama merupakan fasilitas angkutan bagi pengguna resmi. Ia tidak memiliki korps kurir tunggal dan tidak mengangkut seluruh logistik negara. Penelitian ini juga menyoroti kewajiban penduduk serta perbedaan antara infrastruktur jalan umum dan fasilitas khusus negara.[1]
Lukas Lemcke meneliti transformasi abad ke-3 dan ke-4 melalui hukum, papirus, serta struktur administrasi. Ia berpendapat bahwa perubahan negara akhir mendorong pembagian cursus velox dan cursus clabularis, memperluas regulasi, serta meningkatkan pentingnya izin.[2]
Cristina Corsi dan Anne Kolb mengkritik kecenderungan mengidentifikasi bangunan arkeologis secara langsung sebagai mansio. Mereka menunjukkan bahwa sumber tertulis tidak selalu menghubungkan tempat penginapan mewah dengan cursus publicus, dan pelancong resmi dapat menggunakan fasilitas yang juga terbuka bagi orang lain.[7][10]
Kajian komunikasi terbaru memandang cursus publicus sebagai bagian dari proses administrasi: surat tidak hanya bergerak secara fisik, tetapi diproduksi, disalin, dibaca, diarsipkan, dan ditafsirkan oleh banyak pejabat. Penelitian juga menekankan perbedaan antara jaringan ideal dalam hukum dan kemampuan nyata setiap provinsi.[14]
Lihat pula
- Jalan Romawi
- Tabula Peutingeriana
- Itinerarium Antonini
- Itinerarium Burdigalense
- Praefectus vehiculorum
- Agentes in rebus
- Magister officiorum
- Surat dalam dunia Romawi
- Angareia
- Mansio
- Mutatio
- Sistem pos
- Jalan Kerajaan Persia
- Logothetēs tou dromou
Catatan
- ^ a b c d e f g Kolb, Anne (2001). "Transport and Communication in the Roman State: The Cursus Publicus". Dalam Adams, Colin; Laurence, Ray (ed.). Travel and Geography in the Roman Empire. London: Routledge. hlm. 95–105. doi:10.4324/9780203995594-5. ISBN 978-0-415-23034-6.
- ^ a b c d e f Lemcke, Lukas (2016). Imperial Transportation and Communication from the Third to the Late Fourth Century: The Golden Age of the Cursus Publicus. Collection Latomus. Vol. 353. Brussels: Éditions Latomus. ISBN 978-90-429-3356-9.
- ^ a b c Kelly, Christopher (2004). Ruling the Later Roman Empire. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-01564-7.
- ^ Suetonius. "The Deified Augustus". The Lives of the Caesars. 49.3.
- ^ Davenport, Caillan (2019). A History of the Roman Equestrian Order. Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/9781139506403. ISBN 978-1-107-03253-8.
- ^ Pliny the Younger. Letters. 10.45–46.
- ^ a b c Corsi, Cristina (2019). "Travelling First Class? Emperors, Dignitaries and Officials at Mansiones and Mutationes". L'Antiquité Classique. 88: 151–174. doi:10.3406/antiq.2019.3952.
- ^ Corcoran, Simon (2000). The Empire of the Tetrarchs: Imperial Pronouncements and Government, AD 284–324 (Edisi 2). Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-815304-0.
{{cite book}}: Periksa|isbn=value: checksum - ^ Eliot, C. W. J. (1955). "New Evidence for the Speed of the Roman Imperial Post". Phoenix. 9 (2): 76–80. doi:10.2307/1086076. JSTOR 1086076.
- ^ a b c Kolb, Anne (2016). "Mansiones and Cursus Publicus in the Roman Empire". Dalam Basso, Patrizia; Zanini, Enrico (ed.). Statio Amoena: Sostare e vivere lungo le strade romane. Oxford: Archaeopress. hlm. 3–8. ISBN 978-1-78491-498-1.
- ^ Olszaniec, Szymon (2019). "Limitations of the Power of Praetorian Prefects in the Late Roman Empire: The Case of the Cursus Publicus". Res Historica. 48: 55–75. doi:10.17951/rh.2019.48.55-75.
- ^ Cassiodorus (1992). Variae. Diterjemahkan oleh Barnish, S. J. B. Liverpool: Liverpool University Press. ISBN 978-0-85323-436-4.
- ^ Procopius. The Secret History. 30.1–11.
- ^ a b Lemcke, Lukas (2020). Bridging Center and Periphery: Administrative Communication from Constantine to Justinian. Tübingen: Mohr Siebeck. doi:10.1628/978-3-16-159189-1. ISBN 978-3-16-158944-7.
- ^ Corcoran, Simon (2014). "State Correspondence in the Roman Empire: Imperial Communication from Augustus to Justinian". Dalam Radner, Karen (ed.). State Correspondence in the Ancient World: From New Kingdom Egypt to the Roman Empire. Oxford: Oxford University Press. hlm. 172–209. doi:10.1093/acprof:oso/9780199354771.003.0008. ISBN 978-0-19-935477-1.
Bacaan lebih lanjut
- Black, E. W. (1995). Cursus Publicus: The Infrastructure of Government in Roman Britain. Oxford: British Archaeological Reports. ISBN 978-0-86054-781-5.
- Corsi, Cristina (2000). Le strutture di servizio del cursus publicus in Italia: Ricerche topografiche ed evidenze archeologiche. Oxford: British Archaeological Reports. ISBN 978-1-84171-123-2.
- Di Paola, Lucietta (1999). Viaggi, trasporti e istituzioni: Studi sul cursus publicus. Messina: Di.Sc.A.M.
- Jones, A. H. M. (1964). The Later Roman Empire, 284–602: A Social, Economic and Administrative Survey. Oxford: Blackwell.
- Kolb, Anne (2000). Transport und Nachrichtentransfer im Römischen Reich. Berlin: Akademie Verlag. ISBN 978-3-05-003584-0.
- Lemcke, Lukas (2016). Imperial Transportation and Communication from the Third to the Late Fourth Century: The Golden Age of the Cursus Publicus. Brussels: Éditions Latomus. ISBN 978-90-429-3356-9.
- Lemcke, Lukas (2020). Bridging Center and Periphery: Administrative Communication from Constantine to Justinian. Tübingen: Mohr Siebeck. ISBN 978-3-16-158944-7.
- Nicholson, Oliver (2018). "Cursus Publicus". The Oxford Dictionary of Late Antiquity. Oxford: Oxford University Press. doi:10.1093/acref/9780198662778.013.0013. ISBN 978-0-19-866277-8.
- Olszaniec, Szymon (2019). "Limitations of the Power of Praetorian Prefects in the Late Roman Empire: The Case of the Cursus Publicus". Res Historica. 48: 55–75. doi:10.17951/rh.2019.48.55-75.
Pranala luar
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.