Danau Tambing
| Danau Tambing Rano Kalimpaa | |
Danau Tambing pada bulan Oktober 2016 | |
| Informasi | |
|---|---|
| Lokasi | Sedoa, Lore Utara, Kabupaten Poso |
| Negara | |
| Koordinat | 1°11′S 120°11′E / 1.19°S 120.18°E |
| Pengelola | Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu |
| Jenis objek wisata | Wisata alam |
Danau Tambing (bahasa Pamona: Rano Kalimpa'a, Rano Tambing), adalah sebuah danau yang terletak di desa Sedoa, Lore Utara, Kabupaten Poso. Danau ini terletak pada ketinggian sekitar 1.700 meter dari permukaan laut. Danau Tambing merupakan salah satu bagian dari wilayah Taman Nasional Lore Lindu. Danau ini dikelola oleh Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu dan juga Pemerintah Kabupaten Poso sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Poso.
Danau Tambing, bersama dengan Taman Nasional Kepulauan Togean di Kabupaten Tojo Una-Una dan kawasan wisata Tanjung Karang di Kabupaten Donggala, merupakan tiga objek wisata yang sangat vital di Sulawesi Tengah.[1]
Objek wisata
Pada 2014, pengunjung objek wisata Danau Tambing masih sekitar 3.000 orang. Pada tahun 2015, tercatat ada sekitar 6.000 wisatawan luar dan lokal yang mengunjungi Danau Tambing. Selama bulan Januari hingga Agustus 2016, jumlah pengunjung sudah mencapai 13.000 orang.[1] Hari Sabtu dan Minggu merupakan hari yang mendapatkan paling banyak kunjungan dari wisatawan, termasuk dari mancanegara.[2] tetapi kunjungan wisatawan pada masa Covid-19 dibatasi 200 orang.[3]
Danau ini dapat dikunjungi dengan menggunakan kendaraan seperti mobil atau sepeda motor dengan waktu tempuh selama 2,5 jam, dengan kondisi jalan yang sudah membaik karena merupakan jalan provinsi yang menghubungkan Palu dengan dataran tinggi legendaris Napu/Lore di Kabupaten Poso.[1]
Wisatawan yang ingin masuk ke Danau Tambing harus membayar karcis. Untuk wisatawan nusantara dan lokal, harga karcis bisa mencapai 5 ribu rupiah per orang. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara mencapai 150 ribu per orang.[4]
Biodiversitas
Menurut Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu, tiga ciri khas yang ada di lokasi Danau Tambing adalah alam, danau, dan burung.[5] Danau Tambing memiliki keanekaragaman makhluk hidup, seperti spesies burung. Dengan lebih dari 260 jenis burung, membuat tempat ini dijuluki "Surga Burung". 30 persen di antara spesies burung tersebut adalah jenis endemik, artinya 30 persen jenis burung yang ada di Tambing, hanya ada dan berkembang biak di sekitar Danau Tambing.[4] Dua diantaranya adalah burung kipasan Sulawesi (Rhipidura teysmanni) dan burung kancilan ungu (maroon-backed whistler). Ukuran kedua burung ini sangat kecil, tidak lebih besar dari buah salak pondoh.
Di Danau Tambing, spesies hewan seperti Nuri Sulawesi (Tanygnathus sumatranus), Kakatua (Cacatua sulphurea), Rangkong (Buceros rhinoceros dan Aceros cassidix), dan Pecuk ular (Anhinga rufa) bisa ditemukan.[6] Jenis hewan lain yang juga bisa dijumpai di danau ini adalah cacing tanah (Amynthas triatmowidii),[7] katak terbang Sulawesi (Rhacophorus edentulus)[8]
Keamanan
Danau ini adalah titik awal untuk dapat mendaki Gunung Rorekantimbu. Sejak Operasi Tinombala digelar oleh TNI/Polri untuk mengejar kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso, Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu selaku pengelola danau menutup sementara kegiatan pendakian.[9]
Tahun 2022 wilayah ini kembali kondusif dan Danau Tambi dibuka kembali secara normal oleh Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu bagi wisatawan dan kegiatan pendakian akibat dari pandemi Covid-19.
Referensi
- ^ a b c "TNLL: Wisata Danau Tambing Bisa Dikelola Pemprov". ANTARA Palu. Diakses tanggal 13 Oktober 2016.
- ^ Malaha, Rolex. "Kunjungan Wisatawan Ke Danau Tambing Tetap Tinggi". ANTARA News. Diakses tanggal 13 Oktober 2016.
- ^ Media, Kompas Cyber (2020-11-21). "Danau Tambing Poso, Wisata Alam yang Jadi Primadona Saat Pandemi Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2023-04-17.
- ^ a b "Danau Tambing Kembali Ramai Dikunjungi Wisatawan". ANTARA Palu. Diakses tanggal 13 Oktober 2016.
- ^ "Wisatawan Danau Tambing Sulteng Capai 13000 Orang". ANTARA Palu. Diakses tanggal 13 Oktober 2016.
- ^ Lidiawati, Erna Dwi. Assifa, Farid (ed.). "Ayo Berwisata ke Taman Nasional Lore Rindu". Kompas.com. Diakses tanggal 13 Oktober 2016.
- ^ Amaliah, Rizki; Fahri; Nguyen, Anh D. (24 April 2024). "New species and new record of the genus Amynthas Kinberg, 1867 (Oligochaeta: Megascolecidae) from Sulawesi, Indonesia". Raffles Bulletin of Zoology. 72: 116–126.
- ^ Putri, Auni Ade; Fahri; Annawaty (Maret 2018). "Deskripsi Katak Terbang Sulawesi, Rhacophorus edentulus (Mueller, 1894) dari Danau Kalimpa'a, Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi, Indonesia : Catatan Habitat dan Distribusi". Natural Science: Journal of Science and Technology. 7 (1): 50–56.
- ^ Wijanarko, Bagus. "Ribuan Personel Tinombala Disebut Buat Tenang Warga Napu Poso". CNN Indonesia. Diakses tanggal 2016-08-25.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.