Dimyathi Syafi'ie

Dimyati Syafi'i
Kyai Haji
NamaDimyati Syafi'i

KH. Dimyathi Syafi'ie adalah Komandan Hizbullah dan Rais Syuriah PCNU Blambangan Banyuwangi pertama , pendiri Madrasah Nahdlatuth Thullab, Madrasah tertua di Banyuwangi dan Pesantren Kepundungan, Pesantren yang ikut serta dalam berjuang meraih kemerdekaan Indonesia di tanah Banyuwangi, Beliau wafat pada tahun 1959 M di Makkah dan dimakamkan di Jannatul Mu'alla .[1]

Biografi

KH. Dimyathi lahir tahun 1912 M di desa Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta, putra dari Kyai Syafi'i bin Kyai Istad Sepuh Bleberan bin Kyai Hasan Mubarok bin Kyai Ageng Minak bin Kyai Ageng Kalimundu bin Kyai Landoh, yang bergelar Syekh Jangkung yang masih keturunan Syaikh Abdul Karim atau Sultan Cirebon yang di Makamkan di Astana Girilaya.

Muhibbut Thobari adalah nama kecilnya. Saat usia 5 tahun beliau sudah ditinggal wafat ayahnya, Kemudian beliau di titipkan kepada pamannya yaitu Kyai Kholil Wonokromo untuk belajar ilmu agama, Saat umur 10 tahun atau sekitar tahun 1922 M, Beliau di ajak ibunya berpindah ke tanah Blambangan Banyuwangi .[2]

Belum genap satu tahun beliau menetap, Kemudian beliau ingin menuntut ilmu, Maka, ia pun mengutarakan maksudnya ini kepada ibundanya(Nyai Munthoshiroh).[2] Namun sang ibu menyatakan bahwa keluarganya tidak memiliki bekal yang cukup untuk membiayai keinginannya.[2] Akan tetapi karena sudah menjadi keinginan yang kuat, beliau akhirnya tetap berangkat mondok meskipun hanya diberi bekal cengkaruk, Tepatnya di pondok Kyai Faqih Cemoro Banyuwangi.

Setelah bertahan kurang lebih satu tahun, Kemudian beliau melanjutkan ke pondok Kyai Abdullah Syuja' Damsari Sempu Genteng bersama sang kakak beliau, Kurang lebih selama 3 tahun, di pondok tersebut beliau mendapat ujian karena sang kakak meninggal karena hanyut di sungai Setail Genteng.[3]

Pada tahun 1926 M dalam usia 14 tahun, Dengan himmah yang luhur beliau berpamitan kepada ibu dan para kyainya untuk Melanjutkan Ke luar daerah Banyuwangi, Tepatnya di Pondok Syekh Dimyathi Tremas Pacitan (Mbah Guru)[1]

Keluarga di Banyuwangi hanya memiliki tanah persawahan yang tidak dapat diharapkan banyak karena sulitnya zaman akibat penjajahan.[2]

Namun beliau tampaknya tetap teguh dengan keinginannya.[2] Ia menginginkan untuk menjual sawah yang menjadi bagain warisannya.[2] Warisan beliau berupa sawah kemudian beliau jual kepada mbah abdul fattah pundungan (mbah dul patok),

Kendati terheran-heran dan hampir tak percaya, Ibunya pun kemudian menyanggupi ketika melihat tekad bulat anaknya ini. Ibunya lebih heran lagi ketika melihat bahwa semua uang hasil penjualan sawah warisannya dibelikan kitab.

Walhasil Dimyathi pun kemudian berangkat mondok ke Pesantren Tremas, di Pacitan. [4] Beliau mampu bertahan hingga 7 tahun lamanya, Rupanya ia bertahan di Tremas dengan cara menjadi buruh mengabsahi/maknani kitab untuk mencukupi kebutuhannya selama mondok.[2]

Pada tahun 1934 M, tepatnya pada usia 22 tahun ibunya meminta beliau untuk pulang dan menetap di rumah, Selain faktor ekonomi Juga karena ibunda beliau sudah berusia lanjut .[1]

Setelah beliau menetap di rumah, Karena saking sayangnya terhadap gurunya, kemudian beliau berganti nama menjadi Dimyathi, nama yang digunakannya hingga akhir hayatnya. Sebelumnya, nama lahirnya adalah Muhibbut Thobari.[1]

Keluarga

Keluarga Besar

KH. Dimyathi Syafi'ie telah dikaruniai 2 putra dan 5 putri dari tiga istrinya. [2] [5]

Keturunan

Dari istri pertama Nyai Jazamah binti Kyai Dalhar

  • Hj. Habibah (Srono),

Dari istri kedua, Nyai Saudah binti Kyai Hadis Tugung

Dari istri ketiga, Nyai Jazimah binti Kyai Sholeh Wonokromo

Pendidikan

Pesantren yang pertama ia singgahi adalah Pesantren Cemoro di bawah asuhan KH Abdulloh Faqih,

Pesantren Damsari Genteng di bawah bimbingan KH Abdulloh Syuja,

Kemudian ia melanjutkan pendidikan terakhir di Pesantren Tremas Pacitan dibawah bimbingan KH. Dimyati Termas .[6] kurang lebih selama 7 tahun.

Metode Pengajaran

Modernisasi melalui Madrasah Diniyah

Karena menjawab tantangan zaman, beliau bukan hanya menggunakan metode pengajaran tradisional (sorogan dan bandongan) akan tetapi beliau juga menggunakan sistem klasikal (madrasah).

  • Madrasah Nahdlatut Thullab: Atas gagasan Kyai Achyad Irsyad pada 1939.

Madrasah pertama yang didirikan di kabupaten Banyuwangi, Karena adanya Madrasah tersebut akhirnya santri membludak hingga mencapai ribuan, Dan di tiru oleh banyak pesantren di Banyuwangi .[1]


Beliau juga mengajarkan agar seorang santri ikut membela tanah air serta angkat senjata dan mengobarkan semangat jihad melawan penjajah.

  • Komandan Hizbullah wilayah Banyuwangi (Laskar Hizbullah Blambangan)

Hingga Beliau pernah menjadi target penangkapan belanda, Sampai akhirnya beliau di tangkap dan di penjara selama 2 tahun.[2]


Beliau juga memberikan contoh agar seorang santri aktif dalam berorganisasi tanpa meninggalkan tugas yang paling utama yaitu mengajar.

  • PCNU Blambangan (Banyuwangi) Menjabat sebagai Rais Syuriah Pertama Sejak 1944 hingga wafat

Semangat dan kerja keras beliau sangat terlihat dari keaktifan beliau dalam memenuhi undangan rapat di ranting ranting, sampai beliau pulang tengah malam,karena jauhnya perjalanan yang ditempuh dengan kendaraan sepeda onthel, bahkan terkadang beliau pulang sampai kehujanan, meskipun demikian beliau tetap istiqomah berjamaah dan mengajar para santri.

Peran Dalam Kemerdekaan RI

Resolusi Jihad yang di deklarasikan Rois Akbar KH Hasyim Asy'ari secepat kilat merembet ke penjuru tanah air termasuk daerah Banyuwangi, Tanpa berfikir panjang KH Dimyathi Selaku Rois Syuriah PCNU Banyuwangi dan beberapa kyai antara lain KH Askandar Berasan, KH Abdul Mannan Berasan, KH Masrur Tegalpare melaksanakan keputusan tersebut .[7]

Bapak KH Dimyathi rela meninggalkan keluargannya dan menyusun kekuatan demi melawan Belanda , Gerakan yang di bangun beliau bersama para kyai akhirnya tercium oleh Belanda lewat seorang mata mata, Namun Belanda sangat kesulitan untuk menangkap beliau, Merasa terancam dengan gerakan Kyai Dimyathi dan kawan kawannya Belanda segera memerintahkan pasukannya untuk membakar rumah serta pondok pesantren beliau yang dianggap sebagai pusat perencanaan dan markas kaum pemberontak, Dalam sekejap rumah dan pondok pesantren beliau habis terbakar dan tidak ada yang tersisa termasuk kitab kitab beliau dan juga para santrinya, Belanda berharap dengan di lumpuhkannya pusat kekuatan para pemberontak ini, perlawanannya akan semakin berkurang, tapi ternyata Setelah peristiwa pembakaran tersebut para kyai malah semakin merapatkan barisan, tentara hizbullah dan rakyat bersatu sehingga pemberontakan terjadi di mana mana sementara Kyai Dimyathi terus melakukan komando dengan para kyai lainnya, Hingga Belanda merasa kewalahan dengan perlawanan rakyat yang semakin berani dan membahayakan, Maka Belanda Segera menyampaikan kepada publik bahwa peristiwa pembakaran Pondok Pesantren Kepundungan karena kesalahpahaman semata, tidak ada unsur kesengajaan. Pondok Pesantren Kepundungan bukan hanya sebagai pusat komando dan pengaturan strategi namun juga menjadi markas tentara hizbullah yang terdiri dari santri pondok pesantren yang ada di Banyuwangi , Mereka semua rela menjalaninya meskipun tanpa ada yang membayar sepeserpun.[7]

Keadaan ini berlangsung terus hingga masa-masa setelah kemerdekaan.[2] Dalam mempertahankan kemerdekaan, para santri terus melakukan penyerangan-penyerangan terhadap pos-pos tentara Belanda pada malam hari.[2]

Tercatat ada 3 santri Pondok Pesantren Kepundungan yang gugur

• Husnan, Beliau ditembak saat melawan tentara belanda di daerah Cluring

• Mashadi, Beliau gugur terkena tembakan saat penghadangan tentara belanda

• Hamdan, Beliau adalah keluarga Pondok Pesantren Bangsalsari Jember, Beliau ditembak saat berusaha menyelamatkan diri, Beliau dimakamkan di belakang Pondok Putri pada tahun 1946 M, Kemudian pada tahun 1972 M Pemerintah Banyuwangi Baru mengetahui adanya pejuang tersebut, Pemerintah Memohon untuk memindahkan ke Taman Makam Pahlawan Banyuwangi, Selama kurang lebih 26 tahun ternyat kondisi Beliau masih utuh.

KH Dimyathi pernah ditangkap oleh Belanda dan ditahan selama 27 bulan hingga pertengahan tahun 1949. Komandan Hizbullah Blambangan selatan ini sebenarnya sudah hampir dieksekusi oleh Belanda.[2] Namun menurut beberapa cerita, ketika menjelang hari-hari eksekusi, dokumen pidananya oleh Belanda ternyata hilang dan tidak pernah ditemukan lagi.[2] Sehingga eksekusi tidak pernah benar-benar dilaksanakan, sampai waktunya ia dibebaskan karena kekalahan-kelahan Belanda di Indonesia.[2]

Peran di NU

KH Dimyathi benar-benar menjadikan hidupnya sebagai pengabdian sepenuhnya kepada sesama, termasuk kepada orang-orang dari tanah kelahirannya, Yogyakarta. Di manapun para alumni berada, biasanya mereka mendapatkan solusi terkait relasi yang ditunjukkan oleh KH Dimyathi.[2]

Dalam memperjuangkan NU KH Dimyathi tidak pernah melupakan silaturahmi, dibuktikan dengan keberadaan kunjungan menteri agama Republik Indonesia yang pertama ke Pondok Pesantren Kepundungan, yakni KH A. Wahid Hasjim, tetapi untuk KH Saifuddin Zuhri dan KH Muhammad Dahlan melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Kepundungan tatkala Dia belum menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.[2] Meski sudah ada pejabat negara di tingkat pusat yang berkunjung, tetapi tamu-tamu ini tetap bersikap santai di Pesantren. Mereka biasa tidur-tiduran dan bercengkerama dengan santri di pendopo pesantren.[2]

Terpenting KH Dimyathi selalu menanamkan jiwa ke-NU-an di hati anak didiknya.[1] Ia menyatakan ingin hidup sebagai orang NU dan kelak jika meninggal pun sebagai orang NU. KH Dimyathi mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemajuan NU.[1]

Sekilas Kehidupan

Tokoh Kharismatik dari Blambangan selatan yang terlahir pada tahun 1912 ini yang berasal dari Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, pada umur 10 tahun sudah harus pindah ke kawasan Blambangan selatan dibawa oleh ibunya, dan setelah banyak belajar dari Pesantren akhirnya pada umur 22 tahun, KH Dimyathi mendirikan pesantren untuk berdakwah di daerah Blambangan selatan.[2]

Pondok Pesantren Kepundungan Pernah Mengadakan Pengajian Maulid Nabi saw, kurang lebih Ada 10.000 masyarakat ikut merayakan dan hadir dalam acara tersebut, Beliau Kyai Dimyathi Sangat bersyukur karena semakin ramainya santri dan masyarakat yang mengaji di Pondok Pesantren Kepundungan, Kemudian Beliau menyampaikan : " Bahwa Siapapun yang bisa melanjutkan hidupnya Pondok Pesantren Ini silahkan kalian lanjutkan, tidak harus itu Anak saya".

Pada tahun 1959 KH Dimyathi berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah atau Makkah al-Mukarramah.[2]

Sebelum berangkat haji beliau memanggil 4 santri beliau Kemudian beliau dawuhan "Pondok seng lanang tak pasrahno as'adi, pondok wedok tak pasrahno sam'ani, madrasah tak pasrahno sonhaji, samsul melok ngrewangi, aku arep budal haji dungakno mugo mugo daganganku payu, "

Namun di sanalah rupanya ia datang untuk menghadap kepada Rabb-nya pada usia 47 tahun Usia yang masih sangat muda.[2]

Sebagian dari murid beliau

• Kyai Ahyad Irsyad Srono

• Kyai Sam'ani Curahkates

• Kyai Imam Burhan Yasinat Kesilir

• Kyai As'adi Sufyan Pundungan

• Kyai Luqoni Mannan Brasan

• Kyai Ali Muhaidlori Askandar Brasan

• Kyai Sayuthi Tegalpare

• Kyai Syifa' Yogyakarta

• Kyai Agus Salim Tegalsari

• Kyai Solihin Semboro

• Kyai Qodri Tulungagung

• Kyai Husein Wates

• Kyai Khozin Pare

• Kyai Arobi Tegal

• Kyai Mursyid Blitar

• Kyai Abdul Qodir Pundungan

• Kyai Samsul Arifin Pundungan

• Kyai Sonhaji Pundungan

• Kyai Imam Turmudzi Pundungan

• Kyai Nuruddin Qosim Tegalsari

Karya dan pemikiran

K.H. Dimyathi Syafi'ie mempunyai beberapa tulisan dan catatan-catatan.[2]

Namun dengan berlangsungnya pembakaran Pondok Pesantren Kepundungan oleh pihak Belanda, maka beberapa pemikiran KH. Dimyathi Syafi'ie yang sudah terbukukan dalam beberapa kitab belum bisa terselamatkan;[2]

Dengan kekurangan informasi itulah, maka penulis masih berusaha mengumpulkan beberapa kitab Dia yang masih bisa diketahui, dan salah satu kitab yang sudah penulis dapatkan adalah:

  • Syi'ir Jawen Li Mau'idhoti As-Shibyan (Syi'ir bahasa Jawa untuk nasihat anak-anak muda)
  • Syi'ir Safinatun Najah (Syi'ir bahasa Jawa kitab Safinah)

Referensi

Catatan Kaki

  1. ^ a b c d e f g "Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan". NU Online. 12 November 2008. Diakses tanggal 1 Desember 2008.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v "Biografi KH. Dimyathi Syafi'ie". nahdlatululama dot id. 12 Juli 2016. Diakses tanggal 28 Juli 2016.
  3. ^ terbaru
  4. ^ "Biografi dari KH Dimyathi". nahdlatululama dot id. 1 Juni 2016. Diakses tanggal 6 Juni 2016.
  5. ^ "Elegi Haji Kiai Dimyathi Syafi'ie". NU Banyuwangi. 22 Juli 2017. Diakses tanggal 9 Agustus 2017.[pranala nonaktif permanen]
  6. ^ "Memoar Kiai Achjad tentang Kiai Dimjathi dan NU Blambangan". NU Banyuwangi. 21 Januari 2016. Diakses tanggal 26 Januari 2016.
  7. ^ a b "Kiai Banyuwangi dan Perang Kemerdekaan". Santri News. 16 Agustus 2016. Diakses tanggal 17 Agustus 2016.[pranala nonaktif permanen]

Pranala luar

Didahului oleh:
tidak ada
Pendiri
Pondok Pesantren Kepundungan

1936-1959
Diteruskan oleh:
KH. As'adi Sufyan

KH. Khamadulloh Dimyathi

KH. Wafiruddin As'adi

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya