Dodok Jogja
Dodok Jogja adalah nama populer dari Eko Kuswanto, yang juga dikenal dengan nama Dodok Putra Bangsa, seorang aktivis sosial, komika, dan pengamen asal Yogyakarta, Indonesia.[1][2] Ia dikenal sebagai salah satu tokoh utama gerakan Jogja Ora Didol, sebuah gerakan sosial yang menentang kebijakan pembangunan hotel dan apartemen di Yogyakarta yang dinilai merugikan warga.[1][3][4] Pada 2023, ia mulai dikenal sebagai komika melalui komunitas Stand Up Indo Yogyakarta dan memenangkan Liga Tawa Istimewa pertama.[2]
Kehidupan awal
Eko Kuswanto lahir 15 Desember 1977 dan tumbuh di Miliran, Umbulharjo, Yogyakarta.[1][2] Ia sempat bersekolah di SMK namun tidak menyelesaikan pendidikannya karena mulai hidup di jalanan pada 1993 sebagai pengamen.[2] Pada 1995, ia kembali bersekolah namun berhenti beberapa bulan kemudian setelah terlibat perkelahian dan sempat ditahan polisi.[2] Ia menyelesaikan pendidikan kesetaraan (Paket C) pada 2009 hingga 2012.[1]
Aktivisme
Gerakan Keluarga Jalanan Merdeka dan Taabah
Setelah bebas dari penahanan, Dodok aktif dalam gerakan aktivisme dengan bergabung dalam Gerakan Keluarga Jalanan Merdeka (GKJM).[1] Ia juga menjadi salah satu pendiri Tim Advokasi Akar Bawah (Taabah), sebuah lembaga advokasi yang berfokus pada isu warga miskin kota.[1]
Melalui Taabah, pada 2003, ratusan pengamen dan anak jalanan berhasil memperoleh Kartu Identitas Penduduk Musiman (Kipem) setelah berjuang selama dua tahun.[1] Taabah juga berhasil menempati lahan terlantar di Dusun Ledok Timoho, Yogyakarta, selama lebih dari 21 tahun.[1]
Sejak 2001, Dodok menjalin jaringan dengan LSM Urban Poor Consortium (UPC) untuk isu kemiskinan perkotaan, khususnya di sektor anak jalanan.[1] Dari 2006 hingga 2014, ia juga terlibat dalam advokasi korban lumpur panas PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.[1]
Jogja Ora Didol
Gerakan Jogja Ora Didol bermula pada Oktober 2013, ketika sejumlah aktivis komunitas Warga Berdaya, termasuk Arif Buwono dan Elanto Wijoyono, membuat mural di Pojok Beteng Wetan Yogyakarta sebagai protes terhadap maraknya pembangunan hotel di kota tersebut.[5] Dodok bergabung dengan gerakan ini pada 2014, ketika sumur-sumur warga di Dusun Miliran, tempat tinggalnya, mengering akibat pembangunan hotel di kawasan tersebut.[4][1]
Melalui gerakan yang ia sebut "Jogja Asat", Dodok melakukan berbagai aksi teatrikal untuk menyuarakan dampak pembangunan hotel terhadap ketersediaan air warga, termasuk aksi mandi menggunakan pasir di depan sebuah hotel sebagai simbolisasi kekeringan.[4][1] Dodok kemudian dikenal sebagai salah satu penggiat paling vokal dalam gerakan Jogja Ora Didol dan menjadi wajah publik dari gerakan tersebut.[3][1]
Pada 2022, setelah Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti ditangkap KPK dalam kasus suap izin hotel dan apartemen, Dodok mencukur rambutnya yang panjang sebagai ungkapan syukur.[1][6]
Dodok juga aktif dalam berbagai aksi demonstrasi nasional, termasuk aksi "Jogja Memanggil" pada 2025 yang memprotes sejumlah kebijakan pemerintah.[7] Ia diundang ke Polandia dan Korea Selatan untuk berbicara tentang isu air dan hak warga.[1]
Karier stand-up comedy
Pada Mei 2023, Dodok mulai aktif di komunitas Stand Up Indo Yogyakarta melalui sesi open mic setiap Jumat malam.[2] Beberapa bulan kemudian, ia mengikuti Liga Tawa Istimewa pertama dan keluar sebagai juara, sekaligus dinobatkan sebagai komika terlucu Yogyakarta 2023.[2]
Pada 2 Desember 2023, ia tampil sebagai komika pembuka dalam tur pertunjukan Black Camping milik komika Abdur Arsyad di hadapan sekitar 1.000 penonton.[2] Materi stand-up comedy-nya umumnya bertema sosial, politik, dan kritik terhadap kebijakan pemerintah sejalan dengan latar belakang aktivisme yang lama ia tekuni.[1][2]
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p "Kehidupan Jalanan dan Aktivisme Komika Dodok Jogja". Kompas.id. 2025-03-14. Diakses tanggal 2026-06-25.
- ^ a b c d e f g h i "Kisah hidup Dodok, dari anak jalanan, pengamen, hingga jadi komika di usia senja". Brilio.net. 2024-01-16. Diakses tanggal 2026-06-25.
- ^ a b "Penggiat Gerakan 'Jogja Ora Didol' Dodok Putra Bangsa". Jawa Pos. 2019-06-24. Diakses tanggal 2026-06-25.
- ^ a b c "Saya Serukan ke Publik: Jogja Ora Didol!". Yayasan SATUNAMA Yogyakarta. 2016-02-19. Diakses tanggal 2026-06-25.
- ^ "Lahirnya Kampanye 'Jogja Ora Didol,' Protes Warga pada Haryadi Suyuti pada 2013". Kumparan. 2021-06-05. Diakses tanggal 2026-06-25.
- ^ "Eks Walikota Yogya Ditahan KPK, Aktivis Jogja Ora Didol Cukur Gundul". KPonline. 2022-06-04. Diakses tanggal 2026-06-25.
- ^ "Cerita dari Jogja Memanggil: Mahasiswa, Komika, hingga Wibu Turut Bersuara". Semut Api Media. 2025-04-12. Diakses tanggal 2026-06-25.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.