Dol
Masyarakat keturunan India di Bengkulu memainkan Dol sebagai upaya melestarikan tradisi kebudayaan musik nenek moyang Asia Selatan mereka | |
| Klasifikasi | Membranofon |
|---|---|
| Alat musik terkait | |
| Dolak atau Dolki | |
| Informasi atau artikel lainnya | |
| Garba, Bhangra, Musik Punjab, Tarian Bihu | |
Dalam bidang permusikan, dol[1] (serapan dari Sanskerta: ढोला, romanized: ḍhola, har. 'drum'; pelafalan Sanskerta: [ɖʰoːl]; bahasa Punjabi: ਢੋਲ, ڈھول; bahasa Hindi: ढोल; bahasa Assam: ঢোল, bahasa Pashtun: ډهول; bahasa Urdu: ڈھول; bahasa Armenia: դհոլ; bahasa Georgia:დოლი; bahasa Persia: دهل) dapat merujuk pada berbagai jenis instrumen musik berupa drum berkepala ganda yang banyak digunakan (dengan variasi regional) di seluruh subbenua India. Sebarannya di subbenua India terutama mencakup wilayah utara seperti Jammu, Himachal Pradesh, Punjab, Haryana, Delhi, Kashmir, Sindh, Lembah Assam, Uttarakhand, Bengal Barat, Odisha, Gujarat, Maharashtra, Konkan, Goa, Karnataka, Rajasthan, Bihar, Jharkhand, dan Uttar Pradesh. Dol juga cukup populer dalam masyarakat diaspora Asia Selatan di Indonesia, khususnya diaspora atau keturunan India dan Nepal, terutama di pulau Sumatra, khususnya di Sumatra Utara dan Bengkulu[2] yang mana merupakan daerah-daerah dengan populasi berketurunan Asia Selatan terbesar di Indonesia. Instrumen yang berhubungan dengan Dol adalah dolak atau dolki. Dol sering dipergunakan dalam pawai upacara pernikahan adat India seperti Barata atau Baryatra.
Seseorang yang memainkan Dol disebut ḍholi (dalam bahasa Sanskerta).
Etimologi
Kata "dol" dalam bahasa Indonesia (dan sebagian bahasa daerah di Sumatra, khususnya di Bengkulu)[2] berasal dari istilah bahasa Sanskerta, ढोला (ḍhola), yang merujuk kepada instrumen musik berupa drum dalam kebudayaan India.[3]
Sejarah
Indonesia

Migrasi orang-orang Asia Selatan ke Indonesia, utamanya yang berasal dari India ke pulau Sumatra, menjadi titik mula Dol dikenal oleh masyarakat di berbagai daerah di Sumatra, khususnya di Bengkulu.[2] Masyarakat Bengkulu berketurunan India dan Nepal menjadikan Dol sebagai sarana penghubung untuk mengingat akan akar asal-usul mereka yang datang dari daratan subbenua India di Asia Selatan.[2] Berbagai pagelaran kebudayaan khas Bengkulu kerap kali menampilkan pertunjukkan Dol sebagai salah satu cerminan khazanah kemajemukan masyarakat Bengkulu yang menjaga tradisi musik nenek moyang Asia Selatan mereka.[2] Musik ini ditampilkan dalam upacara adat Tabot di Bengkulu pada tanggal 1 sampai dengan 10 Muharram.[5]
Perangkat musik dol di Bengkulu terdiri atas dua set tasa, sebuah keneng (cimbal), sebuah suling, dan 10 dol yang terbagi atas 2 kelompok pemain. Tasa, sejenis tamborin, dimainkan oleh dua orang secara unison dengan 2 alat penabuh serupa tabuh bedug.
Cara pembuatan
Dol terbuat dari bonggol kelapa, kulit sapi atau kulit kambing dengan dibentuk menyerupai bola setengah oval lalu dilubangi pada bagian tengah bonggolnya.
Selanjutnya bonggol kelapa yang sudah dilubangi dijemur kurang lebih sekitar satu bulan hingga kering. Setelah bonggol kelapa kering, dilanjutkan pengamplasan untuk di plitur. Kemudian bonggol diberi pewarnaan dengan menggunakan cat kayu dan dibiarkan hingga kering. Terakhir proses pemasangan kulit sapi yang telah kering, sama dengan bahan kulit bedug, dipasang ke bonggol kelapa dengan menggunakan paku khusus. Terakhir bonggol dipasangi rotan yang sebelumnya sudah dibentuk, dipasang antara kulit pinggir dol sampai ke bagian bawah dudukan Dol.[6]
Teknik
Ada tiga pola ritme dol termasuk Suwari, Sewena, dan Tamatam.[5] Teknik Suwena biasanya dol dimainkan dengan tempo lambat saat suasana duka cita. Teknik Tamatam biasanya dimainkan dengan suasana riang dengan tempo cepat dan konstan. Teknik Suwari dimainkan dengan tempo pukulan satu-satu dan biasanya dimainkan saat perjalanan panjang[7]
Referensi
- ^ "Cari "Dol" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)". Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
- ^ a b c d e "Sejarah Dol di Bengkulu". Universitas Dehasen Bengkulu. 2024.
- ^ McGregor, R. S. (Ronald Stuart) (1993). "The Oxford Hindi-English dictionary". dsal.uchicago.edu. Diakses tanggal 2023-03-17.
- ^ https://www.etsy.com/listing/4345884696/nepali-dhaka-topi-palpali-dhaka-topi
- ^ a b Hastuti, Sri (2005). TRADISI NUSANTARA.pdf Musik Tradisi Nusantara: Musik-musik yang Belum Banyak Dikenal (PDF). Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Begini Proses Pembuatan Alat Musik Dol Bengkulu, Terbuat Dari Bonggol Kelapa dan Kulit Sapi". Tribunbengkulu.com. Diakses tanggal 2026-02-04.
- ^ "Dol, Hentakan Irama Gendang Tradisional Bengkulu". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2026-02-04.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
