Dukutan
Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. (Juni 2025) |
Dukuh Nglurah yang berada dalam kelurahan Tawangmangu di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar terletak di lereng Gunung Lawu pada ketinggian sekitar 3000 meter dari permukaan laut. Wilayah Dukuh Nglurah dibagi menjadi dua bagian, yakni bagian utara dan bagian selatan. Nglurah utara adalah RW 10, sedangkan Nglurah selatan merupakan RW 11. Kedua area ini dipisahkan oleh sebuah sungai yang mengalir dari timur ke barat. Di Dukuh Nglurah, terdapat tradisi upacara bersih desa yang disebut Dukutan. Tradisi ini merupakan aktivitas rutin yang telah lama dilaksanakan oleh masyarakat Dukuh Nglurah. Istilah Dukutan diambil dari kata Dukut, yang merupakan salah satu nama dari 28 wuku Jawa. Dukutan dilaksanakan setiap 6 lapan (1 lapan = 35 hari) atau setiap 7 bulan, pada hari Selasa Kliwon dalam wuku Dukut. Nama wuku ini diyakini berasal dari nama anak seorang tokoh bernama Dewi Shinta yang menikah dengan putranya yang bernama Watugunung. Cerita ini merupakan versi dari Airlangga, karena Candi Menggung yang terletak di Dukuh Nglurah adalah bagian dari Candi Sukuh dan Candi Cetha yang dibangun pada era Airlangga. Candi Menggung diyakini sebagai tempat persembunyian Airlangga ketika melarikan diri ke Wanagiri bersama para pengikutnya. Meskipun pengaruh luar yang masuk ke Dukuh Nglurah sulit untuk dihindari, mitos-mitos yang ada masih kuat dan diyakini oleh masyarakat meskipun beberapa di antaranya sudah tidak berlaku. Contohnya dalam pembuatan sesaji. Warga Dukuh Nglurah masih percaya dan patuh dalam proses pembuatan sesaji untuk menghindari bencana bagi diri mereka atau keluarga, serta desa mereka. Dalam pertanian padi, tampaknya warga Dukuh Nglurah telah memahami alasan di balik kegagalan penanaman padi, yakni karena faktor iklim yang tidak mendukung. Sebelumnya, mereka percaya bahwa menanam padi bisa mendatangkan malapetaka karena padi bukanlah makanan pokok Airlangga. Upacara Dukutan atau bersih desa yang dilakukan oleh warga Dukuh Nglurah sampai saat ini masih berlangsung meskipun era modernisasi terus melanda dan telah mengurangi beberapa mitos. Namun, inti dari pelaksanaan tradisi ini tetap kokoh dalam keyakinan masyarakat Dukuh Nglurah karena pada dasarnya tradisi ini adalah bentuk ungkapan syukur mereka kepada Yang Maha Kuasa atas berkat yang diberikan. Tradisi bersih desa Dukutan merupakan warisan turun-temurun dari budaya pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Dukuh Nglurah, bertujuan untuk keselamatan agar masyarakat terhindar dari gangguan alam yang bersifat supranatural. Adapun langkah-langkah pelaksanaan Dukutan adalah, pada hari Minggu, warga khususnya para pria bersama-sama membersihkan Punden Situs Candi Menggung, tempat diadakannya upacara Dukutan, sementara wanita dan ibu-ibu mencuci peralatan masak untuk sesaji yang dibuat dari hasil pertanian lokal dan gandhik yang terbuat dari jagung sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Sesaji yang disajikan berbentuk tumpeng dari jagung, dilengkapi dengan botok, bongko, gudangan (urap), dan sayur ares dari palawija serta buah pisang dan singkong. Sesaji tersebut diletakkan di atas daun pisang yang dibentuk persegi. Di Situs Menggung Dukuh Nglurah, ada dua tokoh yang dihormati oleh masyarakat setempat, yakni Kiai Menggung yang berasal dari Nglurah Lor dan Nyai Roso Putih dari Nglurah Kidul. Pada masa itu, sering terjadi konflik antarwarga antara kedua daerah tersebut. Kemudian, kedua tokoh tersebut berpesan agar warga membuat sesaji dari jagung, baik berupa tumpeng atau gandik. Pada hari Senin, sesaji tersebut dibawa oleh warga ke Punden Situs Candi Menggung untuk didoakan pada malam harinya. Puncak acaranya berlangsung pada hari Selasa Kliwon pagi, di mana sesaji dibawa berkeliling situs sebanyak tiga kali sambil ditawurkan (disebar) di sekitar situs. Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Dukuh Nglurah sebagai simbol persatuan. Tawur agung ini menarik minat wisatawan di sekitar Dukuh Nglurah. Upacara Dukutan memiliki unsur religius yang terlihat dari doa-doa yang dibacakan oleh tokoh masyarakat terhadap sesaji dari warga, serta fungsi sosial dalam masyarakat. Nilai yang terkandung dalam Upacara Dukutan meliputi nilai kebersamaan dan gotong royong, yang terlihat saat masyarakat bersatu membersihkan tempat untuk sesaji dan tawur agung, serta penghormatan yang tinggi kepada leluhur dengan keberlangsungan Upacara Dukutan hingga sekarang. Di samping itu, Upacara Dukutan juga mengandung makna budaya sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Dukuh Nglurah kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah dan keselamatan serta keharmonisan antarwarga.[1]
Referensi
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.