Etnomatematika

Dalam konteks pendidikan matematika, etnomatematika merupakan bidang kajian yang meneliti keterkaitan antara konsep matematika dan unsur budaya. Istilah ini kerap diasosiasikan dengan praktik matematika pada masyarakat yang tidak memiliki tradisi tulis, tetapi cakupannya lebih luas, mencakup segala bentuk penerapan dan pemahaman matematika dalam kelompok budaya tertentu. Etnomatematika mencakup beragam gagasan, mulai dari variasi sistem bilangan dan metode perhitungan khas suatu komunitas hingga pendekatan pendidikan matematika yang berwawasan multikultural. Tujuan utama dari etnomatematika adalah memperdalam pemahaman terhadap hubungan timbal balik antara budaya dan matematika, sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap integrasi keduanya dalam konteks pendidikan dan ilmu pengetahuan.[1]

Pengertian

Etnomatematika merupakan kajian yang menelusuri perkembangan gagasan-gagasan matematika dalam konteks budaya tertentu. Menurut D’Ambrosio, bidang ini berfokus pada pemahaman bahwa pengetahuan matematika terbentuk melalui kebutuhan, sejarah, serta sistem kepercayaan dari berbagai komunitas manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam Pentingnya Pendidikan Etnomatematika, istilah “etno” mencerminkan keragaman pengetahuan budaya yang mencakup bahasa, nilai, keyakinan, dan praktik kehidupan sehari-hari. Sementara itu, “mathema” berkaitan dengan proses memperoleh dan memahami pola maupun prinsip abstrak, dan “tic” menandakan cara serta alat yang digunakan masyarakat untuk memecahkan masalah sesuai dengan kondisi sosial dan lingkungan mereka.[2]

Pendekatan etnomatematika menempatkan matematika sebagai aktivitas manusia yang bersifat dinamis, bukan sekadar kumpulan aturan abstrak yang terlepas dari konteks budaya. Dengan demikian, matematika dipahami sebagai disiplin yang senantiasa berkembang seiring perubahan kebutuhan, praktik, serta pandangan dunia berbagai kelompok masyarakat.[2]

Temuan

Permainan budaya

berikut adalah permainan budaya yang melibatkan matematika Mozkat Bedouin, permainan lima batu yang dimainkan di Israel; Tong Tong Galitong Ji, juga dikenal sebagai Nasi Goreng Kecap, permainan budaya yang dimainkan di Kota Malang, Indonesia; Mancala, permainan Afrika; Oware, permainan Ghana; dan Omweso, permainan papan Uganda, meskipun dalam konteks budaya yang berbeda memiliki konsep yang terkait dengan sifat dan operasi bilangan, dan probabilitas (Chahine , 2020 ; de Voogt et al., 2018 ; Fouze & Amit, 2018 ; Kirumira, 2019 ; Owusu-Mensah & Baffour, 2015 ; Powell & Temple, 2001 ; Turmundi et al., 2020 ; Zaslavsky, 1999 ). Geometri dan aljabar adalah konsep matematika yang ditemukan dalam permainan tradisional Mesir Seega ( Bolton, 1890 ; Fouze & Amit, 2018 ). Geometri merupakan konsep matematika dalam permainan Kgati atau Ntimo atau Ugqaphu, yang dimainkan di Afrika Selatan, dan Pacu Jalur, permainan budaya Riau yang dimainkan di Indonesia ( Fendrik dkk., 2020 ; Moloi dkk., 2021 ). Sifat dan operasi bilangan, serta aljabar, merupakan konsep matematika yang ditemukan dalam permainan budaya Black Toti (Afrika Selatan) dan Endog-endogan (Indonesia) yang dimainkan oleh masyarakat Sunda ( Feza, 2018 ; Supriadi dkk., 2023 ; Supriadi & Arisetyawan, 2020 ). Permainan budaya yang menggabungkan ide-ide matematika tentang sifat dan operasi bilangan serta geometri disebut Dakon atau Congklak (tjongklak) di Indonesia, Congkak di Malaysia dan Brunei, dan Sungkâ di Filipina ( Cruz et al., 2000 ; Handayani & Iswantiningtyas, 2020 ; Melaningsih et al., 2023 ).[3]

Menenun

Salah satu bentuk seni yang mengekspresikan individualitas pembuatnya adalah menenun. Tenun umumnya dikenal sebagai media ekspresi diri karena praktiknya dapat menciptakan kondisi tenang dan meditatif yang meredakan stres dan mendorong relaksasi ( Johnson dkk., 2021 ; Morabito, 2022 ). Tenun juga sarat dengan konsep matematika yang menunjukkan kecerdikan dan pemikiran kritis sang seniman ( Harlizius-Klück, 2017 ). Empat jenis tenun diidentifikasi dalam ulasan ini: keranjang, tikar, kain atau tekstil, serta sulaman dan ornamen. Detail spesifik dari masing-masing bentuk ini kemudian dijelaskan.[3]

Perhutungan Simbolik

Konsep-konsep seperti operasi matematika, ekspresi, dan pernyataan, serta entitas atau operan tempat operasi dilakukan, direpresentasikan oleh simbol ( Uttal & Yuan, 2014 ). Simbol yang berbeda memiliki makna yang berbeda dalam setiap budaya. Mereka menyampaikan konsep, emosi, ide, dan banyak lagi sambil memungkinkan orang lain untuk menguraikan dan menafsirkannya ( Peterson, 1990 ; Pizzimenti, 2013 ; Sigdel, 2018 ). Misalnya, saat menghitung besaran dasar seperti panjang, lebar, luas, tinggi, berat, dan waktu, orang Sunda di Indonesia menggunakan perhitungan matematika simbolis ( Abdullah, 2017 ). Sementara itu, Keraton Kasepuhan Cirebon menggunakan kalender Aboge untuk menentukan hari libur karena menentukan hari besar Islam dan upacara adat di Keraton Kasepuhan Cirebon di Indonesia ( Syahrin et al., 2016 ).[3]

Bangunan

Bangunan, seperti rumah, adalah konstruksi tertutup dengan dinding dan atap yang sering kali terletak secara permanen di satu lokasi ( Brown, 1989 ; Gieryn, 2002 ). Bangunan dapat diklasifikasikan sebagai struktur perumahan, komersial, industri, atau infrastruktur ( Steadman, 1994 ). Mereka memenuhi berbagai fungsi sosial, termasuk perumahan, yang sebagian besar digunakan untuk perlindungan cuaca, tempat berkumpul, keamanan, hiburan, dan penyimpanan barang-barang pribadi ( Khusaini et al., 2022 ; Narayanan et al., 2018 ).[3]

Sistem Bilangan

Sistem penulisan yang digunakan untuk menyampaikan angka secara konsisten disebut sistem bilangan ( Robert, 2022 ). Dengan kata lain, ini adalah sistem notasi matematika yang menggunakan digit atau simbol lain untuk secara konsisten mengekspresikan angka dalam set tertentu ( Rossi & Thuswaldner, 2022 ). Sistem bilangan yang berbeda dapat menggunakan set simbol yang sama untuk menunjukkan angka yang berbeda. Sistem bilangan Hindu-Arab, yang berakar di India dan saat ini digunakan di seluruh dunia, adalah yang paling banyak digunakan ( Danna, 2021 ). Karena sistem bilangan menjaga kerahasiaan, sistem ini digunakan untuk mengidentifikasi individu dan objek ( Nataraj & Thomas, 2009 ).[3]

Kritik

Sejumlah kritikus berpendapat bahwa pendidikan matematika modern memberikan penekanan berlebihan pada etnomatematika demi mendukung nilai-nilai multikulturalisme, namun kurang menitikberatkan pada penguasaan konsep inti matematika. Pendekatan tersebut, menurut sebagian pihak, berpotensi menimbulkan penyimpangan ilmiah atau penerimaan terhadap gagasan yang tidak didukung bukti ilmiah. Richard Askey, misalnya, menelaah buku teks Focus on Algebra terbitan Addison-Wesley yang sebelumnya juga dikritik oleh Marianne M. Jennings dan menemukan bahwa karya tersebut mengulang klaim keliru yang telah dibantah terkait astronomi suku Dogon.[4]

Dalam perkembangan yang lebih mutakhir, perubahan kurikulum yang diusulkan oleh distrik sekolah Seattle juga memicu perdebatan serupa mengenai peran etnomatematika. Rancangan kurikulum tersebut memadukan pembelajaran matematika dengan studi etnis, termasuk melalui pertanyaan reflektif seperti “Seberapa penting untuk menjadi benar?” dan “Siapa yang memiliki otoritas untuk menentukan kebenaran suatu jawaban?”. Pendekatan ini menuai kritik karena dianggap mengaburkan batas antara aspek kognitif matematika dan dimensi sosial-budaya yang melingkupinya.[5]

Referensi

  1. ^ "Ethnomathematics". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2025-05-15.
  2. ^ a b "Ethnomathematics: A Culturally Responsive Approach to Learning – Mathematical Association of America" (dalam bahasa American English). 2025-09-18. Diakses tanggal 2025-11-03.
  3. ^ a b c d e Kabuye Batiibwe, Marjorie Sarah (2024-12-01). "The role of ethnomathematics in mathematics education: A literature review". Asian Journal for Mathematics Education (dalam bahasa Inggris). 3 (4): 383–405. doi:10.1177/27527263241300400. ISSN 2752-7263.
  4. ^ "'Rain Forest' Algebra Course Teaches Everything but Algebra". Christian Science Monitor. ISSN 0882-7729. Diakses tanggal 2025-11-03.
  5. ^ Gewertz, Catherine (2019-10-15). "Seattle Schools Lead Controversial Push to 'Rehumanize' Math". Education Week (dalam bahasa Inggris). ISSN 0277-4232. Diakses tanggal 2025-11-03.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya