Faradje'

Faradje' (Berdasarkan bahasa budaya Istana Surya Negara), merupakan adat istiadat masyarakat atau adapat disebut juga ritus yang lokasi penyebaranya berada di kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kondisi kebudayaan Faradje' sebagai kebudayaan takbenda saat ini masih dapat bertahan di tengah perubahan zaman yang terus terjadi.
Faradje' merupakan suatu acara yang memadukan antara agama, adat istiadat, seni budaya, dan tatanan pemerintahan Islam. Faradje' merupakan suatu ritual sakral turun-temurun yang tetap terjaga dan dilaksanakan sepanjang tahun di lingkungan kerajaan Surya Negara, dan disetiap kampung di wilayah kabupaten Sanggau. Budaya ini berasal dari budaya nenek moyang Melayu Sanggau yang harus dilestarikan sebagai bentuk untuk menjaga amanah dari nenek moyang, yang suatu saat dikhawatirkan akan tergeser dengan kebudayaan-kebudayaan baru dari luar.
Perayaan Faradje' dilakukan bukan dalam rangka untuk bersenang-senang semata, namun dilakukan untuk membersihkan negeri kabupaten Sanggau dari marabahaya, malapetaka, bebagai macam musibah dan penyakit, serta bencana alam.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini diawali dengan pawai Farajde' mengelilingi kota Sanggau sambil melantunkan asma Allah SWT. Pada saat pelaksanaan kegiatan ini turut diundang petinggi-petinggi yang berasal dari kabupaten Sanggau. Selain itu, diundang pula para raja yang berada di Kalimantan Barat dan raja-raja yang berada di luar wilayah Kalimantan Barat.
Selain itu, pada saat pelaksanaan faradje' diadakan pula berbagai macam perlombaan untuk memeriahkan acara tersebut, diantaranya lomba sampan dan lomba sampan tiga dara, hadrah, zapin, gambus, bersyair putra-putri, lomba busana muslim, menari dan masih banyak lomba lainya yang behubungan dengan kebudayaan dan seni. Tujuan diadakannya perlombaan seperti ini adalah untuk mengangkat berbagai jenis seni ke dalam acara ini serta untuk melestarikan seni-seni islam agar tidak hilang ditelan zaman.[1]
Tujuan perayaan
Tujuan dilaksanakanya Faradje' ialah untuk melestarikan budaya leluhur. Karena budaya ini sudah sangat mengakar serta menjadi cikal bakal dan nilai-nilai kearifan lokal yang berada di Sanggau serta perlu dilestarikan dan dipertahankan, karena perayaanya tidak lepas dari unsur seni dan budaya. Sebab seni itu indah dan budaya merupakan kearifan yang diturunkan oleh nenek moyang. Karenanya ini menjadi hal yang patut dilestarikan dan dikembangkan pada generasi selanjutnya. Hal tersebut dilakukan agar mereka tidak mudah terpengaruh dengan budaya-budaya asing yang dapat merusak iman, akhlak, serta moral gererasi selanjutnya.
Referensi
- ^ Ramly, Nadjamuddin (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan). "Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2018" (PDF). Wisata Budaya Takbenda Indonesia. 10 Oktober 2018. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2022-03-08. Diakses tanggal 20 Februari 2019. ;
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.