Gambang rancag
Gambang rancag merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Betawi. Gambang rancag merupakan gabungan berbagai kesenian, seperti musik, sastra, dan teater. Kata rancag berarti irama cepat dan rancagan dapat juga diartikan penyajian lagu dan musik dengan irama cepat. Pengertian lain rancag, yaitu tuturan atau juga disebut pantun berkait.[1]
Sejarah
Tradisi lisan ngerancag diduga bermula pada akhir abad ke-19. Rancag dan cerita sohibul hikayat yang berkembang pada zaman Belanda digunakan oleh masyarakat untuk mengkritik pemerintah Belanda, tetapi dengan cara aman untuk menghidar dari penangkapan. Salah satu tema rancag adalah si Pitung. Rancagan si Pitung adalah bagian dari kritik sekaligus transformasi nilai semangat perlawanan terhadap otoritas pemerintah Belanda.[1]
Kesenian ini biasanya ada di kalangan masyarakat Betawi di pinggiran kota Jakarta yang berkembang baik pada periode sebelum tahun 1930. Pada waktu itu kesenian ini cukup disenangi dan merupakan pertunjukan panggilan pada waktu hajatan. Namun dengan perkembangan zaman, penggemar kesenian ini mulai berkurang bahkan tidak ada lagi orang yang menanggap kesenian ini. Para seniman gambang rancag akhirnya berkeliling dari kampung ke kampung dengan cara mengamen.[2]
Salah satu tokoh gambang rancag yang terkenal adalah Jali jalut, pendiri grup seni gambang rancag Galih Putra dari Pekayon Pasar Rebo, Jakarta Timur. Sebelumnya, Jali adalah seniman lenong, yang kemudian beralih menjadi seniman gambang rancag. Pada tahun 1960-an ketika zaman PKI, gambang rancag sempat berhenti dikarenakan dianggap sebagai alat propaganda untuk menghina Soekarno. Sempat kembali bangkit pada tahun 1970-an, tetapi kembali padam karena generasi muda kurang suka dengan jenis kesenian ini. Tahun 2009 pemerintah mulai menghidupkan lagi dengan berbagai upaya.[3]
Pementasan
Pagelaran gambang rancag dilakukan sekitar dua orang atau lebih yang menceritakan dengan cara bernyanyi atau melagu diiringi orkes gambang kromong. Dalam pergelaran gambang rancag ada 3 bagian. Bagian pembukaan diisi dengan lagu instrumentalia yang disebut phobin. Bagian ini berfungsi mengumpulkan penonton. Setelah itu lagu sayur yang berfungsi sebagai selingan sebelum ngerancag dimulai.Setelah itu lagu ngerancag. Ngerancag bukan pekerjaan mudah, seorang perancag selain mampu bernyanyi harus pula menyusun pantun dan hafal cerita yang akan dibawakan. Adapun tema lirik dan lagu dalam gambang rancag antara lain berisi nasihat, kesetiaan, kasih sayang, perjuangan, sedih, dan jenaka. Sedangkan pakaian yang dikenakan oleh perancag adalah: kemeja, jas, celana, kain sarung, dan peci serta pemain musik mengenakan pakaian piyama dan peci.[4]
Kesenian ini ditampilkan diiringi musik gambang kromong. Alat musik pengiringnya antara lain gambang, kenong, gendang, kecrek, gong dan alat musik cira seperti tehyan, kongahyang, dan shukong. Lagu yang sering ditampilkan antara lain; Jali-Jali, Cente Manis, Stambul Siliwangi, Gelatik Ungu, Sipatmo, Macutay, dan lain-lain. Dalam pergelaran gambang rancag ada 3 bagian. Bagian pembukaan disebut dengan phobin. Bagian ini berfungsi mengumpulkan penonton. Setelah itu lagu sayur yang berfungsi sebagai selingan. Baru setelah itu ngerancag sebagai acara utamanya.[3]

Musik Gambang Kromong
Gambang kromong merupakan musik yang mengiringi kesenian gambang rancag. Musik dalam tradisi lisan ini berfungsi sebagai penggugah suasana, membantu mengingat, dan menjaga keselarasan serta keseimbangan rasa. Musik gambang kromong terdiri atas gambang dan kromong yang berasal dari perpaduan unsur budaya cina dan pribumi. Unsur budaya cina terlihat dari alat musik tehyan, kongahyan, dan sukong. Unsur budaya pribumi terliaht pada alat musik gendang, kempul, gong, gong enam, kecrek, dan ningnong. Gambang merupakan alat musik perkusi idiofon yang menjajarkan bilah kayu berjumlah antara 17 sampai dengan 21 dengan pembagian bilah di atas sebuah wadah tempat menyimpan suara (resonator). Instrumen musik pengiring yang lain terdapat tiga buah alat musik dawai (kordofon) gesek yang bernama kong ahyan, tehyan, dan sukong. Ketiganya memiliki ukuran yang berbeda. Selain intrumen tersebut masih ada instrumen yang lain, yaitu gendang, suling, kecrek, gong, dan kromong (kemor). Gendang adalah alat musik membranofon yang menyerupai susunan gendang untuk karawitan Sunda, sedangkan suling seperti yang digunakan pada musik Melayu dangdut yang ditiup (aerofon) secara horizontal. Instrumen idiofon yang lain adalah kecrek dari beberapa lembar lempengan besi, gong, dan kemor yang memiliki gundukan logam yang berpencon.[1]
Referensi
- ^ a b c "Badan Bahasa". dapobas.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2025-06-20.
- ^ "Gambang Rancag, Seni Pantun dari Betawi – Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat" (dalam bahasa indonesia). 2018-04-17. Diakses tanggal 2025-06-20. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ a b Kurniawati, Anisa (2024-11-19). "Seni Gambang Rancag Betawi Ingin Bangkit Kembali". emmanus.com (dalam bahasa indonesia). Diakses tanggal 2025-06-20. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ "Gambang Rancag, Seni Pantun Khas Betawi". Seni Budaya Betawi (dalam bahasa indonesia). 2022-11-18. Diakses tanggal 2025-06-20. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.