Gustira Monita
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
| Gustira Monita | |
|---|---|
| Lahir | 14 Agustus 1998 |
| Almamater | Institut Seni Indonesia Yogyakarta Saint Petersburg State University |
| Pekerjaan | Akademisi, Penulis, Seniman |
Gustira Monita adalah seorang penulis, seniman multidisipliner, dan akademisi Indonesia asal Aceh.[1] Karyanya berfokus pada seni pertunjukan, seni rupa, budaya Gayo, arsitektur vernakular, semiotika budaya, performativitas, serta hubungan budaya Indonesia-Russia. Ia dikenal melalui keterlibatannya dalam penelitian budaya, festival seni, publikasi akademik, dan kegiatan diplomasi budaya.[2] Monita mulai dikenal publik melalui aktivitasnya dalam seni tari dan musik tradisional Aceh sejak usia muda. Selain aktif sebagai seniman pertunjukan, ia juga terlibat dalam transformasi sosial budaya masyarakat Aceh dalam konteks kontemporer.[3]
Kehidupan awal dan pendidikan
Gustira Monita lahir dan dibesarkan di wilayah Dataran Tinggi Gayo[4] Ketertarikannya terhadap seni dan budaya berkembang sejak masa remaja melalui keterlibatannya dalam komunitas seni tradisional Aceh. Selain kegiatan seni, Monita juga aktif dalam bidang olahraga dan pernah mengikuti kompetisi catur tingkat pelajar dalam Olimpiade Siswa Nasional pada jenjang Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Ia menempuh pendidikan seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 2016 dengan fokus pada seni pertunjukan dan kajian budaya. Setelah menyelesaikan pendidikan di Indonesia, Monita melanjutkan studi di Russia melalui program beasiswa pemerintah Russia[5]. Ia menempuh pendidikan magister (S2) dalam bidang tata kelola seni dan budaya[6]. Saat ini, ia melanjutkan studi doktoral (S3) dalam bidang filsafat seni di Russia.[7]
Karier
Seniman
Dalam bidang seni, Monita aktif sebagai koreografer, musisi tradisional, seniman rupa, kurator dan penyelenggara kegiatan budaya. Ia terlibat dalam berbagai festival seni, pameran, dan kegiatan budaya di Indonesia maupun Internasional. Beberapa karya koreografinya antara lain "Nipak"(2017), "Birah Panyang" (2018), "Ketibung"(2019), "The woman behind the mask" (2020), dan "Luding"(2022).[8] Tema-tema yang diangkat dalam karya-karyanya banyak berkaitan dengan identitas budaya, perempuan, tradisi, memori budaya,[9] ruang sosial, dan perubahan masyarakat. Selain itu dia juga memainkan beberapa instrumen musik seperti Rapa'i Aceh,[10] Gegedem Gayo, Biola, Gitar dan Kontrabas.
Organisasi
Selain berkarya sebagai seniman, Monita juga aktif dalam organisasi budaya dan mahasiswa internasional. Ia pernah terlibat dalam komunitas seni dan budaya seperti Sanggar Burni Telong Etnik, Sanggar Linge, Gayo Arts Studio, Indonesia Mask Organization (IMO), Sanggar Cutnyak Dhien, Sanggar Lungun Gayo Yogyakarta, dan Seuraya (Seniman Rapai Aceh Yogyakarta). Dalam lingkungan PERMIRA (Perhimpunan mahasiswa Indonesia Russia) ia pernah menjadi Dewan Perwakilan Anggota PERMIRA Aliansi Selatan dan juga aktif di PPI Dunia (Perhimpunan Pelajar Indonesia Sedunia) sebagai kepala sub Bidang Kemitraan dan Pembangunan Komunitas Festival Luar Negeri. Pada tahun 2025, ia turut mendirikan klub sepak bola perempuan bagi komunitas perempuan BRICS di Rusia sebagai bagian dari diplomasi budaya.
Penelitian dan publikasi
Penelitian
Sebagai peneliti budaya, Monita menulis berbagai artikel ilmiah mengenai seni, budaya, antropologi, arsitektur vernakular, diplomasi budaya, dan teknologi sosial budaya. Penelitiannya banyak membahas budaya Aceh dan Gayo dalam perspektif interdisipliner. Salah satu artikelnya yang dikenal adalah "Tari Guel Sebagai Identitas Masyarakat Gayo" yang diterbitkan dalam "Joged:Jurnal Seni Tari" pada tahun 2020.[11] Dalam penelitiannya mengenai arsitektur vernakular, Monita membahas hubungan antara ornamen tradisional, simbol budaya, ruang sosial, dan identitas masyarakat Gayo. Kajian tersebut dikembangkan melalui pendekatan performatif-semiotik dan interpretasi budaya (teori). Dalam pengembangan teoritis, Monita memperkenalkan pendekatan "performative-semiotics" dan konsep "cultural resonance" sebagai bagian dari penelitian interdisipliner mengenai seni dan budaya.
Publikasi
Buku
- Aliyah (2022), ISBN 978-623-8342-22-8[12]
- Scraps of Paper:A Collection of Travel Poems (2024), ISBN 9786235756837[13]
Publikasi ilmiah terpilih
- "Tari Guel Sebagai Identitas Masyarakat Gayo" (2020)[14]
- Wisata Warisan sebagai bentuk pelestarian budaya (2023)
- Gayo After the Guns Fell Silent: Cultural Memory, Displacement, and Indigenous Recovery in the Acehnese Highlands" (2025)
- Ethnomusicology as a global bridge: connecting Generations, Technologies, and Communities" (2025)
- Monita, Gustira. “Foreign Language Serves as a Research Tool in Humanities Studies.” Paper presented at the XVIII International Conference of Young Researchers “Language, Discourse, (Inter)Culture in the Communicative Space,”
- Creative Hybridity in the digital cultural landscape: between aesthetics, collaboration, and innovation. 2025
- Estetika Sosial dan Transformasi Perkotaan: Studi Seni Rupa Partisipatif di Banda Aceh – 2025
Referensi
- ^ Hasan, Ferizal (27 Juni 2026). "Sosok Gustira Monita gadis Gayo kreatif yang mampu ciptakan tari di usia 13 tahun". tribunnews.com.
- ^ https://gayo.tribunnews.com/tag/gustira-monita
- ^ "Berita". dkv.isbiaceh.ac.id. 26 Agustus 2024.
- ^ "Gustira Monita angkat ingatan budaya pasca konflik Aceh". kabardaily.com. 19 Agustus 2025.
- ^ "Gustira Monita dapat beasiswa dari Pemerintah Rusia". aceh.tribunnews.com. 7 Agustus 2022.
- ^ https://symposium.kratonjogja.id/doc/Selected%20Paper%20(Round%201)%20--%20International%20Symposium%20on%20Javanese%20Culture%202026.pdf
- ^ "Putri Gayo dari Rusia jadi juri pawai budaya HUT ke 80 RI di Banda Aceh". kabardaily.com. 18 Agustus 2025.
- ^ Hasan, Ferizal (27 Juni 2026). "Sosok Gustira Monita gadis Gayo kreatif yang mampu ciptakan tari di usia 13 tahun". tribunnews.com.
- ^ "Gustira Monita angkat ingatan budaya pasca konflik Aceh". kabardaily.com. 19 Agustus 2025.
- ^ Berindra, Maria Susy (26 Maret 2023). "Gustira Monita mencintai rapai dan seni tari". kompas.id.
- ^ https://jurnal.isi.ac.id/index.php/joged/article/view/5601/0
- ^ "Review novel Aliyah Gustira Monita". penulisgarut.web.id. 1 September 2023.
- ^ Monita, Gustira (2024). Scraps of Paper: a Collection of Travel Poems. Malang: Berpuisi Publishing. hlm. Iv. ISBN 9786235756837.
- ^ "Article". journal.isi.ac.id.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.