Hadis sahih
Hadis sahih (bahasa Arab: الحديث الصحيح, translit. al-ḥadīth al-ṣaḥīḥ, harfiah "hadis yang sehat" atau "hadis yang kukuh") adalah kategori hadis yang, dalam terminologi hadis Sunni, memenuhi seperangkat syarat untuk dinilai dapat diterima dengan tingkat kekuatan tertinggi di antara kategori hadis ahad yang diterima. Dalam formulasi klasik yang kemudian menjadi standar, hadis sahih memiliki sanad yang bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan memiliki ketelitian transmisi yang kuat, serta bebas dari penyimpangan (syudzudz) dan cacat tersembunyi (illah).[1][2]
Istilah sahih merupakan penilaian teknis dalam disiplin kritik hadis dan tidak berarti bahwa semua ulama selalu sepakat atas setiap hadis yang mendapat label tersebut. Penilaian dapat berbeda karena variasi informasi mengenai perawi, cara menilai hubungan antarguru dan murid, keberadaan jalur transmisi lain, serta penentuan apakah suatu riwayat memiliki syadz atau illah.[2] Karena itu, sebuah hadis dapat dinilai sahih oleh seorang kritikus tetapi dinilai hasan, daif, atau bermasalah oleh kritikus lain.
Dalam tradisi Sunni, Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim memperoleh kedudukan khusus dan bersama-sama disebut Sahihain ("dua kitab sahih"). Namun, status kanonik keduanya berkembang secara bertahap setelah masa penyusunnya dan tidak mengakhiri kritik terhadap riwayat individual di dalamnya.[3]
Etimologi
Kata Arab ṣaḥīḥ (صحيح) berasal dari akar ṣ-ḥ-ḥ dan secara umum berarti sehat, benar, kukuh, atau bebas dari cacat. Dalam terminologi ahli hadis, kata tersebut berkembang menjadi kategori untuk riwayat yang memenuhi syarat tertentu mengenai rantai transmisi dan keadaan riwayatnya.
Terjemahan Inggris yang umum adalah sound atau authentic. Dalam bahasa Indonesia, istilah hadis sahih lebih lazim dalam literatur keislaman daripada "hadis otentik". Namun, padanan "otentik" perlu digunakan secara hati-hati karena konsep sahih merupakan kategori internal dalam ilmu hadis klasik dan tidak sepenuhnya identik dengan konsep autentisitas dalam metode sejarah modern.[4]
Definisi klasik
Perumusan mengenai hadis sahih berkembang secara bertahap. Para penghimpun hadis besar abad ke-9, termasuk al-Bukhari dan Muslim, menggunakan praktik seleksi yang ketat tetapi tidak meninggalkan sebuah definisi lima syarat dalam bentuk yang kemudian menjadi standar buku-buku mustalah al-hadith.[2]
Pada abad ke-13, Ibnu ash-Shalah (w. 643 H/1245 M) memberikan formulasi sistematis dalam Muqaddimah fi 'Ulum al-Hadith. Ia mendefinisikan hadis sahih sebagai hadis dengan sanad yang bersambung, ditransmisikan oleh perawi adil dan cermat dari perawi yang memiliki sifat serupa hingga akhir sanad, serta tidak bersifat syadz dan tidak mengandung illah.[1] Karya Ibn al-Salah kemudian menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam pembakuan terminologi hadis.
Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H/1449 M) menyederhanakan dan mengembangkan terminologi tersebut dalam Nukhbat al-Fikar dan syarahnya, Nuzhat al-Nazar. Formulasinya mengenai sahih li-dzatihi, hasan, dan peningkatan kualitas melalui jalur penguat menjadi sangat berpengaruh dalam buku-buku ilmu hadis kemudian.[5]
Syarat hadis sahih
Lima syarat yang lazim dirumuskan dalam tradisi Sunni adalah sebagai berikut:
| Syarat | Istilah Arab | Penjelasan |
|---|---|---|
| Sanad bersambung | Ittisal al-sanad (اتصال السند) | Setiap perawi menerima riwayat dari perawi sebelumnya melalui cara transmisi yang dianggap memungkinkan dan sah. |
| Keadilan perawi | 'Adalah (العدالة) | Perawi dinilai memiliki integritas moral dan keagamaan yang memenuhi standar para kritikus hadis. |
| Ketelitian perawi | Dabt (الضبط) | Perawi mempunyai ketepatan yang memadai dalam hafalan atau pemeliharaan catatan sehingga dapat menyampaikan riwayat secara andal. |
| Tidak syadz | 'Adam al-syudzudz (عدم الشذوذ) | Riwayat tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat dengan cara yang dinilai merusak. |
| Tidak memiliki cacat tersembunyi | 'Adam al-'illah (عدم العلة) | Riwayat bebas dari cacat halus yang baru terlihat setelah membandingkan jalur, perawi, redaksi, atau kronologi transmisi. |
Kelima syarat tersebut saling berkaitan. Sanad yang para perawinya terpercaya belum otomatis menjadikan riwayat sahih apabila ditemukan keterputusan, kontradiksi dengan transmisi yang lebih kuat, atau illah tersembunyi.[1][6]
Sanad bersambung
Kesinambungan sanad mensyaratkan tidak adanya mata rantai transmisi yang hilang. Para kritikus karena itu meneliti apakah dua perawi hidup sezaman, apakah mereka mungkin atau terbukti pernah bertemu, dan bentuk transmisi apa yang digunakan.
Istilah seperti mursal, munqati dan mu'dal digunakan untuk berbagai jenis keterputusan. Namun, rincian apakah bentuk tertentu dapat diterima dapat berbeda menurut genre, mazhab hukum, dan periode.
'Adalah dan dabt
Penilaian terhadap perawi berkembang menjadi disiplin jarh wa ta'dil dan literatur biografi perawi. Integritas dan kapasitas transmisi diperlakukan sebagai dua persoalan berbeda. Seseorang dapat dipandang saleh tetapi lemah hafalannya, atau memiliki ingatan kuat tetapi dinilai bermasalah dari segi integritas.
Dabt dapat didasarkan pada hafalan ataupun catatan tertulis yang dipelihara secara baik. Para kritikus membandingkan transmisi seorang perawi dengan riwayat rekan-rekannya untuk mengukur konsistensi dan mengenali perubahan kemampuan pada periode tertentu dalam kehidupan perawi.[2]
Syadz dan 'illah
Dua syarat terakhir merupakan bagian paling kompleks dari kritik hadis. Sebuah sanad dapat tampak sempurna pada pandangan pertama tetapi ternyata mengandung cacat ketika dibandingkan dengan versi lain.
Syadz biasanya berkaitan dengan riwayat seorang perawi terpercaya yang bertentangan dengan transmisi yang dinilai lebih kuat. 'Illah adalah cacat tersembunyi yang dapat berkaitan dengan sanad maupun matan, seperti salah menghubungkan sebuah riwayat, mengganti perawi, menyambungkan sanad yang sebenarnya terputus, atau kesalahan dalam atribusi.[6]
Ilmu mengenai ilal al-hadith dipandang sebagai salah satu cabang kritik hadis yang paling membutuhkan keahlian karena bergantung pada perbandingan banyak versi dan pengetahuan mendalam mengenai jaringan transmisi.
Kritik sanad dan matan
Sebuah hadis tersusun dari sanad atau rantai transmisi dan matan atau isi riwayat. Kritik hadis klasik terkenal karena perhatian besar terhadap sanad, tetapi penelitian modern menunjukkan bahwa kritik isi juga digunakan oleh kritikus hadis awal.
Jonathan A. C. Brown berpendapat bahwa kritik matan memang dilakukan pada periode pembentukan ilmu hadis, walaupun sering tidak dinyatakan sebagai seperangkat "aturan matan" yang terpisah. Kecurigaan terhadap isi sebuah riwayat dapat mendorong kritikus meneliti kembali sanadnya, membandingkan versi-versi, dan menemukan kesalahan transmisi yang kemudian diekspresikan dalam bahasa kritik sanad dan illah.[6]
Pada saat yang sama, kritik matan mempunyai kesulitan tersendiri karena penilaian tentang apakah suatu isi bertentangan dengan Al-Qur'an, akal, fakta sejarah, atau prinsip agama dapat bergantung pada interpretasi. Brown kemudian menunjukkan bahwa tradisi Muslim tidak pernah mengembangkan satu daftar universal aturan kritik matan yang diterima semua aliran.[7]
Sahih li-dzatihi dan sahih li-ghairihi
Para ahli hadis kemudian membedakan dua bentuk utama:
Sahih li-dzatihi (صحيح لذاته, "sahih karena dirinya sendiri") adalah hadis yang memenuhi syarat kesahihan melalui sanad dan sifat riwayatnya sendiri.
Sahih li-ghairihi (صحيح لغيره, "sahih karena faktor lain") adalah riwayat yang pada jalur tunggalnya berada di tingkat hasan, tetapi memperoleh penguatan dari jalur transmisi lain sehingga tingkat penerimaannya meningkat.[5]
Konsep penguatan ini menunjukkan bahwa penilaian hadis tidak selalu didasarkan pada satu sanad secara terisolasi. Banyak jalur dapat dibandingkan untuk menentukan apakah kesalahan individual dapat dikesampingkan atau apakah beberapa jalur sebenarnya bergantung pada sumber yang sama.
Hubungan dengan hadis hasan dan daif
Dalam klasifikasi yang berkembang kemudian, tiga kategori terkenal adalah:
- sahih, dengan tingkat penerimaan tertinggi;
- hasan, diterima tetapi dengan tingkat ketelitian perawi yang berada di bawah sahih;
- daif, tidak memenuhi satu atau lebih syarat penerimaan.
Kategori tersebut tidak selalu digunakan dengan arti yang identik oleh semua ulama awal. At-Tirmidzi, misalnya, memainkan peran penting dalam memopulerkan penggunaan kategori hasan, tetapi penggunaan istilahnya memiliki nuansa yang tidak selalu sama dengan definisi buku-buku mustalah kemudian.[8]
Hadis daif juga memiliki banyak subkategori, dari kelemahan ringan hingga riwayat yang sangat bermasalah. Hadis maudhu atau hadis palsu biasanya diperlakukan sebagai kategori tersendiri karena dikaitkan dengan fabrikasi, bukan sekadar kelemahan teknis biasa.
Sahihain
Sahih al-Bukhari karya Muhammad al-Bukhari (w. 256 H/870 M) dan Sahih Muslim karya Muslim bin al-Hajjaj (w. 261 H/875 M) merupakan dua kumpulan hadis yang paling kuat status kanoniknya dalam Sunni.
Namun, Jonathan Brown menunjukkan bahwa kedudukan tersebut merupakan hasil proses kanonisasi pada abad-abad setelah penyusunannya. Penerimaan tumbuh melalui penggunaan oleh ahli hadis dan ahli fikih, tradisi pengajaran dan syarah, serta konsensus yang semakin luas mengenai keduanya sebagai representasi paling otoritatif dari hadis sahih.[3]
Kanonisasi tidak menghilangkan kritik. Ad-Daraqutni (w. 385 H/995 M), misalnya, mengkritik sejumlah riwayat dalam Sahihain berdasarkan masalah sanad dan transmisi. Brown menilai kritik ad-Daraqutni sebagai bukti bahwa status istimewa kedua kitab dapat berjalan berdampingan dengan kritik teknis terhadap hadis individual.[9]
Kumpulan hadis sahih lainnya
Selain Sahihain, sejumlah ulama menyusun koleksi yang dimaksudkan untuk memuat hadis sahih, antara lain:
- Sahih Ibn Khuzaimah karya Ibnu Khuzaimah;
- Sahih Ibn Hibban karya Ibnu Hibban;
- Al-Mustadrak ala al-Sahihain karya Al-Hakim an-Naisaburi.
Ketiga karya tersebut tidak memperoleh tingkat kanonisasi yang sama dengan Sahihain. Dalam al-Mustadrak, misalnya, al-Hakim berusaha menghimpun hadis yang menurut penilaiannya memenuhi syarat al-Bukhari atau Muslim tetapi tidak dimasukkan oleh keduanya. Penilaian tersebut kemudian dikaji dan dikritik oleh ulama lain.[10]
Hadis sahih juga dapat ditemukan di dalam kitab yang tidak mensyaratkan seluruh isinya sahih, termasuk kitab-kitab sunan, musnad, dan mu'jam. Karena itu, istilah "hadis sahih" tidak terbatas pada riwayat dalam judul kitab yang memakai kata Sahih.
Sahih dan tingkat kepastian
Penilaian sahih tidak sama dengan pembagian hadis menjadi mutawatir dan ahad. Kedua klasifikasi tersebut menilai aspek yang berbeda.
Sahih menilai kualitas transmisi menurut kriteria kritik hadis, sedangkan mutawatir dan ahad berkaitan dengan jumlah dan pola jalur transmisi serta konsekuensi epistemologisnya. Sebuah hadis ahad dapat berstatus sahih.
Dalam teori hukum Islam klasik, banyak ahli usul menganggap hadis ahad sahih menghasilkan pengetahuan yang kuat tetapi pada dasarnya bersifat zanni atau probabilistik, bukan kepastian absolut seperti yang dikaitkan dengan tawatur. Wael Hallaq menekankan hal ini dalam kritiknya terhadap anggapan bahwa ahli hukum Muslim klasik selalu memperlakukan setiap hadis yang diterima sebagai fakta historis yang memberikan kepastian apodiktik.[4]
Perincian mengenai kapan hadis ahad dapat memberikan pengetahuan yang lebih kuat berbeda di antara ahli hadis, teolog, dan ahli usul fikih.
Perbedaan penilaian
Penilaian kesahihan dapat berbeda di antara para kritikus. Penyebabnya antara lain:
- seorang ulama memiliki informasi biografis tentang perawi yang tidak tersedia bagi ulama lain;
- perbedaan standar dalam menerima transmisi seorang mudallis atau perawi dengan kelemahan tertentu;
- perbedaan dalam membuktikan pertemuan guru dan murid;
- adanya jalur penguat yang diketahui oleh satu peneliti tetapi tidak oleh yang lain;
- perbedaan dalam menentukan apakah suatu variasi termasuk syadz atau illah.
Karena itu, ungkapan seperti "sahih menurut al-Bukhari", "disahihkan oleh Ibn Hibban", atau "dinilai sahih oleh al-Albani" menunjukkan bahwa suatu klasifikasi terkait dengan keputusan seorang kritikus atau tradisi tertentu, walaupun sejumlah penilaian memperoleh penerimaan sangat luas.
Pada era modern, penerbitan cetak, indeks hadis, basis data digital, dan karya takhrij memungkinkan penilaian hadis lama beredar jauh lebih luas. Tokoh seperti Muhammad Nashiruddin al-Albani juga melakukan penilaian ulang atas ribuan riwayat, dan proyek tersebut ikut memicu perdebatan mengenai otoritas keilmuan hadis dalam Sunni kontemporer.[11]
Dalam Syiah
Istilah sahih juga digunakan dalam ilmu hadis Syiah Dua Belas Imam, tetapi klasifikasi dan kriteria rijalnya berkembang dalam korpus dan jaringan transmisi yang berbeda dari Sunni. Karena itu, status sebuah riwayat sebagai sahih dalam salah satu tradisi tidak otomatis menentukan statusnya dalam tradisi lain.
Kanon hadis Imamiyah terutama berpusat pada Kutubul Arba'ah, sedangkan Sunni mengembangkan kanon yang antara lain mencakup Kutub al-Sittah. Perbedaan tersebut berkaitan dengan sumber otoritas keagamaan dan jaringan perawi yang diterima masing-masing tradisi.
Kajian akademik modern
Studi akademik modern membedakan antara penilaian sahih dalam ilmu hadis klasik dan pertanyaan historis mengenai kapan suatu laporan mulai beredar serta sejauh mana laporan itu dapat dilacak ke Muhammad atau generasi awal Islam.
Sejak abad ke-19 dan ke-20, sarjana seperti Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht mengajukan kritik skeptis terhadap autentisitas sebagian besar korpus hadis. Penelitian kemudian menghasilkan spektrum pendekatan yang lebih luas. Wael Hallaq pada 1999 menggambarkan adanya kelompok yang melanjutkan skeptisisme tersebut, kelompok yang menolaknya, dan kelompok yang mencari posisi sintesis.[4]
Metode modern juga mencakup analisis isnad-cum-matn, yaitu membandingkan variasi teks dengan pola rantai transmisi untuk memperkirakan sejarah penyebaran sebuah riwayat. Metode ini digunakan antara lain dalam penelitian Harald Motzki dan sarjana generasi berikutnya.[12]
Dengan demikian, dalam tulisan akademik istilah sahih sebaiknya dipahami sebagai hasil klasifikasi menurut metodologi kritik hadis Islam, sedangkan kesimpulan mengenai autentisitas historis dapat memerlukan analisis tambahan dan dapat menghasilkan penilaian berbeda.[2][4]
Lihat pula
- Hadis
- Terminologi hadis
- Ilmu hadis
- Sanad
- Matan
- Jarh wa ta'dil
- Hadis hasan
- Hadis daif
- Hadis maudhu
- Hadis mutawatir
- Hadis ahad
- Sahihain
- Sahih al-Bukhari
- Sahih Muslim
- Kutub al-Sittah
- Kutubul Arba'ah
Referensi
- ^ a b c Ibn al-Salah al-Shahrazuri (2006). An Introduction to the Science of the Hadith: Kitab Ma'rifat Anwa' 'Ilm al-Hadith. Diterjemahkan oleh Dickinson, Eerik. Reading: Garnet Publishing. ISBN 978-1-85964-158-3.
- ^ a b c d e Brown, Jonathan A. C. (2017). Hadith: Muhammad's Legacy in the Medieval and Modern World (Edisi 2). London: Oneworld Publications. ISBN 978-1-78607-307-4.
{{cite book}}: Periksa|isbn=value: checksum - ^ a b Brown, Jonathan A. C. (2007). The Canonization of al-Bukhari and Muslim: The Formation and Function of the Sunni Hadith Canon. Islamic History and Civilization. Vol. 69. Leiden: Brill. ISBN 978-90-04-15839-9.
- ^ a b c d Hallaq, Wael B. (1999). "The Authenticity of Prophetic Hadith: A Pseudo-Problem". Studia Islamica (89): 75–90. doi:10.2307/1596086.
- ^ a b Ibn Hajar al-Asqalani (2000). Itr, Nur al-Din (ed.). Nuzhat al-Nazar fi Tawdih Nukhbat al-Fikar (dalam bahasa Arab). Damaskus: Matba'at al-Sabah.
- ^ a b c Brown, Jonathan A. C. (2008). "How We Know Early Hadith Critics Did Matn Criticism and Why It's So Hard to Find". Islamic Law and Society. 15 (2): 143–184. doi:10.1163/156851908X290574.
- ^ Brown, Jonathan A. C. (2012). "The Rules of Matn Criticism: There Are No Rules". Islamic Law and Society. 19 (4): 356–396. doi:10.1163/156851912X639923.
- ^ Abdul-Jabbar, Ghassan (2020). "The Classical Tradition". Dalam Brown, Daniel W. (ed.). The Wiley Blackwell Concise Companion to the Hadith. Wiley-Blackwell. hlm. 13–39. doi:10.1002/9781118638477.ch1. ISBN 978-1-118-63851-4.
- ^ Brown, Jonathan A. C. (2004). "Criticism of the Proto-Hadith Canon: al-Daraqutni's Adjustment of the Sahihayn". Journal of Islamic Studies. 15 (1): 1–37. doi:10.1093/jis/15.1.1.
- ^ Robson, James (1983). "Hadith Literature: The Development of the Science of Hadith". Dalam Beeston, A. F. L.; Johnstone, T. M.; Serjeant, R. B.; Smith, G. R. (ed.). Arabic Literature to the End of the Umayyad Period. Cambridge University Press. hlm. 271–288. doi:10.1017/CHOL9780521240154.012.
- ^ Hammond, Andrew (2022). "Salafi Publishing and Contestation over Orthodoxy and Leadership in Sunni Islam". Dalam Mandaville, Peter (ed.). Wahhabism and the World: Understanding Saudi Arabia's Global Influence on Islam. Oxford University Press. hlm. 76–92. doi:10.1093/oso/9780197532560.003.0004.
- ^ Görke, Andreas; Motzki, Harald; Schoeler, Gregor (2012). "First Century Sources for the Life of Muhammad? A Debate". Der Islam. 89 (1–2): 2–59. doi:10.1515/islam-2012-0002.
Bacaan lebih lanjut
- Brown, Jonathan A. C. (2017). Hadith: Muhammad's Legacy in the Medieval and Modern World (Edisi 2). Oneworld Publications. ISBN 978-1-78607-307-4.
{{cite book}}: Periksa|isbn=value: checksum - Brown, Jonathan A. C. (2007). The Canonization of al-Bukhari and Muslim: The Formation and Function of the Sunni Hadith Canon. Brill. ISBN 978-90-04-15839-9.
- Brown, Daniel W., ed. (2020). The Wiley Blackwell Concise Companion to the Hadith. Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-118-63851-4.
- Ibn al-Salah al-Shahrazuri (2006). An Introduction to the Science of the Hadith. Diterjemahkan oleh Dickinson, Eerik. Garnet Publishing. ISBN 978-1-85964-158-3.
- Hallaq, Wael B. (1999). "The Authenticity of Prophetic Hadith: A Pseudo-Problem". Studia Islamica (89): 75–90. doi:10.2307/1596086.
Pranala luar
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.