Hammad bin Salamah

Hammad bin Salamah (Arabic : حماد بن سلمة) merupakan seorang Tabi'in, tokoh ahli agama Islam, ahli hadis yang hidup di masa setelah Nabi Islam Muhammad wafat.[1] Nama lengkapnya Abu Salamah Hamad bin Salamah bin Dinar al-Basri hidup pada tahun 91 - 167 H/709 - 784 M. Ia fasih berbicara namun jarang tertawa, rumahnya sederhana dengan selembar tikar dan beberapa kitab yang ia tulis.[2] Ia pernah menolak pemberian dari utusan khalifah Muhammad bin Sulaiman sebesar 40.000 dirham.[2]
Kehidupan
Hammad adalah seorang penjual benih. Dia budak dari keluarga Rabi'ah bin Malik dan merupakan anak dari saudara perempuan Humaid Ath-Thawil.
Pandangan Ulama
Ibnu Al-Mubarak berkata, "Ketika masuk Bashrah aku tidak melihat orang yang tingkah lakunya menyerupai dengan orang-orang generasi pertama (para sahabat) kecuali Hammad bin Salamah."[1]
Abdurrahman bin Mahdi berkata, "Hammad bin Salamah mempunyai pendengaran yang baik, ramah saat bertemu, dan orang yang paling mengetahui tentang sejarah nenek moyang manusia. Ia belum pernah mendapat tuduhan bahwa periwayatannya cacat atau menyembunyikan hadits. Ia seorang yang bisa menjaga diri dan mulubrya tidak digunakan untuk menyakiti orang lain. Tidak seorang pun yang menyebutkan bahwa dia mempunyai akhlak buruk, dan keadaan ini sampai dia meninggal."
Ahmad bin Hambal berkata, "Jika Anda menemukan ada orang yang memfitnah dan mencela Hammad, sesungguhnya karena dia adalah orang yang paling keras dalam memerangi ahlul bid'ah."
Namun, Hammad telah dicela karena umumya sudah tua, sehingga hafalannya buruk, dan karena inilah Al-Bukhari tidak menjadikan riwayat dari Hammad sebagai Hujjah.
Ahmad bin Abdillah Al-'Ajali berkata, "Hammad bin Salamah tidak menerangkan kecuali dia telah membaca seratus ayat dari Al-Qur'an dengan melihat mushaf."
Orang-orang yang meriwayatkan dari Hammad bin salamah di antaranya adalah Ibnu Juraij, Ats-Tsauri, Syu',bah, mereka bertiga ini lebih tua dari Hammad bin Salamah. Di antaranya lagi adalah Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Mahdi, Al-Qaththan, Abu Dawud, Abu walid Ath-Thayalisyani, Abu Salamah At-Tabudzaki, Adam bin Abi lyyas,Al-Usyaib, Aswad bin Amir Syadzarr, Basyr bin As-sirri, Bahz bin Asad, Sulaiman bin Harb, Abu Nashr At-Tamar, Hudbah bin Khalid, Syaiban bin Furukh, Ubaidilah Al-'Isyi dan yang lain."[1]
Musa bin Ismail At-Tabudzaki berkata, "Seandainya aku berkata kepada kalian bahwa aku tidak pernah melihat Hammad bin Salamah tertawa, sungguh aku berkata jujur. Mengapa? Karena dia adalah orang yang selalu sibuk dengan menyampaikan hadis, membaca Al-Quran, bertasbih, dan shalat. Itulah pembagian waktu siang harinya."[2]
Pernah suatu ketika Hammad bin Salamah menjenguk Sufyan Ats-Tsauri. Tokoh besar dalam bidang tasawuf ini bertanya kepada Hammad, "Wahai Abu Salamah, apakah menurutmu Allah akan mengampuni hamba sepertiku?" Hammad menjawab, "Demi Allah, seandainya aku diberi pilihan antara Allah yang menghisabku atau kedua orangtuaku yang menghisabku, tentu aku akan memilih Allah yang menghisabku. Karena, Allah lebih menyayangiku daripada kedua orangtuaku."
Muhammad bin Al-Hajjaj pernah berkata, "Pernah ada seseorang yang belajar dan mendengar hadis bersama kami pada Hammad bin Salamah. Suatu ketika orang itu pergi ke negeri China. Ketika kembali, dia memberi hadiah untuk Hammad bin Salamah. Hammad berkata kepadanya, 'Jika aku terima maka aku tidak menyampaikan hadis kepadamu, jika aku tidak menerimanya maka aku menyampaikan hadis untukmu.' Lalu, orang itu berkata, 'Jangan engkau terima."
Murid-muridnya
Orang-orang yang meriwayatkan dari Hammad bin Ssalamah di antaranya adalah Ibnu |Juraij, Ats-Tsauri, Syu'bah, mereka bertiga ini lebih tua dari Hammad bin Salamah. Di antaranya lagi adalah Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Mahdi, Al-Qaththan, Abu Dawud, Abu Walid Ath-Thayalisyani, Abu Salamah At-Tabudzaki, Adam bin Abi lyyas,Al-Usyaib, Aswad bin Amir Syadzarr, Basyr bin As-sirri, Bahz bin Asad, Sulaiman bin Harb, Abu Nashr At-Tamar, Hudbah bin Khalid, Syaiban bin Furukh, Ubaidilah Al-'Isyi dan yang lain.[1]
Kematian
Hammad wafat pada 3 Dzulhijah tahun 167 H pada usia 76 tahun dalam keadaan solat di masjid.[1]
Referensi
- ^ a b c d e Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692.
- ^ a b c Al-Zugbi, Mahmud bin Abul Malik (2015-11-19). Wafat Saat Shalat (dalam bahasa Inggris). Noura Books. hlm. 18. ISBN 978-602-0989-83-9.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.