Hana Madness
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (November 2025) |
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Artikel ini tidak memiliki bagian pembuka yang sesuai dengan standar Wikipedia. |
Kehidupan awal
Hana Madness dibesarkan dalam keluarga Jawa yang konservatif. Ia menempuh pendidikan di jurusan periklanan di sebuah universitas swasta di Jakarta, tetapi harus menghentikan studinya pada semester kelima karena kondisi kesehatan mentalnya memburuk.[1]
Gejala gangguan suasana hati telah dialaminya sejak masa sekolah menengah. Ia sempat menerima beberapa diagnosis yang keliru, termasuk skizofrenia dan gangguan skizoafektif, sebelum akhirnya didiagnosis dengan bipolar disorder. Kesalahan diagnosis tersebut menyebabkan penanganan medis yang tidak tepat dan memperburuk kondisi psikologisnya pada masa awal.[2]
Seni sebagai terapi dan ekspresi Menggambar menjadi pelarian dan sarana terapi bagi Hana selama mengalami episode bipolar. Ia selalu membawa buku sketsa dan menyebut seni sebagai "senjata untuk menjaga kewarasan".[3] Karyanya berciri doodle art berwarna cerah, karakter makhluk fantasi dengan ekspresi ekstrem dan bentuk tak lazim. Karakter ini merupakan personifikasi emosi, dan istilah medis. Hana juga menciptakan karakter-karakter makhluk kecil yang menjadi representasi dari halusinasinya, dengan nama-nama yang berasal dari julukan penyakitnya seperti bipolar, skizo, medico, atau nama-nama obat yang biasa diminumnya.[4] Proses kreatif Hana sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatannya. Saat berada dalam fase manik, ia menyatakan mengalami lonjakan energi, gagasan yang terus-menerus mengalir, dan keinginan kuat untuk berkarya membuatnya dapat menghasilkan sejumlah karya dalam waktu singkat. Namun, ketika memasuki fase depresi, produktivitasnya bisa terhenti secara total dan bahkan ia merasa tidak mampu sekadar menyentuh alat lukis.[4] Meskipun mengalami fluktuasi suasana hati akibat gangguan bipolar, Hana terus berkarya dan memublikasikan doodle-nya melalui platform publik sejak masa remajanya; kegiatan tersebut, yang awalnya berfungsi sebagai mekanisme koping personal, kemudian memperkenalkan karyanya kepada publik dan membuka jalan bagi karier profesional dalam bidang seni rupa.[2][3][4]
Karier
Awal karier
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas, karya doodle milik Hana mulai dikenal publik ketika diproduksi secara massal pada korek api buatan lokal. Sejak saat itu, ia mulai menerima tawaran kolaborasi dari berbagai merek, termasuk Converse dan Good Day.[1]
Pameran dan festival internasional
Pada tahun 2016, Hana mewakili Indonesia di ajang Festival Unlimited, London, Inggris atas undangan dari British Council. Festival ini merupakan festival tahunan di Inggris bagi para penyandang disabilitas. Selain membawa karyanya, ia juga berbicara mengenai seni dan gangguan kesehatan jiwa.[2] Sedangkan Pada 2018, Hana ikut berpameran di Jerman dan terlibat dalam film dokumenter In Chains di Festival Film Utopia Bremen.[3]
Ia juga menjadi salah satu penggagas Festival Bebas Batas (12–29 Oktober 2018) di Galeri Nasional Indonesia, festival seni disabilitas pertama di Indonesia.[5]
Selain itu pada Agustus 2022, Hana kembali diundang ke Inggris untuk berpartisipasi dalam Unlimited Festival yang diselenggarakan pada 7–11 September 2022. Kehadiran ini menjadi kali kedua ia mewakili Indonesia dalam festival tersebut, tetapi berbeda dari partisipasinya pada 2016 yang difasilitasi oleh British Council. Pada tahun 2022, Hana menerima undangan langsung dari pihak penyelenggara festival.[6]
Dalam partisipasinya kali ini, Hana tidak tampil sendiri; ia hadir bersama seniman disabilitas lainnya yang berasal dari Yogyakarta dan Bali, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan karya seniman penyandang disabilitas Indonesia di kancah internasional.[6]
Kolaborasi internasional
Hana dan kolaboratornya, Maxwell Golden, menyatakan bahwa kegelisahan dan pengalaman hidup dengan gangguan mental menjadi dorongan utama bagi mereka untuk mengubah narasi negatif yang dilekatkan masyarakat terhadap penyandang disabilitas psikososial. Kolaborasi ini merupakan eksplorasi pengalaman dari kedua seniman yang menggabungkan narasi dengan disabilitas mental, diwujudkan melalui penggabungan antara ilustrasi, animasi, dan desain suara.[7]
Menurut mereka, stigma sosial dan keterbatasan akses yang setara sering kali terasa lebih menyakitkan dibandingkan gangguan mental itu sendiri. Karya kolaboratif mereka, Celebrating Our Identity, pertama kali dipresentasikan secara global dalam DaDaFest International Festival 2020, sebuah festival seni dan disabilitas yang diselenggarakan pada 3–13 Desember 2020.[7]
Aktivisme
Hana mulai terbuka mengenai kondisinya pada tahun 2012, saat usianya masih 19 tahun, melalui talkshow Mereka Bilang Saya Gila. Sejak saat itu, ia aktif mengkampanyekan penghapusan stigma terhadap disabilitas mental dan menentang praktik pemasungan di Indonesia.[1]
Penghargaan
Nominasi 7 Millennial Heroes kategori Seni & Budaya oleh SINDOnews (2019)
Identitas dan Pengaruh
Hana memosisikan disabilitas mental sebagai bagian dari identitasnya yang tidak perlu disembunyikan, melainkan dihargai dan dirayakan sebagai bagian dari keberadaan dirinya sebagai manusia dan seniman. Ia menyatakan bahwa gangguan mental merupakan bagian dari dirinya secara medis, tetapi tidak sepenuhnya mendefinisikan siapa dirinya. Menurutnya, setiap individu memiliki hak untuk merayakan kemampuan, eksistensi, bersuara, berkarya, serta dilihat dan didengar oleh masyarakat.[4]
Pemilihan nama panggung “Hana Madness” juga merefleksikan pandangannya terhadap identitas. Kata “madness” yang kerap memiliki konotasi negatif dalam masyarakat justru ia gunakan sebagai bentuk penerimaan diri dan upaya mengubah persepsi publik terhadap gangguan mental. Sikap ini turut mendorong posisinya sebagai salah satu figur penting dalam gerakan seni sekaligus aktivisme kesehatan mental di Indonesia.[4]
Selama lebih dari satu dekade berkarya di dunia seni, Hana menilai bahwa ia berada pada jalur yang tepat. Perjalanan kariernya yang semula berada di luar arus utama (mainstream) perlahan diakui, hingga ia dapat berdiri sejajar dengan seniman non-disabilitas. Namanya kemudian semakin dikenal dan diundang untuk berkolaborasi dengan berbagai jenama (brand) lokal maupun internasional.[4]
Meskipun demikian, Hana menilai perjuangan untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental masih panjang dan merupakan komitmen seumur hidup.[6] Melalui karya-karyanya, ia menunjukkan bahwa seni tidak hanya berkaitan dengan estetika, tetapi juga keberanian, keterbukaan, dan perjuangan individu dengan disabilitas psikososial.[4] Pesan dalam proyek Celebrating Our Identity merangkum pandangannya: “We exist. We are valid. And we can't be invisible anymore!” (Kami ada. Kami sah. Dan kami tidak bisa lagi dibuat tak terlihat!).[7]
Referensi
- ^ a b c "Meet the Leader Hana Madness (Seniman Bipolar): Dukung Penyandang Disabilitas Mental Lewat Lukisan Warna-warni". Indonesia Development Forum. July 2019. Diakses tanggal 5 November 2025.
- ^ a b c "ARTIST OF THE MONTH: HANA MADNESS". WEWO Kinarya Bangsa. 1 August 2020. Diakses tanggal 5 November 2025.
- ^ a b c "Hana Madness, Lawan Bipolar lewat Karya Doodle Art". SINDOnews. 6 September 2019. Diakses tanggal 5 November 2025.
- ^ a b c d e f g "Profil dan Karya Hana Madness, Lawan Bipolar Lewat Doodle Art". HEAL (Sahabat Jiwa). 10 Oktober 2025. Diakses tanggal 5 November 2025.
- ^ "Melawan Keterbatasan dengan Seni di Festival Bebas Batas". 13 Oktober 2018. Diakses tanggal 5 November 2025.
- ^ a b c Astuti, Tia Agnes (23 Agustus 2022). "Hana Madness Diundang ke Inggris, Bicara soal Kesehatan Mental". detikHot. Detikcom. Diakses tanggal 5 November 2025.
- ^ a b c "Celebrating Our Identity: Proyek Animasi Hasil Kolaborasi dari Seniman Asal Indonesia dan Inggris yang Mengangkat Isu Kesehatan Mental". Whiteboard Journal. 06 December 2020. Diakses tanggal 5 November 2025.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.