Haydari dan Ne'mati
Ḥaydari dan Ne'mati adalah dua faksi saingan yang secara historis membagi sejumlah kota dan permukiman di Iran.[1] Sejak masa Safawi hingga pertengahan abad ke-20,[2] kota-kota dan permukiman tersebut terbagi menjadi dua kelompok mahalla (lingkungan) yang saling berdekatan, yang disebut Ḥaydari-kāneh dan Ne'mati-kāneh, dan para penduduknya menunjukkan "rasa hina dan permusuhan timbal balik" serta kadang-kadang terlibat dalam "perkelahian publik besar-besaran". Lokasi sebenarnya dari lingkungan-lingkungan tersebut tidaklah penting. Meskipun asal-usulnya berakar pada permusuhan Sunni-Syiah pada periode pra-Safawi, faksi Haydari dan Ne'mati tidak berkaitan dengan kelompok sosial-ekonomi maupun keagamaan tertentu; persaingan mereka berdiri sendiri sebagai fenomena tersendiri.[1] Hingga pertengahan abad ke-20, pembagian Haydari-Ne'mati merupakan "salah satu ciri sosial-politik terpenting kota-kota Iran".[2]
Asal-usul
Persaingan Haydari-Ne'mati tampaknya bermula di Tabriz pada awal abad ke-15, antara para pengikut dua guru sufi yang berbeda: Shah Ne'matollah Vali yang beraliran Sunni dari Kerman dan Mir Haydar Tuni yang beraliran Syiah dari Tabriz yang kurang terkenal. Permusuhan awal antara keduanya disebabkan oleh konflik Sunni-Syiah. Persaingan ini memperoleh dimensi politik pada akhir abad ke-15 ketika Aq Qoyunlu yang beraliran Sunni berkuasa atas Tabriz dan secara terbuka mendukung kaum Ne'mati. Meskipun tarekat Haydari tampaknya telah menghilang bahkan sebelum Safawi berkuasa, dan kaum Ne'mat-Allahi kemudian menjadi Syiah di bawah pemerintahan Safawi (sebagaimana wilayah Iran lainnya), kedua faksi perkotaan yang terkait dengan mereka tetap bertahan. Pada akhir abad ke-16, faksi Haydari dan Ne'mati telah kehilangan dimensi keagamaan yang masih tersisa.[1][2]
Persaingan
Bentrokan antara kaum Haydari dan Ne'mati umum terjadi selama hari-hari besar keagamaan yang melibatkan arak-arakan publik besar. Contohnya termasuk prosesi berkabung atau pertunjukan ta'ziyeh selama Asyura, maupun shotor-qorbani (pengorbanan unta secara ritual) pada Iduladha. Pada masa Qajar, sebuah upacara shotor-qorbani tahunan yang khas di Isfahan dapat mengakibatkan 30 hingga 40 orang terluka dan 3 atau 4 orang meninggal. Kelompok Haydari dan Ne'mati masing-masing mengadakan prosesi Muharam sendiri yang tetap berada di kawasan mereka masing-masing. Bentrokan sering pecah ketika sebuah prosesi memasuki wilayah pihak lain.
Pada saat yang sama, deskripsi bentrokan pada masa modern "mengungkap tingkat kekerasan pribadi yang umumnya rendah, dengan cedera fisik nyata digantikan oleh penghinaan ritual, perpeloncoan, atau 'penghitungan kemenangan' simbolis". John Malcolm mencatat bahwa selama bentrokan Haydari-Ne'mati pada Muharam, "Jika mereka memaksa lawan mereka keluar dari rumah-rumah mereka, mereka tidak masuk atau menjarahnya, tetapi membuat tanda di pintu dengan kapak kecil sebagai lambang kemenangan". Selain itu, kedua kelompok tidak pernah menuntut balas setelah perkelahian tersebut — peristiwa itu dipandang sebagai kejadian yang terpisah — sehingga persaingan Haydari-Ne'mati secara teknis bukanlah vendetta.
Kehidupan sosial di dalam kota juga diatur berdasarkan pembagian Haydari-Ne'mati. Pernikahan tidak diatur antara keluarga Haydari dan Ne'mati, dan beberapa kaum Haydari menganggap kaum Ne'mati najis sehingga menghindari penggunaan pemandian umum di lingkungan Ne'mati. Para pengunjung hosayniya di lingkungan pihak lain diwajibkan mencium kelak (sebuah panggung di tengah halaman) sebagai tanda penghormatan. Kedua kelompok juga memiliki stereotip terhadap satu sama lain; misalnya, menurut kaum Ne'mati, "seseorang dapat mengenali anak laki-laki Haydari dari kenyataan bahwa jika ia diangkat saat sedang buang air kecil lalu dipindahkan beberapa langkah, ia akan tanpa sadar kembali ke tempat semula dan melanjutkannya".
Meskipun persaingan Haydari-Ne'mati pada dasarnya merupakan "fenomena rakyat jelata", hal itu juga berlaku bagi anggota kelas atas. Sebagai contoh, ketika pangeran Qajar Mirza Mas'ud Zell ol-Soltan diangkat sebagai gubernur Isfahan pada tahun 1882, ia akhirnya tinggal di lingkungan Haydari. Setelah diberi tahu tentang hal itu, ia berseru, "Karena aku akan menjadi seorang Haydari, mari kita buat kaum Ne'mati sengsara!"
Pembagian Haydari-Ne'mati tidak terbatas pada kota-kota; hal itu juga berlaku bagi desa-desa di sekitarnya, dengan setiap desa menjadi desa Haydari atau desa Ne'mati.[1][2]
Referensi
- ^ a b c d Perry, John R. "ḤAYDARI and NEʿMATI". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 June 2022.
- ^ a b c d Masoudi, Reza (2018). The Rite of Urban Passage: The Spatial Ritualization of Iranian Urban Transformation. Berghahn Books. hlm. 59–67, 71–2, 78, 102, 107–8, 116, 124, 135, 139–40, 162. ISBN 978-1-78533-977-6. Diakses tanggal 10 June 2022.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.