Ibrahim dalam Islam

Ibrahim dalam Islam (bahasa Arab: إِبْرَاهِيم, translit. Ibrāhīm), yang bersesuaian dengan Abraham dalam tradisi Yahudi dan Kristen, adalah seorang nabi dan rasul yang menempati kedudukan sangat penting dalam Islam. Al-Qur'an menggambarkannya sebagai seorang ḥanīf yang berpaling dari kemusyrikan, seorang yang berserah diri kepada Allah, seorang nabi yang benar (ṣiddīq nabī), teladan bagi orang beriman, dan orang yang dijadikan Allah sebagai khalīl atau sahabat dekat.[1][2]

Nama Ibrahim muncul 69 kali dalam Al-Qur'an menurut Quranic Arabic Corpus, tersebar dalam 25 surah; Gordon Nickel mencatat bahwa bahan Al-Qur'an mengenai Ibrahim meliputi lebih dari 240 ayat apabila seluruh bagian naratif dan rujukan tidak langsung dihitung.[2][1] Surah ke-14 bahkan bernama Ibrahim. Di antara tokoh-tokoh Alkitab yang juga muncul dalam Al-Qur'an, hanya Musa yang memperoleh pembahasan lebih luas.[1]

Ibrahim merupakan tokoh pusat dalam konsep millat Ibrāhīm (“agama/jalan Ibrahim”). Al-Qur'an menyatakan bahwa Ibrahim bukan Yahudi maupun Kristen, tetapi seorang ḥanīf yang berserah diri kepada Allah, dan memerintahkan Muhammad untuk mengikuti millat Ibrahim.[3][4] Karena itu, dalam teologi Islam Ibrahim bukan sekadar leluhur biologis sejumlah nabi, melainkan figur paradigmatik bagi tauhid, ketaatan, dan penyerahan diri kepada Allah.[5]

Ibrahim juga sangat terkait dengan ritual Islam. Al-Qur'an menghubungkannya dengan Ka'bah, Maqam Ibrahim, dan haji, serta menggambarkan Ibrahim dan Ismail meninggikan fondasi “Rumah” dan berdoa agar keturunan mereka menjadi umat yang berserah diri kepada Allah.[6] Tradisi Islam kemudian menghubungkan perjalanan Hajar mencari air, munculnya Zamzam, kurban Ibrahim, dan berbagai ritus haji dengan keluarga Ibrahim.[7]

Kajian akademik modern membedakan antara figur Ibrahim sebagaimana disajikan Al-Qur'an dan detail biografi yang berkembang dalam hadis, tafsir, sejarah universal, serta genre qiṣaṣ al-anbiyāʾ (“kisah para nabi”). Banyak episode pasca-Qur'ani menggabungkan penafsiran ayat dengan materi yang mempunyai paralel dalam tradisi Yahudi, Kristen, rabinik, intertestamental, dan cerita Timur Dekat lainnya.[8][9] Artikel ini menggambarkan kedudukan Ibrahim dalam tradisi Islam dan tidak dimaksudkan sebagai pembuktian historis atas seluruh peristiwa yang dikisahkan dalam sumber keagamaan.

Nama dan kedudukan

Nama Arab Ibrāhīm merupakan bentuk yang digunakan Al-Qur'an bagi Abraham. Dalam manuskrip Al-Qur'an awal terdapat variasi ortografis tertentu sebelum ejaan standar mapan, tetapi bentuk bacaannya tetap Ibrāhīm dalam tradisi qiraat dominan.[1]

Sejumlah gelar dan deskripsi Al-Qur'an membentuk gambaran Islam tentang Ibrahim:

Gelar atau deskripsi Rujukan utama Makna dalam tradisi Islam
Nabi yang benar (ṣiddīqan nabiyyā) Q.S. Maryam 19:41 Menegaskan kenabian dan kebenarannya.
Ḥanīf antara lain Q.S. 3:67; 6:161; 16:120, 123 Orang yang berpaling dari kemusyrikan menuju tauhid; digunakan sebagai model iman Ibrahim.
Muslim / orang yang berserah diri Q.S. 3:67; 2:128 Dalam konteks Al-Qur'an berarti tunduk atau menyerahkan diri kepada Allah.[10]
Khalīl Allah Q.S. an-Nisa 4:125 Allah “mengambil Ibrahim sebagai khalīl”; gelar kemudian lazim menjadi Khalīl Allāh (“sahabat dekat Allah”).
Imam bagi manusia Q.S. al-Baqarah 2:124 Ibrahim dijadikan teladan/pemimpin setelah diuji; ayat juga menyinggung perjanjian dan keturunannya.
Umat yang patuh (ummatan qānitan) Q.S. an-Nahl 16:120 Ibrahim sendiri digambarkan sebagai “umat” atau teladan yang menghimpun kebajikan.

Dalam tradisi populer Muslim, Ibrahim sering disebut Khalilullah (Khalīl Allāh, “sahabat dekat Allah”) berdasarkan Q.S. 4:125. Gelar ini kemudian menjadi salah satu sebutan terpenting baginya dalam tafsir, sastra devosional, dan penamaan tempat seperti Masjid Ibrahimi di Hebron.

Ibrahim dalam Al-Qur'an

Model tauhid dan millat Ibrahim

Al-Qur'an menggunakan Ibrahim untuk menggambarkan bentuk monoteisme yang dianggap mendahului perpecahan komunitas Yahudi dan Kristen. Dalam Q.S. Ali Imran 3:65–68, Al-Qur'an mempertanyakan perselisihan Yahudi dan Kristen tentang Ibrahim dan menyatakan bahwa ia “bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani”, melainkan ḥanīf dan Muslim.[3]

Konsep millat Ibrahim muncul berulang kali, antara lain dalam Q.S. 2:130, 2:135, 3:95, 4:125, 6:161, 12:38, dan 16:123. Dalam konteks Al-Qur'an, istilah tersebut memosisikan Ibrahim sebagai contoh pemurnian ibadah hanya kepada Allah. Muhammad diperintahkan mengikuti jalan Ibrahim, sementara komunitas beriman digambarkan berada dalam kesinambungan dengan warisan ini.[1][10]

Kajian tafsir kronologis di Indonesia juga mencatat bahwa tema millat Ibrahim muncul baik dalam surah-surah Makkah maupun Madinah. Pada fase Makkah, Ibrahim terutama hadir dalam argumen tentang Tuhan dan penolakan berhala, sedangkan ayat-ayat Madinah lebih banyak menghubungkan Ibrahim dengan identitas komunitas, Ahli Kitab, Ka'bah, dan arah ibadah.[11]

Ibrahim dan ayahnya

Q.S. al-An'am 6:74 menyebut seseorang bernama Azar ketika Ibrahim berkata kepada abīhi Āzara, lazim diterjemahkan sebagai “ayahnya, Azar”. Ibrahim mengkritik Azar karena menjadikan berhala sebagai tuhan. Percakapan lain dengan sosok ayah terdapat dalam Q.S. Maryam 19:41–48, asy-Syu'ara 26:69–86, dan at-Taubah 9:114.

Identitas Azar telah menjadi perdebatan panjang dalam tafsir. Sebagian mufasir memahami Azar sebagai ayah biologis Ibrahim; sebagian lain berpendapat ia adalah paman, wali, atau kerabat yang disebut dengan kata ab, sementara ayah biologis Ibrahim disebut Tarakh/Terakh mengikuti tradisi genealogi yang juga dikenal dari sumber Yahudi-Kristen.[12] Baihaki menunjukkan bahwa perbedaan ini juga hadir dalam tafsir Nusantara: Hasbi ash-Shiddieqy, Hamka, dan Tafsir Kementerian Agama memahami Azar sebagai ayah, sedangkan beberapa mufasir lain, termasuk Nawawi al-Bantani dan M. Quraish Shihab, membedakan Azar dari ayah biologis Ibrahim.[12]

Perdebatan tersebut tidak mengubah fungsi dasar narasi Al-Qur'an: Ibrahim tampil berhadapan dengan generasi terdekatnya sendiri ketika membela monoteisme.

Pengamatan benda-benda langit

Q.S. al-An'am 6:75–79 menceritakan Ibrahim melihat bintang, bulan, dan matahari. Setiap kali benda langit itu terbenam, ia menolaknya sebagai Tuhan dan akhirnya menyatakan diri menghadap kepada Pencipta langit dan bumi sebagai seorang ḥanīf.

Dalam tafsir, terdapat perbedaan mengenai apakah bagian itu menggambarkan proses pencarian pribadi Ibrahim atau merupakan argumen retoris yang sengaja diperagakan untuk membantah kaumnya. Karena doktrin tentang keterjagaan para nabi, banyak mufasir enggan memahami ayat tersebut sebagai bukti bahwa Ibrahim benar-benar pernah menyembah benda langit.[8]

Kajian perbandingan mencatat adanya paralel dengan tradisi kuno lain tentang Abraham yang mengenali Tuhan melalui pengamatan kosmos, termasuk materi Yahudi dan Helenistik. Keberadaan paralel tidak dengan sendirinya menentukan jalur transmisi langsung; para peneliti biasanya menempatkan narasi tersebut dalam lingkungan wacana monoteistik Zaman Kuno Akhir.[8]

Penghancuran berhala dan api

Salah satu episode paling terkenal terdapat dalam Q.S. al-Anbiya 21:51–70 dan as-Saffat 37:83–98. Ibrahim menentang penyembahan berhala kaumnya dan menghancurkan patung-patung mereka, menyisakan berhala terbesar. Ketika ditanya, ia menyuruh kaumnya bertanya kepada berhala besar itu jika memang dapat berbicara.

Para lawannya kemudian memutuskan membakar Ibrahim. Al-Qur'an menggambarkan Allah memerintahkan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim, sehingga rencana kaumnya gagal.[13]

Al-Qur'an tidak menamai raja yang biasanya dikaitkan dengan episode tersebut. Tradisi tafsir dan qiṣaṣ al-anbiyāʾ kemudian menghubungkannya dengan Namrud atau Nimrod dan mengembangkan detail mengenai kelahiran Ibrahim, pembuatan berhala oleh keluarganya, pengadilan, serta pembangunan api raksasa.[9] Karena itu, penyebutan Namrud sebagai penguasa yang melempar Ibrahim ke api merupakan detail tradisi pasca-Qur'ani, bukan nama yang terdapat dalam teks Al-Qur'an.

Perdebatan dengan seorang raja

Q.S. al-Baqarah 2:258 menggambarkan Ibrahim berdebat dengan seorang penguasa yang membantahnya tentang Tuhan. Ibrahim berkata bahwa Tuhannya menghidupkan dan mematikan; sang penguasa menjawab bahwa ia pun dapat “menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim kemudian menantangnya agar menerbitkan matahari dari barat karena Allah menerbitkannya dari timur.

Ayat tersebut tidak menyebut nama raja. Tafsir klasik umumnya mengidentifikasikannya sebagai Namrud, lalu menggabungkan narasi itu dengan tradisi lebih luas tentang konflik Ibrahim dan penguasa Babilonia.[9]

Burung yang dihidupkan kembali

Dalam Q.S. al-Baqarah 2:260, Ibrahim meminta Allah menunjukkan kepadanya bagaimana orang mati dihidupkan. Allah bertanya apakah ia belum beriman; Ibrahim menjawab bahwa ia telah beriman tetapi ingin agar hatinya tenteram. Ia kemudian diperintahkan mengambil empat burung, menempatkan bagian-bagiannya pada bukit-bukit, dan memanggilnya; burung-burung itu datang kembali kepadanya.

Dalam teologi dan tafsir Islam, episode ini sering dibahas dalam kaitannya dengan kepastian iman, pengetahuan melalui pengalaman, dan kebangkitan orang mati. Ayat tersebut tidak disajikan sebagai keraguan terhadap keberadaan Allah, tetapi sebagai permintaan untuk melihat cara kebangkitan terjadi.

Para tamu dan kelahiran Ishaq

Q.S. Hud 11:69–76, al-Hijr 15:51–60, dan adz-Dzariyat 51:24–37 menceritakan tamu-tamu yang datang kepada Ibrahim. Ia menyajikan makanan, tetapi merasa takut ketika mereka tidak memakannya. Para tamu kemudian menjelaskan bahwa mereka adalah utusan malaikat, memberi kabar gembira tentang seorang anak yang berilmu—diidentifikasi dalam konteks ayat sebagai Ishaq—dan akan menuju kaum Lut untuk melaksanakan hukuman.

Ibrahim memohon atau berdebat mengenai kaum Lut. Al-Qur'an memuji Ibrahim sebagai penyantun, lembut hati, dan suka kembali kepada Allah, tetapi para malaikat menegaskan bahwa keputusan hukuman telah datang.

Narasi ini mempunyai paralel jelas dengan kisah Abraham dan para tamu dalam Kitab Kejadian, tetapi struktur dan penekanannya berbeda. Dalam Al-Qur'an, episode tersebut terkait langsung dengan kenabian, hukuman kaum Lut, dan kabar ilahi tentang Ishaq.[8]

Ismail, Hajar, dan Makkah

Al-Qur'an dan keturunan Ibrahim

Al-Qur'an menyebut Ishaq dan Ismail sebagai bagian dari keluarga kenabian Ibrahim. Ibrahim berdoa bagi keturunannya, sementara Al-Qur'an menempatkan Ishaq, Ya'qub, dan nabi-nabi lain dalam garis keluarganya. Q.S. Ibrahim 14:39 menyatakan syukur Ibrahim karena dianugerahi Ismail dan Ishaq pada usia tua.

Hubungan Ibrahim–Ismail mempunyai arti khusus dalam pembentukan identitas Muslim. Mohsen Goudarzi berpendapat bahwa genealogi Abraham–Ishmael merupakan prinsip penting dalam Al-Qur'an, dan bahwa aspek ritual dan identitas komunitas Muhammad ditempatkan dalam hubungan dengan keturunan Ibrahim melalui Ismail.[14]

Gordon Nickel mencatat bahwa dalam dua abad pertama Islam, Ibrahim semakin penting bagi identifikasi komunitas Muslim dengan leluhur Muhammad, Ka'bah, dan ibadah haji.[1] Perincian genealogi dari Ismail hingga suku-suku Arab dan Muhammad terutama dikembangkan dalam karya sejarah, nasab, dan sirah.

Hajar dan Zamzam dalam hadis

Nama Hajar tidak muncul dalam Al-Qur'an. Kisah ibu Ismail ditinggalkan Ibrahim di lembah Makkah dan munculnya Zamzam dijelaskan secara jauh lebih terperinci dalam hadis yang diriwayatkan Ibn Abbas dan dicantumkan dalam Sahih al-Bukhari.[7]

Menurut hadis itu, Ibrahim membawa Ismail yang masih menyusu dan ibunya ke tempat dekat Ka'bah yang ketika itu belum berpenduduk dan tidak memiliki air. Ketika persediaan habis, ibu Ismail mencari air dengan bergerak antara tempat yang kemudian dikenal sebagai Safa dan Marwah. Air Zamzam kemudian muncul, dan kelompok Jurhum akhirnya menetap di kawasan tersebut.[7]

Hadis itu juga menghubungkan doa Ibrahim dalam Q.S. 14:37—tentang menempatkan sebagian keturunannya “di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati”—dengan Makkah.[7] Dalam praktik haji dan umrah, ritual sa'i antara Safa dan Marwah secara tradisional dipahami sebagai pengingatan terhadap pencarian air oleh Hajar.

Kajian sejarah agama membedakan lapisan tekstual tersebut: Al-Qur'an menyebut keturunan Ibrahim di lembah dekat Rumah Suci, sedangkan identifikasi dan rangkaian cerita Hajar–Ismail–Zamzam dijelaskan secara eksplisit dalam hadis dan sejarah Islam kemudian.

Ibrahim dan Ka'bah

Q.S. al-Baqarah 2:125–129 menyatakan bahwa Allah menjadikan “Rumah” sebagai tempat kembali dan aman, menyebut Maqam Ibrahim, memerintahkan Ibrahim dan Ismail menyucikan Rumah bagi orang yang tawaf, beriktikaf, rukuk, dan sujud, lalu menggambarkan keduanya meninggikan fondasi bangunan.[6]

Ayat 2:127 menyatakan bahwa Ibrahim dan Ismail “meninggikan fondasi-fondasi Rumah” sambil memohon agar amal mereka diterima. Ayat berikutnya memuat doa agar mereka dan keturunannya menjadi umat yang berserah diri, diperlihatkan tata cara ibadah, dan dikirim seorang rasul dari kalangan keturunan mereka.

Al-Qur'an juga menyebut rumah ibadah di Bakkah sebagai rumah pertama yang ditetapkan bagi manusia dan menyebut adanya “tanda-tanda yang nyata, [di antaranya] Maqam Ibrahim” (Q.S. 3:96–97). Tradisi Islam mengidentifikasi Rumah tersebut dengan Ka'bah di Makkah.

Hadis Nabi juga mempertahankan hubungan itu. Dalam Sahih al-Bukhari, Muhammad menjelaskan bahwa bangunan Ka'bah Quraisy tidak mencakup seluruh fondasi Ibrahim dan menyatakan bahwa ia akan mengembalikannya ke fondasi itu seandainya komunitas Makkah tidak baru saja meninggalkan masa pra-Islam.[15]

Uri Rubin menunjukkan bahwa dalam Al-Qur'an dan tradisi Islam, kesucian Makkah dan Ka'bah semakin dijelaskan melalui gambaran Ibrahim dan Ismail. Kajian Rubin memberi perhatian khusus pada pergeseran keseimbangan antara kesucian Yerusalem dan Makkah dalam korpus Qur'ani dan tradisi awal.[16] Bab khusus karyanya membahas tradisi Ibrahim dan Ismail membangun Ka'bah.[17]

Ujian pengurbanan

Narasi Al-Qur'an

Q.S. as-Saffat 37:99–113 menceritakan bahwa Ibrahim berdoa memperoleh anak saleh dan diberi kabar tentang seorang anak yang sabar. Setelah anak itu cukup besar untuk bekerja bersamanya, Ibrahim berkata bahwa ia bermimpi menyembelih sang anak dan meminta pendapatnya. Anak itu menjawab agar ayahnya melaksanakan apa yang diperintahkan dan menyatakan kesediaannya untuk bersabar.

Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anak itu, Allah menghentikan tindakan tersebut, menyatakan bahwa Ibrahim telah membenarkan mimpinya, dan menebus sang anak dengan “sembelihan yang besar”. Setelah rangkaian itu, teks menyebut kabar gembira mengenai Ishaq sebagai seorang nabi.[18]

Al-Qur'an tidak menyebut nama anak yang hendak dikurbankan dalam bagian tersebut. Hal ini melahirkan sejarah penafsiran yang lebih kompleks daripada penyajian populer.

Ismail atau Ishaq

Pada masa kini, tradisi Muslim mayoritas mengidentifikasi anak tersebut sebagai Ismail. Pengurbanan Ibrahim–Ismail menjadi representasi umum dalam khutbah, pendidikan Islam, dan perayaan Iduladha. Namun, sumber tafsir awal juga memuat pendapat bahwa anak tersebut adalah Ishaq.[1]

Reuven Firestone, dalam kajian klasik mengenai Q.S. 37:99–113, berpendapat bahwa banyak tradisi tafsir awal memahami anak itu sebagai Ishaq dan bahwa pergeseran kuat menuju identifikasi Ismail berkembang kemudian, terutama pada abad pertengahan awal.[19] Penelitian yang lebih baru juga menekankan bahwa pendapat Ismail tidak merupakan satu-satunya pendapat dalam sejarah tafsir klasik.[20]

David L. Weddle mencatat bahwa tradisi Islam kontemporer secara dominan membaca anak yang dikurbankan sebagai Ismail dan menghubungkan kurban hewan pada musim haji dengan penebusan anak Ibrahim.[21]

Karena Al-Qur'an sendiri tidak menamai anak tersebut, artikel ensiklopedis membedakan antara teks Qur'ani dan konsensus tradisional yang berkembang kemudian.

Iduladha dan kurban

Iduladha memperingati ketaatan Ibrahim dan anaknya kepada Allah. Kurban hewan juga merupakan bagian dari ritual haji. Dalam tradisi Muslim, hewan kurban melambangkan penggantian anak Ibrahim dengan kurban yang diberikan Allah.

Al-Qur'an sendiri menekankan bahwa daging dan darah hewan tidak mencapai Allah, melainkan ketakwaan orang yang berkurban (Q.S. al-Hajj 22:37). Dengan demikian, kisah Ibrahim digunakan dalam teologi Islam sebagai gambaran ketaatan, bukan pembenaran pengurbanan manusia.

Doa-doa Ibrahim

Al-Qur'an mengabadikan sejumlah doa yang dinisbatkan kepada Ibrahim. Doa-doa ini membentuk bagian penting dari citra religiusnya.

Tema Rujukan Isi umum
Keturunan dan kepemimpinan Q.S. 2:124 Ibrahim meminta agar kepemimpinan juga terdapat di antara keturunannya; Allah menyatakan perjanjian-Nya tidak mencakup orang zalim.
Keamanan negeri dan rezeki Q.S. 2:126; 14:35 Memohon agar negeri sekitar Rumah Suci aman dan dijauhkan dari penyembahan berhala.
Penerimaan pembangunan Rumah Q.S. 2:127 Ibrahim dan Ismail memohon agar pekerjaan mereka diterima.
Keturunan yang berserah diri Q.S. 2:128 Memohon agar mereka berdua dan keturunan mereka menjadi umat yang berserah diri.
Kedatangan rasul Q.S. 2:129 Memohon agar diutus seorang rasul di antara keturunan mereka yang membacakan ayat, mengajarkan Kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka.
Ibadah salat dan kecenderungan manusia menuju keluarga di lembah suci Q.S. 14:37 Memohon agar keturunan yang ditempatkan dekat Rumah Suci mendirikan salat dan memperoleh rezeki.
Ampunan Q.S. 14:40–41 Memohon keteguhan salat dan ampunan bagi dirinya, orang tua, serta orang beriman.

Doa bagi ayah dalam beberapa ayat dibaca bersama Q.S. at-Taubah 9:114, yang menjelaskan bahwa permohonan ampun Ibrahim bagi ayahnya berkaitan dengan suatu janji; setelah jelas bahwa sang ayah adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya.

Suhuf Ibrahim

Al-Qur'an dua kali merujuk kepada ṣuḥuf Ibrāhīm atau “lembaran-lembaran Ibrahim”. Q.S. an-Najm 53:36–37 menyebut “lembaran Musa dan Ibrahim yang memenuhi [kewajibannya]”, sedangkan Q.S. al-A'la 87:18–19 menyatakan bahwa pokok ajaran yang disebut sebelumnya terdapat dalam “lembaran-lembaran terdahulu, lembaran Ibrahim dan Musa”.

Tradisi Islam karena itu memasukkan Ibrahim di antara penerima wahyu tertulis sebelum Taurat. Tidak ada teks tertentu yang secara universal diterima umat Islam saat ini sebagai manuskrip historis Suhuf Ibrahim. Literatur Muslim kemudian mengembangkan pendapat tentang jumlah dan isi lembaran tersebut, tetapi detail itu berasal dari hadis, tafsir, dan tradisi pasca-Qur'ani, bukan dari teks Al-Qur'an yang masih memuat isi lengkapnya.

Ibrahim dalam hadis

Hadis memperluas sejumlah aspek kehidupan Ibrahim yang hanya singkat atau tidak disebut dalam Al-Qur'an.

Khitan

Dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Ibrahim berkhitan ketika berusia delapan puluh tahun.[22][23] Riwayat tersebut membantu menjelaskan hubungan yang dibuat tradisi Islam antara Ibrahim dan praktik khitan, meskipun hukum khitan kemudian dibahas secara berbeda oleh mazhab-mazhab fikih.

Hajar, Ismail, dan pembangunan Ka'bah

Hadis panjang Ibn Abbas dalam Sahih al-Bukhari menjadi sumber utama rincian cerita Hajar dan Ismail di Makkah, Zamzam, datangnya Jurhum, dan pertemuan kembali Ibrahim dengan putranya.[7]

Hadis lain menyatakan bahwa Ka'bah pada masa Muhammad tidak dibangun seluruhnya di atas fondasi Ibrahim.[15] Dalam riwayat tentang penaklukan Makkah, Muhammad juga dilaporkan melihat gambar Ibrahim dan Ismail di dalam Ka'bah dengan anak panah undian dan menolak penggambaran bahwa keduanya pernah melakukan praktik tersebut.[24]

Ibrahim dalam salat

Nama Ibrahim hadir secara rutin dalam ibadah Muslim melalui formula yang dikenal sebagai salawat Ibrahimiyah atau al-ṣalāt al-Ibrāhīmiyya. Dalam hadis sahih, Muhammad mengajarkan para sahabat untuk memohon keberkahan bagi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Allah memberi keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.[25]

Formula ini dibaca dalam tasyahud akhir dalam salat menurut praktik luas Muslim. Kehadirannya membuat nama Ibrahim menjadi bagian dari liturgi sehari-hari Islam, tidak hanya narasi sejarah kenabian.

Ibrahim dan keturunan kenabian

Al-Qur'an menggambarkan Ibrahim sebagai leluhur suatu garis besar kenabian. Ishaq, Ya'qub, dan sejumlah nabi Bani Israil ditempatkan dalam keturunannya. Ismail juga disebut nabi dan rasul yang menepati janji serta menyuruh keluarganya melaksanakan salat dan zakat (Q.S. Maryam 19:54–55).

Q.S. al-An'am 6:84–87 menyebut serangkaian nabi setelah membicarakan Ibrahim, termasuk Ishaq, Ya'qub, Nuh, Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakariya, Yahya, Isa, Ilyas, Ismail, Ilyasa, Yunus, dan Lut. Struktur ayat tersebut memperlihatkan Ibrahim sebagai titik pusat genealogi dan memori kenabian.

Dalam tradisi Arab-Islam, Muhammad dihubungkan secara genealogis dengan Ismail. Literatur nasab dan sirah menyusun silsilah Muhammad melalui Adnan menuju Ismail, meskipun detail nama dalam rentang yang sangat panjang itu tidak seragam pada sumber-sumber awal. Kajian Goudarzi berargumen bahwa hubungan Abraham–Ishmael sudah memainkan peran penting dalam identitas Qur'ani, bukan semata konstruksi genealogi yang seluruhnya muncul jauh kemudian.[14]

Ibrahim sebagai imam dan perjanjian

Q.S. al-Baqarah 2:124 menyatakan bahwa setelah Ibrahim diuji dengan “kalimat-kalimat” dan memenuhinya, Allah berfirman akan menjadikannya imam bagi manusia. Ibrahim bertanya mengenai keturunannya, dan Allah menjawab bahwa “perjanjian-Ku tidak akan mengenai orang-orang zalim”.[6]

Ayat ini penting bagi beragam diskusi Muslim mengenai kepemimpinan, pilihan ilahi, tanggung jawab keturunan, dan hubungan antara kemuliaan nasab dengan kesalehan. Pada tingkat dasar, ayat tersebut membatasi hak istimewa genealogi: tidak setiap keturunan Ibrahim otomatis menerima perjanjian tanpa memandang keadilan.

Dalam pemikiran Syiah Dua Belas Imam, ayat 2:124 juga memperoleh kedudukan khusus dalam doktrin imamah, karena Ibrahim dipahami menerima posisi imam melalui penetapan ilahi setelah berbagai ujian. Dalam tafsir Sunni, ayat tersebut juga dipahami sebagai penetapan Ibrahim sebagai pemimpin atau teladan manusia, tetapi biasanya tidak dipakai untuk menghasilkan doktrin imamah pasca-Muhammad yang sama.

Ibrahim, Yahudi, Kristen, dan identitas Muslim

Ibrahim merupakan tokoh bersama antara Islam, Yudaisme, dan Kekristenan, tetapi masing-masing tradisi menafsirkan makna warisannya secara berbeda. Dalam Al-Qur'an, pembahasan Ibrahim berkaitan langsung dengan perdebatan tentang siapa yang dapat mengklaim kesinambungan dengannya.

Q.S. 2:135 menanggapi ajakan menjadi Yahudi atau Kristen dengan perintah mengikuti millat Ibrahim yang ḥanīf. Q.S. 3:67 menegaskan bahwa Ibrahim sendiri hidup sebelum kategori Yahudi dan Kristen sebagaimana diperdebatkan oleh audiens Qur'ani, lalu menyebutnya ḥanīf dan Muslim.[3]

Bagi kajian modern, bagian-bagian ini penting dalam memahami pembentukan identitas komunitas awal Islam. Nickel menilai Ibrahim menjadi sangat penting dalam dua abad pertama Islam dalam penegasan hubungan antara Muhammad, Muslim, Ismail, Ka'bah, dan haji.[1] Levenson menunjukkan bahwa figur Abraham/Ibrahim berfungsi sekaligus sebagai simbol kesamaan lintas agama dan sebagai pusat klaim yang berbeda tentang autentisitas religius.[5]

Karena itu, istilah modern “agama Abrahamik” tidak berarti bahwa ketiga tradisi mempunyai Abraham yang identik. Justru, cara mereka menginterpretasikan perjanjian, keturunan, kurban, hukum, dan iman melalui Abraham sering berbeda.

Tradisi qiṣaṣ al-anbiyāʾ

Al-Qur'an tidak menyajikan kehidupan Ibrahim sebagai biografi kronologis tunggal. Episode-episodenya tersebar di berbagai surah dan sering bersifat singkat. Para penulis Muslim awal dan abad pertengahan kemudian menyusun materi tersebut menjadi narasi berurutan.

Karya sejarah universal al-Tabari menyediakan salah satu rangkaian terluas mengenai Ibrahim: kelahiran dan lingkungan Mesopotamia, konflik dengan penyembah berhala, Namrud, migrasi, Sarah, Hajar, Ismail, pembangunan Ka'bah, Ishaq, dan keturunannya.[9]

Genre qiṣaṣ al-anbiyāʾ kemudian berkembang sebagai bentuk sastra khusus. Penulis seperti al-Tha'labi dan al-Kisa'i menghimpun ayat Al-Qur'an, hadis, tafsir, cerita populer, serta berita dari tradisi terdahulu. Bahan semacam ini sangat berpengaruh pada gambaran populer tentang Ibrahim, tetapi tidak seluruh detailnya mempunyai status hadis sahih atau berada dalam Al-Qur'an.

Dalam kesarjanaan Islam, riwayat yang berasal atau diasosiasikan dengan tradisi Yahudi-Kristen sering disebut Israiliyat. Sikap ulama terhadap materi tersebut bervariasi: sebagian digunakan apabila tidak bertentangan dengan ajaran Islam, sebagian ditangguhkan penilaiannya, dan sebagian ditolak.

Perbedaan antara narasi Qur'ani dan tradisi kemudian

Beberapa unsur yang sering disangka terdapat secara eksplisit dalam Al-Qur'an sebenarnya berasal dari hadis atau tafsir.

Unsur cerita Al-Qur'an Hadis / tafsir dan tradisi kemudian
Nama ayah/kerabat penentang Menyebut Azar dalam Q.S. 6:74 sebagai ab Ibrahim Perdebatan apakah Azar ayah biologis, paman, atau wali; nama Tarakh/Terakh muncul dalam genealogi.
Nama raja yang berdebat Tidak disebut dalam Q.S. 2:258 Umumnya disebut Namrud.
Raja yang memerintahkan pembakaran Tidak disebut namanya Sering diidentifikasi dengan Namrud dan disatukan dengan episode Q.S. 2:258.
Nama ibu Ismail Tidak disebut Dikenal sebagai Hajar; hadis Bukhari menguraikan kisah “ibu Ismail”.
Zamzam Tidak disebut dengan nama “Zamzam” Hadis menghubungkan munculnya Zamzam dengan ibu Ismail.
Anak yang hendak dikurbankan Tidak dinamai dalam Q.S. 37:99–113 Tradisi mayoritas kemudian: Ismail; sejumlah tafsir awal: Ishaq.
Namrud dan menara/kerajaan Tidak ada biografi Namrud Dikembangkan luas dalam tafsir dan qiṣaṣ.
Usia khitan 80 tahun Tidak disebut Terdapat dalam hadis sahih.

Pembedaan ini penting untuk menghindari penyajian tradisi Islam seolah-olah berasal dari satu teks tunggal.

Kajian akademik modern

Ibrahim Qur'ani dan Abraham Alkitabiah

Kesarjanaan modern mempelajari Ibrahim dalam Al-Qur'an melalui perbandingan dengan Kitab Kejadian, tradisi rabinik, literatur apokrif, homili Kristen, serta bahan Zaman Kuno Akhir. Pierre Lory menyebut figur Ibrahim Qur'ani relatif berbeda dari Abraham Alkitabiah karena dalam Islam ia ditempatkan secara penuh dalam doktrin kenabian dan menjadi teladan pemulihan monoteisme asli.[8]

Kisah penghancuran berhala, api, perdebatan kosmologis, dan penolakan ayah mempunyai paralel dalam sejumlah tradisi Yahudi dan pasca-Alkitabiah yang tidak terdapat dalam teks Kejadian itu sendiri. Para peneliti menggunakan paralel tersebut untuk memahami lingkungan sastra Al-Qur'an, tetapi hubungan antarteks tidak selalu memungkinkan kesimpulan sederhana berupa peminjaman langsung dari satu karya tertentu.

Ibrahim, Makkah, dan identitas awal Islam

Hubungan Ibrahim dengan Makkah telah menjadi salah satu bidang perdebatan penting. Pandangan lama dalam sebagian kesarjanaan Barat menganggap koneksi Ibrahim–Ka'bah terutama muncul pada periode Madinah sebagai bagian dari pemisahan Muhammad dari komunitas Yahudi. Uri Rubin menantang bentuk kuat teori tersebut dan berargumen bahwa tradisi kesucian Ka'bah yang dikaitkan dengan Ibrahim memiliki akar yang lebih kompleks dan tidak dapat direduksi menjadi satu perubahan politik mendadak.[16]

Mohsen Goudarzi juga menentang kecenderungan yang mengecilkan peran hubungan Abraham–Ishmael dalam lapisan Qur'ani. Menurutnya, keturunan melalui Ismail serta fungsi kultisnya mempunyai arti integral dalam cara Al-Qur'an membentuk identitas komunitas Muhammad.[14]

Perdebatan ini adalah pembahasan sejarah teks dan gagasan keagamaan. Bukti sastra bahwa Muslim awal percaya Ibrahim dan Ismail berkaitan dengan Ka'bah tidak sama dengan bukti arkeologis yang dapat secara independen membuktikan aktivitas seorang Ibrahim historis di Makkah pada milenium kedua SM.

Anak kurban dan perkembangan tafsir

Persoalan anak kurban menjadi contoh jelas perkembangan tradisi tafsir. Al-Qur'an sengaja atau setidaknya secara tekstual meninggalkan anak tersebut tanpa nama dalam rangkaian pengurbanan. Firestone menunjukkan bahwa bahan tafsir awal sangat beragam, termasuk dukungan kuat bagi Ishaq; identifikasi Ismail kemudian menjadi dominan.[19]

Penelitian kontemporer dari Indonesia juga menekankan bahwa pergeseran tersebut harus dibaca secara historis, bukan dengan menganggap pendapat Islam selalu tunggal sejak generasi pertama.[20] Kajian hermeneutika tahun 2026 selanjutnya mencatat bahwa identitas anak telah menjadi locus polemik Islam–Kristen dan mengingatkan bahwa pembacaan yang terlalu berorientasi pada supremasi komunal dapat menutupi tema etis narasi, yaitu ketaatan, penyerahan diri, dan rahmat ilahi.[26]

Warisan ritual

Warisan Ibrahim dapat dilihat dalam beberapa praktik Islam yang paling penting.

Haji

Hubungan dengan haji dibangun melalui beberapa unsur:

  • Ka'bah dan pembangunan fondasinya bersama Ismail;
  • Maqam Ibrahim sebagai tempat yang dikaitkan dengan salat setelah tawaf;
  • doa untuk lembah Makkah;
  • sa'i antara Safa dan Marwah melalui tradisi Hajar;
  • kurban hewan pada musim haji; dan
  • tradisi yang menghubungkan pengajaran manasik dengan Ibrahim.

Q.S. al-Hajj 22:26–27 menggambarkan Allah menunjukkan tempat Rumah kepada Ibrahim dan memerintahkannya mengumumkan haji kepada manusia. Dalam hadis, Muhammad melaksanakan salat di belakang Maqam Ibrahim setelah tawaf, sesuai pembacaan Q.S. 2:125.[27]

Kurban dan Iduladha

Kisah Q.S. 37 membentuk simbol religius utama Iduladha. Tradisi mayoritas mengaitkannya dengan Ibrahim dan Ismail, sedangkan praktik penyembelihan hewan menekankan ketakwaan, sedekah, dan ketaatan kepada Allah.[21]

Salawat Ibrahimiyah

Dalam salat harian, keluarga Ibrahim menjadi model keberkahan ketika Muslim memohon agar Allah memberkati Muhammad dan keluarganya sebagaimana memberkati Ibrahim dan keluarganya.[25] Ini merupakan salah satu bentuk paling langsung keberadaan Ibrahim dalam ibadah Muslim sehari-hari.

Khitan

Hadis tentang khitan Ibrahim memberi figur Ibrahim kedudukan penting dalam pembahasan sejarah ritual khitan Islam.[22] Status hukum khitan berbeda dalam detail antara mazhab fikih, tetapi Ibrahim secara luas disebut sebagai pendahulu ritual tersebut dalam sumber hadis.

Ibrahim dalam seni dan budaya Islam

Meskipun terdapat kecenderungan anikonik yang kuat dalam banyak konteks Islam, manuskrip Persia, Turki, dan Asia Tengah tertentu menggambarkan kisah para nabi, termasuk Ibrahim. Ilustrasi dapat menampilkan penghancuran berhala, penyelamatan dari api, kunjungan malaikat, atau pengurbanan putranya.

Penggambaran seperti itu tidak mewakili praktik semua komunitas Muslim. Dalam konteks Sunni modern, visualisasi nabi sering dihindari. Dalam manuskrip Islam pra-modern, wajah nabi terkadang digambar secara langsung dan pada masa lain ditutupi cadar atau lingkaran api sebagai tanda kesucian.

Nama Ibrahim juga tersebar luas sebagai nama laki-laki di masyarakat Muslim. Tempat suci di Hebron yang dikaitkan dengan makam Abraham dikenal dalam bahasa Arab sebagai al-Ḥaram al-Ibrāhīmī dan masjid di kompleks tersebut disebut Masjid Ibrahimi.

Ibrahim dalam tradisi Sunni dan Syiah

Baik Sunni maupun Syiah mengakui Ibrahim sebagai nabi besar, khalīl Allah, teladan tauhid, dan leluhur para nabi. Perbedaan muncul terutama pada penekanan tafsir tertentu.

Dalam tradisi Sunni, kisah Ibrahim sangat sering dipakai untuk tema tauhid, penolakan syirik, sunnah para nabi, haji, dan ketaatan dalam kurban. Karya Ibn Kathir dan berbagai qiṣaṣ al-anbiyāʾ berpengaruh kuat terhadap penyajian populer.

Dalam Syiah, Ibrahim juga mempunyai fungsi penting dalam doktrin tentang kepemimpinan keturunan yang saleh. Q.S. 2:124—tentang Allah menjadikan Ibrahim imam dan menyatakan bahwa perjanjian tidak mencakup orang zalim—sering digunakan sebagai salah satu ayat dasar untuk menguraikan sifat penetapan ilahi atas imamah.

Dalam tradisi Syiah, narasi kurban juga dikaitkan secara tipologis oleh sejumlah penafsir dengan gagasan pengorbanan dan kesyahidan, terutama dalam refleksi mengenai Husain bin Ali. Reuven Firestone menunjukkan bahwa penafsiran Syiah tentang kurban Ibrahim mengembangkan hubungan metahistoris yang berbeda dari sejumlah interpretasi Sunni dan Yahudi-Kristen.[28]

Perbandingan ringkas dengan tradisi Alkitabiah

Artikel ini tidak membahas keseluruhan Abraham dalam Yudaisme atau Kekristenan, tetapi beberapa perbedaan membantu menjelaskan karakter Ibrahim Islam.

Tema Dalam Al-Qur'an dan tradisi Islam Dalam Kitab Kejadian / tradisi Alkitabiah
Status Nabi dan rasul; teladan ḥanīf dan penyerahan diri Patriark utama; disebut nabi dalam konteks tertentu dalam Alkitab, tetapi fungsi naratif utamanya adalah leluhur perjanjian
Penghancuran berhala Penting dalam Al-Qur'an Tidak terdapat dalam Kitab Kejadian; paralel terdapat dalam tradisi Yahudi pasca-Alkitabiah
Dilempar ke api Terdapat dalam Al-Qur'an Tidak terdapat dalam Kitab Kejadian
Anak kurban Tidak dinamai oleh Al-Qur'an; Ismail menjadi pendapat mayoritas Islam kemudian, dengan tradisi awal yang juga mendukung Ishaq Kejadian 22 secara eksplisit menyebut Ishak
Hajar dan Ismail di Makkah Hadis dan tradisi Islam menghubungkannya dengan Makkah dan Zamzam Kejadian menempatkan Hagar dan Ishmael dalam geografi berbeda
Ka'bah Ibrahim dan Ismail dihubungkan dengan fondasi Rumah Suci Tidak terdapat dalam Alkitab
Millat Ibrahim Ibrahim menjadi model iman yang mendahului kategori Yahudi dan Kristen Tidak mempunyai terminologi Qur'ani yang sama

Perbandingan tersebut tidak dimaksudkan untuk menentukan versi mana yang benar secara teologis. Dalam studi agama, teks-teks tersebut dipelajari sebagai tradisi yang membentuk identitas komunitas berbeda.

Kronologi naratif dalam sumber Islam

Karena Al-Qur'an tidak menyusun biografi Ibrahim secara kronologis dan tidak memberi tanggal absolut, kronologi berikut adalah rekonstruksi naratif tradisional, bukan kronologi historis yang dapat diverifikasi.

Tahap Sumber utama
Tumbuh di lingkungan penyembah berhala dan berdebat dengan Azar/kaumnya Q.S. 6:74–83; 19:41–48; 26:69–82
Menolak benda langit sebagai tuhan Q.S. 6:75–79
Menghancurkan berhala dan diselamatkan dari api Q.S. 21:51–70; 37:83–98
Berdebat dengan penguasa Q.S. 2:258
Bermigrasi bersama Lut Q.S. 29:26; 37:99
Mendapat kabar kelahiran Ishaq Q.S. 11:69–73; 15:51–56; 51:24–30
Menempatkan sebagian keturunannya dekat Rumah Suci Q.S. 14:35–41; dijelaskan lebih rinci dalam hadis
Ibrahim dan Ismail meninggikan fondasi Rumah Q.S. 2:125–129
Ujian pengurbanan seorang putra Q.S. 37:99–113
Memohon dan mengajarkan tauhid kepada keturunan Berbagai ayat; dikembangkan dalam tafsir dan hadis

Historiografi dan kehati-hatian sumber

Sumber mengenai Ibrahim dalam Islam dapat dibagi menjadi beberapa lapisan:

  1. Al-Qur'an, sumber Islam paling awal untuk figur Ibrahim;
  2. hadis, yang memberi detail ritual dan naratif tambahan;
  3. tafsir, yang menafsirkan ayat dan mengumpulkan pendapat berbeda;
  4. sirah, sejarah universal, dan nasab, yang menyusun genealogi serta kronologi;
  5. qiṣaṣ al-anbiyāʾ, yang mengembangkan kisah menjadi narasi devosional; dan
  6. kajian akademik modern, yang meneliti sejarah teks, perkembangan tradisi, intertekstualitas, dan fungsi identitas.

Tidak semua lapisan mempunyai fungsi atau tingkat otoritas yang sama. Sebuah detail dalam al-Tabari atau al-Tha'labi, misalnya, tidak otomatis merupakan pernyataan Al-Qur'an atau hadis sahih. Demikian pula, analisis historis modern tentang perkembangan kisah tidak dimaksudkan sebagai tafsir normatif bagi umat Islam.

Oxford Bibliographies menekankan bahwa narasi Qur'ani tentang Ibrahim sering bersifat alusi dan ringkas, sehingga tradisi Muslim awal mengisi celah-celah tersebut melalui berbagai genre dan sumber.[1] Justru variasi inilah yang menjelaskan mengapa isu seperti Azar, anak kurban, perjalanan ke Makkah, dan detail konflik dengan Namrud mempunyai lebih dari satu versi dalam literatur Islam.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h i Nickel, Gordon (29 Agustus 2012). "Abraham". Oxford Bibliographies in Islamic Studies. Oxford University Press. doi:10.1093/obo/9780195390155-0164.
  2. ^ a b "Quran Dictionary: إِبْرَاهِيم" (dalam bahasa Inggris). The Quranic Arabic Corpus. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  3. ^ a b c "Qur'an 3:67". Quran.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  4. ^ "Qur'an 16:123". Quran.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  5. ^ a b Levenson, Jon D. (2015). "Abraham and Authenticity". Dalam Silverstein, Adam J.; Stroumsa, Guy G. (ed.). The Oxford Handbook of the Abrahamic Religions. Oxford University Press. doi:10.1093/oxfordhb/9780199697762.013.5. ISBN 9780199697762.
  6. ^ a b c "Qur'an 2:124–129". Quran.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  7. ^ a b c d e "Sahih al-Bukhari 3364" (dalam bahasa Inggris). Sunnah.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  8. ^ a b c d e Lory, Pierre (2007). "Abraham". Dalam Amir-Moezzi, Mohammad Ali (ed.). Dictionnaire du Coran. Paris: Robert Laffont. ISBN 9782221099568.
  9. ^ a b c d al-Ṭabarī (1987). The History of al-Ṭabarī. Vol. 2. Diterjemahkan oleh Brinner, William M. Albany: State University of New York Press. ISBN 9780887063138. {{cite book}}:
  10. ^ a b Goudarzi, Mohsen (2023). "Unearthing Abraham's Altar: The Cultic Dimensions of dīn, islām, and ḥanīf in the Qurʾan". Journal of Near Eastern Studies. 82 (1): 77–102.
  11. ^ Hamim, Muh (2019). Agama Nabi Ibrahim dalam Al-Qur'an: Kajian dengan Pendekatan Tafsir Kronologis (Tesis magister). IAIN Kediri.
  12. ^ a b Baihaki, Egi Sukma (2018). "Identitas Âzar Dalam Literatur Tafsir Nusantara". Al-Fanar: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. 1 (1): 1–18. doi:10.33511/alfanar.v1n1.1-18.
  13. ^ "Qur'an 21:51–70". Quran.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  14. ^ a b c Goudarzi, Mohsen (2019). "The Ascent of Ishmael: Genealogy, Covenant, and Identity in Early Islam". Arabica. 66 (5): 415–484. doi:10.1163/15700585-12341543.
  15. ^ a b "Sahih al-Bukhari 1583" (dalam bahasa Inggris). Sunnah.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  16. ^ a b Rubin, Uri (2023). Between Jerusalem and Mecca: Sanctity and Redemption in the Qurʾān and the Islamic Tradition. Berlin: De Gruyter. doi:10.1515/9783111222318. ISBN 9783111222318.
  17. ^ Rubin, Uri (2023). "Abraham and Ishmael build the Kaʿba". Between Jerusalem and Mecca: Sanctity and Redemption in the Qurʾān and the Islamic Tradition. De Gruyter. hlm. 121–137. doi:10.1515/9783111222318-009.
  18. ^ "Qur'an 37:99–113". Quran.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  19. ^ a b Firestone, Reuven (1989). "Abraham's Son as the Intended Sacrifice (Al-Dhabīḥ, Qurʾān 37:99–113): Issues in Qurʾānic Exegesis". Journal of Semitic Studies. 34 (1): 95–131. doi:10.1093/jss/XXXIV.1.95.
  20. ^ a b Andi, Azhari; Ahmad, Hamdi Putra (2024). "Before Orthodoxy: The Story of Abraham's Sacrifice (Dzabīh) in Early Muslim Commentaries". International Journal of Islamic Khazanah. 14 (1). doi:10.15575/ijik.v14i1.29413.
  21. ^ a b Weddle, David L. (2017). "Sacrifice in Islamic Tradition". Sacrifice in Judaism, Christianity, and Islam. New York University Press. hlm. 155–206. doi:10.18574/nyu/9780814764916.003.0006. ISBN 9780814764916.
  22. ^ a b "Sahih al-Bukhari 6298" (dalam bahasa Inggris). Sunnah.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  23. ^ "Sahih Muslim 2370" (dalam bahasa Inggris). Sunnah.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  24. ^ "Sahih al-Bukhari 1601" (dalam bahasa Inggris). Sunnah.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  25. ^ a b "Sahih Muslim 406a" (dalam bahasa Inggris). Sunnah.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  26. ^ Andi, Azhari; Ridho, Moch. Taufiq (2026). "Abraham's Sacrifice in the Qur'an and the Bible: Comparative Hermeneutics of Narrative, Meaning, and Textual Authority". Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis. 27 (1): 73–94. doi:10.14421/qh.v27i1.6336.
  27. ^ "Sunan Ibn Majah 2960" (dalam bahasa Inggris). Sunnah.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  28. ^ Firestone, Reuven (1998). "Merit, Mimesis, and Martyrdom: Aspects of Shi'ite Meta-historical Exegesis on Abraham's Sacrifice in Light of Jewish, Christian, and Sunni Muslim Tradition". Journal of the American Academy of Religion. 66 (1): 93–116. doi:10.1093/jaarel/66.1.93.

Bacaan lebih lanjut

  • Amir-Moezzi, Mohammad Ali, ed. (2007). Dictionnaire du Coran. Paris: Robert Laffont. ISBN 9782221099568.
  • Firestone, Reuven (1989). "Abraham's Son as the Intended Sacrifice (Al-Dhabīḥ, Qurʾān 37:99–113): Issues in Qurʾānic Exegesis". Journal of Semitic Studies. 34 (1): 95–131. doi:10.1093/jss/XXXIV.1.95.
  • Goudarzi, Mohsen (2019). "The Ascent of Ishmael: Genealogy, Covenant, and Identity in Early Islam". Arabica. 66 (5): 415–484. doi:10.1163/15700585-12341543.
  • Rubin, Uri (2023). Between Jerusalem and Mecca: Sanctity and Redemption in the Qurʾān and the Islamic Tradition. Berlin: De Gruyter. doi:10.1515/9783111222318. ISBN 9783111222318.
  • al-Ṭabarī (1987). The History of al-Ṭabarī. Vol. 2. Diterjemahkan oleh Brinner, William M. State University of New York Press. ISBN 9780887063138. {{cite book}}:
  • Weddle, David L. (2017). Sacrifice in Judaism, Christianity, and Islam. New York University Press. ISBN 9780814764916.

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya