Kedurai agung

Kedurai agung (alternatif pengejaan: kêdurai agung, pengucapan dalam bahasa Rejang: [kəduraj aguŋ) adalah upacara adat atau ritual yang turun-temurun dilakukan oleh masyarakat Rejang untuk berkomunikasi dengan para leluhur. Upacara ini adalah jejak peninggalan dari tradisi pra-Islam dalam masyarakat Rejang yang turut dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Buddha. Saat ini kedurai agung masih dilestarikan di beberapa daerah di Lebong serta menjadi acara wajib setiap peringatan HUT Kota Curup, kota yang menjadi ibu kota budaya masyarakat Rejang. HUT Curup berlangsung pada bulan Mei.[1]

Etimologi

Istilah kedurai agung berasal dari bahasa Rejang, kedurai yang artinya kenduri, hajatan, atau perjamuan, dan agung yang artinya besar, mulia, atau luhur. Secara bahasa kedurai agung bermakna kenduri atau hajatan besar nan luhur. Dalam konteks masyarakat Rejang pra-Islam, leluhur dipuja dan dimintai pertolongan agar melindungi masyarakat dari berbagai macam bencana. Baik bencana alam, penyakit, serangan hama, maupun penyakit hewan ternak. Khususnya di daerah Bingin Kuning, kedurai agung dikenal pula dengan istilah muang apêm.[2]

Ritual Upacara

Terdapat variasi-variasi dalam pelaksanaan ritual kedurai agung. Variasi ini muncul sebagai adaptasi masing-masing masyarakat terhadap wilayah kediamannya yang dulu terisolasi satu sama lain. Di daerah Bingin Kuning masyarakat akan membentuk barisan dan arak-arakan. Setiap peserta upacara membawa apem untuk dipersembahkan. Para pengantar sesembahan terdiri dari anak-anak usia sebelum akil baligh yang disebut sebagai anok diwo (anak dewa).[2]

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Masyarakat Rejang di daerah Topos melaksanakan kedurai agung pada hari ke-16 bulan Apit. Bulan Apit adalah bulan yang dipercaya sebagai masa datangnya hama dan bibit penyakit. Dalam Kalender Gregorius bulan Apit bertepatan dengan bulan Desember. Ada pun lokasi pelaksanaan berbeda-beda antardaerah. Warga Topos menggelar kedurai agung di tepian Sungai Ketahun yang merupakan salah satu dari beberapa sungai-sungai penting di Tanah Rejang.

Referensi

  1. ^ Kedurai Agung Sudut Wali Pembukaan HUT Kota Curup
  2. ^ a b [hhttp://www.rmolbengkulu.com/read/2018/03/15/7223/Tangkal-Bencana,-Puluhan-Warga-Lebong-Gelar-Ritual-Adat- Tangkal Bencana, Puluhan Warga Lebong Gelar Ritual Adat]


Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya