Kek Lok Si
| Wihara Kek Lok Si 极乐寺 | |
|---|---|
Pemandangan Wihara Kek Lok Si | |
| Agama | |
| Afiliasi | Buddhisme |
| Lokasi | |
| Lokasi | Air Hitam, Penang |
| Arsitektur | |
| Tipe | Wihara |
| Gaya | Tionghoa, Thai, dan Burma |
| Dibangun oleh | Beow Lean |
| Peletakan batu pertama | 1890 |
| Rampung | 1905 |
| Situs web | |
| [1] | |
| Kek Lok Si | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hanzi tradisional: | 極樂寺 | ||||||||||
| Hanzi sederhana: | 极乐寺 | ||||||||||
| Makna harfiah: | "Wihara Kebahagiaan Tertinggi" | ||||||||||
| |||||||||||
Kek Lok Si atau Wihara Kek Lok (Hanzi sederhana: 极乐寺; Hanzi tradisional: 極樂寺; Pinyin: Jílè sì; Bahasa Hokkian Penang untuk "Wihara Kebahagiaan Tertinggi" atau "Wihara Sukhavati" atau "Jile Si") adalah sebuah wihara yang terletak di Air Itam, Penang menghadap laut dan memiliki pemandangan yang mengesankan, dan merupakan salah satu wihara yang terkenal di pulau.[1]
Wihara ini juga merupakan pusat ziarah penting bagi umat Buddha dari Hong Kong, Filipina, Singapura, dan negara-negara lain di Asia Tenggara. Seluruh kompleks dari wihara ini dibangun selama periode dari 1890 sampai 1930, sebuah inisiatif penuh inspirasi dari Beow Lean, sang kepala wihara. Daya tarik utama dalam kompleks ini adalah Pagoda Rama VI (Pagoda Sepuluh Ribu Buddha) berlantai 7 yang menarik perhatian dengan 10.000 patung Buddha dari pualam dan perunggu, dan patung perunggu Guan Yin, Dewi Welas Asih setinggi 302 meter (991 ft).
Buddhisme Mahayana, Theravada, dan ritual Tionghoa tradisional berbaur menjadi satu kesatuan yang harmonis, baik dalam arsitektur wihara maupun karya seni serta dalam kegiatan sehari-hari umat. Wihara ini sangat dikomersialkan dengan toko-toko di setiap tingkat dan di dalam kompleks wihara utama yang menjual semua perlengkapan keagamaan.
Etimologi
Dalam bahagia Hokkien (bahasa Tionghoa selatan), kek-lok secara harfiah berarti "kebahagiaan tertinggi", yang merupakan terjemahan dari istilah Sanskrta Sukhāvatī, sebuah Tanah Murni. si berarti "kuil". Sehingga arti harfiah dari Kek Lok Si adalah "Wihara surgawi",[2], "Wihara Tanah Murni",[3], "Wihara Kebahagiaan Tertinggi",[4] dan "Wihara Surga".[4]
Sejarah
Pembangunan wihara dimulai pada tahun 1890[5] dan selesai pada tahun 1905. Wihara ini diilhami oleh Beow Lean, kepala wihara Kuil Dewi Welas Asih di Pitt Street pada tahun 1887; dia sebelumnya mengabdi di Biara Kushan di Fujian,Tiongkok. Tempat yang dipilih oleh Beow, sebuah lokasi spiritual di perbukitan Ayer Itam, yang menghadap laut, bernama "Gunung Bangau". Wihara ini didirikan sebagai cabang dari "Vatikan Buddhis" di Gunung Drum di Fuzhou, Provinsi Fujian. Beow Lean adalah kepala wihara yang pertama. Bangunan-bangunan dari kompleks wihara disponsori oleh lima pebisnis Tionghoa terkemuka Penang yang dikenal sebagai "taipan Hakka". Mereka adalah Cheong Fatt Tze, sepupunya Chang Yu Nan, Cheah Choon Seng, Tye Kee Yoon, dan Chung Keng Kooi. .Pengumpulan dana untuk membangun wihara ini juga difasilitasi dengan mendedikasikan bangunan dan artefak atas nama donatur wihara.[3][4][6][7] Aula utama yang pertama selesai adalah altar Guanyin, yamg disebut mewakili secara miniatur pulau Potalaka (sebagai Gunung Putuo) di Laut Tiongkok, tempat terdapat altar besar untuk Guanyin. Altar ini dibandingkan dengan Buddha Amitabha di Surga Barat dan mulai disebut "Kek Lok Si" (Jile Si dalam bahasa Mandarin). Kompleks ini juga memiliki banyak ruang altar lain dengan patung megah berlapis emas dari Buddha, para Bodhisattva, Lohan, roh penjaga, dan Raja Surgawi (atau Raja Berlian) dalam tradisi Buddhisme Tanah Murni.[8]
Perwakilan konsuler Tiongkok di Penang melaporkan kemegahan kuil ini kepada pemerintah kekaisaran Qing. Setelah itu, Kaisar Guangxu mengundang Beow Lean ke Beijing pada 1904 dan menganugerahkan kepadanya 70.000 jilid (atau 7.000 menurut sumber lain) "mazmur dan karya suci Buddhis" serta edik yang menobatkannya sebagai "Kepala Imam Penang" dan menetapkan "kuil Tionghoa di Air Itam sebagai pusat semua kuil Tionghoa di Penang".[3][4] Sekembalinya ke Penang, diadakan prosesi kerajaan yang membawa edik dalam kursi rotan dan kitab suci dengan kereta kuda poni menuju kompleks kuil. Tokoh-tokoh Tionghoa terkemuka Penang dengan busana mandarin kerajaan turut mendampingi kepala biara.[4]

Pada 1930, pagoda utama berlantai tujuh, "Ban Po Thar" (萬佛塔, "Pagoda Sepuluh Ribu Buddha"), setinggi 30-meter-high (98 ft), selesai dibangun. Pagoda ini menggabungkan dasar segi delapan bergaya Tionghoa, tingkat tengah bergaya Thailand, dan mahkota spiral bergaya Burma; mencerminkan perpaduan Mahayana dan Theravada.[5][9] Pagoda ini melambangkan sinkretisme etnis dan keragaman agama di negara tersebut. Sebuah patung Buddha besar yang didonasikan oleh Raja Bhumibol dari Thailand ditempatkan di sini.[5][9] Raja Rama VI dari Thailand meletakkan batu pertama pagoda ini, sehingga juga disebut "Pagoda Rama".[10]

Pada 2002, patung perunggu Guanyin, Dewi Welas Asih, setinggi 302-meter (991 ft) selesai dibangun dan dibuka untuk umum. Patung ini menggantikan patung Guanyin dari gips putih yang rusak akibat kebakaran beberapa tahun sebelumnya. Patung perunggu ini berdiri di lereng bukit di atas pagoda. Patung tersebut dilengkapi dengan paviliun atap tiga tingkat setinggi 609 meter (1.998 ft) (dengan 16 tiang perunggu penopang),[5] yang selesai pada 2009.[11] Saat selesai, patung ini merupakan patung Guanyin tertinggi kedua di dunia.[12] Seratus patung Guanyin setinggi 2 meter (6 ft 7 in) ditempatkan mengelilingi patung utama. Namun, ketinggiannya dibatasi agar bayangannya tidak jatuh ke Masjid Negeri Penang.[13] Altar ini juga memiliki 10.000 patung Buddha, serta patung 12 lambang hewan Zodiak dari Kalender Tionghoa.[5]
Kompleks kuil ini memiliki lonceng besar yang dioperasikan secara hidrolik, berbunyi nyaring pada interval tertentu. Ukiran kayu dan batu banyak ditemukan di kuil. Di depan setiap dewa terdapat bantalan, gulungan indah, lilin dalam lampu gantung yang menarik, serta sejumlah besar biksu yang hadir.[4]
Pada Oktober 2021, sekitar 70% salah satu bangunan kuil hancur akibat kebakaran, dengan api berukuran sekitar 12 m × 15 m. Penyebab kebakaran belum ditentukan atau diumumkan.[14]
Acara tahunan

Kuil ini menjadi pusat berbagai perayaan komunitas Tionghoa di Penang. Perayaan Tahun Baru Imlek khususnya dikenal meriah. Selama 30 hari setelah Tahun Baru Imlek, kuil tetap dibuka hingga larut malam, sementara ribuan lampu menjadikan suasana bagaikan lautan cahaya. Pada hari-hari festival, kompleks kuil dihiasi ribuan lentera yang mewakili persembahan dari para umat. Salah satu tradisi lain adalah arak-arakan panjang yang dilakukan ratusan biksu dari Thailand menuju kuil, biasanya sekali atau dua kali dalam setahun.[7][16]
Referensi
- ^ Wendy Moore (1998). West Malaysia and Singapore. Tuttle Publishing. hlm. 104–. ISBN 978-962-593-179-1.
- ^ Davidson & Gitlitz 2002, hlm. 313.
- ^ a b c Khoo 2007, hlm. 37.
- ^ a b c d e f DeBernardi 2009, hlm. 33.
- ^ a b c d e Harper 2006, hlm. 189.
- ^ Cheah 2013, hlm. 205.
- ^ a b Tourism Malaysia
- ^ DeBernardi 2009, hlm. 32–33.
- ^ a b Davidson & Gitlitz 2002, hlm. 314.
- ^ Neo 2014, hlm. 41.
- ^ White, Emmons & Eveland 2011, hlm. 554.
- ^ The Star 2014.
- ^ Khoo 2006, hlm. 227.
- ^ Rosli, Syajaratulhuda Mohd (12 Oktober 2021). "Kuil di Kek Lok Si terbakar" [Kuil di Kek Lok Si terbakar]. Sinarharian (dalam bahasa Melayu). Diakses tanggal 12 Oktober 2021.
- ^ Lo, Tern Chern (25 Januari 2025). "Kek Lok Si Temple in George Town shines for Chinese New Year". The Star. Diakses tanggal 25 Januari 2025.
- ^ Khoo 2007, hlm. 37–38.
Bibliografi
- Brockman, Norbert (13 September 2011). Encyclopedia of Sacred Places. ABC-CLIO. ISBN 978-1-59884-654-6.
- Cheah, Jin Seng (19 February 2013). Penang 500 Early Postcards. Editions Didier Millet. ISBN 978-967-10617-1-8.
- Davidson, Linda Kay; Gitlitz, David Martin (1 January 2002). Pilgrimage: From the Ganges to Graceland : an Encyclopedia. ABC-CLIO. ISBN 978-1-57607-004-8.
- DeBernardi, Jean Elizabeth (2009). Penang: Rites of Belonging in a Malaysian Chinese Community. NUS Press. ISBN 978-9971-69-416-6.
- Harper, Damian (December 2006). Malaysia, Singapore & Brunei. Ediz. Inglese. Lonely Planet. ISBN 978-1-74059-708-1.
- Khoo, Gaik Cheng (1 January 2006). Reclaiming Adat: Contemporary Malaysian Film and Literature. UBC Press. ISBN 978-0-7748-1173-6.
- Khoo, Salma Nasution (2007). Streets of George Town, Penang. Areca Books. ISBN 978-983-9886-00-9.
- Neo, Kyle (1 May 2014). 108 Places To See Before Nirvana. PartridgeIndia. ISBN 978-1-4828-9734-0.
- "Kek Lok Si". Tourism Malaysia. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-22. Diakses tanggal 22 May 2014.
- "Stand up for moderation". The Star Online. Diakses tanggal 24 March 2015.
- White, Daniel; Ron, Emmons; Eveland, Jennifer (9 June 2011). Frommer's Southeast Asia. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-118-08767-1.
Pranala luar
- Kek Lok Si Temple in Penang Diarsipkan 2015-06-22 di Wayback Machine.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.

