Kepus puser

Kepus puser adalah upacara upacara yang dilakukan oleh masyarakat Bali, Indonesia yang bertepatan dengan lepasnya tali pusar bayi yang dalam anggapan umat Hindu di Bali hal itu sakral dan sudah selayaknya diupcarakan.[1] Biasanya upacara kepus puser dilaksanakan tiga hari pasca tali pusar bayi putus.[2]

Pelaksanaan

Masyarakat Bali percaya bahwa Sang Catur Sanak memiliki peranan yang sangat besar dalam menjaga dan memelihara bayi saat masih dalam kandungan hingga terlahir ke dunia.[2] Pasca terputusnya tali pusar bayi, maka berakhir pula peran Sang Catur Sanakdalam menjaga dan memelihara sang bayi.[2] Sebagai tanda ikatan bayi dengan Sang Catur Sanak, bayi dipakaikan gelang benang di tangannya.[1]

Adapun yang menjadi sarana pembersihan dalam upacara ini yakni;

  1. Banten penelaahan: beras kuning dan daun dadap.[1]
  2. Banten kumara; nasi kuning dan putih, beberapa jenis kue, buah-buahan, canang, lenga wangi, burat wangi, dan canang sari.[1]
  3. Banten labaan; hidangan berupa nasi lengkap dengan lauk-pauknya.[1]
  4. Segehan empat buah dengan warna merah, putih, kuning, dan hitam yang masih-masingnya berisi bawang, jahe dan garam.[1]

Upacara ini dilaksanakan di rumah, tepatnya di ruangan tidur bayi.[1] Pemimpin upacara ini adalah sesepuh dari keluarga yang bersangkutan atau orang tua sang bayi.[1]

Proses Upacara Kepus Puser ini adalah sebagai berikut:

  1. pusar bayi yang telah lepas dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan ke dalam ketupat kukur (ketupat yang berbentuk burung tekukur) disertai dengan rempah-rempah seperti cengkih, pala, lada dan lain-lain, digantung pada bagian kaki dari tempat tidur si bayi.[3]
  2. dibuatkan kumara (pelangkiran) untuk si bayi, tempat menaruh sesajian.[3]
  3. di tempat menanam ari-ari dibuat sanggah cucuk, di bawahnya ditaruh sajen segehan nasi empat warna, dan disanggah cucuk diisi dengan banten kumara.[3]
  4. berdoa kepada Sang Pencipta (Tuhan Yang Maha Esa), memohon keselamatan agar kehidupan si bayi kelak memperoleh keseimbangan secara lahir maupun batin dan menjadi orang yang berguna.[3]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h "Keunikan Upacara Kepus Puser". bali.panduanwisata.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-12-12. Diakses tanggal 14 Juni 2014.10. ;
  2. ^ a b c "Upacara Kepus Puser". jalan2.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-28. Diakses tanggal 14 Juni 2014.10.20. ;
  3. ^ a b c d "Upacara Kepus Puser". wisatadewata.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-04. Diakses tanggal 14 Juni 2014.10.40. ;

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya