Ki Ageng Gumelem

Ki Ageng Gumelem atau Wanakusuma alias Udakusuma alias Hasan Besari adalah seorang panglima perang dari Kerajaan Mataram. Ki Ageng Gumelem di utus oleh Raja Mataram pertama yakni Raden Sutawijaya (Penambahan Senopati) untuk menjaga makom Ki Ageng Giring sekaligus menjadi Demang pertama disana. Pada saat Ki Ageng Gumelem berangkat ke Desa Gumelem yang memiliki luas 972.802 hektar itu, Ki Ageng Gumelem membawa serta pengawal dan para abdi. Di antara abdi sastra, budayawan, seniman dan lain sebagainya. Maka dari itu sampai sekarang banyak kebudayaan Gumelem yang erat kaitannya dengan Mataram, salah satunya Batik dan Empu pandai besi.[1]

Terpecahnya Desa Gumelem

Setelah Ki Ageng Gumelem, Kademangan diteruskan turun temurun yaitu kepada Demang Wiraredja, Cipta Suta I, Cipta Suta II, Mbah Sokaraja, Mbah Beji dan Nurdaiman I. Pada jaman Nurdaiman I, yang merupakan arsitek Mesjid Agung Nur Sulaiman di Banyumas. Gumelem pecah menjadi 2 bagian, yaitu Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon. Gumelem Wetan diwariskan kepada Nurdai sman II, Gumelem Kulon diwariskan kepada Demang Nurasma. Selanjutnya setelah masa pemerintahan Demang II, ada Demang Mertadipa, Dipadipura, Krama Diwirya, Iman Wiredja, Iman Subandi dan yang menjadi Demang terakhir adalah Iman Wasisto pada kisaran tahun 1953. Krama Diwirya sebenarnya bukan Demang, karena Demang Iman Wiredja masih terlalu kecil dan belum mampu memimpin. Maka digantikan Krama Diwirya selama 25 tahun.[1]

Menurut keterangan, Demang terakhir yakni ” Iman Subandi ” memiliki nasib paling hina (miskin). Karena ada undang-undang pengalihan lahan dan pemerintahan. Dia mendaftar menjadi kepala desa, tetapi tidak dipilih oleh warganya. Maka beliau menjual harta bendanya termasuk rumahnya. Itulah sebabnya, bangunan pendopo maupun rumah demangnya sudah hilang dan berganti menjadi bangunan rumah pribadi yang cukup modern. Yang masih tersisa dan menjadi saksi adalah sebuah gerbang dan talud jalan menuju rumah Demang.[1]

Pada masa Demang Imam Subandi, Kademangan Gumelem dirubah menjadi Desa Gumelem pada hari Kamis Legi Tanggal 12 November 1959. Hal ini di dasarkan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tanggal 8 September 1954 dan Pedoman Presiden Nomor Sr.s.3/14/57 Tanggal 13 September 1957.[2]

Peninggalan Ki Ageng Gumelem

Pada masa kepemimpinan Demang Ki Ageng Gumelem atau Ki Ageng Udhakusuma, Setiap perempuan dewasa diwajibkan harus bisa membatik dan masyarakat juga diwajibkan memakai pakaian batik. Dalam perkembangannya, banyak bermunculan kelompok perajin batik tulis di Desa Gumelem yang membuka sebuah usaha dibidang produksi batik tulis. Namun, tidak sedikit dari mereka mulai terbawa arus pasar modern dengan memproduksi batik-batik printing yang tentunya akan merusak citra batik tulis Gumelem itu sendiri, baik dari segi nilai jual batik tulis Gumelem maupun nilai budaya yang ada.[3]

Makam Ki Ageng Gumelem

Lokasi makam Ki Ageng Gumelem berada Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Ki Ageng gumelem dimakamkan di komplek Petilasan Girilangan yang juga merupakan makam Ki Ageng Giring, mertua dari Raden Sutawijaya, Raja Mataram, yang menikah dengan Dewi Nawangwulan. Dinamakan Petilasan Girilangan karena saat menuju ke pemakaman, mayat Ki Ageng Giring menghilang (ilang;jawa) maka makam tersebut dinamakan dengan Girilangan.[3]

Sampai sekarang setiap hari Senin dan Kamis banyak orang yang berziarah ke Makam Ki Ageng Giring ataupun Ki Ageng Gumelem. Setiap malam Kamis Wage, sekitar 200 orang mengadakan Mujjahadah atau Doa bersama. Ketika akhir bulan Sadran, bisa berlipa-lipat para penzirah ke Girilangan.[1]

Referensi

  1. ^ a b c d "kisah kiageng gumelem girilangen kelampok banjarnegara". Sorot Nuswantoro (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-04.
  2. ^ Kompasiana.com (2023-01-04). "Jejak Budaya Tanah Perdikan Kademangan Gumelem". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-11-04.
  3. ^ a b "Makam Girilangan – Pesona Wisata Kabupaten Banjarnegara" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-04.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya