Konfesionalisme

Konfesionalisme adalah sistem pemerintahan yang memadukan agama dan politik, dengan membagi kekuasaan politik secara proporsional antara setiap kelompok agama. Umumnya, konfesionalisme dianggap berbeda dengan teokrasi maupun negara dengan agama resmi, di mana hanya satu agama yang memiliki status khusus dan diperbolehkan memegang kekuasaan. Dalam konfesionalisme, beberapa agama dapat memegang kekuasaan, tetapi setiap agama dijamin dan diberi jatah kekuasaan yang berbeda-beda.

Bentuk pemerintahan

Beberapa negara menggunakan sistem konfesionalisme, baik secara hukum maupun secara praktis. Umumnya, konfesionalisme dilakukan dalam salah satu bentuk berikut:

  1. Mewajibkan jabatan tertentu diisi oleh anggota dari kelompok agama tertentu, sementara jabatan lain diisi oleh anggota dari kelompok agama lain.
  2. Membagi kuota untuk jabatan yang diisi oleh beberapa atau banyak pemegang sekaligus, misalnya anggota parlemen.


Sejak akhir invasi Irak pada tahun 2003, kekuasaan politik dipegang oleh tiga kelompok: Arab Muslim Sunni, Arab Muslim Syiah, dan Kurdi. Meskipun tidak tercantum secara langsung di konstitusi, praktik konfesionalisme di Irak (sering disebut muhasasa) terus dipraktikkan saat ini, di mana presiden Irak selalu seorang Kurdi, ketua parlemen Irak selalu seorang Arab aliran Sunni, dan perdana menteri selalu seorang Arab aliran Syiah[1].

Di Lebanon, konsep konfesionalisme memiliki sejarah yang panjang, dan diterapkan secara ekstensif di hampir setiap institusi pemerintahan. Sesuai Pakta Nasional dan Perjanjian Taif, Presiden selalu seorang Kristen Maronit, Perdana Menteri selalu seorang Sunni, dan Ketua Parlemen Lebanon selalu seorang Syiah.

Meskipun konfesionalisme umumnya diambil sebagai solusi sementara untuk mengatasi ketegangan relasi antaragama "sampai pada waktunya semua jabatan bisa diisi siapa saja"[2], praktik ini umumnya dijalankan dalam waktu yang sangat lama sehingga menjadi permanen de facto. Di Lebanon, hampir semua jabatan dibagi-bagi dengan proporsi sesuai kesepakatan bersama, karena umumnya tidak ada yang tahu proporsi populasi setiap kelompok agama[3]. Konstitusi 1926, yang diamandemen sesuai Perjanjian Taif dan Perjanjian Doha (2008), mengamanatkan Parlemen Lebanon memiliki 54 anggota Kristen dan 54 anggota Muslim[4], masing-masing juga dibagi-bagi lagi sesuai denominasi sesuai dengan populasi dan kesepakatan bersama[5].

Konstitusi Lebanon juga menjamin otonomi bagi 18 kelompok agama yang diakui dalam beberapa bidang kehidupan, seperti pendidikan[6]. Selain itu, sejak 2005, politik Lebanon telah berpolarisasi antara dua kelompok multiagama. Kelompok yang memenangkan pemilu sekalipun, umumnya tidak dapat memerintah sendiri, dan membutuhkan dukungan dari kelompok oposisinya[7].

Di Iran, anggota Majelis Permusyawaratan Islam diwajibkan menganut agama Islam, tetapi tidak ada pembagian spesifik antara Sunni dan Syiah. Konstitusi Iran juga mewajibkan lima kursi di parlemen bagi kelompok minoritas: dua untuk Kristen Armenia, satu untuk Kristen Asiria, satu untuk Yahudi, dan satu untuk Zoroaster. Meskipun demikian, mayoritas jabatan lain dikhususkan bagi penganut Islam Syiah, dan kelompok minoritas tidak diperbolehkan memegang jabatan yang lebih tinggi.

Partai politik

Beberapa negara memiliki satu atau banyak partai politik yang ideologinya berdasarkan agama, contohnya partai demokrat Kristen dan partai yang mendukung Islamisme.

Dalam politik Belanda, istilah "konfesionalisme" mengacu pada partai apa pun yang berdasarkan agama. Partai Belanda yang dianggap "konfesionalis" contohnya Uni Kristen dan Partai Reformasi Belanda, keduanya sama-sama beraliran Protestan.

Beberapa negara melarang partai politik berbasis agama. Alasannya beragam, bisa karena dianggap memecah belah[8], menimbulkan kebencian, merusak tatanan bangsa dan negara, didukung pihak asing, atau karena negara mempraktikkan sekularisme secara ketat. Beberapa larangan juga ditulis secara langsung dalam konstitusi. Contohnya, Konstitusi Turki menyatakan bahwa Turki adalah negara sekuler, jadi Mahkamah Konstitusi menganggap partai Islam melanggar konstitusi. Konstitusi Bulgaria juga melarang partai berbasis agama[9]. Di Portugal, partai politik dilarang menggunakan nama yang berbau agama, meskipun partai tidak dilarang berbasis ideologi agama[10].


Lihat juga

Referensi

  1. ^ "Iraq Elects Pro-Iran Sunni As Parliament Speaker". Radio Free Europe/Radio Liberty (dalam bahasa Inggris). 16 September 2018. Diakses tanggal 2018-10-27.
  2. ^ Lebanese constitution, article 24
  3. ^ Harb, Imad (March 2006). "Lebanon's Confessionalism: Problems and Prospects". United States Institute of Peace. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-07-15. Diakses tanggal 2006-07-30.
  4. ^ Lebanese constitution, article 24 subsection a
  5. ^ Lebanese constitution, article 24 subsection b
  6. ^ Lebanese constitution, articles 9 and 10
  7. ^ Confessionalism and electoral reform in Lebanon, section 3, Arda Arsenian Ekmekji, Ph.D.
  8. ^ Rosenblum, Nancy L. (January 2007). "Banning Parties: Religious and Ethnic Partisanship in Multicultural Democracies". ResearchGate. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-09-10. Diakses tanggal 2019-09-10.
  9. ^ "Constitution". National Assembly of the Republic of Bulgaria. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-08-19. Diakses tanggal 2019-09-10.
  10. ^ "Constitution of the Portuguese Republic - Part I". Diário da República Eletrónico. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-05-17. Diakses tanggal 2019-09-10.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya