Kunyaza

Kunyaza adalah sebutan dalam bahasa Rwanda-Rundi untuk suatu praktik seksual yang ditemukan di kawasan Danau-Danau Besar di Afrika Timur dan bertujuan untuk memfasilitasi orgasme perempuan serta ejakulasi perempuan selama persetubuhan.

Terminologi

Kata kunyaza dalam bahasa Rwanda-Rundi berasal dari kata kerja kunyaàra, yang berarti "buang air kecil", tetapi juga merujuk pada ejakulasi wanita yang dicapai melalui praktik tersebut.[1] Praktik ini dikenal dengan berbagai nama di berbagai wilayah; di Uganda, istilah yang umum digunakan adalah kakyabali (sering ditransliterasikan menjadi kachabali dalam ejaan berbahasa Inggris) atau "Western Jazz" dalam bahasa gaul, karena prevalensinya di wilayah-wilayah barat seperti Ankole.[2] Seiring dengan mulai digunakannya istilah tersebut dalam sumber-sumber berbahasa Inggris di Eropa dan Amerika Utara, istilah ini dapat dianggap sebagai kata dalam bahasa Inggris yang berasal dari Afrika.

Persebaran geografis

Kunyaza terutama ditemukan di Rwanda, Burundi, wilayah barat Uganda, wilayah barat Tanzania, bagian timur Republik Demokratik Kongo, serta beberapa wilayah di Kenya.[3] Sebuah survei pada tahun 2008 terhadap responden laki-laki Rwanda menunjukkan bahwa wisatawan perempuan asal Eropa yang berkunjung ke negara tersebut diperkenalkan pada praktik ini oleh laki-laki setempat.[4] Sepanjang dekade 2010-an, praktik ini menyebar ke Kenya melalui media sosial.[5][6]

Sejarah

Kunyaza umumnya dianggap sebagai praktik tradisional di Rwanda. Menurut tradisi rakyat, praktik ini telah ada sejak masa pemerintahan Dinasti Ketiga. Dikisahkan bahwa seorang ratu memilih salah seorang pengawalnya untuk berhubungan seksual dengannya, tetapi pengawal tersebut mengalami kecemasan performa sehingga gagal melakukan penetrasi. Sebagai gantinya, penis sang pengawal bergesekan dengan labia minora dan klitoris sang ratu, yang justru memberinya kepuasan seksual.[7]

Teknik

Dipopulerkan oleh Dr. Nsekuye Bizimana sebagai cara yang aman untuk mencapai orgasme wanita, yang sering kali disertai ejakulasi, kunyaza dilakukan melalui dua tahap yang berlangsung secara berurutan, yaitu tahap tanpa penetrasi dan tahap penetratif:

  1. Pasangan laki-laki mula-mula merangsang labia minora pasangan perempuan dengan cara mengetukkan dan menggosoknya menggunakan penis. Setelah tingkat gairah tertentu tercapai, rangsangan dilanjutkan pada permukaan bagian dalam labia minora dan vestibulum vulva, termasuk muara uretra, dengan cara yang sama, kemudian diikuti dengan stimulasi pada klitoris, vestibulum vulva, labia minora, dan lubang vagina.[8] Penghilangan rambut kemaluan pada pasangan perempuan dianjurkan agar manipulasi penis dapat dilakukan dengan lebih nyaman.[9]
  2. Pasangan laki-laki kemudian melakukan penetrasi ke dalam vagina dengan gerakan dorongan dangkal yang bergantian (gucuga) di sekitar lubang vagina dan dorongan dalam (gucumita) yang menekan serviks, sambil mempertahankan gerakan memutar yang lebar di antara dinding-dinding vagina menyerupai gerakan "memutar sekrup" selama penetrasi. Gerakan tersebut sering kali dipermudah dengan menjepit penis di antara jari tengah dan jari telunjuk.[8][10][11]

Meskipun demikian, peneliti lain menekankan bahwa versi yang diperkenalkan oleh Dr. Bizimana menyimpang dari praktik kunyaza tradisional karena sepenuhnya menghilangkan teknik pemanjangan labia yang dikenal sebagai gukuna, padahal teknik tersebut dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kunyaza.[1]

Signifikansi

Karena kunyaza memerlukan komitmen waktu dan, dari pihak laki-laki, pengendalian diri, praktik ini dipandang sebagai penanda kualitas suatu hubungan. "Seorang laki-laki hanya melakukan kunyaza kepada perempuan yang benar-benar ia sayangi, sedangkan melakukan kunyaza kepada seorang pekerja seks akan dianggap tidak lazim."[12]

Menurut pendidik kesehatan seksual asal Amerika Serikat, Angelica Lindsey-Ali, yang juga dikenal sebagai The Village Auntie, kunyaza merupakan "teknik yang paling mudah dan paling efektif untuk mencapai ejakulasi wanita". Seksolog Rwanda Vestine Dusabe menyatakan bahwa 90% perempuan mengalami ejakulasi wanita melalui praktik kunyaza.[13]

Menurut majalah perempuan internasional Cosmopolitan, kunyaza merupakan praktik heteroseksual yang direkomendasikan bagi perempuan untuk memperoleh kenikmatan seksual tanpa penetrasi.[14]

Dalam buku dan media

Versi kunyaza yang telah disistematisasi diperkenalkan kepada masyarakat Barat melalui buku Weiblicher Orgasmus und weibliche Ejakulation dank afrikanischer Liebeskunst (2005) dan Le secret de l’amour à l’africaine (2008), karya Nsekuye Bizimana, seorang pakar pengobatan tradisional sekaligus warga Rwanda yang bermukim di Jerman.[3] Terjemahan Le secret de l’amour à l’africaine dalam bahasa Tionghoa diterbitkan di Hong Kong pada tahun 2010.[15]

Kunyaza dan praktik-praktik seksual Rwanda lainnya ditampilkan dalam dokumenter Le Sexe autour du monde: Rwanda yang disiarkan oleh TV5 Québec Canada pada Januari 2011.[16][17] DVD instruksional Kunyaza - Afrikanische Liebeskunst, yang disutradarai oleh pembuat film erotis Pierre Roshan, dirilis oleh IntimateFilm dari Jerman pada tahun 2011.[18] Praktik ini (dengan nama Uganda, kachabali) menjadi salah satu topik dalam dokumenter The Sunny Side of Sex: Uganda yang ditayangkan oleh SBS One pada Desember 2012.[19][20] Majalah berita ProSieben, Unter fremden Decken, menayangkan episode Sex in Ruanda yang berfokus pada kunyaza pada November 2013.[21]

Pada tahun 2016, dokumenter Sacred Water karya sineas Belgia Olivier Jourdain, yang mengangkat kunyaza sebagai pokok bahasannya, ditayangkan perdana dalam Festival Film Dokumenter Internasional Amsterdam.[22] Dokumenter tersebut dirilis melalui DocsOnline pada tahun 2017.

Kunyaza: The Secret to Female Pleasure (2018), karya Habeeb Akande, merupakan buku pertama berbahasa Inggris yang diterbitkan mengenai topik ini.[23]

Pada Mei 2020, BBC World Service menyiarkan "The Orgasm Gap", sebuah episode dari The Documentary Podcast sebagai bagian dari musim Life Changes. Dua reporter perempuan, yang hanya disebut sebagai Lily dan Kay, membahas diabaikannya aspek kenikmatan seksual dalam pendidikan seks di Britania Raya, lalu melakukan perjalanan ke Rwanda untuk mempelajari kunyaza sebagai praktik yang berfokus pada kenikmatan seksual perempuan, yang bertujuan membawa perempuan mencapai orgasme dan mengeluarkan cairan yang disebut "air suci" (sacred water). Dalam perjalanan tersebut, mereka mewawancarai seksolog Vestine Dusabe, tetapi juga mendapati bahwa pemanjangan labia merupakan praktik budaya yang berkaitan dengan kunyaza, yang menimbulkan kekhawatiran bagi mereka.[24]

Referensi

  1. ^ a b Plaisirs croisés : gukuna-kunyaza. Missions, corps et sexualités dans le Rwanda contemporain, Michela Fusaschi, Genre, sexualité & société, Autumn 2012
  2. ^ Culture of Pulling - Weddings in Uganda Diarsipkan 2014-04-15 di Wayback Machine.
  3. ^ a b Kunyaza, the secret to female orgasm, AfrikNews, 30 July 2008
  4. ^ Oxlund, Bjarke (2011) [1st pub. 2011]. "Let's Talk About Sex: Comparing Notes from Qualitative Research on Men, Relationships and Sex in South Africa and Rwanda". Dalam Barrett, Barbara Ann & Groes-Green, Christian (ed.). Studying Intimate Matters: Engaging Methodological Challenges in Studies on Gender, Sexuality and Reproductive Health in sub-Saharan Africa. Fountain Publishers. hlm. 103. ISBN 978-9970-02-999-0.
  5. ^ New sex craze that has Nairobi women begging for more, Standard Digital News, 23 March 2015
  6. ^ Former TV Presenter Offers Sex Advice To Kenyan Ladies Diarsipkan 2020-10-29 di Wayback Machine., Nairobi Wire, 9 June 2014
  7. ^ Matthew Stein. "Kunyara". AskMen.
  8. ^ a b Dr. Nsekuye Bizimana, Kunyaza, a traditional sexual technique for triggering female orgasm at heterosexual encounters. Sexologies (2010)
  9. ^ "Kunyaza, Sex Trick That Trigger Woman's Orgasm In Five Minutes". Brian Kwesiga. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-09-07. Diakses tanggal 2016-01-07.
  10. ^ "Kunyaza: An Afrikan Sexual Technique". Seba Damani.
  11. ^ "Le kunyaza, une méthode de nos ancêtres qui fait jouir intensement les femmes pendant les rapports". PAROLE D'AFRIQUE. 24 July 2013.
  12. ^ Barrett, Barbara Ann; Groes-Green, Christian (2011). Studying Intimate Matters: Engaging Methodological Challenges in Studies on Gender, Sexuality and Reproductive Health in Sub-Saharan Africa (dalam bahasa Inggris). Christian Groes-Green. hlm. 103. ISBN 9789970251308.
  13. ^ "Kunyaza Book Reveals Secrets to Female Pleasure". Rabaah Publishers. 27 December 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 31 December 2018.
  14. ^ Gulla, Emily; Fox, Alix (29 May 2024). "Non penetrative sex ideas that are just as pleasurable (if not more!)". Cosmopolitan.
  15. ^ 商務印書館. "非洲慾經". cp1897.com.hk.
  16. ^ "Gukuna et Kunyaza [NSFW] ou y a-t-il un rwandais dans la salle ??? · Peperuka". Peperuka: un blog du Kenya. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-28. Diakses tanggal 2013-09-08.
  17. ^ "Le Sexe autour du monde: Rwanda".
  18. ^ ALIVE Vertrieb und Marketing in der Entertainmentbranche AG. "AL!VE AG - Vertrieb - Entertainmentbranche". alive-ag.de. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-02-17. Diakses tanggal 2014-07-28.
  19. ^ "Documentaryprogram". Programs.
  20. ^ "An interesting Ugandan sex tip". K.L.A.W. Tips, tricks and techniques for a more fulfilling sex life. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-10-31.
  21. ^ "Sex in Ruanda". Unter fremden Decken - ProSieben. 9 November 2013.
  22. ^ "Sacred Water". IDFA.
  23. ^ Akande, Habeeb (2018). Kunyaza: The Secret to Female Pleasure. Rabaah Publishers. ISBN 9780957484566.
  24. ^ "The Orgasm Gap". The Documentary Podcast. BBC World Service. 30 May 2020.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya