Kuto Gawang

Palembang dikenal sebagai Kota Pusaka sekaligus kota tertua di Indonesia. Sepanjang lintas waktu, kota ini menjadi saksi bisu pasang surut berbagai sistem pemerintahan besar, mulai dari Kedatuan Sriwijaya, Kerajaan Palembang, Kesultanan Palembang Darussalam, era dagang VOC, masa kolonial Belanda dan Inggris, hingga akhirnya menjadi bagian dari Republik Indonesia. Warisan sejarah yang panjang ini meninggalkan banyak situs penting, salah satunya adalah bekas Keraton Kuto Gawang[1].

Sejarah

Kedatangan Cornelisz Ockerse ke Palembang bertujuan untuk merealisasikan pelaksanaan kontrak dagang yang telah disepakati antara kongsi dagang Belanda (VOC) dengan pihak Kerajaan Palembang. Komoditas utama yang menjadi fokus dalam perjanjian dagang tersebut meliputi timah putih serta komoditas rempah-rempah bernilai tinggi, khususnya lada putih dan lada hitam.

Pada abad ke-16 hingga awal abad ke-17, pusat pemerintahan atau keraton (kuto) Palembang berlokasi di wilayah Seberang Ilir, tepatnya di sisi sebelah kiri aliran Sungai Musi. Pusat pemerintahan gelombang pertama ini dikenal dengan nama Keraton Kuto Gawang (yang saat ini areanya telah beralih fungsi menjadi kompleks PT Pupuk Sriwijaya/Pusri) [2].

Lokasi

Pada masanya, Keraton Kuto Gawang berdiri di lokasi yang sangat strategis karena posisinya bertindak sebagai "pintu gerbang utama" untuk mengakses wilayah Palembang. Selain keunggulan geografis tersebut, kompleks keraton ini juga diperkuat oleh sistem pertahanan yang kokoh berupa pagar keliling. Pagar pelindung tersebut dikonstruksi dari balok-balok kayu unglen berukuran tebal yang berfungsi sebagai benteng utama untuk menjaga keamanan dan melindungi pusat pemerintahan dari berbagai ancaman luar [3].

Aksesibilitas: Pulau Kemaro-Plaju

Jejak sejarah kawasan keraton (kuto) Kuto Gawang melewati jalur Sungai Rengas. Selain gerbang utama tersebut, terdapat pula beberapa pintu masuk sekunder yang ditempatkan secara taktis di sisi kiri, kanan, serta bagian belakang kawasan pertahanan. Jauh sebelum kedatangan kolonial Belanda, sistem keamanan di sisi timur keraton sudah diperkuat secara masif melalui pembangunan jaringan kubu pertahanan di sekitar Pulau Kemaro (Kembara). Wilayah perairan ini dipagari oleh lapisan cerucuk (pasak) dari kayu unglen tebal yang ditanam melintang memotong arus, membentang dari pesisir hilir hingga ke seberang hulu Sungai Musi, lengkap dengan rintangan rantai besi raksasa.

Rangkaian benteng pelindung di sektor hilir ini terdiri dari tiga kubu pertahanan utama:

  1. Benteng Manguntama: Kubu pertahanan yang dibangun langsung di area Pulau Kemaro;
  2. Benteng Martapura: Pos pertahanan yang diposisikan di sebelah hilir kawasan Baguskuning;
  3. Benteng Tambakbaja: Benteng pertahanan terbesar dan terkuat yang didirikan tepat di wilayah muara Plaju untuk menghadang armada musuh sejak dini [4].

Referensi

  1. ^ Algofran. "Keraton Kuto Gawang Pusat Pemerintahan Kerajaan Palembang Abad XVII & XVII". Ummat TV. Diakses tanggal 2026-06-20.
  2. ^ "Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam « Keraton Kesultanan Palembang Darussalam". Keraton Kesultanan Palembang Darussalam (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-06-20.
  3. ^ admin (2020-10-01). "Keraton Kuto Gawang - Bangunan Bersejarah yang Dihanguskan Belanda". Biro Pengembangan Inovasi Dan Karir Universitas Medan Area (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-06-20.
  4. ^ "Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam « Keraton Kesultanan Palembang Darussalam". Keraton Kesultanan Palembang Darussalam (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-06-20.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya