Lubuk Putih

Lubuk Putih adalah sebuah destinasi wisata alam yang terletak di Desa Seleman, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Destinasi ini berada di sepanjang aliran Sungai Enim dan menawarkan pemandangan tebing batu putih yang menjulang tinggi serta air sungai yang jernih. Lubuk Putih baru mulai dikenal secara luas oleh masyarakat sekitar pada pertengahan tahun 2019 setelah viral di media sosial.[1][1]Wisata alam ini dikelola oleh masyarakat Desa Seleman, khususnya Karang Taruna Desa Seleman, sejak awal pengembangannya. Kawasan ini dibuka setiap hari selama 24 jam dan tidak dikenakan biaya tiket masuk, namun pengunjung dikenakan biaya parkir kendaraan.

Etimologi Nama

[2]Nama "Lubuk Putih" berasal dari dua kata yang menggambarkan karakteristik fisik lokasi tersebut. Kata "lubuk" dalam bahasa lokal Sumatera Selatan berarti tempat yang dalam di sungai, sedangkan "putih" merujuk pada warna tebing yang terdapat di atas lubuk tersebut.

Menurut Mukhtamiri SAP, yang dikenal dengan panggilan Tam, salah seorang pengelola wisata Lubuk Putih, nama tersebut diberikan karena tempat tersebut dahulu merupakan lubuk (tempat dalam) di sungai dan di atasnya terdapat tebing tinggi dan terjal berwarna putih. Kombinasi antara lubuk yang dalam dan tebing berwarna putih inilah yang kemudian menjadi dasar penamaan kawasan ini sebagai Lubuk Putih.[2]

Letak Geografis

Lubuk Putih terletak di Desa Seleman, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan dengan koordinat geografis sekitar 4QFR+4W7. Desa Seleman sendiri memiliki luas wilayah 63,0 km² dan menurut data tahun 2024 memiliki jumlah penduduk sebanyak 2.702 jiwa, terdiri dari 1.395 laki-laki dan 1.307 perempuan.[3]

Kecamatan Tanjung Agung where Lubuk Putih berada terletak pada ketinggian 500-800 meter di atas permukaan laut (mdpl), merupakan salah satu kecamatan dengan elevasi tertinggi di Kabupaten Muara Enim. Daerah ini merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan yang membentang di bagian barat daya Kabupaten Muara Enim.[3]

Dari Kota Muara Enim, lokasi Lubuk Putih berjarak sekitar 29 kilometer dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Untuk menuju lokasi, pengunjung harus mencapai simpang SDN 22 Tanjung Agung di jalan Lintas Sumatera, kemudian melanjutkan perjalanan sejauh 2 kilometer melalui jalan menuju lokasi wisata.[4]

Sejarah dan Perkembangan

[4]Lubuk Putih adalah destinasi wisata yang relatif baru di Kabupaten Muara Enim. Sebelum tahun 2019, kawasan ini belum dikenal secara luas oleh masyarakat dan hanya digunakan oleh warga lokal sekitar untuk beraktivitas, seperti mandi dan bermain air.Wisata Lubuk Putih mulai dikenal dan viral di kalangan masyarakat sekitar sebulan sebelum akhir September 2019, setelah informasi mengenai keindahan alamnya tersebar di media sosial. Viralitas tersebut menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah, terutama pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional.

Pengelolaan wisata Lubuk Putih dimulai sekitar Agustus 2019 oleh Mukhtamiri SAP dan sejumlah pemuda dari Desa Seleman. Sejak saat itu, mereka secara bertahap melakukan penataan kawasan dengan membangun berbagai fasilitas dasar demi kenyamanan pengunjung. Fasilitas yang telah disediakan oleh pengelola mencakup tempat parkir, tempat duduk untuk wisatawan, area selfie, perahu, dan ban untuk bermain di sungai. Pengelola juga menawarkan layanan perahu dan olahraga tubing menggunakan ban dengan tarif Rp 5. 000 per jam.

Kesalahan pengutipan: Tanda pembuka <ref> tidak sah atau mempunyai nama yang salah.Seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung, Karang Taruna Desa Seleman resmi mengelola wisata ini secara komunitas. Para pengelola berharap bahwa ke depannya pengelolaan dapat beralih menjadi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) atau tetap berada di bawah Karang Taruna untuk meningkatkan perekonomian desa dan memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat, terutama anak muda, sebagai pemandu, petugas keamanan, penyewa alat, dan penjual souvenir.[5]

Kondisi Alam dan Lingkungan

Kawasan wisata Lubuk Putih memiliki kondisi alam yang didominasi oleh aliran sungai dan tebing batu. Lokasi ini terletak di sepanjang aliran Sungai Enim, yang merupakan anak sungai dari Sungai Lematang di Provinsi Sumatera Selatan. Sungai Enim memiliki panjang 86,31 kilometer dengan luas daerah pengaliran mencapai 949 km² dan debit air rata-rata bulanan sebesar 56,1 m³/detik. Sungai ini mengalir menuju muara dari berbagai anak sungai yang bersumber dari pegunungan Bukit Barisan, salah satunya berasal dari mata air Danau Tumutan Tujuh yang terletak di Gunung Patah.[6]

[4]Tebing-tebing di Lubuk Putih menjulang tinggi dan memiliki warna putih yang khas, menjadi ciri visual utama kawasan ini. Bentuk tebing yang tinggi dan terjal tersebut menciptakan pemandangan alam yang indah, berpadu dengan aliran air sungai yang jernih. Air Sungai Enim di kawasan Lubuk Putih sangat jernih, memungkinkan pengunjung untuk melihat dasar sungai saat mandi atau bermain air. Kejernihan air ini merupakan karakteristik umum sungai yang berada di daerah hulu, yang biasanya memiliki badan sungai yang dangkal, sempit, tebing curam dan tinggi, arus yang cepat, serta kandungan oksigen terlarut yang sangat tinggi.[7]

Kawasan ini memiliki iklim tropis dengan curah hujan bulanan yang cukup tinggi. Data mengenai curah hujan di daerah sejenis di Sumatera Selatan menunjukkan rata-rata curah hujan setiap bulan berkisar antara 180-595 mm, dengan bulan Januari dan Februari sebagai bulan dengan curah hujan tertinggi. Suhu udara di daerah ini berkisar antara 23°C hingga 34°C.[8]

Karakteristik Sungai dan Tebing Batu

Sungai Enim yang mengalir di kawasan Lubuk Putih memiliki karakteristik khas sungai di daerah hulu pegunungan. Badan sungai di lokasi ini relatif dangkal dan sempit dengan tebing yang curam dan tinggi. Arus sungai berjalan cepat dengan volume air yang kecil, sementara kandungan oksigen terlarut sangat tinggi sehingga airnya menjadi jernih dan tidak terjadi endapan.[9]

[1]Air sungai yang jernih di Lubuk Putih memungkinkan pengunjung untuk mandi dan bermain air dengan aman. Pengunjung dapat langsung mandi untuk membasuh keringat dan menyegarkan tubuh sambil memanjakan mata memandang hamparan tebing batu putih dan aliran sungai yang jernih.[10]

Tebing batu di Lubuk Putih merupakan fitur geografis yang paling menonjol di kawasan ini. Tebing tersebut menjulang tinggi dengan warna putih yang khas, menciptakan kontras visual yang menarik dengan air sungai yang jernih. Bentuk tebing yang tinggi dan terjal merupakan hasil dari proses erosi sungai yang berlangsung selama ribuan tahun.[11]

Di sekitar kawasan Lubuk Putih juga terdapat batu bernama "Labi" yang sebesar gajah karena bentuknya seperti binatang labi (kadal besar). Batu ini menjadi salah satu objek menarik yang dapat dilihat oleh pengunjung di kawasan wisata. Selain Lubuk Putih, di belakang kawasan ini terdapat juga air terjun Apah yang berasal dari Sungai Apah. Air terjun ini dapat diakses dengan berjalan kaki memakan waktu sekitar 30 menit dari lokasi Lubuk Putih.[12]

Keanekaragaman Hayati

[2]Kawasan Lubuk Putih terletak di daerah yang merupakan bagian dari ekosistem pegunungan Bukit Barisan, yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Sungai Enim sebagai badan air utama di kawasan ini mendukung kehidupan berbagai jenis ikan dan biota air lainnya.[13]

Sungai Enim merupakan salah satu sungai yang terdapat di Sumatera Selatan yang secara administratif berada di Kabupaten Muara Enim. Sebagai sungai di daerah hulu dengan karakteristik arus cepat dan oksigen terlarut tinggi, sungai ini memiliki populasi ikan yang beragam meskipun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah hilir dan muara.

Kondisi air yang jernih dan bersih di Lubuk Putih merupakan indikator kualitas lingkungan yang baik. Sungai dengan kandungan oksigen terlarut sangat tinggi dan suhu yang rendah seperti di Lubuk Putih umumnya mendukung kehidupan berbagai jenis ikan air tawar yang adaptif terhadap kondisi tersebut.[14]

Daerah sekitar pegunungan Bukit Barisan Lubuk Putih berada merupakan habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna asli Sumatera Selatan. Kawasan ini merupakan bagian dari ekosistem yang masih relatif alami dibandingkan dengan daerah yang telah banyak mengalami perubahan akibat aktivitas manusia.

Potensi Pariwisata

Lubuk Putih memiliki berbagai potensi pariwisata yang dapat dikembangkan untuk menarik wisatawan. Karakteristik utama yang menjadi daya tarik meliputi tebing batu putih yang menjulang tinggi dan air Sungai Enim yang jernih mengalir. Kombinasi antara fitur geologis (tebing) dan hidrologis (sungai jernih) menciptakan pemandangan alam yang indah dan unik.[15]

Potensi wisata air di Lubuk Putih cukup besar mengingat kondisi sungai yang memungkinkan berbagai aktivitas seperti mandi, bermain air, perahu, dan tubing. Pengunjung dapat menikmati aktivitas olahraga tubing menggunakan ban dengan tarif Rp 5.000 per jam.

Kawasan ini juga memiliki potensi untuk wisata fotografi dan "selfie" karena keindahan alamnya yang dianggap instagramable. Pengelola telah menyediakan tempat selfie khusus untuk pengunjung yang ingin mengambil foto dengan latar tebing putih dan sungai jernih.

Lubuk Putih juga dapat digunakan untuk aktivitas berkemah, free wedding (pesta pernikahan sederhana), dan makan bersama (bekelah). Fleksibilitas penggunaan kawasan untuk berbagai aktivitas rekreasi kelompok memperkuat potensi wisata ini sebagai destinasi wisata keluarga dan komunitas.

Dengan perkembangan pengunjung yang meningkat, terutama pada akhir pekan, Lubuk Putih berpotensi menjadi destinasi wisata andalan Kabupaten Muara Enim. Pengelola berharap pengembangan wisata ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi desa melalui pembentukan Bumdes atau pengelolaan oleh Karang Taruna.[16]

Aktivitas Wisata

Pengunjung di Lubuk Putih dapat melakukan berbagai aktivitas wisata air dan rekreasi alam. Aktivitas utama yang tersedia meliputi:

  1. Mandi dan Bermain Air: Pengunjung dapat langsung mandi di sungai untuk membasuh keringat dan menyegarkan tubuh. Air sungai yang jernih memungkinkan pengunjung melihat dasar sungai saat bermain air.: Pengunjung dapat langsung mandi di sungai untuk membasuh keringat dan menyegarkan tubuh. Air sungai yang jernih memungkinkan pengunjung melihat dasar sungai saat bermain air.
  2. Perahu: Pengelola menyediakan perahu untuk pengunjung yang ingin menikmati aliran sungai dengan lebih aman dan nyaman.
  3. Tubing: Olahraga tubing menggunakan ban mobil atau ban khusus dapat dilakukan dengan tarif Rp 5.000 per jam. Aktivitas ini merupakan salah satu daya tarik utama bagi pengunjung yang menginginkan pengalaman bermain air yang lebih dinamis.
  4. Fotografi dan Selfie: Kawasan ini menyediakan tempat selfie khusus dengan latar tebing putih dan sungai jernih yang dianggap instagramable. Keindahan alam Lubuk Putih menarik pengunjung untuk mengambil foto sebagai dokumentasi perjalanan.
  5. Berkemah: Lokasi Lubuk Putih kadang-kadang digunakan warga untuk berkemah, terutama pada akhir pekan dan libur nasional.
  6. Free Wedding dan Bekelah: Kawasan ini juga dapat digunakan untuk acara free wedding (pesta pernikahan sederhana) dan makan bersama (bekelah) oleh kelompok pengunjung.
  7. Jalan Kaki ke Air Terjun Apah: Pengunjung yang tertarik dapat berjalan kaki sekitar 30 menit dari Lubuk Putih untuk menuju air terjun Apah yang berada di belakang kawasan.

Aktivitas wisata di Lubuk Putih paling ramai dikunjungi pada hari Sabtu dan Minggu serta libur nasional. Hampir setiap hari kawasan ini ramai dikunjungi masyarakat, menunjukkan popularitas destinasi ini yang terus meningkat.

Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Lokal

Pengembangan wisata Lubuk Putih sejak 2019 telah memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Desa Seleman. Meskipun pengelolaan masih dalam tahap awal dan fasilitas masih terbatas, aktivitas wisata ini mulai menciptakan peluang kerja bagi penduduk lokal. Pengelola wisata Lubuk Putih saat ini adalah Karang Taruna Desa Seleman, yang terdiri dari anak-anak muda desa. Pengelolaan oleh komunitas lokal ini memastikan bahwa manfaat ekonomi dari wisata langsung diterima oleh masyarakat Desa Seleman.[17]

Pengelola berharap dengan kemajuan wisata ini, pengelolaan dapat beralih menjadi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) atau tetap di bawah Karang Taruna untuk meningkatkan ekonomi desa. Rencana ini bertujuan agar desa dapat maju dan masyarakat terutama anak muda bisa bekerja sebagai:

  1. Gaet (pemandu wisata)
  2. Keamanan (petugas keamanan kawasan)
  3. Penyewaan (petugas penyewaan alat perahu dan ban)
  4. Berjualan souvenir (penjual souvenir dan makanan)
  5. Lain-lain (berbagai pekerjaan pendukung wisata lainnya)

Saat ini, biaya parkir kendaraan yang dikenakan kepada pengunjung adalah Rp 10.000 untuk mobil dan Rp 5.000 untuk motor, yang dikelola oleh Karang Taruna Desa Seleman. Layanan perahu dan tubing juga dikenakan tarif Rp 5.000 per jam, yang merupakan sumber pendapatan tambahan bagi pengelola.

Pengembangan wisata ini juga berpotensi meningkatkan ekonomi lokal melalui penjualan makanan, minuman, dan barang kebutuhan pengunjung yang dapat dilakukan oleh warga setempat. Kegiatan berkemah, free wedding, dan bekelah yang dilakukan di kawasan ini juga menciptakan peluang bagi usaha kuliner lokal.[18]

Pelestarian Lingkungan

Pelestarian lingkungan di kawasan Lubuk Putih menjadi perhatian penting mengingat karakteristik alam yang masih relatif asli. Karang Taruna Desa Seleman sebagai pengelola berupaya melakukan penataan kawasan secara bertahap sesuai kemampuan yang dimiliki.[19]

Fasilitas yang telah disediakan pengelola meliputi tempat parkir, tempat duduk wisatawan, tempat selfie, perahu, dan ban untuk bermain di sungai. Penyediaan fasilitas dasar ini bertujuan untuk mengatur aktivitas pengunjung agar tidak merusak lingkungan sekitar.

Kondisi air sungai yang jernih di Lubuk Putih merupakan indikator bahwa kualitas lingkungan masih baik. Untuk mempertahankan kondisi ini, pengelola perlu memastikan bahwa aktivitas pengunjung tidak menyebabkan pollution atau kerusakan ekosistem sungai.

Kawasan Lubuk Putih berada di daerah pegunungan Bukit Barisan yang merupakan ekosistem penting bagi keanekaragaman hayati Sumatera Selatan. Pelestarian lingkungan di kawasan ini juga berkontribusi pada menjaga fungsi ekosistem pegunungan sebagai daerah penangkap air dan habitat flora-fauna lokal.[20]

Pengelola berharap ada bantuan dari Pemerintah maupun perusahaan untuk pembangunan fasilitas permanen seperti toilet, yang akan mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Toilet permanent yang belum ada saat ini merupakan kendala yang dihadapi warga untuk buang air kecil maupun besar, sehingga pembangunan toilet permanen akan mendukung pelestarian lingkungan dengan mengurangi praktik buang air di sungai atau area terbuka.[21]

Kegiatan Khusus dan Event di Kawasan Lubuk Putih

Kawasan wisata Lubuk Putih tidak hanya menjadi destinasi wisata alam biasa, tetapi juga telah menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan khusus yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif Desa Seleman. Pada tanggal 27 Februari 2021, Plh. Bupati Muara Enim Dr. H. Nasrun Umar, S.H., M.M. membuka kegiatan Festival Durian di tepian Sungai Enim, kawasan wisata Lubuk Putih, Desa Seleman, Kecamatan Tanjung Agung.[22]

Kesalahan pengutipan: Tanda pembuka <ref> tidak sah atau mempunyai nama yang salah.Dalam kegiatan Festival Durian tersebut, selain menikmati manisnya durian Muara Enim, Plh. Bupati juga meluncurkan Kain Jumputan Dehian, yaitu kain jumputan bermotif durian sebagai inovasi kerajinan khas dari Desa Seleman. Kain jumputan dehian ini merupakan buatan masyarakat Desa Seleman dan merupakan salah satu inovasi desa untuk memberikan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan para pengrajin.

Kerajinan kain jumputan dehian ini sudah terjual sampai ke Belanda dan Jepang, menunjukkan bahwa produk lokal dari Desa Seleman memiliki kualitas yang dapat bersaing di pasar internasional. Plh. Bupati Muara Enim juga menginginkan Desa Seleman, Kecamatan Tanjung Agung menjadi pilot project pengembangan potensi desa, yang disampaikan dalam acara festival durian dan launching kain jumputan dehian di kawasan wisata Lubuk Putih.[23]

Desa Seleman menjadi pilot project Program Satu Desa Satu Inovasi, yang menunjukkan bahwa kawasan wisata Lubuk Putih memiliki peran strategis dalam pengembangan potensi desa di Kabupaten Muara Enim. Kegiatan semacam ini demonstrating bahwa Lubuk Putih bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga pusat pengembangan ekonomi kreatif dan inovasi desa.

Kualitas Air Sungai Enim di Kawasan Lubuk Putih

Kualitas air Sungai Enim di kawasan Lubuk Putih merupakan parameter penting yang menentukan kelayakan kawasan ini sebagai destinasi wisata air. Berdasarkan penelitian mengenai kualitas air Sungai Enim yang dilakukan di Kabupaten Muara Enim, hasil analisis menunjukkan bahwa hanya parameter pH yang masih memenuhi baku mutu sedangkan parameter TSS (Total Suspended Solids), Fe (Iron), dan Mn (Manganese) tidak memenuhi baku mutu air kelas I sesuai PP RI No. 22 Tahun 2021.[24]

[1]Penelitian yang lebih lanjut mengenai status kualitas air dan sedimen Sungai Enim menunjukkan bahwa water quality of the Enim River exceeds acceptable standards for TSS, Iron (Fe), and Manganese (Mn). Overall, the Enim River's water quality is classified as Mildly to Moderately Polluted (tercemar ringan hingga sedang). Namun, perlu dicatat bahwa penelitian ini umumnya dilakukan di bagian hilir Sungai Enim yang lebih dekat dengan area pertambangan dan aktivitas industri. Di kawasan Lubuk Putih yang berada di daerah hulu dengan karakteristik sungai dangkal, sempit, tebing curam dan tinggi, arus cepat, serta kandungan oksigen terlarut sangat tinggi, kualitas air cenderung lebih baik dibandingkan dengan bagian hilir.[25]

Kondisi air yang jernih di Lubuk Putih yang memungkinkan pengunjung untuk melihat dasar sungai saat mandi atau bermain air mengindikasikan bahwa kualitas air di kawasan ini masih relatif baik. Air sungai dengan kandungan oksigen terlarut sangat tinggi dan suhu yang rendah seperti di Lubuk Putih umumnya mendukung kehidupan berbagai jenis ikan air tawar yang adaptif terhadap kondisi tersebut.

Perkembangan Pariwisata Sumatera Selatan dan Dampak bagi Lubuk Putih

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat perkembangan pariwisata di Sumatera Selatan mengalami penurunan sebesar 2,57 persen secara year on year pada Juli 2024. Namun, tercatat ada kenaikan jumlah wisatawan nusantara ke Sumsel selama periode Januari-Juli 2025 mencapai 15,55 juta kunjungan.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumatera Selatan memetakan tiga wilayah sebagai fokus pengembangan pariwisata di provinsi tersebut: Palembang, Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, dan Pagaralam. Ketiga daerah yang diharapkan menjadi magnet wisata Sumsel ini diharapkan dapat dikembangkan lebih jauh.

Namun, yang masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) baru dua, yakni Palembang dan Pagaralam yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Kabupaten Muara Enim, termasuk Lubuk Putih, belum masuk dalam KSPN namun memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata pendukung.

Pemerintah menargetkan pencapaian 13,2 juta perjalanan pariwisata domestik dengan menghelat beberapa event penting, seperti Gerakan Bangga Berpariwisata di Indonesia, Festival Sriwijaya, Sriwijaya Travel Fair, dan sejumlah event lain. Pemprov Sumatra Selatan aktif melakukan sejumlah inisiatif dalam rangka mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerahnya.

Maju ke era sekarang, Provinsi Sumatra Selatan memiliki potensi pariwisata utama berkat daya tarik budaya, sejarah, dan alam yang unik. Lubuk Putih, dengan karakteristik alamnya yang unik berupa tebing putih dan sungai jernih, dapat menjadi salah satu destinasi yang mendukung pengembangan pariwisata di Sumatera Selatan.

Referensi

  1. ^ a b c "Wisata Lubuk Putih di Muaraenim; Ramai Dikunjungi Akhir Pekan". Sripoku.com. Diakses tanggal 2026-06-21.
  2. ^ a b "Wisata Lubuk Putih di Muaraenim; Ramai Dikunjungi Akhir Pekan". Sripoku.com. Diakses tanggal 2026-06-21.
  3. ^ "Kabupaten Muara Enim". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2026-06-05.
  4. ^ a b "Wisata Lubuk Putih di Muaraenim; Ramai Dikunjungi Akhir Pekan". Sripoku.com. Diakses tanggal 2026-06-21.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya