Mahias Pengantin
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Mahias atau merias pengantin merupakan salah satu tahap penting dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banjar. Prosesi ini tidak hanya dimaknai sebagai usaha mempercantik penampilan calon pengantin, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan simbolik yang kuat dalam pandangan masyarakat Banjar.[1]
Makna
Mahias dilakukan untuk memperindah wajah dan penampilan calon pengantin agar tampak berseri dan memancarkan aura kebahagiaan pada saat bersanding. Namun, prosesi ini tidak sekadar berhenti pada aspek estetika. Dalam budaya Banjar, penata rias pengantin (tukang hias) umumnya juga dikenal memiliki keahlian spiritual, yakni kemampuan untuk membacakan doa atau mantra agar pengantin terlihat memesona dan terhindar dari gangguan makhluk halus.[2]
Pelaksanaan
Dalam prosesi mahias, disediakan piduduk atau persembahan simbolik yang terdiri atas beras, kelapa, gula merah, cangkaruk (beras kering), lakatan kuning (ketan kuning), dan uang logam. Piduduk ini berfungsi sebagai penolak bala serta simbol harapan agar pengantin memperoleh kehidupan yang makmur dan sejahtera.
Waktu merias ditentukan secara adat, yaitu ketika antara pukul 09.00–10.00 pagi. Waktu tersebut dipercaya sebagai saat yang baik dan membawa keberkahan bagi pengantin. Terdapat pula kepercayaan bahwa wajah yang cantik belum tentu tampak memikat saat menjadi pengantin jika tukang rias sedang diganggu oleh kekuatan gaib, sehingga pemilihan waktu dan kondisi spiritual penata rias dianggap sangat penting.[2]
Riasan Pengantin
Riasan pengantin perempuan dimulai dengan membuat gunjai, yaitu memotong sebagian rambut di dahi seperti poni, dilanjutkan dengan cacantung di pelipis menggunakan pisau cukur. Rambut kemudian dikeriting dengan panjar babanam (kawat dipanaskan di lampu tembok), lalu disanggul menggunakan gadang pisang (lapisan batang pisang) sebagai penguat sanggul. Wajah pengantin diberi pupur (bedak tradisional) dan dihias dengan air guci, logam berwarna kuning atau putih yang disusun di dahi menyerupai gunungan. Kepala pengantin perempuan dilengkapi jamang dan bakambang goyang (hiasan rambut yang bergetar lembut ketika bergerak).[3]
Sementara itu, riasan pengantin laki-laki dilakukan setelah salat Zuhur. Selain dibedaki tipis, pengantin laki-laki diberi hiris gagatas, yaitu potongan daun sirih yang ditempelkan di bagian tengah dahi. Ia mengenakan laung baamar galung atau bagajah gamuling di kepala, dilengkapi kilat bahu, tali wanang, keris, dan bapalimbaian (daun serta bunga melati dan kenanga) di tangan kiri. Warna pakaian yang digunakan umumnya kuning keemasan, dengan sabuk dan sandal tertutup yang melambangkan kemuliaan dan kebahagiaan.[1]
Nilai
Prosesi mahias pengantin dalam budaya Banjar tidak hanya menonjolkan keindahan fisik, tetapi juga mengandung makna spiritual dan filosofis. Setiap langkah dan perlengkapan memiliki simbol: warna kuning melambangkan kemuliaan, piduduk sebagai bentuk doa keselamatan, dan waktu pagi sebagai pertanda awal kehidupan baru. Melalui mahias, masyarakat Banjar menegaskan bahwa kecantikan sejati pengantin bukan hanya dari riasan luar, melainkan dari kesucian hati dan restu spiritual yang menyertainya.[2]
Referensi
- ^ a b Henraswati, Wajidi, Ganie, T. N., Syarifuddin R., & Wibowo, A. (2012). Upacara Daur Hidup Masyarakat Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Pontianak: Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak.
- ^ a b c Suryatin, E. (2021). Satuan Ekspresi Dalam Acara Perkawinan Adat Masyarakat Banjar. Mlangun: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan, 18(2), 133–144.
- ^ Efendy, N. (2025). Tataurutan Pernikahan Adat dan Mitos pada Tradisi Upacara Perkawinan Masyarakat Banjar. FIKRUNA: Jurnal Ilmiah Kependidikan dan Kemasyarakatan, 7(4), 1175–1198.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.