Makanan olahan

Mi instan ramen.
Makanan ringan, termasuk keripik kentang.

Makanan olahan atau Makanan olahan tersier, adalah makanan siap saji yang komersial (sering melalui pemrosesan) untuk mengoptimalkan kemudahan konsumsi. Makanan jenis ini biasanya siap dimakan tanpa persiapan lebih lanjut. Mungkin juga mudah dibawa-bawa, memiliki masa sebelum kedaluwarsa yang panjang, atau kombinasi dari beberapa keunggulan tersebut. Meskipun makanan restoran memenuhi definisi sebagai makanan olahan, istilah ini jarang diterapkan pada restoran. Makanan olahan bervariasi mulai dari makanan kering siap santap, makanan beku hingga makanan ringan, dan disebutkan bahwa makanan olahan diciptakan supaya "tampak lebih menarik bagi pelanggan".[1]

Roti, keju, makanan asin dan makanan siap saji lainnya telah dijual selama ribuan tahun. Jenis lainnya dikembangkan dengan bantuan teknologi pangan. Jenis-jenis makanan olahan dapat bervariasi menurut negara dan wilayah geografis. Beberapa makanan olahan dikritik karena kekhawatiran mengenai kandungan gizi dan kemasannya dapat meningkatkan limbah padat di tempat pembuangan sampah. Berbagai metode digunakan untuk mengurangi aspek tidak sehat dari makanan yang diproduksi secara komersial dan memerangi obesitas pada anak.

Garam tambahan

Salah satu alasan pembuat makanan olahan menambahkan sedemikian banyak garam pada produk makanan olahan adalah sebagai salah satu cara praktis agar tidak mengeluarkan banyak biaya dan membuat makanan menjadi lebih murah, serta yang awalnya tidak memiliki rasa menjadi olahan yang dapat dimakan. Alasan lainnya seperti pada produk olahan daging adalah untuk meningkatkan kadar air yang terikat dalam daging, sehingga bobot akhir daging dapat ditingkatkan dan dengan biaya yang lebih murah (kira-kira 20% kandungan air yang terikat). Pembuat makanan olahan menyediakan lebih sedikit daging tetapi tetap dapat memperoleh harga yang sama untuk satuan berat daging yang dijual. Kadang garam pada produk olahan yang dikonsumsi juga berpengaruh terhadap jumlah air yang dibutuhkan oleh tubuh. Semakin banyak garam yang dikonsumsi, semakin banyak juga cairan yang harus diminum.[2]

Referensi

  1. ^ Chow, Ching Kuang (2007-11-19). Fatty Acids in Foods and their Health Implications,Third Edition. hlm. 376. ISBN 9781420006902. Diakses tanggal 2013-07-10.
  2. ^ Diamond, Jared (2017). The World Until Yesterday. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 533. ISBN 9786024241926. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya