Manggelek Tobu

Manggelek Tobu adalah tradisi masyarakat Dusun Pulau Belimbing, Desa Kuok, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Tradisi ini menggiling tebu dengan menggunakan alat tradisional kayu yang disebut "Gelek tobu" untuk membuat gula atau manisan yang disebut "nisan". Tradisi ini juga berfungsi sebagai ajang pertemuan sosial untuk saling berkenalan antar pemuda dan pemudi, dan dulunya dilakukan menjelang bulan Ramadhan sebagai persiapan gula untuk bulan Ramadan dan Idul Fitri. Selain itu, tradisi Manggelek Tobu juga menjadi salah satu ajang mencari jodoh bagi masyarakat Kampar zaman dahulu.[1][2]

Alat Manggelek Tobu

Alat yang di gunakan dalam manggelek tobu bernama “Gelek”, gelek ini merupakan alat tradisional masyarakat yang dibuat secara gotong royong. Alat ini terdiri dari beberapa bagian, seperti bagian penggiling tebu yang terbuat dari pohon kelapa yang sudah dikuliti dengan panjang sekitar lima meter. Setelah itu bagian landasan tempat meletakkan batangan tebu ketika digiling yang terbuat dari pohon nangka dan ditempatkan di atas dua tiang setinggi satu meter menggunakan pohon kelapa. Gelek ini dioperasikan dengan cara menggulingkan pohon kelapa secara maju mundur oleh beberapa orang. Air tebu hasil gilingan akan diolah menjadi manisan.[3]

Pelaksanaan Manggelek Tobu

Manggelek Tobu merupakan tradisi menggiling tebu dengan menggunakan alat tradisional berbahan kayu yang disebut Gelek Tobu. Saat Menggelek Tobu dibutuhkan kekompakan banyak orang. Bisa tiga, lima, dan biasanya sampai 10 orang. Gilingan tebu yang besar ini terbuat dari sebatang kayu besar. Sangat besar dan panjang. Untuk menggilingnya, tidak bisa satu orang. Kayu didorong bersama-sama hingga berputar dan tebu yang digelek atau digiling mengeluarkan airnya serta menampung di tempat yang telah disiapkan di bawahnya. Tradisi Menggelek Tobu, selain di Pulau Pelimbing juga ada di Pulau Jambu, dusun yang tidak jauh letaknya dari Dusun Pulau Belimbing, atau masih di Desa Kuok juga.[4][5]

Asal usul Manggelek Tobu

Manggelek Tobu dilakukan karna dahulu masyarakat Kampar belum mengenal yang namanya gula pasir, sehingga untuk keperluan gula mereka menggunakan sebuah alat pemeras tebu berbahan dasar kayu besar yang nanti air tebu ini di masak menjadi manisan. Sebagaimana budaya dan tradisi masyarakat Kampar bahwa zaman dahulu pergaulan sangat dibatasi antara pemuda dan pemudi khususnya untuk anak perempuan. Sehingga melalui kegiatan manggelek tobu inilah pemuda dan pemudi dapat bertemu untuk berkenalan.[6]

Sebagai pertemuan pemuda dan pemudi

Manggelek Tobu menjadi salah satu sarana untuk pertemuan antara pemuda dan pemudi. Menggelek Tobu ini merupakan bentuk wujud dari gotong royong dan ini terjadi dalam menyambut bulan puasa ramadhan untuk perbekalan bulan puasa. Pada masa itu belum mengenal industri pembuatan gula. Setelah menemukan gula pasir, salah satu bahan masakan atau makanan kita menemukan bahan untuk membuat gula pasir yaitu dari tebu di buat sebagai manisan. Mulai dari era 80-an, dan tradisi ini masih berlanjut oleh masyarakat namun nilai yang diambil adalah sifat kegotong royongan atau kerja sama walaupun telah adanya gula pasir, manisan ini juga banyak di butuhkan oleh masyarakat sebagai bentuk melestarikan budaya yang fungsinya tetap sama yaitu sebagai ajang pertemuan antara pemuda dan pemudi dengan catatan disaat menggelek tebu ada orang tua yang menjaga dikawasan penggiling tebu, dimana peran orang tua sebagai perantara.[6]

Artinya perantara ini sebagai penghubung andaikan ada keinginan untuk mencari jodoh dan melanjutkan ke jenjang perkawinan maka pihak dari yang laki laki akan menyampaikan keinginannya tersebut kepada si ibu yang menjaga disaat menggelek tebu berlangsung dan si ibu ini yang akan menyampaikan ke anaknya kemudian ibu dari pihak perempuan akan menyampaikan ke keluarga laki laki. Sifat inilah yang meminang si laki laki dengan catatan laki laki ini menyampai kan dahulu ke ibu perempuan tersebut.[6]

Makna Manggelek Tobu

Menggelek Tobu membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses pengerjaannya. Waktu yang cukup lama ini lah yang menumbuhkan rasa persaudaraan dan kebersamaan antar sesama. Tidak hanya sekedar manggelek tobu mereka juga akan makan bersama-sama. Menggelek tobu memiliki nilai-nilai budaya yang bermanfaat bagi masyarakat seperti terjalinnya kerja sama yang dapat mempererat tali persaudaraan, sebagai ajang perkenalan antar muda mudi dan bahkan dapat menjadi tempat mencari jodoh. Tradisi budaya manggelek tobu terus dilestarikan agar warisan budaya tidak hilang di tengah zaman yang terus berkembang.[6]

Referensi

  1. ^ mediacenter.riau.go.id (2014-11-01). "mediacenter.riau.go.id | Pokdarwis Anjuongan Mato Lestarikan Tradisi Manggelek Tobu". mediacenter.riau.go.id. Diakses tanggal 2025-11-16.
  2. ^ Khasna, Lathifah (25-10-2024). "Tradisi Manggelek Tobu dalam Julang Budaya Kampar 2024". rri.co.id. Diakses tanggal 16-11-2025.
  3. ^ "Atraksi Manggelek Tobu". jadesta.kemenparekraf.go.id. Diakses tanggal 2025-11-16.
  4. ^ Yasin, Rindra. "Menggelek Tobu, Ajang Mencari Jodoh - Riau Pos". Menggelek Tobu, Ajang Mencari Jodoh - Riau Pos. Diakses tanggal 2025-11-16.
  5. ^ "Manggelek Tobu, Tradisi Menggiling Tebu yang Hampir Hilang Ikut Meriahkan Idul Adha di Kuok". Tribunpekanbaru.com. Diakses tanggal 2025-11-16.
  6. ^ a b c d Kompasiana.com (2025-01-04). "Sejarah tradisi manggelek tobu". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-11-16.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya