Manyipet

Manyipet atau menyumpit yang merupakan warisan budaya suku Dayak.

Manyipet dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai ‘menyumpit’. Aktivitas ini sudah dikenal secara turun temurun dari nenek moyang suku Dayak.[1]

Pada jaman dahulu, manyipet dikenal sebagai suatu keahlian yang wajib dimiliki oleh laki-laki suku Dayak. Keahlian ini digunakan untuk berburu di hutan atau berperang. Namun, saat ini manyipet lebih dikenal sebagai permainan dan olahraga tradisional suku Dayak yang dilombakan setiap tahunnya di berbagai acara daerah, salah satunya adalah Festival Budaya Isen Mulang di Kalimantan Tengah setiap bulan Mei.[1]

Sejarah Manyipet

Ilustrasi Manyipet oleh pendahulu suku Dayak.

Sejarah penggunaan sumpit atau manyipet yang tertulis dalam buku Sumpitan menyebutkan beberapa versi, antara lain seorang pandai besi mendapati bambu (puputan) yang dipakai meniup api tersumbat. Ia kemudian meniupnya sekuat tenaga sehingga sumbatannya terlempar keluar.[2]

Ada juga kisah peniup seruling (sarunai) yang lubangnya tersumbat dan kemudian dia meniupnya. Versi lainnya, ada yang menuturkan bahwa sumpit adalah hasil kreasi pemburu saat melihat buaya menyemprotkan air ke monyet.[2]

Pembuatan batang sumpit biasanya menggunakan kayu tampang, ulin, tabalien, plepek, dan kayu resak. Batang ini dibentuk seperti pipa, dengan panjang berkisar 1,5 hingga 2 meter. Kemudian bagian tengahnya dilubangi sekitar 1 sentimeter.[3] Pembuatan sumpit memerlukan ketelatenan dan kesabaran untuk mengebor (membuat lubang berdiameter sekitar 1 sentimeter) di dalam batang kayu ulin yang keras selama berbulan-bulan.[2]

Pembuatan sumpit harus disesuaikan dengan sang pengguna. Panjang sumpit harus sama dengan tinggi badan sang pemegang, karena memengaruhi tekanan udara saat meniup sumpit ke sasaran.[4]

Selain itu, dalam penggunaan sipet atau sumpit juga memiliki beberapa aturan. Misalnya, tidak boleh menyerang sesama suku dan tidak boleh dipotong atau pun diinjak.[4]

Alat yang Diperlukan

Berbagai senjata tradisional suku Dayak yang dipamerkan di Museum Balanga Kalimantan Tengah, salah satunya sipet atau sumpit, dilengkapi dengan damek (tabung untuk anak panah).
  • Sipet atau sumpitan yang terbuat dari kayu ulin asli hutan Kalimantan. Panjang sipet berkisar 1-3 meter tergantung dari postur penyumpit, lalu bagian tengahnya dilubangi dengan teknik khusus oleh suku Dayak. Sipet yang umumnya digunakan oleh suku Dayak untuk berburu atau berperang memiliki tombak di bagian ujungnya, tetapi dalam permainan keseharian, bagian tersebut tidak digunakan.[1]
  • Damek atau lajak adalah anak panah yang terbuat dari bilah bambu, lidi aren atau sirap, dengan diameter 1 cm dan panjang 15 cm. Ujung depan Damek harus diraut, sementara ujung pangkalnya dibentuk kerucut. Ujung pangkal ini terbuat dari kayu yang digunakan sebagai pendorong dari nafas yang ditiupkan.[1]
  • Pelet adalah tempat khusus dari bambu untung menyimpan damek.[1] Pelet perlu dijaga dengan baik karena bisa berisi racun tradisional suku Dayak yang disebut kunyung. Racun tersebut berasal dari getah pohon dan ramuan-ramuan tumbuhan atau ipoh. Ada juga yang memanfaatkan racun atau bisa dari hewan seperti ular, kalajengking, atau kodok hijau.[4]

Tata Cara Manyipet

Ilustrasi manyipet atau menyumpit oleh suku Dayak.

Zaman dahulu, sumpit digunakan saat 'ngayau' (perang antar suku), berburu dan juga berperang mengusir penjajah. Dalam pengoperasiannya, sumpit nyaris tidak mengeluarkan bunyi. Sumpit memiliki tingkat akurasi tembak mencapai sekitar 200 meter, dan yang membuatnya mematikan, terdapat racun yang dibubuhkan di ujung anak panahnya.[4]

Permainan manyipet biasanya dapat dilakukan secara perorangan atau beregu. Mula-mula, masukkan ujung damek (anak panah) yang diraut ke dalam sipet (sumpitan). Siapkan papan bidik, lalu tiupkan satu sisi dari pangkal damek dengan kuat, sampai damek tersebut meluncur terbang mengenai sasaran. Dalam perlombaan, peserta menembakkan sejumlah damek ke sasaran baik dengan posisi jongkok maupun berdiri dalam waktu tertentu, dan pemenang ditentukan dengan jumlah skor tertinggi.[1]

Referensi

  1. ^ a b c d e f "Mengenal Manyipet, Permainan Tradisional Khas Suku Dayak". Traditional Games Returns (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2025-06-20. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  2. ^ a b c Indonesiadaily, Red-. "Mengenal Senjata Senyap Mematikan Milik Suku Dayak - Indonesia Daily". Mengenal Senjata Senyap Mematikan Milik Suku Dayak - Indonesia Daily. Diakses tanggal 2025-06-20.
  3. ^ "Senjata Sakti Suku Dayak yang Mematikan selain Mandau - News+ on RCTI+". RCTI+. Diakses tanggal 2025-06-20.
  4. ^ a b c d "Mengenal Sumpit, Senjata Andalan Suku Dayak". kumparan. Diakses tanggal 2025-06-20.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya