Mbah Brintik
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (September 2016) |
Mbah Brintik (lahir 30 Juli 1931) dia salah satu dari sastrawati Jawa yang berasal dari Malang.
Banyak prestasi yang sudah dia raih di antaranya:
1. Mendapatkan Bintang Budaya dan Piagam Penghargaan dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa Surakarta
2
2.
Mendapatkan Piagam Penghargaan sebagai penulis cerita rakyat juara 2 (juara 1tidak ada) tingkat Nasional di Wanita Taman Siswa Yogyakarta, 3. Mendapat Tali Asih dari bapak Gubernur Jatim sebagai Sastrawati Jatim. 4. Macam-macam piagam penghargaan dalam kegiatan antara lain: Kongres, Sarasehan, Seminar dll. MESKI usianya sudah berkepala tujuh, tapi tak menjadi penghalang bagi Mbah Brintik untuk terus mengembangkan bahasa Jawa. Kolumnis terkenal asal Kepanjen, Malang, Jawa Timur itu, kini mengaku tertarik untuk ikut mengembangkan bahasa Berbeda sebagai salah satu khasanah bahasa Jawa sehingga tetap lestari.
’’Bahasa berbeda itu unik dan memiliki ciri hasan tersendiri. Saya sangat tertarik untuk mempelajari dan mengembangkan agar tidak punah,’’ ujar nenek yang juga sering dipanggil Nyi Soemardi Sastro Utomo ini, saat mampir di Kantor Informasi dan Kehumasan Pemkab Brebes, belum lama ini.[1]
Kiprah Mbah Brintik dalam upaya melestarikan budaya Jawa memang tak diragukan lagi. Di usianya yang genap 77 tahun, ia tetap eksis menjadi penulis majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat. Penghargaan Bintang Budaya dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa juga telah dikantongi ibu beranak sembilan itu, atas kiprahnya melestarikan bahasa Jawa.[1]
Menurut Mbah Brintik, bahasa Berbeda merupakan salah satu keragaman dari bahasa Jawa yang harus tetap terjaga kelestariannya. Hal ini yang menjadi gagasan ketertarikannya untuk mengembangkan bahasa tersebut. Apalagi, bahasa Berbeda mempunyai keunikan dibanding dengan bahasa Jawa di daerah lain. Bila tak dijaga, dikhawatirkan keberadaanya akan semakin punah. ’’Sangat disayangkan bila warga Brebes sampai tak bisa menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Karenanya, mulai saat ini harus dijaga,’’ tandasnya.[1]
Pranala luar
- (Indonesia) Kembangkan Bahasa Brebesan Diarsipkan 2015-01-20 di Wayback Machine.
- (Indonesia) "Sastra Wangi" ditumpukan Jerami[pranala nonaktif permanen]
Catatan kaki
- ^ a b c "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-11. Diakses tanggal 2011-04-16.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.