Mohammed bin Tsani
| Mohammed bin Tsani | |
|---|---|
| Amir Qatar | |
| Berkuasa | 1851–18 Desember 1878 |
| Penerus | Jassim bin Mohammed Al Tsani |
| Lahir | 1788 Fuwayrit, Negara Saudi Pertama |
| Meninggal | 18 Desember 1878 (umur 90)[1] Doha, Qatar |
| Pemakaman | |
| Ayah | Tsani bin Mohammed |
| Pasangan | Noura al-Kuwari dari Keluarga Al-Mansouri |
| Keturunan | Jassim bin Mohammed Al Tsani Ahmed bin Mohammed Al Tsani Fahad bin Mohammed Al Tsani Eid bin Mohammed Al Tsani Thamir bin Mohammed Al Tsani Jaber bin Mohammed Al Tsani Rowda bint Mohammed Al Tsani Mouza bint Mohammed Al Tsani |
| Arabic | محمد بن ثاني |
| Dinasti | Tsani |
Muhammad bin Tsani (Arab: محمد بن ثاني; sekitar 1788 – 18 Desember 1878), juga dikenal sebagai Muhammad bin Tsani bin Muhammad Al Tsamir (Arab: محمد بن ثاني بن محمد آل ثامر), adalah penguasa pertama dari Wangsa Tsani yang memerintah seluruh Semenanjung Qatar.[2] Ia secara resmi diakui oleh Britania Raya pada September 1868 setelah mengadakan pertemuan dengan perwakilan Britania, Lewis Pelly.[3] Ia dikenal sebagai ayah dari Syekh Jassim bin Muhammad Al Tsani, pendiri Qatar, yang berhasil menahan serangan tentara Utsmaniyah pada akhir abad ke-19.[4]
Biografi
Syekh Muhammad bin Tsani lahir di Fuwayrit, Qatar, sebagai putra Syekh Tsani bin Muhammad,[5] pendahulunya sebagai kepala Wangsa Tsani. Muhammad merupakan putra tertua kedua dari ayahnya dan memiliki empat saudara kandung.[4]
Muhammad bin Tsani mulai memperoleh pengaruh di Semenanjung Qatar setelah ia dan keluarganya pindah dari Fuwayrit ke Al Bidda pada tahun 1848. Sebelum perpindahan tersebut, setiap suku dan permukiman memiliki pemimpinnya masing-masing, dan tidak ada catatan mengenai penyatuan mereka dalam suatu pertempuran. Gagasan tentang sebuah wilayah atau negara yang bersatu juga belum dikenal. Namun, dengan kedatangan Muhammad bin Tsani, Qatar mulai memperoleh pengaruh ekonomi dan politik yang semakin besar, meskipun masih berada di bawah kedaulatan Bahrain.[6][4]
Pada tahun 1851, Muhammad bin Tsani terlibat dalam konflik antara Faisal bin Turki, Imam Keamiran Najd, dan Muhammad bin Khalifah Al Khalifah, penguasa Bahrain. Faisal telah lama berupaya menguasai Bahrain dan sebelumnya telah beberapa kali gagal menyerbu pulau tersebut.[7] Pada Mei 1851, Faisal melancarkan upaya ketiganya untuk merebut Bahrain dengan memerintahkan pasukannya bergerak menuju Al Bidda, Qatar, yang direncanakan sebagai pangkalan untuk invasi ke Bahrain. Sebagai tanggapan, Ali bin Khalifah, wakil Bahrain di Qatar, mengerahkan seluruh laki-laki yang mampu bertempur untuk mempertahankan Al Bidda serta meminta bantuan kepada Saeed bin Tahnun Al Nahyan dari Abu Dhabi. Muhammad bin Tsani memimpin salah satu pasukan Qatar bersama putranya.[8]
Pasukan Qatar dan sekutunya terlibat dalam pertempuran sengit selama tiga hari melawan pasukan Faisal dalam Pertempuran Mesaimeer yang berlangsung dari 2 hingga 4 Juni 1851. Pada hari kedua, pasukan Bahrain dan Abu Dhabi mundur ke kapal-kapal mereka dan menolak memberikan bantuan lebih lanjut kepada pasukan Qatar. Tidak lama setelah pertempuran berakhir, Muhammad bin Tsani menegosiasikan perjanjian damai terpisah dengan Faisal. Berdasarkan perjanjian tersebut, ia bersedia berada di bawah pemerintahan Wahhabi dengan syarat tetap menjadi kepala Al Bidda, dan syarat itu disetujui oleh Faisal.[9]
Pada 8 Juni, pasukan Qatar di bawah pimpinan Muhammad bin Tsani berhasil menguasai Burj Al-Maah, sebuah menara pengawas yang melindungi sumber air utama Doha di dekat Benteng Al Bidda, tempat pasukan gabungan Ali bin Khalifah dan Saeed bin Tahnun bermarkas. Setelah mendengar kabar tersebut, mereka melarikan diri ke Bahrain tanpa perlawanan, yang membuat Faisal kecewa dan menegur Muhammad bin Tsani karena tidak menangkap mereka.[10]
Pada 25 Juli 1851, Saeed bin Tahnun berhasil menengahi perjanjian antara Bahrain dan kaum Wahhabi. Berdasarkan perjanjian itu, Bahrain setuju membayar zakat tahunan kepada Faisal sebagai imbalan atas pelepasannya terhadap klaim atas Qatar serta pengembalian Al Bidda kepada kepemimpinan Ali bin Khalifah. Sebagai salah satu pihak dalam perjanjian tersebut, Muhammad bin Tsani juga menyetujui untuk melepaskan jabatannya.[11]
Permusuhan politik yang timbul akibat pertempuran tersebut menjadi salah satu penyebab meletusnya Perang Qatar–Bahrain pada tahun 1867 serta mendorong munculnya Qatar sebagai entitas politik yang merdeka. Proses ini mencapai puncaknya pada 12 September 1868 dengan ditandatanganinya perjanjian antara Muhammad bin Tsani dan perwakilan Britania, Lewis Pelly.[12]
Pada tahun 1871, Syekh Muhammad memohon perlindungan kepada Kesultanan Utsmaniyah di Al Hasa terhadap kemungkinan serangan dari pihak luar. Namun, pada dekade yang sama, justru pihak Utsmaniyah yang kemudian menunjukkan sikap bermusuhan terhadap rakyat Qatar. Syekh Mohammed meninggal dunia karena sebab alami pada tanggal 18 Desember 1878.[4]
Referensi
- ^ "Sheikh Mohammed Bin Thani | The Amiri Diwan". www.diwan.gov.qa. Diakses tanggal 2025-10-05.
- ^ "Sheikh Mohammed Bin Thani | The Amiri Diwan".
- ^ Al-Ali, Khalid bin Ghanem (2024). الُهَُوِّيَة الَوَطنّيّة الَقَطرّيّة [Qatari National Identity] (PDF) (dalam bahasa Arabic). Ministry of Culture (Qatar). hlm. 64–65.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ^ a b c d "Shaikh Mohamed Bin Thani - Amiri Diwan". Amiri Diwan. Diakses tanggal 7 March 2018.
- ^ Abū Nāb, Ibrāhīm (1977). Qatar: A Story of State Building. hlm. 85.
- ^ Al-Ali, Khalid bin Ghanem (2024). الُهَُوِّيَة الَوَطنّيّة الَقَطرّيّة [Qatari National Identity] (PDF) (dalam bahasa Arabic). Ministry of Culture (Qatar). hlm. 50.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ^ Al-Ali, Khalid bin Ghanem (2024). الُهَُوِّيَة الَوَطنّيّة الَقَطرّيّة [Qatari National Identity] (PDF) (dalam bahasa Arabic). Ministry of Culture (Qatar). hlm. 53.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ^ Rahman, Habibur (2006). The Emergence Of Qatar. Routledge. hlm. 65. ISBN 978-0710312136.
- ^ Al-Ali, Khalid bin Ghanem (2024). الُهَُوِّيَة الَوَطنّيّة الَقَطرّيّة [Qatari National Identity] (PDF) (dalam bahasa Arabic). Ministry of Culture (Qatar). hlm. 60.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ^ Rahman, Habibur (2006). The Emergence Of Qatar. Routledge. hlm. 66. ISBN 978-0710312136.
- ^ Rahman, Habibur (2006). The Emergence Of Qatar. Routledge. hlm. 69. ISBN 978-0710312136.
- ^ Al-Ali, Khalid bin Ghanem (2024). الُهَُوِّيَة الَوَطنّيّة الَقَطرّيّة [Qatari National Identity] (PDF) (dalam bahasa Arabic). Ministry of Culture (Qatar). hlm. 64–65.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.