Mopo'a Huta


Mopo'a Huta adalah upacara tradisional masyarakat Gorontalo di Sulawesi Utara untuk menjaga kesuburan tanah pertanian serta memohon keselamatan dan keberkahan hasil panen.[1][2]

Makna etimologis

Dalam bahasa Gorontalo, mopoahuta, disebut juga sebagai mapoalati, berarti memberi makan kepada penjaga tanah, yaitu roh yang diyakini menguasai lahan pertanian.[1]

Tujuan

Upacara ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan persembahan kepada penjaga gaib tanah, yang dipercaya dapat menyebabkan kegagalan panen. Beberapa masyarakat lokal memercayai kegagalan panen sebagai bentuk kemarahan setan penjaga karena diabaikan oleh pemilik lahan. Oleh karena itu, upacara Mopo'a Huta juga bertujuan untuk menjamin keselamatan pemilik tanah dan keluarganya dari gangguan makhluk halus tersebut.[1] Upacara ini juga sarana sosial untuk menyatukan warga dalam krisis seperti kemarau.[2]

Pelaksanaan

Sebelum memulai mopo'a huta, masyarakat Molamahu, Gorontalo biasanya berkunjung ke makam Poliduhelo.[2] Rangkaian upacara Mopo'a Huta diawali dengan proses musyawarah adat, yang disebut dulohupa, di mana para tokoh masyarakat, termasuk pemangku adat yang disebut bate, berkumpul untuk membahas dan memutuskan perlunya pelaksanaan upacara. Setelah itu, pada tahap moowoli, masyarakat akan memberitahukan rencana ini kepada pemerintah desa untuk memperoleh izin resmi. Tahap selanjutnya adalah penetapan waktu pelaksanaan upacara, dikenal dengan istilah molanthu dulahu. Waktu yang dipilih biasanya malam Jumat atau malam Kamis, terutama pada tanggal ganjil seperti 11, 13, 15, 17, atau 19 bulan Hijriah pukul 18.00.[1]

Upacara diselenggarakan di ladang atau sawah. Tempat pelaksanaan upacara disebut sebagai molati yang berarti tempat kediaman roh. Masyarakat daerah beranggapan di tempat ini roh-roh mengawasi penjuru mata angin (molumulo).[1]

Tokoh yang berperan dalam upacara ini adalah Panggoba. Peran ini dilakukan oleh orang yang diyakini memiliki kemampuan warisan untuk berhubungan dengan roh penjaga tanah. Dalam penyelenggaraan acara, panggoba dibantu oleh bate-bate dan helihu. Bate-bate adalah tetua yang memiliki pengetahuan adat istiadat. Sementara helihu bertugas menyiapkan kebutuhan acara seperti: sirih pinang, tembakau yang digulung dengan enau, kemenyan, bara tempurung, pisang, ayam panggang, telur rebus, nasi putih, nasi kuning, nasi merah, dan bambu berisi campuran air dan bunga dayo.[1]

Pelaksanaan inti upacara disebut mopohuta, yaitu saat masyarakat memberikan sesaji dan memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga tanah. Panggoba, hulihu dan para petani akan berkumpul melingkar mengelilingi sajian. Kemudian, panggoba akan berdoa sambil menaburkan kemenyan di atas bara api. Lalu, panggoba mulai mengangkat bambu berisi campuran air dan bunga dayo dan menyiramkannya ke tanah.[1] Ritual ini juga diisi oleh tarian dayango yang diiringi dengan towohu. Penari menggunakan ikat kepala merah sambil menuturkan wumbugo, sejenis ucapan-ucapan yang dilagukan.[2]

Setelah seluruh prosesi dilaksanakan, upacara ditutup dengan tahapan mopulita, yakni penanda berakhirnya ritual dan bentuk ungkapan syukur dari masyarakat atas berlangsungnya upacara dengan lancar.[1]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1985). Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Sulawesi Utara. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. hlm. 84-89
  2. ^ a b c d A. Hunowu, Momy; Badu Pakuna, Hatim (2020-03-31). "Praktik Ritual Mopo'a Huta (Memberi Makan pada Tanah) pada Masyarakat Gorontalo di Desa Molamahu". Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI). 1 (1): 49–65. doi:10.22373/jsai.v1i1.422. ISSN 2722-6700.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya