Mukasura
| मुकासुर | |
|---|---|
Lukisan Bali koleksi perpustakaan Universitas Leiden, menggambarkan Mukasura di sebelah kiri (di sini tertulis "Detya Momosimurka") sedang menghadap Prabu Niwatakawaca. Punakawan Delem sebagai abdi sang raja bersila di kanan bawah. | |
| Tokoh Mahabharata | |
| Nama | Mukasura |
| Ejaan Dewanagari | मुकासुर |
| Ejaan IAST | Mukāsura |
| Nama lain |
|
| Gelar | patih (versi pewayangan) |
| Kitab referensi | Mahabharata, Arjunawiwaha |
| Golongan | asura |
| Ras | danawa |
Mukasura (Dewanagari: मूकासुर; IAST: Mūkāsura), disebut pula Momosimuka dan Mamangmurka, adalah nama seorang asura, atau raksasa yang dikisahkan dalam wiracarita Hindu Mahabharata. Dikisahkan bahwa Mukasura merupakan raksasa yang diutus para dewa untuk menguji keteguhan Arjuna dalam bertapa.[1] Kisah Mukasura yang mengusik pertapaan Arjuna juga diadaptasi di Nusantara menjadi karya sastra kakawin berjudul Arjunawiwaha.
Dalam kakawin Arjunawiwaha dikisahkan bahwa Mukasura, yang juga disebut "Momosimuka", merupakan patih dari Prabu Raksasa Niwatakawaca.[2] Ia diutus oleh sang prabu untuk mengacaukan tapa sang Arjuna. Sebab apabila Arjuna berhasil memperoleh anugerah, maka para dewa akan mengutus sang Arjuna untuk mencabut nyawa Niwatakawaca.[3]
Nama
Nama Mukasura merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang secara harfiah berarti "asura Mūka (मूक)". Dalam kepustakaan India, nama Muka atau Mukasura lebih lazim ditemukan. Sementara itu, dalam Kakawin Arjunawiwaha di Indonesia, tokoh ini dikenal dengan nama "Momosimuka".[2] Dalam buku Arjuna Wiwaha: Disalin dari Bahasa Jawa Kuno (1978) oleh Sanusi Pane, nama tokoh ini disebut raksasa "Si Murka", dan dalam bagian lain buku tersebut ditulis "Mamangmurka".[3] Dalam kisah yang diadaptasi menjadi pertunjukan wayang di Jawa, nama tokoh ini lebih dikenal sebagai "Mamangmurka".[4]
Kepustakaan
Kisah Mukasura tercatat dalam bab "Kairata Parwa", dalam buku ketiga Mahabharata yang berjudul Wanaparwa. Buku ini diterjemahkan dari bahasa Sanskerta ke bahasa Inggris oleh Kisari Mohan Ganguli pada periode 1883 sampai 1896. Pada masa perkembangan agama Hindu dan Buddha di Nusantara, kisah ini juga tercatat dalam Kakawin Arjunawiwaha (ditulis pada abad ke-11), salah satu karya pujangga Nusantara yang terinspirasi dari wiracarita Mahabharata.
Cerita

Dalam kitab Wanaparwa dikisahkan bahwa kelima Pandawa menjalani hukuman pengasingan di hutan setelah kalah bermain dadu dengan sepupu mereka, para Korawa. Menurut perjanjian, hukuman tersebut harus dijalani selama 12 tahun. Masa pengasingan tersebut dimanfaatkan oleh Arjuna, salah satu Pandawa untuk berkelana keliling dunia dan swarga demi mengumpulkan berbagai ilmu dan pusaka sakti. Salah satu tempat tujuan pengembaraannya ialah Gunung Indrakila. Di sana, Arjuna bertapa memuja Dewa Siwa dengan amat khusyuk, agar dianugerahkan senjata sakti.
Pada saat Arjuna bertapa, Mukasura berubah wujud menjadi babi hutan, lalu menyerangnya secara membabi buta. Menurut kakawin Arjunawiwaha, Mukasura juga disebut Momosimuka, dan merupakan patih Niwatakawaca. Ia diutus untuk menggagalkan tapa Arjuna, sebab nyawa Niwatakawaca terancam apabila Arjuna berhasil mendapatkan senjata Dewa Siwa. Momosimuka pun mengobrak-abrik Gunung Indrakila dengan maksud menghancurkan konsentrasi dan kekhusyukan tapa Arjuna.
Serangan Mukasura membangunkan Arjuna dari tapanya. Ia langsung mengarahkan panahnya ke raksasa yang berwujud babi hutan tersebut. Pada saat yang sama, pemburu jelmaan Siwa (Kiratamurti) juga membidik babi hutan itu. Baik Arjuna maupun si pemburu mengeklaim sebagai penembak pertama si babi hutan. Kemudian adu mulut di antara mereka berujung pada adu kekuatan. Pemburu yang merupakan penjelmaan Siwa menunjukkan keahlian yang tak dapat ditandingi oleh Arjuna. Arjuna pun mengakui kekalahannya, kemudian Siwa berkenan untuk menampakkan wujudnya. Sang dewa menganugerahkan senjata Pasupati kepada Arjuna.[5][6]
Lihat pula
Referensi
- ^ Anonymous. The Mahabharata of Krishna-Dwaipayana Vyasa (Complete) (dalam bahasa Inggris). Library of Alexandria. hlm. 1796. ISBN 978-1-4655-2637-3.
- ^ a b Kakawin Arjuna Wiwaha, Jakarta: Perpustakaan Universitas Indonesia
- ^ a b Sanusi Pane (1978), Arjuna Wiwaha: Disalin dari Bahasa Jawa Kuno (PDF), Jakarta: Balai Pustaka
- ^ Theo Adi Pratama (29 Februari 2024), Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Ditya Mamangmurka, Legenda Patih yang Penuh Tragedi, Akurat.co
- ^ The Complete Mahabharata Volume 1 to 12 (dalam bahasa English). hlm. 1230. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ Valmiki; Vyasa (2018-05-19). Delphi Collected Sanskrit Epics (Illustrated) (dalam bahasa Inggris). Delphi Classics. hlm. 3012. ISBN 978-1-78656-128-2.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.


