Negara inti

Peta negara-negara dunia menurut status perdagangan, akhir abad ke-20, memakai pembedaan sistem dunia dalam negara inti (biru), negara semi-pinggiran (ungu) dan negara pinggiran (merah).
Negara-negara maju ditampilkan dalam warga biru (menurut Yayasan Moneter Internasional, pada 2008)

Dalam teori sistem dunia, negara inti adalah negara kapitalis terindustrialisasi dimana negara pinggiran dan negara semi-pinggiran bergantung. Negara inti mengendalikan dan memanfaatkan pasar global. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai negara kaya dengan kekayaa sumber daya dan berada di wilayah yang disukai ketimbang negara lain. Negara tersebut memiliki lembaga negara yang kuat, militer yang kuat dan aliansi politik global yang kuat.

Negara inti tak selalu menjadi inti secara permanen. Sepanjang sejarah, negara inti berubah dan negara inti yang baru bertambah pada daftar negara inti. Negara paling berpengaruh pada masa lampau menjadi apa yang kemudian dianggap inti. Negara-negara tersebut meliputi kekaisaran-kekaisaran Asia, India dan Timur Tengah sepanjang berabad-abad sampai abad ke-16, terutama India dan Tiongkok yang menjadi wilayah terkaya di dunia sampai kekuatan-kekuatan Eropa mengambil kepemimpinan, meskipun kekuatan-kekuatan Asia besar seperti Tiongkok masih sangat berpengaruh di wilayahnya. Eropa masih demikian sampai abad ke-20, saat dua Perang Dunia mengganggu ekonomi Eropa. Kemudian, Amerika Serikat dan Uni Soviet, sampai akhir 1980an, menjadi dua hegemoni, menciptakan tatanan dunia bipolar. Jantung negara-negara inti terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, sebagian besar Eropa Barat, Jepang, Australia dan Selandia Baru. Penduduk di negara inti jauh lebih kaya dan lebih berpendidikan di dunia.

Sejarah

Pra–abad ke-13

Kekhalifahan Umayyah pada 750 M
Jalur Sutra terbentang dari Eropa Selatan melalui Arabia, Somalia, Mesir, Persia, Pakistan, India, Bangladesh, Jawa dan Vietnam sampai mencapai Tiongkok (rute darat berwarna merah, rute air berwarna biru)

Di Asia, Kekaisaran Tiongkok dianggap sebagai kerajaan tengah dan mengendalikan kawasan tersebut.[1] Dua kekaisaran tersebut berkomunikasi dan berdagang melalui Jalur Sutra, yang mengambil namanya dari perdagangan besar sutra Tiongkok.[2]

Referensi

  1. ^ Steele, P. The Chinese Empire. p.6
  2. ^ Wood, F. The Silk Road: Two Thousand Years in the Heart of Asia. p.36 [1]

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya