Operasi Manna, Chowhound, dan Faust

Sebuah Avro Lancaster saat menjatuhkan pasokan makanan di atas Ypenburg selama Operasi Manna

Operasi Manna, Chowhound, dan Faust memasok bantuan makanan untuk mengatasi bencana kelaparan di Belanda yang diduduki Jerman pada 1944–1945. Pada bulan Mei 1945, sekitar 20.000 orang di Belanda telah meninggal akibat kelaparan dan tiga juta orang bertahan hidup dengan pasokan makanan yang terus berkurang. Wilayah utama yang terdampak bencana kelaparan ini mencakup kota-kota besar di bagian barat. Operasi-operasi ini dijalankan oleh pasukan udara dan darat Sekutu dalam sepuluh hari terakhir Perang Dunia II. Gencatan senjata dengan penjajah Jerman memungkinkan operasi bantuan ini dilaksanakan.

Manna (29 April – 7 Mei 1945) menjatuhkan 7.000 ton makanan dari udara ke bagian barat Belanda yang diduduki Nazi. Operasi ini dilaksanakan oleh unit-unit Royal Air Force (RAF) Britania dan skuadron-skuadron dari Royal Australian Air Force (RAAF), Royal Canadian Air Force (RCAF), Royal New Zealand Air Force (RNZAF), serta skuadron Angkatan Udara Polandia di dalam RAF. Chowhound (1–8 Mei 1945) menjatuhkan 4.000 ton makanan dan dilaksanakan oleh Angkatan Udara Angkatan Darat Amerika Serikat. Faust (2–9 Mei 1945) adalah operasi darat yang dijalankan oleh Angkatan Darat Kanada yang menyalurkan 7.000 ton makanan. Secara keseluruhan, 18.000 ton makanan dijatuhkan dari udara atau diangkut dengan truk ke wilayah Belanda yang diduduki selama 11 hari. Perang berakhir di Belanda dengan penyerahan diri secara keseluruhan Nazi Jerman pada 8 Mei.

Operasi Manna, Chowhound, dan Faust mencegah timbulnya bencana kelaparan yang lebih meluas di Belanda. Dengan berakhirnya perang, pihak Sekutu mengirimkan pasokan makanan tambahan dalam jumlah besar ke Belanda untuk mengatasi kekurangan pangan.

Latar belakang

Jerman Nazi menginvasi dan menduduki Belanda pada Mei 1940. Bencana kelaparan dimulai di Belanda yang diduduki setelah kegagalan Operasi Market Garden (17–25 September 1944), serangan Sekutu di tenggara Belanda yang bertujuan membuka jalur invasi ke Jerman, serta mogok kerja serentak oleh para pekerja kereta api Belanda. Setelah Market Garden, pihak Jerman untuk sementara melarang pengangkutan makanan dari pedesaan di timur Belanda ke wilayah barat Belanda yang terurbanisasi dan berpenduduk padat. Aksi mogok pekerja kereta api, yang berlanjut hingga akhir perang pada Mei 1945, mengganggu pengangkutan makanan, terutama panen kentang pada musim gugur 1944. Kedua faktor ini ditambah dengan berkurangnya cadangan makanan yang dimiliki oleh pemerintah Belanda, pembanjiran sebagian besar lahan pertanian oleh Jerman sebagai langkah pertahanan, musim dingin yang lebih dingin dari rata-rata, pengiriman paksa makanan dan pekerja dari Belanda ke Jerman, serta pengeboman oleh Sekutu berkontribusi pada parahnya bencana kelaparan tersebut.[1][2]

Sebagian besar penderitaan selama bencana kelaparan ini dialami oleh penduduk perkotaan (2,6 juta jiwa) di bagian barat Belanda. Jumlah kematian diperkirakan sekitar 20.000 jiwa. Pada titik terendah, jatah harian yang disediakan oleh pemerintah Belanda hanya berupa dua potong roti dan satu pint sup encer setiap orang. Sekutu Britania dan Amerika awalnya enggan menanggapi permintaan Belanda untuk mengirimkan makanan karena mereka khawatir makanan tersebut akan jatuh ke tangan Jerman. Swedia dan Swiss, negara-negara netral, serta Palang Merah (ICRC) mengirimkan muatan kapal berisi makanan ke Belanda dari Februari hingga April 1945 dan menambahkan 200 hingga 400 kilocalorie (800–1.700 kilojoule) energi makanan tambahan setiap harinya ke dalam konsumsi penduduk kota, tetapi hal itu jauh dari cukup untuk meredakan bencana kelaparan tersebut. Jatah resmi ini dilengkapi oleh pasar gelap dan para "pencari makanan" (food trekkers) yang melakukan perjalanan dengan berjalan kaki atau bersepeda ke pedesaan untuk membeli atau menukarkan barang dengan makanan.[2][3]

Pada April 1945, dengan penyerahan diri Jerman yang sudah di depan mata, negosiasi antara pejabat Jerman dan Belanda menghasilkan kesepakatan untuk meminta penjatuhan bantuan makanan dari udara oleh angkatan udara Sekutu dan mengizinkan makanan masuk ke Belanda melalui truk-truk militer. Wilayah yang berada di sebelah barat Garis Grebbe, tempat empat kota terbesar di Belanda berada—yaitu Amsterdam, Rotterdam, Den Haag, dan Utrecht—tetap berada di bawah kendali Jerman. Situasi di kota-kota tersebut pada akhir April mendekati katastrofis dengan jatah resmi yang hanya berjumlah 364 kilocalorie (1.520 kilojoule) per hari.[4] Pada 1 Mei, para pejabat pangan Belanda di wilayah Belanda yang diduduki Jerman menyatakan bahwa mereka tidak lagi memiliki makanan untuk didistribusikan.[5]

Negosiasi tersebut juga menghasilkan gencatan senjata lokal antara pasukan Sekutu yang bergerak maju (sebagian besar Kanada) dan pihak Jerman. Sekutu mengkhawatirkan bahwa sebagai langkah pertahanan, pihak Jerman mungkin akan menghancurkan tanggul-tanggul yang menahan Samudra Atlantik dan membanjiri sebagian besar wilayah Belanda. Hal ini karena 26% wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut.[6] Eisenhower mengirimkan peringatan kepada komandan militer Jerman bahwa ia "akan dihukum jika pihak Jerman memperparah penderitaan rakyat Belanda."[7]

Pasukan Jerman di Belanda menyerah kepada Sekutu pada 5 Mei 1945. Perang Dunia II di Eropa berakhir pada 8 Mei ketika Jerman menyerah secara keseluruhan.[8]

Negosiasi

Pada 2 April 1945, Reichskommissar Jerman Arthur Seyss-Inquart memberitahu para pejabat pangan Belanda bahwa ia bersedia bernegosiasi untuk melakukan gencatan senjata di bagian barat Belanda guna mengizinkan masuknya pasokan makanan ke wilayah Belanda yang diduduki Jerman. Pada 12 April, Seyss-Inquart sepakat dengan pihak Belanda bahwa jika pasukan Sekutu berhenti di Garis Grebbe dan menghentikan operasi militer di Belanda, ia akan mendukung upaya Sekutu untuk mengirimkan bantuan makanan ke wilayah Belanda yang masih diduduki Jerman. Perdana Menteri Belanda dalam pengasingan Pieter Sjoerds Gerbrandy memberikan pengarahan kepada Perdana Menteri Britania Winston Churchill dan Pangeran Bernhard memberikan pengarahan kepada Panglima Tertinggi Sekutu Dwight Eisenhower mengenai peluang untuk membantu penduduk perkotaan Belanda yang menderita kelaparan. Pada 23 April, Eisenhower diberi wewenang oleh pemerintah AS dan Britania untuk mulai merencanakan operasi bantuan. Eisenhower telah menugaskan Komodor Udara Andrew Geddes untuk membuat perencanaan.[9]

Pada 26 April, Seyss-Inquart sepakat dengan otoritas Belanda untuk mengizinkan penjatuhan bantuan makanan dari udara. Pada 27 April, Seyss-Inquart bertemu dengan otoritas militer Britania dan pada 30 April bertemu dengan wakil Eisenhower, Bedell Smith. Diskusi-diskusi tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa pesawat Sekutu diizinkan terbang di koridor yang telah ditentukan tanpa ditembaki oleh pihak Jerman, serta bantuan makanan dapat dijatuhkan di 10 zona penjatuhan (drop zone) yang telah ditentukan tanpa gangguan dari pihak Jerman.[10]

Perencanaan

Diberi tugas melakukan perencanaan, perwira Britania Andrew Geddes awalnya memutuskan bahwa penjatuhan dari udara merupakan metode pengiriman terbaik. Namun, parasut yang tersedia tidak cukup untuk setiap paket dan pesawat tidak dapat mendarat dengan aman di Belanda karena Sekutu telah mengebom semua landasan pacu. Mereka juga khawatir pesawat dan awaknya dapat ditawan oleh pihak Jerman jika mereka mendarat. Geddes melakukan uji coba penjatuhan kantong pasir dan menemukan bahwa kantong-kantong tersebut pecah saat menghantam tanah ketika dijatuhkan dari ketinggian 150 m (500 ft), tetapi penjatuhan dengan kecepatan rendah dari ketinggian 120 m (400 ft) berhasil dilaksanakan. Ketinggian penjatuhan yang rendah ini mengharuskan operasi hanya dilakukan pada siang hari.[11]

Koordinasi dengan pihak pendudukan Jerman diperlukan untuk menentukan koridor penerbangan dan zona penjatuhan guna mencegah pihak Jerman menembaki pesawat yang membawa makanan. Pihak Jerman khawatir Sekutu mungkin menggunakan penjatuhan bantuan ini sebagai kedok untuk serangan militer. Pada 26 April, Geddes dan jenderal Britania Freddie de Guingand bertemu dengan para perwira Jerman di Achterveld, sebuah desa di bagian Belanda yang telah dikuasai Kanada. Para perwira tersebut menyetujui koridor udara, zona penjatuhan, dan rincian lainnya, meskipun para perwira Jerman tersebut tidak memiliki wewenang untuk menyetujui operasi itu secara resmi. Keputusan tersebut diserahkan ke tingkat yang lebih tinggi kepada Seyss-Inquart.[12]

Operasi

Manna

Awak darat RAF memuat pasokan makanan ke dalam sabuk pengangkat untuk dinaikkan ke dalam ruang bom dari pesawat pengebom berat Avro Lancaster milik Skuadron 514 (1945).
Tulisan Many Thanks (Terima Kasih Banyak) yang dibentuk dari tulip di atas tanah untuk Operasi Manna dan Chowhound.

Operasi Manna adalah operasi Britania, yang dinamai berdasarkan makanan ajaib yang dijelaskan dalam Alkitab. Pada 29 April, terlepas dari kenyataan bahwa pihak Jerman belum secara resmi menyetujui gencatan senjata (Seyss-Inquart baru melakukannya keesokan harinya), Geddes melakukan penerbangan uji coba untuk melihat apakah pihak Jerman akan mematuhi kesepakatan sementara untuk tidak menembaki pesawat Sekutu yang membawa makanan. Pada pagi hari itu, dua Avro Lancaster milik RAF yang membawa makanan alih-alih bom terbang ke Belanda, menjatuhkan makanan di sebuah lintasan balap dekat Den Haag, dan kembali dengan selamat ke Britania setelah operasi yang hanya berlangsung sedikit lebih dari dua jam. Dengan keberhasilan tersebut, BBC mengumumkan bahwa ratusan pesawat militer Britania akan menjatuhkan makanan di enam zona penjatuhan yang telah ditentukan pada sore harinya. Dua ratus empat puluh pesawat Lancaster menjatuhkan 526 ton makanan pada hari itu. Pesawat-pesawat Lancaster terbang pada ketinggian yang sangat rendah dengan meriam-meriam Jerman diarahkan ke mereka. Pihak Jerman telah membentangkan sprei untuk mengidentifikasi zona penjatuhan. Personel intelijen Jerman bersiap untuk memeriksa kantong-kantong makanan saat mendarat demi memastikan tidak ada senjata yang dijatuhkan. Puluhan ribu warga Belanda berbondong-bondong mendatangi zona penjatuhan. Meskipun terdapat risiko kekacauan saat orang-orang yang kelaparan bergegas ke zona penjatuhan, penerimaan penjatuhan makanan tersebut terorganisasi dengan baik. Geddes telah meminta Pangeran Bernhard, komandan angkatan darat Belanda, untuk mengorganisasi komite penerimaan dan distribusi di Belanda.[13]

John Funnell, seorang navigator dalam operasi tersebut, mengatakan bahwa barang-barang pertama yang dijatuhkan adalah makanan kaleng, makanan kering, dan cokelat.

Pada pengarahan, kami diberitahu bahwa gencatan senjata belum dinegosiasikan, tetapi siaran telah disampaikan kepada pihak Jerman mengenai misi kami, dengan memberikan rincian rute, ketinggian, kecepatan, dan tujuan kami beserta permintaan agar kami tidak diganggu. Saat kami tiba, orang-orang telah berkumpul dan mengibarkan bendera, membuat isyarat, dan lain-lain, melakukan apa saja yang mereka bisa. Itu adalah pemandangan yang sangat menakjubkan. Gagasan utamanya adalah kami akan menyeberangi perbatasan Belanda pada ketinggian 1.000 kaki, lalu turun ke ketinggian 500 kaki pada kecepatan 90 knot yang berada tepat di atas kecepatan mati mesin (stalling speed)... Tidak ada gencatan senjata pada saat itu, dan saat kami menyeberangi pantai, kami dapat melihat meriam antipesawat mengikuti pergerakan kami. Kami kemudian seharusnya naik kembali ke ketinggian 1.000 kaki, tetapi karena adanya meriam antipesawat tersebut, kami justru turun hingga setinggi atap rumah. Pada saat mereka membidik kami, kami sudah menghilang dari pandangan. Banyak orang terkejut karena kami terbang tanpa persenjataan...[14]

Dari 29 April dan berlanjut hingga 8 Mei, Operasi Manna terdiri dari 3.301 sortie dan penjatuhan 7.142 ton makanan ke enam lokasi. Operasi ini dijalankan oleh pesawat perang dan awak dari Britania, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Polandia—ditambah seorang warga Belanda yang memiloti sebuah pesawat Lancaster. Zona penjatuhan tersebut meliputi: Katwijk (lapangan udara Valkenburg), Den Haag (lintasan pacuan kuda Duindigt dan lapangan udara Ypenburg), Rotterdam (lapangan udara Waalhaven dan Kralingse Plas), serta Gouda. Penjatuhan awal mencakup jatah tempur militer, tetapi isinya kemudian berubah menjadi kotak-kotak barang tunggal dan karung-karung tepung, daging kaleng, gula, kopi, kacang polong, cokelat, dan telur kering.[15]

Chowhound

Operasi Amerika Serikat ini sempat tertunda akibat cuaca buruk di pangkalan-pangkalan AS di Britania, tetapi dimulai pada 1 Mei.[16] Antara hari itu hingga 8 Mei, sepuluh grup pengebom dari Divisi Udara Ketiga AS menerbangkan 2.268 sortie, yang menyalurkan total 3.770 ton.[17] Empat ratus pesawat pengebom B-17 Flying Fortress milik Angkatan Udara Angkatan Darat Amerika Serikat menjatuhkan 800 ton Ransum K antara 1 hingga 3 Mei di Bandar Udara Schiphol Amsterdam. Setiap kotak ransum K memiliki berat 19 kg (42 pon) hingga 20 kg (44 pon) dan menimbulkan ancaman bagi warga sipil di darat yang mungkin tertimpa kotak jatuh tersebut. Pasukan Jerman di darat, yang menentang atau tidak mengetahui perintah untuk menahan tembakan, terkadang menembaki pesawat yang terbang rendah tersebut, tetapi hanya ada sedikit kerusakan yang terjadi.[18][19]

Pada 1 Mei 1945, lapangan udara Valkenburg dekat Leiden menjadi zona penjatuhan bagi beberapa B-17. Penembak Bernie Behrman dari Grup Pengebom ke-390 menggambarkan pengalamannya dalam penerbangan tersebut:

Tujuan dari misi ini adalah pangkalan udara Valkenburg. Kami tidak kesulitan menemukan lapangan udara tersebut. Tidak ada perlawanan antipesawat. Saat saya berbelok untuk melakukan penjatuhan, saya bisa melihat tentara Jerman sedang berjaga. Kami menjatuhkan makanan. Beberapa paket tersangkut pada titik gantungan, tetapi itu bukan masalah. Kami menutup pintu ruang bom dan kembali pulang dengan perasaan senang. Para awak di atas pesawat adalah awak perang yang berpengalaman menghancurkan berbagai hal. Setelah semua penerbangan penghancuran itu, kami memiliki perasaan yang sangat baik tentang misi ini. Saya rasa pesawat-pesawat pengebom yang terbang rendah di atas zona penjatuhan pada kecepatan 150 hingga 175 knot pasti telah meningkatkan moral orang-orang di darat.[20]

Operasi Chowhound menjadi preseden dan model untuk misi penjatuhan dari udara pada masa mendatang, yang paling terkenal adalah Jembatan Udara Berlin pada 1948–1949.[8]

Faust

Pasukan Sekutu di darat di wilayah Belanda yang telah dibebaskan mulai menimbun bantuan makanan untuk rakyat Belanda sambil menunggu kesempatan untuk mendistribusikannya pada akhir perang atau ke wilayah-wilayah yang masih dikuasai oleh Jerman. Penimbunan makanan Sekutu yang diperuntukkan bagi Belanda berlokasi di Belanda, Belgia, Britania, AS, dan di atas kapal-kapal, dengan jumlah total sekitar 158.000 ton. Operasi Faust merupakan upaya awal untuk membawa bantuan makanan ke Belanda menggunakan transportasi darat alih-alih udara.[21]

Pada 1 Mei, komandan angkatan darat Jerman dan komandan Kanada Charles Foulkes menyetujui gencatan senjata di sepanjang jalan dan jalur kereta api dari Arnhem (di tangan Sekutu) menuju Utrecht (di tangan Jerman). Operasi Faust dimulai keesokan paginya ketika 360 truk Kanada yang membawa makanan menyeberang ke wilayah yang dikuasai Jerman. Sebanyak 150 truk tambahan kemudian ikut berpartisipasi dalam operasi bantuan tersebut. Makanan yang disalurkan dari 2 hingga 9 Mei mencapai total 6.913 ton. Dengan penyerahan diri Jerman di Belanda pada 5 Mei, pengiriman makanan dapat memasuki bagian Belanda yang sebelumnya diduduki tanpa hambatan dari pihak Jerman dan dengan bantuan mereka dalam mengelola operasi tersebut.[22]

Dampak

Pemandangan ratusan pesawat pengebom yang melintas di atas kota-kota Belanda pada ketinggian rendah "memicu sorak-sorai dan lambaian kerumunan warga.... Belanda tidak akan pernah melupakan pemandangan arus pesawat tanpa henti yang 'membombardir' kota-kota kami yang terintimidasi dengan barang-barang yang keberadaannya telah kami lupakan."[23] Distribusi makanan berskala besar kepada publik oleh otoritas Belanda baru dimulai pada 10 Mei akibat kerusakan masa perang yang telah menghancurkan sebagian besar jaringan transportasi. Keragaman barang yang disalurkan membuat pemilahan menjadi sulit dalam menyiapkan paket makanan individu untuk didistribusikan.[24]

Dampak psikologis dari penjatuhan dari udara ini sangat signifikan meskipun jumlah makanan yang disalurkan melalui penjatuhan udara relatif kecil dibandingkan dengan kebutuhan, yaitu sekitar tiga kilogram (6+12 pon) per orang di wilayah Belanda yang terdampak kelaparan. Operasi Faust menambahkan dua kilogram (4+12 pon) tambahan per orang ke dalam pasokan makanan. Kekurangan makanan dapat teratasi oleh sejumlah besar makanan yang disalurkan Sekutu melalui darat dan laut setelah penyerahan diri Jerman. Pada minggu tanggal 27 Mei, jatah harian orang dewasa melebihi 2.000 kilocalorie (8.400 kilojoule) per hari, suatu asupan yang memadai bagi sebagian besar orang.[24]

Warisan

Plakat Peringatan Operasi Manna

Sebuah plakat peringatan untuk mengucapkan terima kasih kepada Royal Air Force atas bantuan mereka dalam menjalankan Operasi Manna diserahkan pada Mei 1980 oleh Dr. Willem Scholten, Menteri Pertahanan Belanda, dan dipajang di Museum Royal Air Force London, Hendon, Inggris. Pada 28 April 2007, Komodor Udara Britania Andrew Geddes dihormati ketika sebuah jalur lintas alam di distrik Terbregge, Rotterdam, dinamai menurut namanya menjadi Air Commodore Geddespath. Jalur ini melewati monumen Manna/Chowhound yang berada di penghalang bising pada lingkar jalan tol utara di sekitar Rotterdam. Pembukaan tirai plakat secara resmi dilakukan oleh Letnan Komandan Angus Geddes RN (putra Geddes) dari Inggris dan Bintara Tinggi David Chiverton dari Australia (cucu Geddes).[25]

Referensi

  1. ^ de Zwarte, Ingrid (2020). The Hunger Winter. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 43–59. ISBN 9781108836807.
  2. ^ a b Dankers, Wesley (2023). "Hunger Winter". Traces of War. Diterjemahkan oleh Arnold Palthe. Diakses tanggal 1 Agustus 2025.
  3. ^ de Zwarte 2020, hlm. 139-140.
  4. ^ de Zwarte 2020, hlm. 104,143-148, 271-272.
  5. ^ Dyck, Nathan (2022). "Crossing the Grebbe Line". Canadian Military History. 3 (2): 20. Diakses tanggal 23 Agustus 2025.
  6. ^ Schiermeier, Quirin (5 Juli 2010). "Few fishy facts found in climate report". Nature. 466 (170): 170. doi:10.1038/466170a. PMID 20613812.
  7. ^ Nufer, Harold F. (1985). "Operation Chowhound: A Precedent for Post-World War II Humanitarian Airlift". Aerospace Historian. 32 (1): 3. JSTOR 44523986.
  8. ^ a b Nufer 1985, hlm. 8.
  9. ^ de Zwarte 2020, hlm. 143-148.
  10. ^ de Zwarte 2020, hlm. 149-151.
  11. ^ Dando-Collins, Stephen (2015). Operation Chowhand. New York: Palgrave MacMillan. hlm. 98–101. ISBN 9781137279637.
  12. ^ Dando-Collins 2015, hlm. 111-118.
  13. ^ Dando-Collins 2015, hlm. 119-132.
  14. ^ "Operation Manna--103 Squadron and 576 Squadron--1945". 103 Squadron--RAF. Diakses tanggal 20 Agustus 2025.
  15. ^ Bambridge, Norman. "Food Drops in Holland in WW2" (PDF). Freeola. Basildon Borough Heritage Society. hlm. 4, 7. Diakses tanggal 20 Agustus 2025.
  16. ^ Nufer 1985, hlm. 5-6.
  17. ^ Manna From Heaven Diarsipkan 11 Desember 2008 di Wayback Machine. – Legion, 1 Mei 2005, oleh Ted Barris
  18. ^ Dando-Collins 2015, hlm. 149, 167-182.
  19. ^ Best, Nicholas (2013). Five Days That Shocked the World: Eyewitness Accounts from Europe at the End of World War II. Osprey Publishing. hlm. 85. ISBN 978-1780960463.
  20. ^ Operation Chowhound: B-17s over Valkenburg, [1], artikel diakses pada 18 April 2025.
  21. ^ de Zwarte 2020, hlm. 156-158.
  22. ^ Dyck 2022, hlm. 20, 25-34.
  23. ^ van der Zee, Henri A. (1982). The Hunger Winter. Lincoln: University of Nebraska Press. hlm. 254. ISBN 0803296185.
  24. ^ a b de Zwarte 2020, hlm. 158.
  25. ^ "More than Food:Terbregge--2015". Operation Manna.

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya