Pemisahan Syiah-Sunni

Pemisahan Syiah-Sunni adalah proses historis yang menghasilkan terbentuknya Sunni dan Syiah sebagai dua tradisi utama dalam Islam. Asal perpecahan biasanya ditelusuri ke persoalan kepemimpinan komunitas Muslim setelah wafatnya Muhammad pada 632 M, khususnya mengenai siapa yang berhak menggantikannya dan atas dasar apa otoritas tersebut harus ditetapkan.[1][2]

Dalam tradisi Sunni, Abu Bakar ash-Shiddiq dipandang sebagai khalifah pertama yang sah setelah dipilih dalam proses politik di Saqifah Bani Sa'idah, kemudian diikuti Umar, Utsman, dan Ali sebagai empat Khalifah Rasyidin. Dalam tradisi Syiah, Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Muhammad, dipandang sebagai penerus yang memiliki hak utama; dalam Syiah Imamiyah dan Ismailiyah, hak kepemimpinan tersebut berkembang menjadi doktrin imamah yang berlanjut dalam keturunan Ali dan Fatimah az-Zahra.[3][4]

Meskipun sengketa suksesi 632 merupakan titik asal utama, Sunni dan Syiah tidak terbentuk sebagai dua mazhab yang sepenuhnya mapan pada saat itu. Identitas, doktrin, ritual, dan kumpulan hadis yang berbeda berkembang selama beberapa generasi berikutnya. Najam Haider menunjukkan bahwa identitas Syiah yang lebih mandiri secara sosial dan ritual mengkristal kemudian di Kufah, sedangkan tradisi Sunni juga berkembang secara bertahap melalui proses pembentukan ahl al-sunna wa-l-jama'a dan konsolidasi mazhab hukum serta teologi.[5][6]

Peristiwa-peristiwa berikutnya—terutama Perang Saudara Islam Pertama, pembunuhan Ali pada 661, berdirinya Kekhalifahan Umayyah, dan Pertempuran Karbala pada 680—memperdalam perbedaan politik dan memberi makna teologis serta ritual yang semakin kuat kepada loyalitas terhadap keluarga Muhammad.[1][7]

Terminologi

Kata Syiah berasal dari bahasa Arab shīʿa (شيعة), yang berarti kelompok, pengikut, atau partisan. Dalam konteks Islam awal, ungkapan shīʿat ʿAlī berarti "kelompok" atau "partisan Ali". Penggunaan istilah tersebut pada mulanya bersifat politik dan berkembang menjadi identitas keagamaan yang memiliki konsep khusus mengenai imamah, otoritas keagamaan, dan warisan keluarga Nabi.[8]

Istilah Sunni berasal dari sunna, yakni teladan atau tradisi Muhammad. Sebutan yang lebih lengkap adalah ahl al-sunna wa-l-jamaʿa ("orang-orang Sunah dan komunitas"). Identitas Sunni sebagai kategori teologis dan hukum terbentuk secara bertahap dan tidak dapat secara sederhana diproyeksikan kembali ke seluruh pendukung Abu Bakar pada tahun 632.[6]

Karena itu, sejumlah sejarawan menggunakan istilah seperti proto-Syiah, Alid, atau "partisan Ali" ketika membahas kelompok awal, untuk menghindari anggapan bahwa mereka telah memiliki seluruh doktrin Syiah yang berkembang kemudian.[5]

Persoalan sumber sejarah

Rekonstruksi sejarah awal pemisahan Syiah-Sunni menghadapi persoalan sumber. Sebagian besar narasi tertulis yang masih bertahan disusun beberapa generasi setelah peristiwa-peristiwa abad ke-7, dan para penulis serta periwayat hidup ketika identitas politik dan sektarian telah berkembang.[9]

Sumber Sunni dan Syiah juga mempertahankan tradisi yang berbeda mengenai suksesi, Fatimah, Saqifah, Ghadir Khum, dan konflik masa Ali. Sejarawan modern menggunakan perbandingan berbagai tradisi riwayat, kronik, hadis, genealogis, numismatik, serta konteks politik kemudian untuk menilai informasi tersebut.

Wilferd Madelung berpendapat bahwa sumber naratif Muslim tidak seharusnya ditolak seluruhnya sebagai konstruksi terlambat dan dapat digunakan secara kritis untuk merekonstruksi peristiwa awal.[10] Pendekatan para sarjana berbeda mengenai tingkat kepercayaan yang dapat diberikan kepada setiap tradisi, sehingga artikel sejarah biasanya membedakan antara narasi sektarian dan kesimpulan historiografis.

Wafatnya Muhammad dan persoalan suksesi

Muhammad wafat di Madinah pada 632 tanpa meninggalkan institusi monarki herediter yang mapan. Pertanyaan mengenai siapa yang harus memimpin komunitas setelahnya segera menjadi persoalan politik utama.[3]

Perbedaan paling mendasar kemudian berkembang menjadi dua konsep kepemimpinan. Tradisi Sunni mengakui kekhalifahan, dengan pemimpin yang dipilih atau diakui komunitas dan bertugas memelihara pemerintahan serta agama. Dalam tradisi Syiah, terutama Imamiyah, kepemimpinan berkembang menjadi doktrin imamah, yakni otoritas khusus yang berasal dari penunjukan ilahi melalui Muhammad dan berlanjut dalam keluarga Ali dan Fatimah.[11]

Ghadir Khum

Beberapa bulan sebelum wafat, ketika kembali dari haji perpisahan, Muhammad berhenti di Ghadir Khum dan menyampaikan pernyataan mengenai Ali yang dalam berbagai versi berbunyi, "Siapa yang menjadikan aku mawla, maka Ali adalah mawla-nya." Riwayat mengenai peristiwa ini terdapat dalam sumber Syiah dan juga sejumlah koleksi hadis Sunni.[12]

Makna istilah mawla menjadi titik perbedaan. Tradisi Syiah memahami pernyataan Ghadir Khum sebagai penunjukan Ali sebagai penerus dalam kepemimpinan spiritual dan politik. Dalam tradisi Sunni, peristiwa tersebut pada umumnya diterima sebagai penegasan kedudukan atau kecintaan kepada Ali, tetapi tidak dianggap sebagai penunjukan eksplisit sebagai khalifah.[12][11]

Sejarawan modern juga berbeda dalam menafsirkan implikasi politik peristiwa tersebut. Yang lebih pasti adalah bahwa Ghadir Khum kemudian menjadi salah satu narasi terpenting dalam konstruksi identitas Syiah, diperingati melalui Idul Ghadir.[13]

Saqifah dan pemilihan Abu Bakar

Segera setelah wafatnya Muhammad, sejumlah Ansar berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah untuk membahas kepemimpinan Madinah. Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah dari Muhajirin kemudian bergabung dalam pertemuan tersebut. Setelah perdebatan, Umar memberikan baiat kepada Abu Bakar dan peserta lain menyusulnya.[14]

Pertemuan tersebut tidak mencakup seluruh tokoh utama komunitas. Ali, Fatimah az-Zahra, Bani Hasyim, dan sejumlah sahabat pada saat itu sedang terlibat dalam urusan wafat dan pemakaman Muhammad atau tidak hadir di Saqifah.[14]

Dalam perspektif Sunni kemudian, pemilihan Abu Bakar dipandang sebagai proses sah yang dikukuhkan melalui baiat komunitas dan menjadi preseden bahwa kepemimpinan tidak harus diwariskan melalui keturunan Nabi. Tradisi Syiah memandang proses Saqifah sebagai tindakan yang mengesampingkan hak Ali dan keluarga Muhammad.[3][4]

Ali pada akhirnya memberikan baiat kepada Abu Bakar. Sumber-sumber berbeda dalam menggambarkan waktu, keadaan, dan makna baiat tersebut. Perbedaan mengenai hubungan Ali, Fatimah, dan para khalifah pertama kemudian menjadi bagian penting dalam memori sektarian Sunni dan Syiah.

Masa tiga khalifah pertama

Abu Bakar digantikan Umar pada 634, lalu Utsman bin Affan pada 644. Ali tetap menjadi tokoh penting masyarakat Muslim, tetapi tidak memegang kekhalifahan sampai 656.

Dalam historiografi Sunni, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali kemudian dihormati sebagai empat Khalifah Rasyidin. Tradisi Syiah mengakui keutamaan Ali sebagai imam pertama dan umumnya tidak menganggap tiga khalifah sebelumnya sebagai pemilik legitimasi yang setara dengannya.[11]

Perbedaan tersebut tidak berarti bahwa komunitas pada masa Abu Bakar sampai Utsman sudah terbagi ke dalam dua organisasi mazhab modern. Loyalitas politik, kesukuan, keluarga, dan regional masih berpotongan, sementara identitas keagamaan Sunni dan Syiah berkembang lebih lanjut pada abad berikutnya.[5]

Kekhalifahan Ali dan Perang Saudara Islam Pertama

Utsman terbunuh pada 656 setelah periode konflik politik dan pemberontakan. Ali kemudian dibaiat sebagai khalifah. Pemerintahannya segera menghadapi oposisi dari beberapa kelompok yang menuntut penanganan terhadap pembunuh Utsman.[15]

Perang Jamal

Pada akhir 656, pasukan Ali bertempur di dekat Basra melawan kelompok yang dipimpin Aisyah, Talhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. Konflik ini dikenal sebagai Perang Jamal. Ali memenangkan pertempuran dan Aisyah kemudian kembali ke Madinah.

Pertempuran tersebut merupakan salah satu konflik besar pertama antara tokoh-tokoh generasi awal Muslim dan kemudian ditafsirkan secara berbeda dalam literatur Sunni dan Syiah.

Pertempuran Siffin

Oposisi yang lebih besar datang dari Muawiyah I, gubernur Suriah dan kerabat Utsman. Muawiyah menolak mengakui Ali sebelum kasus pembunuhan Utsman diselesaikan. Kedua pihak bertempur dalam Pertempuran Siffin pada 657.[15]

Pertempuran berakhir dengan kesepakatan arbitrase. Sebagian pendukung Ali menolak arbitrase karena menganggap keputusan mengenai kekhalifahan seharusnya tunduk langsung kepada hukum Allah. Kelompok yang memisahkan diri tersebut menjadi cikal bakal Khawarij, suatu tradisi yang berkembang terpisah dari baik Sunni maupun Syiah.

Pada 661, Ali dibunuh oleh seorang Khawarij. Muawiyah kemudian mengonsolidasikan kekuasaan dan mendirikan Kekhalifahan Umayyah.[1]

Hasan bin Ali dan berdirinya Umayyah

Setelah kematian Ali, para pendukungnya di Kufah memberikan baiat kepada putranya, Hasan bin Ali. Hasan kemudian mencapai kesepakatan dengan Muawiyah dan melepaskan klaim politik langsungnya, sementara Muawiyah memperoleh kendali atas kekhalifahan.[16]

Muawiyah pada akhirnya menetapkan putranya Yazid I sebagai penerus. Pergeseran menuju suksesi dinasti memperkuat oposisi di kalangan sejumlah tokoh Muslim, termasuk Husain bin Ali.

Karbala

Setelah Yazid menjadi khalifah pada 680, Husain menolak memberikan baiat kepadanya. Penduduk Kufah mengirim surat yang mengundang Husain untuk datang dan memimpin mereka. Husain berangkat dari Makkah menuju Irak bersama keluarga dan sejumlah pendukungnya.[7]

Pasukan Umayyah mencegat kelompok Husain dan mengepung mereka di dataran Karbala. Pada 10 Muharam 61 H, bertepatan dengan 10 Oktober 680, Husain dan hampir seluruh pengikut laki-lakinya terbunuh dalam pertempuran melawan pasukan yang jauh lebih besar.[7]

Kematian cucu Muhammad ini menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Syiah. Encyclopaedia Iranica menyebut tragedi Karbala sebagai peristiwa konstitutif dalam perkembangan Syiah dan simbol kemenangan sementara kekuatan penindas terhadap kelompok yang dipandang benar.[7]

Dalam tradisi Syiah, peristiwa tersebut diperingati setiap tahun melalui ritual Asyura dan kemudian Arba'in. Karbala memberi dimensi penderitaan, pengorbanan, keadilan, dan perlawanan terhadap tirani kepada identitas Syiah.[17]

Muslim Sunni juga menghormati Husain sebagai cucu Muhammad dan mengecam pembunuhannya, tetapi Karbala tidak memiliki fungsi doktrinal dan ritual yang sama seperti dalam Syiah.

Gerakan setelah Karbala

Karbala diikuti berbagai gerakan Alid dan proto-Syiah. Kelompok Tawwabun ("orang-orang yang bertobat") muncul di Kufah karena merasa bersalah gagal membantu Husain dan melakukan pemberontakan melawan Umayyah. Tidak lama kemudian, Mukhtar ats-Tsaqafi memimpin gerakan yang mengatasnamakan pembalasan terhadap kematian Husain dan mendukung Muhammad bin al-Hanafiyah.[18]

Gerakan Mukhtar berhubungan dengan berkembangnya Kaysaniyah, salah satu kelompok awal yang mengembangkan gagasan mengenai imam dan Mahdi. Dalam abad berikutnya, dukungan kepada keluarga Ali terpecah ke berbagai garis suksesi dan doktrin.

Pembentukan Syiah

Pada abad ke-8 dan ke-9, kelompok-kelompok Syiah mengembangkan konsep imamah yang semakin sistematis. Walaupun mereka sepakat mengenai kedudukan istimewa Ali dan Ahlulbait, mereka berbeda mengenai siapa imam yang sah, sifat otoritas imam, dan bagaimana imam ditetapkan.[8][4]

Dari perkembangan tersebut muncul beberapa cabang utama:

  • Zaidiyah, yang mengikuti garis yang dikaitkan dengan Zaid bin Ali dan memiliki teori imamah yang berbeda dari Imamiyah;
  • Ismailiyah, yang mengikuti garis imamah melalui Ismail bin Ja'far atau putranya Muhammad;
  • Imamiyah atau Dua Belas Imam, yang mengakui rangkaian dua belas imam dari Ali hingga Muhammad al-Mahdi.

Najam Haider menunjukkan bahwa pembentukan identitas Syiah juga terjadi melalui praktik ritual, hukum, ruang ibadah, dan jaringan sosial—bukan hanya melalui klaim politik mengenai Ali.[5]

Kumpulan hadis Syiah yang independen dapat ditelusuri setidaknya ke paruh pertama abad ke-8. Pada tahap ini, perbedaan mengenai sumber otoritas keagamaan semakin jelas: Syiah menempatkan riwayat para imam dari Ahlulbait sebagai sumber utama, sedangkan tradisi Sunni membangun korpus hadis melalui jaringan sahabat dan generasi penerus yang lebih luas.[19]

Pembentukan Sunni

Tradisi Sunni juga terbentuk secara bertahap. Para pendukung komunitas mayoritas tidak sejak awal merupakan kelompok tunggal dengan doktrin, mazhab hukum, dan kanon hadis yang seragam.

Pada abad ke-8 dan ke-9, perkembangan ahli hadis, mazhab fikih, perdebatan teologi, dan posisi politik terhadap penguasa membantu membentuk konsep ahl al-sunna wa-l-jama'a. Tradisi Sunni kemudian mengakui empat khalifah pertama sebagai model kekhalifahan yang "mendapat petunjuk" dan menempatkan otoritas keagamaan terutama pada Al-Qur'an, Sunah Muhammad, konsensus, serta metodologi hukum yang dikembangkan para ulama.

Penerimaan Ali sebagai khalifah keempat juga memiliki sejarah. Kajian Nebil Husayn menunjukkan bahwa kedudukan Ali dalam historiografi dan hadis Sunni mengalami proses konsolidasi setelah masa propaganda politik Umayyah yang memusuhinya; pada akhirnya Ali menjadi tokoh yang dihormati dalam kedua tradisi Sunni dan Syiah.[20]

Perbedaan konsep kepemimpinan

Perbedaan historis mengenai suksesi berkembang menjadi dua model utama otoritas.

Aspek Sunni Syiah Imamiyah
Kepemimpinan setelah Muhammad Kekhalifahan Imamah
Penerus pertama yang sah Abu Bakar Ali bin Abi Thalib
Dasar legitimasi Baiat, konsultasi, pengakuan komunitas dan preseden Penunjukan ilahi melalui Nabi dan garis Ahlulbait
Empat khalifah pertama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali sebagai Rasyidin Ali sebagai imam pertama; tiga khalifah sebelumnya tidak memiliki kedudukan imamah
Otoritas keluarga Nabi Dihormati, tetapi tidak secara eksklusif memegang kepemimpinan Memegang posisi sentral dalam transmisi otoritas dan imamah

Tabel tersebut menyederhanakan keragaman internal. Zaidiyah, Ismailiyah, dan Dua Belas Imam memiliki teori imamah yang berbeda; demikian pula konsep kekhalifahan dan politik dalam tradisi Sunni berubah sepanjang sejarah.[4][2]

Dari sengketa politik ke perbedaan doktrinal

Pada awalnya perdebatan berpusat pada kepemimpinan, tetapi selama abad-abad berikutnya menghasilkan perbedaan dalam hadis, fikih, teologi, ritual, dan otoritas ulama.

Dalam Syiah Dua Belas Imam, imam dipandang memiliki otoritas khusus dalam menafsirkan agama dan, dalam doktrin yang matang, sifat ismah atau keterjagaan dari kesalahan tertentu. Sunni tidak menerima institusi imam turun-temurun dengan sifat tersebut.

Perbedaan lain berkembang dalam beberapa aspek hukum keluarga, ibadah, metode hadis, ritual Asyura, dan struktur otoritas keagamaan. Meskipun demikian, Sunni dan Syiah sama-sama mengakui Al-Qur'an sebagai kitab suci, Muhammad sebagai nabi terakhir, serta sebagian besar praktik pokok seperti salat, puasa Ramadan, zakat, dan haji.

Penguatan identitas sektarian pada masa dinasti

Hubungan Sunni-Syiah pada Abad Pertengahan tidak selalu berupa konflik. Di banyak wilayah, penganut berbagai tradisi hidup berdampingan dan batas sektarian dapat bersifat lentur. Toby Matthiesen menekankan bahwa sejarah kedua tradisi juga ditandai oleh koeksistensi dan "ambiguitas konfesional".[2]

Batas kelembagaan menjadi lebih tegas pada beberapa periode. Kekuasaan Syiah seperti Buwaihi dan Kekhalifahan Fatimiyah memberi patronase pada lembaga dan ritual Syiah, sedangkan penguasa Sunni seperti Seljuk mendukung jaringan madrasah Sunni.

Pada abad ke-16, persaingan antara Kekaisaran Safawiyah yang menjadikan Syiah Dua Belas Imam sebagai agama negara Iran dan Kesultanan Utsmaniyah yang beridentitas Sunni memperkuat proses konfesionalisasi. Ulama dan negara di kedua pihak membantu mendefinisikan batas doktrinal dan politik secara lebih tegas.[21]

Proses tersebut penting karena menunjukkan bahwa perbedaan Sunni-Syiah modern tidak hanya merupakan akibat langsung dari satu peristiwa pada 632 atau 680, tetapi juga dibentuk oleh perkembangan politik, institusi, hukum, pendidikan, dan negara selama lebih dari satu milenium.

Dalam era modern

Pada abad ke-19 dan ke-20 muncul gerakan taqrib atau pendekatan Sunni-Syiah yang berusaha mengurangi perbedaan sektarian. Pada saat yang sama, pembentukan negara modern, kolonialisme, nasionalisme, dan politik identitas juga dapat memperkeras batas komunitas.[22]

Revolusi Iran 1979, Perang Iran-Irak, konflik politik di Lebanon dan Teluk, serta invasi Irak tahun 2003 kembali memberi dimensi geopolitik yang kuat pada hubungan Sunni-Syiah. Namun, sejarawan menekankan bahwa konflik politik modern tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh perbedaan teologi abad ke-7.[2]

Matthiesen berargumen bahwa ketegangan meningkat terutama ketika identitas sektarian dihubungkan dengan persaingan kekuasaan, negara, dan geopolitik, sementara sejarah juga menunjukkan periode panjang hidup berdampingan.[2]

Garis waktu

Tahun Peristiwa Arti dalam perkembangan pemisahan
632 Wafatnya Muhammad dan pertemuan Saqifah Abu Bakar menjadi khalifah; sengketa suksesi menjadi akar perbedaan Sunni-Syiah.
656 Pembunuhan Utsman dan pengangkatan Ali Awal pemerintahan Ali dan Perang Saudara Islam Pertama.
656 Perang Jamal Konflik bersenjata besar pertama dalam pemerintahan Ali.
657 Pertempuran Siffin dan arbitrase Konflik Ali–Muawiyah dan munculnya Khawarij.
661 Pembunuhan Ali Muawiyah mengonsolidasikan kekuasaan Umayyah.
661 Hasan bin Ali berdamai dengan Muawiyah Berakhirnya perebutan kekuasaan langsung pada tahap tersebut.
680 Pertempuran Karbala Husain terbunuh; menjadi peristiwa konstitutif identitas dan ritual Syiah.
684–687 Tawwabun dan pemberontakan Mukhtar Munculnya gerakan Alid dan proto-Syiah baru.
abad ke-8–9 Pembentukan korpus hadis, hukum, dan doktrin Sunni dan berbagai cabang Syiah semakin memiliki identitas keagamaan tersendiri.
1501 Berdirinya Safawiyah di Iran Syiah Dua Belas Imam menjadi agama negara dan proses konfesionalisasi menguat.

Historiografi dan penyederhanaan populer

Pemisahan Sunni-Syiah sering disederhanakan sebagai satu "perpecahan" yang terjadi segera setelah wafatnya Muhammad. Pendekatan ini berguna untuk menjelaskan titik awal, tetapi tidak menggambarkan proses historis secara utuh.

Najam Haider berpendapat bahwa meskipun sengketa suksesi menjadi memori utama semua kelompok Syiah, identitas Syiah yang terpisah secara hukum, ritual, dan sosial muncul secara bertahap dan dapat dilacak lebih jelas pada komunitas Kufah sekitar satu abad kemudian.[5]

Sebaliknya, Wilferd Madelung memberi bobot lebih besar pada konflik suksesi sejak awal dan menilai bahwa klaim Ali terhadap kepemimpinan merupakan unsur penting dalam politik generasi pertama.[1] Perbedaan penekanan tersebut mencerminkan perdebatan lebih luas mengenai hubungan antara peristiwa abad ke-7 dan doktrin yang terdokumentasi lebih jelas pada abad ke-8 dan ke-9.

Karena itu, banyak kajian kontemporer menggambarkan lahirnya Sunni dan Syiah sebagai proses pembentukan identitas yang berlangsung berabad-abad, dengan Saqifah dan Karbala sebagai dua pusat memori historis yang sangat penting.[2][4]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c d Madelung, Wilferd (1997). The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate. Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9780511582042. ISBN 978-0-521-64696-3.
  2. ^ a b c d e f Matthiesen, Toby (2023). The Caliph and the Imam: The Making of Sunnism and Shiism. Oxford University Press. doi:10.1093/oso/9780190689469.001.0001. ISBN 978-0-19-880655-4.
  3. ^ a b c Madelung, Wilferd (1997). "Introduction". The Succession to Muhammad. Cambridge University Press. hlm. 1–27. doi:10.1017/CBO9780511582042.004.
  4. ^ a b c d e Haider, Najam (2014). Shi'i Islam: An Introduction. Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9781139381710. ISBN 978-1-107-03143-2.
  5. ^ a b c d e Haider, Najam (2014). "Origins". Shi'i Islam: An Introduction. Cambridge University Press. hlm. 51–88. doi:10.1017/CBO9781139381710.002.
  6. ^ a b Matthiesen, Toby (2023). "The Formation of Sunnism and Shiism, 632–1500". The Caliph and the Imam. Oxford University Press. doi:10.1093/oso/9780190689469.001.0001.
  7. ^ a b c d Litvak, Meir (2010). "Karbala". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  8. ^ a b Halm, Heinz (2004). Shi'ism (Edisi 2). Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-1888-0.
  9. ^ Matthiesen, Toby (2023). "After the Prophet". The Caliph and the Imam. Oxford University Press. hlm. 15–56. doi:10.1093/oso/9780190689469.003.0002.
  10. ^ Madelung, Wilferd (1997). "Preface". The Succession to Muhammad. Cambridge University Press. hlm. xi–xii. doi:10.1017/CBO9780511582042.001.
  11. ^ a b c Momen, Moojan (1985). An Introduction to Shi'i Islam: The History and Doctrines of Twelver Shi'ism. Yale University Press. ISBN 978-0-300-03531-5.
  12. ^ a b Waines, David (2003). "The Way of the Imams". An Introduction to Islam. Cambridge University Press. hlm. 155–172. doi:10.1017/CBO9780511801037.009.
  13. ^ Haider, Najam (2014). "Fragmentation". Shi'i Islam: An Introduction. Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9781139381710.005.
  14. ^ a b Madelung, Wilferd (1997). "Abū Bakr: the Successor of the Messenger of God and the Caliphate of Quraysh". The Succession to Muhammad. Cambridge University Press. hlm. 28–56. doi:10.1017/CBO9780511582042.005.
  15. ^ a b Madelung, Wilferd (1997). "ʿAlī: the Counter-Caliphate of Hāshim". The Succession to Muhammad. Cambridge University Press. hlm. 141–310. doi:10.1017/CBO9780511582042.008.
  16. ^ Madelung, Wilferd (1997). "Conclusion". The Succession to Muhammad. Cambridge University Press. hlm. 311–355. doi:10.1017/CBO9780511582042.009.
  17. ^ Mohammad, Afsar (2021). "Karbala in Shiʿi Ritual". Oxford Bibliographies in Islamic Studies. Oxford University Press. doi:10.1093/obo/9780195390155-0278.
  18. ^ Calmard, Jean (2004). "Ḥosayn b. ʿAli ii. In Popular Shiʿism". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  19. ^ Kohlberg, Etan (1983). "Shīʿī Ḥadīth". Dalam Beeston, A. F. L.; Johnstone, T. M.; Serjeant, R. B.; Smith, G. R. (ed.). Arabic Literature to the End of the Umayyad Period. Cambridge University Press. hlm. 299–307. doi:10.1017/CHOL9780521240154.013.
  20. ^ Husayn, Nebil (2020). "The Rehabilitation of ʿAlī in Sunnī Ḥadīth and Historiography". Journal of the Royal Asiatic Society. 30 (3): 519–543. doi:10.1017/S1356186319000424.
  21. ^ Matthiesen, Toby (2023). "The Age of Confessionalisation". The Caliph and the Imam. Oxford University Press. hlm. 105–136. doi:10.1093/oso/9780190689469.003.0005.
  22. ^ Brunner, Rainer (2010). "Shiʿite Doctrine iii. Imamite-Sunnite Relations since the Late 19th Century". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.

Bacaan lebih lanjut

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya