Piagam Asoka

Piagam Asoka adalah sekumpulan prasasti yang diukir oleh Asoka, raja dari Dinasti Maurya, pada abad ke-3 SM. Prasasti ini ditemukan di berbagai lokasi di anak benua India dan merupakan salah satu sumber utama dalam memahami sejarah, pemerintahan, serta ajaran moral Asoka.

Latar Belakang

Asoka memerintah sekitar tahun 268 hingga 232 SM. Setelah menyaksikan penderitaan akibat Perang Kalinga, ia mengalami perubahan spiritual dan memutuskan untuk menganut agama Buddha. Sebagai wujud komitmennya terhadap moralitas dan pemerintahan yang etis, ia memerintahkan pengukiran piagam ini di batu dan pilar di seluruh kerajaannya.[1]

Isi dan Tujuan

Piagam Asoka mengandung ajaran moral dan administratif yang bertujuan membimbing rakyat hidup secara etis. Tema utama dalam piagam meliputi:

  • Ahimsa (non-kekerasan): Menghindari kekerasan terhadap manusia dan hewan.
  • Kesejahteraan sosial: Penyediaan fasilitas kesehatan dan pelayanan publik.
  • Toleransi beragama: Penghormatan terhadap berbagai keyakinan.
  • Keadilan: Pemerintahan yang adil dan akuntabel.[2]

Jenis Piagam

Piagam Asoka terbagi menjadi dua jenis utama:

  • Piagam Batu (Rock Edicts)

Terdiri dari 14 piagam utama dan beberapa tambahan, ditemukan di tempat seperti Kalsi, Girnar, dan Dhauli.[3]

  • Piagam Pilar (Pillar Edicts)

Terukir pada pilar batu yang didirikan di lokasi strategis. Isinya mencakup instruksi administratif dan kebijakan sosial Asoka.[2]

Bahasa dan Aksara

Bahasa yang digunakan adalah Prakrit dalam aksara Brahmi, serta versi dalam bahasa Yunani dan Aram di wilayah barat laut India, mencerminkan keragaman budaya di wilayah kekuasaannya.[2]

Lokasi Penemuan

Beberapa situs utama tempat piagam ditemukan meliputi:

  • Kalsi: Memuat Piagam Batu Utama yang menekankan moralitas pemerintahan.
  • Girnar: Piagam batu yang mencatat reformasi sosial.
  • Dhauli: Prasasti mengenai penyesalan Asoka atas Perang Kalinga.
  • Loriya Araraj: Pilar yang menunjukkan kebijakan sosial dan agama.

Warisan

Piagam Asoka adalah dokumen penting dalam studi sejarah India kuno dan merupakan contoh awal komunikasi pemerintah kepada rakyat secara luas. Ajarannya mengenai toleransi dan non-kekerasan menjadi warisan budaya yang dihargai hingga kini, termasuk oleh tokoh-tokoh seperti Mahatma Gandhi.[1]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b "Ashoka". Encyclopaedia Britannica. Diakses tanggal 2025-05-09.
  2. ^ a b c "Ashoka's edicts". Encyclopaedia Britannica. Diakses tanggal 2025-05-09.
  3. ^ "Rock edicts". Encyclopaedia Britannica. Diakses tanggal 2025-05-09.

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya