Puing lautan
Puing lautan adalah benda padat yang ditinggalkan, dibuang, atau masuk secara tidak sengaja ke lingkungan laut dan pesisir. Sebagian besar terdiri dari plastik sekali pakai seperti kantong, botol, dan jaring nelayan, serta mikroplastik yang berukuran sangat kecil. Keberadaan puing di lautan telah menjadi perhatian global sejak akhir abad ke-20 karena berdampak luas terhadap ekosistem, kesehatan manusia, dan aktivitas ekonomi.[1]
Fenomena ini menimbulkan ancaman serius bagi biota laut, termasuk burung, penyu, dan mamalia laut, yang dapat terjerat atau menelan sampah. Selain itu, mikroplastik berpotensi masuk ke rantai makanan dan berdampak pada kesehatan manusia. Dampak ekonomi juga muncul melalui kerugian di sektor pariwisata, perikanan, dan biaya penanganan sampah laut.[2]
Upaya penanggulangan puing lautan melibatkan regulasi internasional seperti MARPOL 73/78, inovasi teknologi pembersihan laut, serta kebijakan pengurangan plastik sekali pakai. Program edukasi dan penelitian juga terus digalakkan untuk mengurangi jumlah sampah yang masuk ke laut dan meningkatkan kesadaran publik.[3]
Sejarah dan Latar Belakang
Masalah puing lautan mulai mendapat perhatian luas pada dekade 1970-an seiring meningkatnya produksi plastik global.[4] Salah satu kasus paling terkenal adalah penemuan Great Pacific Garbage Patch pada 1997 oleh kapten Charles Moore, yang menggambarkan skala akumulasi sampah plastik di laut lepas.
Jenis
- Makroplastik – sampah plastik berukuran besar (botol, kantong, jaring).
- Mikroplastik – partikel plastik <5 mm yang berasal dari degradasi plastik atau produk kosmetik.[5]
- Puing perikanan – seperti jaring hantu (ghost nets) yang terus menangkap ikan walau ditinggalkan.
- Puing logam, kaca, dan kayu – biasanya berasal dari aktivitas perkapalan atau konstruksi pesisir.
Dampak
Ada beberapa sisi dampak yang di timbulkan dari puing di lautan. Secara ekologis, tentunya mengancam satwa laut seperti penyu, burung laut, dan mamalia yang dapat menelan atau terjerat sampah.[6] Secara Ekonomi, hal tersebut merugikan sektor pariwisata dan perikanan akibat kerusakan ekosistem serta biaya pembersihan.[7] Terkait dengan kesehatan manusia, limbah puing mikroplastik dapat masuk ke rantai makanan laut dan berpotensi berdampak pada kesehatan.[8]
Upaya penanggulangan
Terdapat Regulasi internasional seperti MARPOL 73/78 yang melarang pembuangan sampah plastik dari kapal. Kedua, perlu adanya Inovasi teknologi – proyek pembersihan laut, misalnya The Ocean Cleanup. Kemudian terdapat Pengurangan plastik sekali pakai – kampanye dan kebijakan pengurangan konsumsi plastik serta didukung adanya Riset dan Edukasi utuk program penelitian dan pendidikan publik tentang dampak plastik di laut.
Lihat pula
Referensi
- ^ "What is marine debris?". NOAA Marine Debris Program. 2023. Diakses tanggal 30 September 2025.
- ^ Jambeck, Jenna R.; Geyer, Roland; Wilcox, Chris; Siegler, Tracy R.; Perryman, Miriam; Andrady, Anthony; Narayan, Ramani; Law, Kara L. (2015). "Plastic waste inputs from land into the ocean". Science. 347 (6223): 768–771. doi:10.1126/science.1260352.
- ^ Single-use Plastics: A Roadmap for Sustainability (Report). UNEP. 2018.
- ^ Derraik, José G.B. (2002). Marine pollution by plastic debris: A review. Marine Pollution Bulletin. hlm. 842–852. doi:10.1016/S0025-326X(02)00220-5.
- ^ Thompson, Richard C. (2004). "Lost at Sea: Where Is All the Plastic?". Science. 304 (5672): 838. doi:10.1126/science.1094559.
- ^ Wilcox, Chris; Van Sebille, Erik; Hardesty, Britta D. (2015). "Threat of plastic pollution to seabirds is global, pervasive, and increasing". Proceedings of the National Academy of Sciences. 112 (38): 11899–11904. doi:10.1073/pnas.1502108112.
- ^ Marine debris: Understanding, preventing and mitigating the significant adverse impacts on marine and coastal biodiversity (Report). UNEP. 2016.
- ^ Cox, Kieran D. (2019). "Human Consumption of Microplastics". Environmental Science & Technology. 53 (12): 7068–7074. doi:10.1021/acs.est.9b01517.
Bacaan Lebih Lanjut
- UNEP (2018). Single-use Plastics: A Roadmap for Sustainability. United Nations Environment Programme.
- Barnes, D.K.A., et al. (2009). "Accumulation and fragmentation of plastic debris in global environments". Philosophical Transactions of the Royal Society B.
- Pranala Luar
- NOAA Marine Debris Program
- United Nations Environment Programme – Marine Litter
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.