Punden Janjang


Punden Janjang adalah tempat pemakaman Pangeran Jati Kusumo dan Pangeran Jati Swara yang terletak di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Konon, Pangeran Jati Kusumo dan Jati Swara adalah dua bersaudara putra dari Sultan Pajang. Sampai saat ini, Punden Janjang dikeramatkan dan dihormati oleh masyarakat Blora, khususnya warga Desa Janjang. Bahkan, banyak penjabat daerah maupun dari luar daerah, yang memahami cerita Pangeran Jati Kusuma dan Jati Swara, yang disebut Eyang Janjang, menyempatkan berkunjung ke punden ini. Sebagai bentuk penghormatan kepada Eyang Janjang, setiap setahun sekali masyarakat menggelar upacara Manganan Janjang.[1]

Hingga saat ini, daerah yang menjadi tempat pemakaman kedua pangeran dinamakan Punden Janjang. Selain makam Eyang Janjang, di area punden juga terdapat makam Rondo Kuning, yakni seorang putri yang konon ingin diperistri oleh dua putra Sultan Pajang tersebut. Di samping itu, juga terdapat guci berisi air yang dianggap memberi berkah, batu pasujudan, dan bangsal yang gunakan untuk pertunjukan Wayang Krucil.[1]

Putra Jaka Tingkir

Ratusan tahun silam pernah ada pangeran bersaudara yang sedang mengembara di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Kedua pangeran itu adalah putera dari Sultan Pajang Hadi Widjaja (Jaka Tingkir) yang bernama Raden Djati Koesoema dan Raden Djati Swara. Di kisahkan, mereka mengembara untuk mencari pusaka Pajang yang hilang kemudian meninggal dan di makamkan di Blora. Makam mereka terkenal akan sebutan 'Punden Janjang' yang terletak di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora.[2]

Tradisi masyarakat

Setiap tahunnya di makam tersebut diadakan upacara Manganan Janjang yang dilaksanakan setiap habis panen, tepatnya pada hari Jumat Pon (hari jawa) Bulan Sapar. Di samping itu, di makam tersebut juga sering digunakan sebagai tempat ngalab berkah (mencari barokah). Ritual itu dilaksanakan dengan acara mementaskan pertunjukan wayang Kroetjil (Krucil) peninggalan Raden Djati Koesoema.[2]

Dari sejumah tokoh pewayangan tersebut, yakni tokoh punokawan tetap terbungkus kain mori meskipun sedang ada pegelaran wayang. Bahkan, ketika dilakukan perawatan juga tetap dalam kondisi tertutup kain mori putih, sedangkan tokoh wayang lainnya bisa dimainkan dan dilihat secara langsung oleh masyarakat. Dalam penyimpanannya, khusus untuk lima wayang, termasuk di dalamnya tokoh punokawan ditempatkan di tempat khusus dengan posisi berdiri, sedangkan yang lainnya disimpan di dalam kotak. Meskipun dianggap sakral, warga sekitar yang memiliki nazar masih bisa menggelar pentas wayang krucil dengan dalang khusus yang ditunjuk secara turun temurun.[3]

Makam Raden Djati Koesoema dan Raden Djati Swara sering digunakan sebagai sarana melakukan peradilan tradisional yang dikenal dengan istilah 'Sumpah Janjang'. Acara tersebut biasanya dilakukan dalam rangka mencari kebenaran yang sudah tidak bisa dilakukan dengan jalan lain. Dengan dilakukannya 'Sumpah Janjang' dalam waktu yang tidak terlalu lama, konon dipercaya kebenaran pasti akan segera terungkap, paling lama dalam jangka waktu tiga bulan. Hal ini sebagaimana pepatah jawa yang berbunyi "becik ketitik, ala ketara" (yang baik akan diketahui, yang jelek pun akan kelihatan).[2]

Asal usul Desa Janjang

Pangeran Jati Kusumo dan Jati Swara dikenal sebagai sosok yang suka menolong dan mengembara ke berbagai daerah untuk menyebarkan agama Islam. Konon, mereka mempunyai kesaktian yang tinggi, dan selama mengembara, juga menyebarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang-orang yang ditemui. Dalam pengembaraannya, mereka sampai di daerah yang cukup tinggi dan memutuskan untuk menetap ditempat tersebut. Karena tempatnya tinggi ia dapat melihat kemana saja dengan jelas. Oleh sebab itu dinamakan Janjang (artinya jelas). Kemudian tempat itu menjadi Desa Janjang.[1]

Pengaruh Pangeran Jati Kusuma dan Jati Swara

Pengaruh Eyang Jati Kusuma makin meluas hingga daerah Semanggi Kecamatan Jepon, Desa Besah dan Sambeng Kecamatan Kasiman. Daerah itu dijaga oleh para punakawan. Di tempat itu Eyang Jati Kusuma dan Eyang Jatiswara melakukan semadi dan tapa brata untuk mendapatkan ilham dan kesaktian.[4]

Cara bertapa kedua orang tersebut sangat berbeda. Eyang Jati Kusuma dengan cara tidak makan tetapi boleh tidur, sedangkan Eyang Jatiswara dengan cara tidak tidur tetapi boleh makan. Karena itu, timbullah perselisihan pendapat. Kemudian keduanya pun saling mengadu kesaktian. Eyang Jatiswara dapat memulihkan kembali periuk yang dibanting oleh Eyang Jati Kusuma. Eyang Jatiswara dapat pula merendahkan pohon kelapa yang sangat tinggi. Peristiwa itu terjadi ketika para punakawannya disuruh mengambil kelapa di Desa Semanggi tetapi tidak dapat memanjat. Oleh Eyang Jatiswara, pohon kelapa itu dapat merendah. Eyang Jatiswara juga dapat masuk ke dalam tanah dan kembali ke permukaan, dan bekas tersebut sekarang menjadi gua. Selain itu, ia dapat juga memecahkan batu besar menjadi dua dengan tangan. Sekarang bekas kesaktian tersebut disebut Batu Cepit.[4]

Adapun, Eyang Jati Kusuma mempunyai kesaktian dapat merendahkan pohon jati yang tinggi. Hal ini terjadi karena punakawan tidak dapat mengambil handuk yang tertinggal di Sendang Masohan. Tetapi punakawan tidak dapat merendah. Eyang Jati Kusuma pun memiliki kesaktian dapat menghilang (musna) dan kemudian muncul lagi. Eyang Jati Kusuma dapat pula meninju batu besar hingga batu itu menjadi lekuk-lekuk. Batu itu sekarang disebut Batu Cumpleng. Selain karena kesaktiannya, Eyang Jati Kusuma dikenal karena mempunyai binatang peliharaan yaitu kuda tunggang dan seekor harimau yang disebut Kyai Pengkrong.[4]

Pada waktu itu ada seorang putri dari Desa Bleboh bernama Randa Kuning datang untuk meminta menjadikannya sebagai istrinya. Namun, hal ini ditolaknya. Akan tetapi, putri itu tetap tidak mau pulang. Karena kasihan, permintaan Randa Kuning itu dipenuhi tetapi hanya dijadikan sebagai abdi bukan sebagai istri. Kemudian ia diberi pekerjaan membatik hingga akhir hidupnya. Dengan kejadian itu putri itu bersumpah kelak anak cucunya dilarang kawin dengan orang dari Desa Janjang. Pesan itu ditunaikan hingga kini, orang Desa Bleboh tidak berani kawin dengan orang desa Janjang. Begitu juga masyarakat yang dahulu menjadi wilayah Janjang tidak boleh menanam kedelai hitam dan padi ketan ireng. Karena sewaktu Eyang Jati Kusuma dan Eyang Jatiswara berkelana, kudanya sakit karena kakinya menginjak tonggak bekas kedelai hitam dan makan dedak padi ketan ireng.[4] Karena besarnya pengaruh dan kesaktiannya, setelah wafat, makamnya masih dianggap keramat. Setiap tahun pada hari Jumat Pon selalu diadakan upacara Manganan Janjang. Pada upacara itu, orang dalam dan luar desa, membawa sesaji seperti tumpeng bucu, panggang ayam dan jajan pasar, ternak misalnya kambing atau lembu. Bila tumpeng bucu dan panggang ayam oleh anak-anak gembala diminta harus diberikan. Setelah itu, nasi dan jajannya dikumpulkan menjadi satu, dan orang-orang menunggui hingga upacara selesai. Pada upacara itu dipertunjukkan wayang krucil sebagai peninggalan keduanya. Setelah upacara selesai diadakan selamatan dilanjutkan pembagian nasi secara merata ke masyarakat yang ada untuk dibawa pulang. Menurut kepercayaan masyarakat, upacara tersebut akan memberikan pertanda keadaan yang akan datang. Apabila dalam upacara tersebut nasi yang dibagikan kurang, pertanda di tahun yang akan datang masa paceklik (kurang pangan). Apabila daun pembungkusnya kurang, pertanda akan terjadi harga tembakau mahal. Apabila air yang ada dalam guci (genthong) itu kurang, pertanda akan terjadi kemarau panjang.[4]

Peninggalan Pangeran Jati Kusuma dan Jati Swara

  1. Wayang krucil atau wayang klithik dan seperangkat gamelan,
  2. Guci (air dalam guci tersebut dapat digunakan untuk upacara penyumpahan),
  3. Upacara penyumpahan,
  4. Damar sewu,
  5. Baju ontokusumo,
  6. Kendi,
  7. Mustoko rumah.[4]

Makna Wayang Krucil

Wayang krucil dan klithik sebenarnya memiliki arti yang sama yaitu berasal dari perkataan yang bermakna ‘kecil’. Klitik berasal dari kata ketik, mengingatkan akan perkataan ‘setitik’ atau suara benturan kayu klithak-klithik, yang merupakan bahan baku wayang krucil. Kayu yang dipakai bahan wayang ini adalah kayu yang berserat kuat. Tidak jarang aspek-aspek pertunjukan pada wayang krucil didasarkan pada kepercayaan yang mereka anut, dan diyakini mempunyai kekuatan magis. Namun, sebaliknya banyak aspek pertunjukkannya yang bersifat hiburan.[4]

Akses menuju makam

Untuk menuju lokasi makam tersebut cukup mudah, bisa dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Banyak masyarakat Blora yang mengetahui lokasi keberadaan makam.[2]

Referensi

  1. ^ a b c Febi Nurul Safitri , Widya Lestari Ningsih (17-06-2022). "Punden Janjang dan Tradisi Manganan Janjang di Blora". KOMPAS.com. Diakses tanggal 04-11-2025.
  2. ^ a b c d Liputan6.com (2019-12-13). "Menilik Manuskrip Kuno Peninggalan Pangeran Djati Koesoema di Blora". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-11-04. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  3. ^ Khoiri, Ahmad Masaul. "Tuah Makam Janjang Blora: di Tengah Hutan Sisa & Jalanan Neraka". detikTravel. Diakses tanggal 2025-11-04.
  4. ^ a b c d e f g bloranews (2019-01-22). "LEGENDA TIGA SERANGKAI SORENG | BLORANEWS". Diakses tanggal 2025-11-04.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya