Rannamaari

Rannamaari adalah sebuah monster laut dalam budaya rakyat Maladewa yang diyakini telah memperkosa dan membunuh ribuan perempuan muda. Menurut versi populer cerita tersebut, seorang pedagang asal Maghreb bernama Al-Barbari melakukan sebuah ritual setelah meyakinkan pihak berwenang saat itu untuk mengizinkannya menggantikan para gadis yang biasa dikorbankan untuk sang monster, demi menyelamatkan mereka dan penduduk pulau. Ia membacakan ayat-ayat Al-Qur'an di hadapan Rannamaari. Dengan ritual tersebut, Rannamaari melarikan diri dan tidak pernah kembali, dan peristiwa itu mendorong para penduduk pulau untuk masuk Islam. Cerita ini adalah salah satu legenda paling terkenal di Maladewa dan hingga kini sering diceritakan oleh masyarakat setempat dan media nasional.

Penampilan

Menurut beberapa cerita lokal, Rannamaari digambarkan tampak seperti sebuah kapal penuh dengan lentera. Ia digambarkan lebih tinggi daripada pohon kelapa, berwarna hitam pekat, dengan lengan yang panjangnya mencapai jari-jari kakinya.[1][2]

Variasi dan penerimaan

Legenda Rannamaari memiliki beberapa versi, namun dua yang paling terkenal adalah versi tradisional yang banyak diceritakan masyarakat dan pemerintah Maladewa, serta versi yang dicatat oleh penjelajah abad ke-14 Ibnu Batutah.[2][3] Kedua versi ini mirip dan hanya berbeda pada beberapa rincian.

Kisah Rannamaari dipandang sebagai narasi penting terkait proses Islamisasi yang membentuk perspektif masyarakat Maladewa tentang sejarah, budaya, dan agama mereka. Cerita tersebut sering diceritakan kembali di sekolah-sekolah, pementasan drama, brosur wisata, serta media lokal dan nasional.[2][3] Para pencerita lokal sering menggambarkan mitos Rannamaari sebagai kemenangan Maladewa terhadap tahayul melalui jalan Islam. Namun ahli budaya rakyat Xavier Romero Frías mencatat bahwa nama Rannamaari berasal dari dewi India Selatan, dan mengamati bahwa banyak cerita rakyat Maladewa berkisar pada roh-roh perempuan berbahaya.[4]

Garis besar cerita

Rannamaari adalah iblis laut terkenal yang menghantui rakyat Maladewa sejak zaman kuno.[2][5] Lebih khusus, dewi laut ini diyakini memiliki pengaruh di atol Malé (saat ini dikenal sebagain Atol Kaafu).[6] Setiap bulan, seorang perawan harus dikorbankan kepada iblis ini atau penduduk Maladewa diyakini akan menerima kemarahannya.[7][2][5] Seorang gadis dipilih oleh raja atau penasihatnya, didandani, dan kemudian ditempatkan sendirian pada malam pertama bulan tersebut di sebuah kuil Buddha terpencil di tepian laut timur Malé.[2][5]

Pada pagi harinya, keluarga sang gadis kembali ke kuil dan menemukan gadis itu telah meninggal dan tubuhnya diperkosa.[2] Penduduk Maladewa sangat terpukul karena pengorbanan yang terus-menerus ini, hingga akhirnya seorang pengembara Muslim dari Maghreb bernama Abu’l-Barakat al-Barbari menawarkan diri untuk pergi ke kuil menggantikan gadis yang akan dikorbankan dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an disana.[1] Setelah sang pengembara membaca Al-Qur'an, iblis itu menghilang dan tidak pernah muncul lagi. Raja kemudian masuk Islam, dan legenda tersebut menceritakan bahwa para penduduk pulau pun segera mengikutinya.[2] Raja itu, yang oleh Oleg Krassov diidentifikasi sebagai Dhovemi dari Maladewa, kemudian mengganti namanya menjadi Sultan Mohammed bin Abdullah.[8]

Analisis

Menurut arkeolog Egil Mikkelsen, legenda tersebut mungkin terinspirasi oleh ritual dan kepercayaan Buddhisme tantra yang diduga dipraktikkan di kepulauan tersebut pada masa itu. Ritual-ritual ini mencakup seks tantra (secara fisik maupun metaforis) sebagai cara mencapai pencerahan, serta kepercayaan pada roh-roh jahat di mana para praktisinya dapat mengalami kesurupan dan menampilkan perilaku agresif untuk tujuan spiritual.[5] Teks tantra seperti Hevajra memuat gambaran kekerasan seperti: “Engkau harus membunuh makhluk hidup, berkata bohong, mengambil apa yang tidak diberikan, dan bersetubuh dengan perempuan milik orang lain.” Teks-teks ini digunakan dalam ritual dan sebagian isinya dipahami secara figuratif.[5] Kuil tempat para perempuan ditinggalkan sebagai persembahan mungkin mewakili pusat praktik ritual Buddhisme tantra. Perkosaan dan kematian para perempuan muda dalam legenda tersebut mungkin mencerminkan sisa-sisa praktik seperti agresi para praktisi yang kerasukan roh, praktik seks tantra, serta unsur kekerasan dalam teks-teks tantra. Sementara itu, monster itu sendiri mungkin mewakili kepercayaan lokal terhadap roh-roh jahat.[5]

Cendekiawan Xavier Romero-Frias menyatakan bahwa garis besar legenda ini memiliki banyak kemiripan dengan sebuah cerita dalam teks Sanskerta kuno sebuah Pañcatantra berjudul Nandapakarana.[2]

Referensi

  1. ^ a b Smith, Stephanie Honchell (2019). "Sufis, Sea Monsters, and Miraculous Circumcisions: Conversion Narratives and Popular Memories of Islamization in Asia". worldhistoryconnected.press.uillinois.edu. Diakses tanggal 2025-07-10.
  2. ^ a b c d e f g h i Romero-Frías, Xavier (2012). Folk Tales of the Maldives. NIAS Press. hlm. 74–75. ISBN 978-87-7694-105-5.
  3. ^ a b Saeedh, Thoiba; Feener, R. Michael (2024). "Religious entanglements with the politics of infrastructure in the Maldives". Modern Asian Studies. 58 (5): 1429–1451. doi:10.1017/s0026749x23000422. ISSN 0026-749X.
  4. ^ Jacqueline H. Fewkes (29 March 2019). Locating Maldivian Women’s Mosques in Global Discourses. Springer International Publishing>. hlm. 67. ISBN 9783030135850.
  5. ^ a b c d e f Egil Mikkelsen;"The Conversion to Islam", The Archaeology of Buddhism in the Maldives, BRILL, hlm. 203–217, 2025-04-17, ISBN 978-90-04-72946-9, diakses tanggal 2025-07-04
  6. ^ Timothy R. McClanahan; C. R. C. Sheppard; David Obura; David Obura, ed. (12 October 2000). Coral Reefs of the Indian Ocean: Their Ecology and Conservation. Oxford University Press, USA. hlm. 325. ISBN 9780195125962.
  7. ^ Thor Heyerdahl (November 1987). The Maldive Mystery. Random House Publishing Group. hlm. 249. ISBN 9780345347275.
  8. ^ Oleg Krassov (2022). Land Law in Asian Countries. Diterjemahkan oleh Evgeny O. Krassov. hlm. 89. ISBN 9785001562566.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya