Ratu Sekar Kedaton
| Ratu Sekar Kedaton | |
|---|---|
| Ratu Sekar Kedaton | |
Makam Ratu Sekar Kedaton dan GRM Timur Muhammad di TPU Muslim (putranya) Mahakeret Timur, Manado, Sulawesi Utara. | |
| Kelahiran | Bendoro Raden Ayu Andaliya 1834 Kraton Yogyakarta, Yogyakarta |
| Kematian | 25 Mei 1918 (umur 84) Wenang, Manado, Sulawesi Utara |
| Pemakaman | |
| Ayah | Bendoro Pangeran Haryo Suryengalogo |
| Agama | Islam |
Ratu Sekar Kedaton adalah salah satu permaisuri atau istri utama dari Sultan Hamengkubuwana V, penguasa Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada abad ke-19. Ia dikenal dalam sejarah karena keterlibatannya dalam dinamika politik istana pasca-wafatnya sang sultan, serta pengasingannya oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda ke Manado, Sulawesi Utara.
Biografi dan Kehidupan Istana
Ratu Sekar Kedaton menduduki posisi penting sebagai permaisuri Sultan Hamengkubuwana V. Pernikahan ini membawa dirinya ke dalam pusaran hierarki tertinggi di dalam Keraton Yogyakarta.
Pada tahun 1855, Sultan Hamengkubuwana V wafat secara mendadak dalam sebuah peristiwa yang diselimuti misteri dan ketegangan politik.[1] Saat sang Sultan wafat, Ratu Sekar Kedaton sedang dalam kondisi mengandung tua. Berdasarkan adat istana, jika bayi yang lahir adalah laki-laki, maka ia berhak atas takhta Yogyakarta. Namun, sebelum bayi tersebut lahir, takhta justru dialihkan kepada adik Sultan Hamengkubuwana V, yang kemudian naik takhta sebagai Sultan Hamengkubuwana VI.[2]
Ratu Sekar Kedaton kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama Gusti Raden Mas Timur Muhammad.[3] Kehadiran putra mahkota yang "tergeser" ini menciptakan faksi dan ketegangan politik internal di dalam keraton selama bertahun-tahun.
Konflik Politik dan Pengasingan
Seiring berjalannya waktu, Gusti Raden Mas Timur Muhammad tumbuh dewasa dan mulai dipandang oleh sebagian bangsawan serta Pemerintah Kolonial Belanda sebagai potensi ancaman bagi stabilitas takhta Sultan Hamengkubuwana VI dan penggantinya, Hamengkubuwana VII. Mas Timur Muhammad dianggap memiliki pengikut yang menginginkannya menuntut hak atas takhta ayahandanya.[2]
Pada tahun 1883, pihak Belanda mengendus adanya sisa-sisa gerakan atau ketidakpuasan yang berpusat di sekitar Ratu Sekar Kedaton dan putranya. Untuk mengantisipasi pemberontakan atau polarisasi yang lebih tajam di Yogyakarta, Pemerintah Hindia Belanda mengambil tindakan tegas.
Ratu Sekar Kedaton, bersama putranya, ditangkap dan dijatuhi hukuman pengasingan (internering) keluar Jawa. Tempat yang dipilih oleh Batavia sebagai lokasi pembuangan mereka adalah Kota Manado, Sulawesi Utara.
Kehidupan di Manado dan Akhir Hayat
Di Manado, Ratu Sekar Kedaton dan putranya ditempatkan di sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Belanda (sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, Kota Manado).[4] Kawasan ini juga menjadi tempat pengasingan beberapa bangsawan dan pejuang dari Jawa dan wilayah lain.
Ratu Sekar Kedaton wafat di Manado berdampingan dengan makam putranya, hingga kini menjadi salah satu situs sejarah serta cagar budaya di Kota Manado.[4] Di area ini terdapat juga makam dari ulama pejuang perang Cilegon, Banten Syech Mas M Arsyad Thawil AlBantani yang wafat pada 19 Maret 1934.[5]
Referensi
- ^ Ricklefs, M. C. (2001). A History of Modern Indonesia since c.1200 (Third Edition). PALGRAVE. ISBN 0–333–80099–0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b Carey, Peter (2017). TAKDIR Riwayat Pangeran Diponegoro, 1785-1855. Jakarta: Kompas Media Nusantara. ISBN 9786024122157. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Purwadi (2007). Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Abadi. ISBN 9799917836. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b Kembuan, Roger Allan Christian (2020). "Sejarah Kampung Pondol Dan Komunitas Eksil Muslim di Kota Manado". JURNAL AQLAM – Journal of Islam and Plurality. 5 (2).
- ^ "Jejak Permaisuri dan Anak Sri Sultan Hamengku Buwono V yang Dimakamkan di Manado". iNews.ID. 2021-08-14. Diakses tanggal 2026-05-30.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.