Roti susu Jepang

Roti susu Jepang (食パン, shokupan), juga disebut roti susu Hokkaido atau sekadar milk bread dalam sumber berbahasa Inggris, adalah roti putih lembut yang umum dijual di toko roti Asia, terutama di Jepang. Meskipun roti bukanlah makanan tradisional Jepang, roti ini diperkenalkan secara luas setelah Perang Dunia II dan gaya roti ini menjadi salah satu makanan populer.
Latar belakang
Roti putih lembut sangat populer di Asia, terutama di Jepang, dan memiliki status sebagai roti artisan di sana.[1][2] Roti bukanlah makanan tradisional Jepang, tetapi mulai digunakan secara luas setelah respons Amerika Serikat terhadap kekurangan beras di Jepang pasca-Perang Dunia II dengan mengirimkan bantuan gandum.[3] Gaya roti ini mulai populer di luar Asia pada tahun 2020-an.[4][5][6]
Roti ini juga dikenal dengan nama roti susu Hokkaido, shokupan, dan pai bao.[1][2] Shokupan diterjemahkan sebagai “roti makan”, “roti makanan”, atau “roti polos”;[7] di Jepang, roti ini dianggap sebagai roti standar negara tersebut, biasa disantap sebagai sarapan atau camilan,[8] dan tersedia di banyak toko roti di negara-negara Asia.[1]
Gambaran
Penulis makanan The New York Times, Julia Moskin, menggambarkan roti ini sebagai "keajaiban teknik: lembap tetapi tidak lengket, kaya tetapi ringan, seimbang antara manis dan asin".[1] Roti ini lembut dan sedikit manis, dengan remah yang padat tetapi halus serta tekstur kenyal.[2][4] Secara umum, roti ini lebih lembut dan lebih manis dibandingkan roti sandwich komersial biasa yang dijual di supermarket, tetapi tidak semanis roti brioche.[9][4][8] The Guardian menyebutnya sebagai "anti-sourdough".[8]
Menurut antropolog makanan Annie Sheng, roti ini unik karena "tekstur dan sensasi saat pertama kali menggigit, serta rasa manisnya," dan di Jepang, roti ini digambarkan dengan istilah fuwa fuwa, yang berarti "lembut dan seperti awan".[4]
Bahan
Adonan roti ini diperkaya dan dibuat menggunakan yudane, sejenis roux.[1] Penggunaan yudane membantu roti tetap segar lebih lama.[10]
Bahan-bahan umumnya meliputi tepung, susu utuh, mentega, ragi, garam, gula, dan seringkali telur. Yudane disiapkan dan didinginkan terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan bahan lainnya dan diuleni hingga membentuk adonan lembut dan lengket. Adonan ini sering dibagi menjadi beberapa bagian, dibentuk menjadi gulungan, dan ditempatkan melintang di dalam loyang untuk mengembang sebelum dipanggang, sehingga menghasilkan tampilan yang khas.[2] Produsen komersial biasanya memanggang roti ini menggunakan loyang gaya Pullman, sedangkan pembuat roti rumahan dengan loyang terbuka akan menghasilkan bentuk yang berbeda tetapi tetap khas.
Penyajian
Roti ini sering diiris tebal, dipanggang, atau digunakan untuk membuat sandwich.[2] Sandwich isi buah merupakan salah satu penggunaan yang umum.[8]
Referensi
- ^ a b c d e Moskin, Julia (22 April 2014). "Three Recipes to Savor to the Last Crumb (Published 2014)". The New York Times (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 July 2023.
- ^ a b c d e Imada, Kaila (13 February 2023). "What makes shokupan so popular – and where you can buy it". Time Out Tokyo (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 30 July 2023.
- ^ Krader, Kate (18 September 2019). "Japanese Milk Bread Is Coming for Your Lunch". Bloomberg News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 July 2023.
- ^ a b c d Beckett, Lois (11 December 2022). "LA's 'orgasmic' $18 Japanese milk bread sells out in seconds every day". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 30 July 2023.
- ^ Trinh, Jean (9 November 2022). "LA's Latest Hot-Ticket Food Item Is a Plush Loaf of Japanese Bread Baked in a Ghost Kitchen". Eater LA (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 July 2023.
- ^ Sims, Alex (28 December 2022). "That hyped £11 milk bread has arrived in London". Time Out London (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 30 July 2023.
- ^ Boyette, Emily (12 March 2023). "Why Japanese Milk Bread Is The Ultimate Vehicle For Tuna Sandwiches". Tasting Table (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 30 July 2023.
- ^ a b c d Hariharan, Annie (6 June 2021). "Shokupan is the anti-sourdough: the rise of Japanese milk bread". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 30 July 2023.
- ^ Katayama, Akiko. "Why Is $18-A-Loaf Japanese 'Shokupan' Milk Bread So Popular?". Forbes (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 July 2023.
- ^ "Japanese Milk Bread Recipe". King Arthur Baking (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 July 2023.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.