Sam Ardi
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Februari 2023) |
Sam Ardi (lahir 19 April 1968) adalah seorang sejarawan, pakar hukum dan akademisi berkebangsaan Indonesia. Ia dikenal setelah mengkritisi pernyataan politikus Mardani Ali Sera yang menyebutkan bahwa naga bukan merupakan budaya dari Indonesia.[1]
| Sam Ardi | |
|---|---|
| Lahir | 19 April 1968 Malang, Jawa Timur, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Pekerjaan | |
| Situs web | |
| https://samardi.wordpress.com/about/ | |
Biografi
Sam Ardi dilahirkan di Malang pada tanggal 19 April 1968. Ia berprofesi sebagai seorang pakar hukum, akademisi, dan dosen di Universitas Brawijaya.[2]
Pada tanggal 31 Desember 2021, terjadi perdebatan antara Sam dengan politikus Partai Keadilan Sejahtera yakni Mardani Ali Sera, hal ini terjadi dikarenakan pernyataan Mardani yang menyebutkan bahwa patung naga yang berada di Bandara Internasional Yogyakarta bukan merupakan bagian dari budaya Indonesia.[1] Sam justru membantah pernyataan Mardani tersebut dengan mengatakan bahwa banyak naskah dan artefak yang menunjukkan jika naga merupakan bagian dari budaya Indonesia, tetapi alih alih menunjukkan naskah yang dimaksud, Sam justru mengkritisi Mardani dengan mengatakan bahwa dirinya miskin literasi dan menganggap tidak ada gunanya untuk menunjukkan bukti-bukti mengenai naga yang berkaitan dengan budaya Indonesia kepada dirinya,[1] dikarenakan Sam menganggap bahwa Mardani merupakan sosok yang keras kepala dan bahkan memberikan sindiran kepada dirinya dengan menyebutkan bahwa kebodohan yang dimiliki oleh Mardani sudah dipupuk.[3]
Pranala luar
Referensi
- ^ a b c Gunadha, Reza (2021-12-31). "Gegara Patung Naga di Bandara YIA, Sejarawan Sindir Menohok Politisi PKS: Begonya Dipupuk". Suara.com. Diakses tanggal 2022-05-02.
- ^ "Sam Ardi". scholar.google.com. Diakses tanggal 2022-05-02.
- ^ Ardi, Sam (2021-12-31). "Bagi orang yang miskin literasi dan jarang rekreasi memang bisa saja punya kesimpulan kalau naga bukan simbol yang akrab dengan budaya Indonesia. Mau diperlihatkan naskah-naskah/relief/artefak yang ada naganya juga percuma. Wong begonya dipupuk kok". Twitter. Diakses tanggal 2022-05-02.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.